Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 15 : Bukan Nyonya Kim



Hiyola sampai di rumah pukul 6 sore. Setelah mengantar Daniel sampai rumah, dia langsung pulang. 


Sesudah mengunci setir motor, Hiyola mempercepat langkah, berjalan masuk. Sedikit tercengang saat ternyata pintu depan rumah agak terbuka. 


Hiyola mendorong pelan. Pikirnya, Roberth sudah pulang jadi ia berencana masuk diam-diam. Hari ini saja, ia tidak ingin berpapasan dengan pria itu. 


Hiyola menjulurkan pelan kepala nya, mengamati sofa depan TV, sebab biasanya Roberth akan berada di sana. Menghembus kan nafas lega, karena Roberth tidak ada di sana. 


Dengan langkah santai, Hiyola masuk. Sebelum beranjak, dia berbalik menghadap pintu, kemudian menutup nya pelan.


"Selamat sore, nyonya..." 


Hiyola sontak berbalik karena mendengar suara asing.


 


"Astaga!!!" pekik nya dengan mata melebar dan tangan yang menyentuh dada, terkejut.


"Astaga.... Eh, astaga, copot!" Wanita tua di depan juga ikut melakukan persis seperti yang Hiyola lakukan.


"Anda siapa?" tanya Hiyola coba menghindar. Matanya jelalatan mencari keberadaan Roberth, tapi tak ada. Dia pikir wanita ini mungkin mau mencuri.


Wanita tua itu masih memegang dada nya, masih dalam mode terkejut.


"Tuan tidak memberi tahu nyonya tentang kedatangan saya?" 


Hiyola menggeleng, memicing masih merasa curiga. Satu alisnya terangkat mencoba mengingat.


 "Tuan? Nyonya?" lafal Hiyola. Di detik berikut, mata nya berbinar. "Oh, anda pasti maid  di sini kan?" Hiyola menunjuk. 


Wanita tua itu tersenyum lega. "Astaga, saya kira nyonya tidak di beri tahu oleh tuan." 


Hiyola mengangguk seraya tersenyum. Hari itu saat kejadian handuk, Roberth memberi tahu mengenai maid yang akan datang dua hari lagi. 


Astaga! Kepala ku jadi pusing tiba-tiba mengingat kejadian handuk sialan itu.


Hiyola memukul pelan kepalanya karena pengaruh ingatan memalukan tersebut. Kejadian memalukan yang sampai hari ini belum bisa ia lupakan.


"Nyonya baik-baik saja?" Ami mencoba bertanya karena cemas akan apa yang majikan nya lakukan.


Hiyola tersenyum, "Saya baik saja ...?" kalimat nya menggantung penuh tanya.


"Ami." jawab Ami, melihat kebingungan di wajah sang majikan.


"Oh, iya. Saya baik-baik saja, mbok Ami." 


Ami tersenyum, "Nyonya Kim sangat cantik. Persis seperti yang saya bayangkan." Ami tampak berseri-seri saat mengucapkan nya.


Hiyola melebarkan matanya. Bahkan Mbok Ami pun tahu mengenai Kimberly. 


Dasar Roberth bucin! Sama Mbok Ami saja dia curhat mengenai Kimberly!


"Mbok kenal Kimberly?" tanya Hiyola, goblok.


Mbok Ami tampak mengerut. Wajahnya yang tua, dengan uban yang mulai mendominasi kepala, menatap Hiyola kebingungan. 


"Haduh... Nyonya ini. Harusnya nyonya tanya, 'Mbok kenal sama saya?' begitu nyonya." ujar Mbok Ami membenarkan, meniru gaya bicara Hiyola. 


Orang yang di gurui hanya cengengesan tidak jelas. "Oh iya, benar. Mbok tahu saya? Mbok pernah lihat saya sebelum nya?" tanya Hiyola mulai menyelidiki. 


"Pernah, tapi cuma sekilas."


Hiyola manggut-manggut. "Apa tuan... Eh, maksud ku, apa Roberth pernah bercerita tentang ku?" 


Mbok Ami tampak mengingat, "Tuan, tidak cerita yang bagaimana-bagaimana, Nyonya. Sebenar nya, ini kesimpulan yang saya buat sendiri." 


