
"Saya minta maaf."
Sungguh kata-kata yang keluar dari bibir Roberth membuat ia bingung. Pria itu tampak menyedihkan dengan wajah babak belur. Sudut matanya membiru nyatis hitam, sudut bibirnya masih menyisahkan darah. Penampilannya pun tampak acak-acakan dan pakaian yang di pakai masih pakaian yang semalam ia gunakan. Entah dari mana pria itu samapai sudah hampir menjelang siang begini masih terlihat kacau balau.
"Apa kamu mendengar saya?" ulang Roberth lagi.
Hiyola meyatukan kedua alisnya sebelum menjawab. "Maaf untuk apa, Tuan? Maaf untuk hal yang mana?"
Roberth meringis medengar jawaban Hiyola. Ya, sudah terlalu banyak ia menyakiti nya sampai permintaan maaf saja tidaklah cukup. "Maafkan saya atas segala hal yang pernah saya lakukan. Kamu tidak pantas menerima semua itu."
Hiyola kini sadar. Dia ingat apa yang Jeremy katakan mengenai masalah yang telah di luruskan. Dirinya bahkan tidak tahu bagaimana Jeremy bisa tahu permasalahan mereka jika dia baru mengetahui status Hiyola saat kejadian di depan perusahan.
"Tuan tidak perlu merasa bersalah. Saya mungkin sakit hati dengan semua prespektif anda, tapi sejauh ini semua masih baik-baik saja. Saya bisa makan dengan kenyang, tidur nyenyak dan menikmati hari-hari seolah tidak ada yang terjadi."
Di akhir kalimatnya Hiyola melempar senyum palsu, membuat sesuatu di sudut hati Roberth teriris. Dia benci setiap kali Hiyola selalu menunjukkan sikap kuat membuatnya tidak memiliki celah untuk masuk, sekedar merasa bersalah.
"Jangan bersikap tegar, Hiyola. Aku tahu kau tidak sekuat itu."
Hiyola yang dari tadi membuang muka, seketika menatap Roberth tajam. Tatapan terluka bercmpur sedih dan kecewa bisa Roberth baca dengan jelas.
Hiyola tersenyum sisnis. "Jangan bersikap seolah Tuan mengenal saya!"
"Aku mengenal mu! Empat bulan kita bersama sudah cukup untuk mengetahui isi hati mu." pungkas Roberth. Dia mendekati Hiyola yang malah berjalan mundur.
Cih, mengenal ku?
Angka di lift sudah menunjukkan angka enam. Hiyola melempar senyum seinis. Dengan berani dia melangkah maju, memangkas jarak antara mereka hingga hanya beberapa senti. "Jika dalam kurun waktu empat bulan Tuan mengenal saya, Tuan tidak akan meninggalkan saya dengan salah paham tanpa penjelasan di hotel. Jika mengenal saya, Tuan tidak akan membiarkan saya pergi setelah berusaha mengatakan kejujuran. Dan jika Tuan mengenal saya, Tuan tidak akan membawa nona Kimberly ke rumah, dan bermesraan dengan nya karena saya mulai menyukai Tuan!!!"
Seeettt....
Roberth mematung. Mulutnya kelu tidak bersuara. Dia belum menyadari hal tersebut sampai saat ini. Hiyola menyukai nya? Ada rasa senang namun juga pedih saat melihat Hiyola mengakuinya tanpa perasaan sama sekali.
Ya, Hiyola telah memutuskan. Dia akan mulai melupakan perasaan bodoh nya, karena itu dia mengakui semua agar setelah ini tidak akan ada lagi penyesalan.
"Apa maksudmu menyukai saya?" Roberth seperti orang dungu. Dia menunjuk dirinya dengan tatapan binar. Namun, Hiyola membalasnya sinis.
"Ya, saya menyukai Tuan. Dan itu merupakan hal terbodoh yang pernah saya lakukan. Tapi, Tuan tidak perlu khawatir. Mulai sekarang, saya akan melupakan perasaan saya. Bahkan saat ini pun saya rasa perasaan itu sudah mulai pudar. Setelah kontrak kita selesai, kita akan berpisah dan Tuan bisa kembali pada Nona Kim."
Lift berdenting, mereka telah sampai di lantai tujuh. Hiyola langsung melenggang keluar. Rasanya dia tidak akan sanggup lagi berdiri terlalu lama di sana. Pertahanan nya hancur, kini setelah mengungkapkan apa yang ia rasakan, tidak akan adalagi yang tersisa. Dia akan membuang jauh perasaan nya, dan mulai menata hidup. Sudah seharusnya dia tidak pernah membuka hati untuk siapa pun. Walau pendirian nya tentang tidak akan jatuh cinta sempat bergeser karena Roberth, kali ini ia tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi lagi. Mungkin setelah semua kekacauan ini selesai, dan hidup yang di jalani nya mulai membaik, Hiyola akan membuka hati untuk seseorang yang tulus pada nya.
Setelah Hiyola menghilang di balik pintu kamar nya, segaris senyum bahagia mendengar pengakuan Hiyola tadi, perlahan luruh. Rasanya begitu sakit saat Hiyola membicarakan perpisahan. Roberth bahkan tidak menyangka bahwa ia telah menyakiti Hiyola sebanyak itu.
"Bangsat! Apa yang telah kau lakukan?" umpat Roberth pada diri nya sendiri.
***
Waktu berlalu begitu cepat saat Violeta, Hiyola dan Kimberly memasuki Skyline Plasa, sebuah mall besar yang berdekatan dengan rumah.
