Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 7 : Pagi pertama



“Sakelar untuk lantai 1 semuanya berada di samping kulkas lalu-”


“Hah? Benarkah? Tapi saya tidak melihat nya pagi tadi.” potong Hiyola.


Saat ini mereka sedang duduk di meja makan. Roberth tengah menerangkan semua hal mengenai rumah yang perlu Hiyola ketahui. Tapi, sejak tadi Hiyola terus saja memotong kalimat nya.


“Ah.. bisa gila aku!” geram Roberth, frustasi. Hiyola yang sadar akan kesalahan nya kembali mengangguk patuh.


“Sudah bisa diam?” Tanya Roberth. Hiyola bisa melihat tanda warning yang cukup besar di dahi pria itu.


“Maaf tuan.” Jawabnya seraya mengangguk, dengan sedikit senyuman kikuk.


Aishh... mulut ku memang harus di resleting.


“Lusa, maid yang bekerja akan kembali, jadi kau tidak perlu melakukan pekerjaan rumah, terutama… jangan pernah menyentuh dapur.” Jelas Roberth dengan menekan pada kata ‘dapur’ tidak lupa ia memberikan kunci duplikat juga untuk Hiyola.


Setelah selesai berceramah, Roberth langsung melenggang pergi, naik ke kamarnya. Dia harus bersiap-siap karena rapat pagi ini. Sementara Hiyola yang menunggu, ikut pergi setelah memastikan Roberth sudah masuk ke kamar nya.


***


Hiyola mengacak rambut, kasar. Ia bingung apa yang harus ia kenakan untuk ke kampus hari ini. Semua pakaian yang ada di lemari sama sekali tidak membantu.


“Argghhh…” geramnya melempar semua pakaian ke ranjang. Tadi saja ia terpaksa mengenakan piyama tidur karena hanya itu pakaian dengan style berbeda yang ia miliki di dalam lemari besar ini.


“Aishh… bisa gila aku.” Kesalnya sambil berjalan ke depan pintu kamar.


Hiyola mau memastikan apakah Roberth sudah pergi atau belum. Rencana nya Hiyola akan membungkus telur yang ia goreng tadi agar pria itu membawa nya ke kantor, sekaligus sebagai tanda terima kasih karena tidak memanfaatkan situasi pagi tadi.


Masih dengan menjulurkan kepala, Hiyola mendengar bunyi pintu yang di buka. Secepat kilat, sebelum Roberth pergi, Hilyola mengambil langkah seribu, berlari menuruni tangga.


“Apa lagi yang wanita itu lakukan?” Roberth menggeleng, kemudian menarik, menutup pintu. Turun ke bawah, ia merogoh ponsel kemudian menghubungi Petra.


“Saya akan berada di sana 5 menit lagi.” Setelah mendengar jawaban Petra, ia lalu mematikan ponsel nya, merapikan jas yang sempat berantakan karena kegiatan tadi.


“Anda akan ke kantor sekarang, Tuan?” seru Hiyola, berlari sambil menenteng kresek hitam dan menyerahkan nya pada Roberth.


Mengamati pemberian Hiyola, Roberth mengernyit.


“Apa?”


“Telur yang tadi pagi saya goreng.” Balas Hiyola sambil berusaha memberikan senyum terbaiknya agar Roberth tahu bahwa ia sudah tidak lagi curiga pada niatnya, dan ia akan melakukan yang terbaik hingga kontrak mereka berakhir.


“Untuk?”


Hiyola memukul jidatnya, “Tentu saja untuk tuan bawa ke kantor.”


“Saya bisa makan di kantor, untuk mu saja.” Tolak Roberth, melanjutkan langkah nya berjalan ke luar.


Hiyola berlari lagi, mengejar. “Bukankan kita harus memainkan peran masing-masing? Saya menjadi istri yang baik dan tuan menjadi suami yang baik.” Kembali menyerahkan kantong.


Roberth memejamkan matanya, lagi-lagi merasa frustasi, entah bagaimana cara menghadapi wanita berisik ini.


Tapi, Hiyola tidak bisa tinggal diam, dia merasa berutang budi pada Roberth.