Hiyola semakin antusias. Jika bukan dari mulut Roberth sendiri, maka ia akan mencari tahu lewat Ami. 


"Waktu itu, saya di beri libur seminggu, soalnya kata tuan, mau menikah. Karena tuan tidak pernah membawa nyonya ke rumah, saya tidak mengenal nyonya pada waktu itu.


Makanya waktu tuan dan nyonya akan menikah, tuan sempat menjelaskan beberapa hal mengenai nyonya. Salah satu nya ya, saya harus panggil nyonya dengan sebutan 'nyonya Kim'." 


Wajah cerah Hiyola seketika redup. Seperti nya Roberth memang sangat mencintai wanita bernama Kimberly.


"Waktu itu tuan cerita, wajahnya bahkan berseri-seri, jadi saya tebak nyonya pasti wanita yang cantik. Apalagi tuan itu tidak pernah membawa wanita ke rumah ini. Saya pikir pasti karena kecantikan nyonya Kim, makanya tuan tidak bisa berpindah ke lain hati." jelas Ami mencoba mengeluarkan semua yang dapat dia ingat.


Karena perbincangan yang serius, dan posisi mereka saat ini berdiri, "Kita ke meja saja, mbok. Biar ceritanya lebih nyaman." potong Hiyola, kemudian meraih lengan Ami dan menggiring nya ke meja makan agar proses bercerita jadi lebih nyaman.


Ami tersenyum, wanita 54 tahun itu berjalan mengikuti kemana sang majikan membawanya. Dari tadi, tidak henti-hentinya Ami menatap sang majikan, yang menurutnya sangat lah cantik.


"Terus Mbok..." tanya Hiyola langsung ketika mereka sudah berada di posisi yang nyaman.


Saking seriusnya, Hiyola sampai menangkupkan dagunya dalam tangan yang ia sanggah di atas meja makan. 


Ami mengernyit sebentar, mengatur posisi.


"Tapi, apakah nyonya memotong rambut?" tanya Ami, disaat bokong nya sudah menyentuh kursi. 


"Lihat apa, mbok?" Hiyola semakin penasaran karena reaksi Ami. 


"Maaf ya nyah, Waktu itu, saya tidak sengaja." ulang Ami kembali menahan kalimat nya, membuat Hiyola semakin greget.


"Iya, tidak sengaja apa mbok? Bilang saja, aku tidak akan marah." ucap Hiyola tidak sabar.


Ami nampak ragu-ragu, namun tetap mengatakan nya. "Sebenarnya waktu itu saya melihat nyonya dan tuan berciuman di gerbang depan..." 


Untuk kesekian kali, Hiyola membelalak. Ia bahkan sampai harus menutup mulutnya karena merasa jijik.


 Bagaimana bisa mereka berciuman di depan umum? Mentang-mentang berdarah campuran, mereka pikir bisa membawa budaya seperti itu ke mari?


"Memalukan." komentar Hiyola.


"Kenapa nyonya?"


Hiyola memukul mulutnya yang suka ceplas-ceplos sembarangan. 


"Maksud saya itu cukup memalukan, mbok. Tapi, tak apa itu sudah terjadi." Hiyola memajukan sedikit tubuh nya, dia berbisik.


"Jadi bagaimana ciri-ciri saya waktu itu?" 


Ami memicing, dahinya mengerut. Dia pun ikut melakukan persis seperti Hiyola. Memajukan tubuh gemuknya, menempel di meja makan, lalu menatap Hiyola serius.


"Nyonya mau saya jujur?" 


Hiuola mengangguk. "Tak apa, mbok." 


Ami menatap kosong sebentar,


"Kalau di katakan, nyonya yang sekarang jauh lebih baik. Nyonya yang saya lihat waktu itu..." Ami berdecak, menggoyang kan telapak tangan nya seraya menggeleng. "Terlalu kurus." sambung nya.


"Katanya karena Nyonya model, tapi buat saya, tubuh nyonya yang ini lebih bagus, tidak kurus dan tidak gemuk. Kata kerennya, ideal." 