Violeta tampak murung, tidak seperti biasanya. Ia pun terlihat tidak bersemangat saat melihat beberapa dress mewah dengan harga fantastis yang membuat Hiyola menganga lebar.
"Kalian belanja saja. Aku yang akan bayar," ucap Violeta kemudian beranjak pergi. Hiyola melihat Violeta memasuki sebuah Cafe yang ada di mall, semetara Kimberly sibuk memilih baju.
"Hei, kau! Pegang ini untuk ku." Tanpa aba-aba, Kimberly memberi tumpukan baju kepada Hiyola. Belum ada berapa menit, wanita itu sudah memilih baju sebanyak ini.
"Ngakunya orang kaya! Dapat gratisan di embat juga!" sinis Hiyola. Semua tangan nya penuh oleh baju-baju. Dengan kesal ia menghampiri Kimberly. Tanpa berkomentar, ia memberikan baju-baju itu kepada Kimberly hingga dia nyaris jatuh.
Hiyola belum merespon. Dia berkacak pinggang dan balas menatap Kimberly dengan tajam. Wanita itu tidak bisa bereksi lebih karena banyaknya barang yang harus di pegang.
"Kau kira aku babu mu? Punya tangan dan kaki di pakai! Jangan di anggur, kan. Oh, iya, otak nya juga di pakai supaya berpikir sebelum bertindak! Kau kira akan ada orang yang terima jika di perlakukan semena-mena? Aku bukan penjilat, jadi jaga sikap mu!!!" ketus Hiyola lau melenggang pergi. Berada di dekat Kimberly malah akan membuat nya semakin gerah.
Berjalan menyusuri Cafe, Hiyola menangkap sosok Violeta yang tengah duduk sendiri menikmati kopi hangat nya. Dia mendekat, menjaga jarak sebentar kemudian mengambil tempat di sana. Violeta terganggu sebentar oleh kehadiran nya, namun tidak berkomentar. Dia kembali menyeruput kopi hangat nya.
"Kau tidak bebelanja?" tanya Violeta sedikit sinis.
"Barang-barang nya terlalu mahal. Saya bahkan tidak berani menatap harga nya." ucap Hiyola dengan Jengah.
Violeta memasang wajah tidak percaya. "Jangan berpura-pura. Seolah-olah uang tidak membuat mu ngiler."
Tidak tersinggung, Hiyola membalas dengan senyuman dan anggukan kepala. Ia sudah terbiasa dengan sikap kasar Violeta.
"Ya, tidak munafik. Saya memang suka uang, tapi bukan uang yang di berikan cuma-cuma. Saya tidak suka di kasihani."
Violeta menatap Hiyola. Alisnya berkerut melihat binar kebanggan yang di pancarkan dari gadis itu. Dahulu, binar itupun per ah menjadi milik nya. Dia kuat dan cenderung percaya bahwa kebahagian akan datang hanya dengan rasa syukur. Namun, bertambah nya usia, Violeta sadar bahwa selama ini ia terlalu bodoh menganggap hidup bisa semudah kisah cinderella.
"Jangan naif. Tidak ada kebahagiaan yang datang jika kau terus berjalan tulus tanpa ambisi." Sebenarnya kalimat tersebut Violeta ajukan untuk dirinya sendiri.
Hiyola masih menyunggingkan senyum. "Jika kalimat nya di balik, bukankah akan sama saja artinya? Ambisi tanpa tulus tidak akan mendatangkan kebahagiaan,"
Ah, Hiyola memang pandai merangkai kata.
Violeta tidak lagi berkomentar. Sejenak ia berpikir, mungkinkah kebahagiaan tidak pernah datang kepadanya karena ia sama sekali tidak pernah tulus dengan keadaan nya! Dia bahkan merawat Clodio dan Roberth hanya karena ambisi menginginkan kan pengakuan, dan kekayaan.
"Sudah, jagan bersikap sok pintar. Lebih baik kita pulang. Sepertinya Kimberly sudah selesai berbelanja," ucap Violeta yang salah tingkah. Tanpa ingin di akui, berbicara dengan Hiyola berhasil menyembuhkan mood nya yang sempat buruk sejak kemarin malam.
"Ck, padahal tinggal bilang terimakasih," oceh Hiyola dengan senyum jahil. Sepertinya rencana nya untuk memperbaiki mood Violeta sedikit berjalan mulus.
"Tidak sia-sia pengalaman ku di perusahan," ucapnya riang kemudian berlari cepat menyusul Kimberly dan Violeta yang sudah berjalan lebih dulu.
Saat sedang mengikuti langkah kaki dua wanita tadi, ponsel Hiyola berdenting. Sebuah pesan dari Daniel.
[**Beraninya kau pergi ke Jerman tanpa memberi tahu ku! Awas saja kalau kau kembali.]
[Apa dosen sialan itu tidak punya mahasiswa lain sampai ke mana-mana harus kau?]
[Mrnjauhlah dari pria brengsek itu! Dia pasti ada mau nya!]
[Kalau sudah kembali, hubungi aku! Tidak akan ku biarkan si breng sek itu mendekati mu**!]
Hiyola hanya bisa mendesah pasrah. Dia memang sengaja pergi tanpa mengabari Daniel karena sahabatnya itu pasti akan membuat keributan.
"Hei! Hiyola, cepatlah! Apa yang kau lakukan di sana?"
Tersadar dari lamunan nya, Hiyola segera berlari menghampiri Violeta yang ternyata berbalik menyusulnya.
"Esmeralda akan bersungut jika kau hilang! Cepatlah!" ketus Violeta kembali berjalan menuju mobil bersama Hiyola di samping nya.
***