“Lalu bagaimana cara saya membalas budi atas apa yang terjadi tadi pagi? Sungguh ini sangat memalukan, tapi saya tidak ingin berutang budi, Tuan!” keluh Hiyola, dia bahkan merentangkan kedua tangan nya agar Roberth tidak beranjak ke mana pun.


“Tidak perlu berterima kasih. Cukup jangan berlarian seperti pagi tadi, dan juga seperti yang beberapa saat tadi kau lakukan. Mengerti?”


Hiyola mengangguk seraya tersenyum melihat kepergian Roberth. Dalam hati ia bersyukur, meskipun pernikahan ini hanya sebuah sandiwara dan Roberth selalu bersikap kaku, paling tidak Roberth tak memperlakukan nya semena-mena seperti banyak cerita yang sering ia baca di novel.


Sibuk memandangi suami setahun nya, Hiyola baru tersadar bahwa ia sudah terlambat untuk berangkat ke kampus.


“Astaga, aku harus bergegas.” Pekiknya kembali berlari. Namun menghentikan langkah dikala perkataan Roberth tadi mengiang di kepalanya.


“Astaga, kenapa juga dia harus menyuruh ku berjalan? Bikin kesal saja.” Omelnya sambil berjalan cepat.


***


“Matilah aku.”


Tangan Hiyola mulai mengeluarkan satu demi satu dress yang ada, melemparnya ke atas ranjang, setelah lebih dulu mengukur mengukur panjang dress di tubuhnya. Sudah hampir 12 dress yang ia coba, namun tidak satupun yang sesuai dengan keinginan nya.


“Yang ini terlalu pendek.”


“Yang ini terlalu terbuka.”


“Astaga, siapa yang ke kampus mengenakan dress sejari?” ocehnya, menggeleng.


“Oh, astaga, dada nya rendah sekali.” Cibiran ke sekian kali di barengi gelengan kepala, hingga akhirnya pilihan jatuh pada dress berwarna putih dengan aksen bunga kuning yang memenuhinya, karena hanya itu satu-satunya dress dengan panjang melewati lutut. Tanpa mandi lagi, Hiyola bergegas berpakaian kemudian berlari turun, tidak lupa mengunci pintu.


Setelah mengunci pintu, awalnya Hiyola sempat khawatir karena harus pergi ke rumah untuk mengambil perlengkapan kampus dengan naik angkutan umum, tapi ternyata saat tiba di luar, motor birunya sudah bertengger manis di parkiran.


Petra memang patut di beri empat jempol kalau berkaitan dengan menjakankan tugas, tapi untuk attitude masih harus menggeleng. Kemudian dengan riang gembira, Hiyola segera memanaskan motor sebentar kemudian mulai melaju.


Jalanan pagi itu sangat padat, banyak dari pengendara tampak terburu-buru begitupun Hiyola yang harus bergegas ke rumahnya untuk mengambil perlengkapan kuliah.


Dengan sekuat tenaga ia meremas tangan kanan nya pada stang motor dan melaju seperti orang gila. Ia bahkan mengacuhkan dres kuning yang terus saja di terpa angin yang tanpa sadar membuatnya tampak manis pagi ini.


Dari jauh Hiyola mlihat beberapa motor dan mobil tengah berhenti di lampu merah. Dengan sedikit keberanian Hiyola maju perlahan sampai tidak da celah lagi untuk nya. Kebetulan saat itu Hiyola berhenti di samping sebuah mobil Hitam.


Hiyola baru ingat sebelum berangka tadi ia lupa memakai liptint.


Tidak peduli dengan keramaian, gadis itu segera meraih Liptint dari dalam tas dan memolesnya di tengah padatnya lampu merah. Lalu untuk meyakinkan, Ia memastikan penampilannya lagi lewat kaca hitam mobil yang berada tepat samping, tanpa peduli apakah orang di dalam memperhatikan atau tidak, keberatan atau tidak Hiyola mulai melepaskan helm dan merapikan rambut hitam sebahunya. Menyisir dengan jari-jari lentiknya kemudian tersenyum manis karnaa merasa puas, lalu kembali menggunakan helm seperti semula.


Sementara di dalam mobil, sang pengendara baru saja mau menurunkan kaca mobil, kalah cepat dengan lampu merah yang segera berakhir dan Hiyola yang juga langsung melaju.


“Mau ke mana dia pagi-pagi begini?


***