Hiyola tersenyum sumringah mendengar celotehan Ami. Satu poin dirinya sudah lebih unggul.


Ami kembali melanjutkan. "Rambut nyonya waktu itu juga panjang, makanya  pas pertama lihat nyonya  saya kira tuan menikahi orang lain." 


Hiyola meneguk Saliva nya berat. Dia merasa telah membohongi banyak orang, Miona, Bibi Alya, Daniel, dan sekarang mbok Ami. Namun, meskipun begitu, Hiyola masih tetap ingin tahu mengenai wanita bernama Kimberly. 


"Terus mbok?"


Ami kembali melanjutkan. "Yang paling saya ingat kala itu adalah baju nyonya." Ami berdecak, lalu menggeleng lagi. "Sangat kekurangan bahan. Berbeda dengan nyonya sekarang. Pakaian nya keren, seperti anak muda gaul." kekeh  Ami. 


Hiyola teringat dress satu lemari di dalam kamar nya. Rupanya Roberth menyukai wanita bergaun kurang bahan.


"Oh ya, mbok. Tadi mbok bilang di beri libur seminggu, kenapa baru tiga hari sudah balik saja?" 


Raut wajah Ami tampak murung. "Waktu itu, pagi-pagi buta tuan telfon saya, katanya begini, 'Mbok Ami... Saya mau mbok pulang ke sini sekarang juga! Saya takut  ada orang yang mungkin akan membakar rumah.' begitu, nyonya. Tapi karena kampung halaman saya jauh, dan harus naik kapal, jadi berlarut sampai dua hari..." jelas Ami, menirukan suara Roberth. 


Jengkel, kesal, marah bergabung menjadi satu. Hiyola tahu betul siapa yang Roberth maksud. Lagi-lagi ia teringat akan kejadian panci hangus hari itu.


Hiyola baru saja mau berkomentar, tiba-tiba dari pintu depan Roberth masuk. Rupanya ia baru saja pulang.


Setelah menutup pintu, Roberth di kejutkan dengan Hiyola yang menatap nya tajam dari ruang makan. Entah mengapa saat melihat wajah Hiyola, Roberth kembali teringat dengan yang terjadi sebelum nya di jalan.


"Selamat sore tuan, Roberth." sapa  Ami, berjalan menghampiri majikan nya yang baru saja pulang.


Roberth mengangguk sambil membenarkan arloji di tangan kiri nya.


"Sore, Ami. Kapan datang?" 


"Tadi jam 4  tuan." jawab  Ami.


Nampaknya Roberth sengaja tidak mengacuhkan Hiyola yang masih duduk sambil menatap nya tajam.


"Oh iya, sudah berkenalan dengan nyonya Hiyo..." Roberth menjeda sebentar, kemudian berdehem. "Sudah kenalan dengan nyonya, Kim?" lanjut nya. 


Baru saja mau menjawab. Roberth dan  Ami dikejutkan oleh Hiyola yang tiba-tiba berdiri sambil mendorong keras kursi ke belakang dengan sedikit kasar. 


Hiyola lalu menghampiri Roberth dan Ami. "Panggil aku Hiyo saja, mbok."


 Menurut Hiyola semakin mereka memanggilnya Kimberly, ia akan makin merasa bahwa dirinya sudah mengambil tempat si Kimberly asli dan menjadikan dirinya sendiri Kimberly tiruan. 


Ami sedikit tercengang. "Loh, kenapa nyonya? Bukan nya nama nyonya Kimberly?"


Hiyola melirik Roberth, kesal. "Kemarin baru di ganti di kantor catatan sipil, mbok!" dusta nya membual, kemudian melenggang naik ke atas. 


 Ami tampak kebingungan. "Memangnya bisa di ganti, tuan?" menoleh pada Roberth.


Roberth menggeleng, "Itu nama tengah nya, mbok. Panggil saja sesuai yang dia mau." jelas Roberth, beranjak menuju lantai dua, ikut terseret dalam kekesalan Hiyola.


 Ami manggut-manggut. "Aku kira benar bisa. Padahal kalau bisa, aku mau mengganti nama jadi Alexy biar keren, seperti nama-nama bule." kekeh  Ami berbicara sendiri. 


***