Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 17 : Trauma masa lalu



"Tuan bangun...!"


Hiyola menepuk pelan wajah Roberth yang penuh dengan peluh. Pria itu terus meracau tidak jelas seraya melepaskan tangan Hiyola yang terus mengguncang tubuh nya.


"Tuan Roberth! Kau kenapa?" tanya Hiyola mulai panik. Wajah Roberth memerah, mata nya sekejap terbuka. Tanpa sadar, tangan kekar Roberth langsung mencekik tengkuk Hiyola.


"Tuan lepaskan..." Hiyola hampir kehabisan nafas, namun Roberth tidak kunjung melepaskan cengkraman nya. Pria itu nampak seperti orang kesetanan.


"Brengsek kau! Beraninya kau masuk ke kamar ku!" maki Roberth tanpa sadar. Mata nya penuh dengan kabut kebencian yang entah untuk siapa.


Air mata mulai mengalir membasahi pipi Hiyola, nafasnya tersengal, berkali-kali ia memukul lengan Roberth meminta melepaskan nya, namun pria itu tidak menyerah dan malah mengencangkan cekikan nya.


"T-tuan... ini s-saya, Hiyola..." Tubuh Hiyola melemas, tangan yang tadinya memukul lengan Roberth perlahan lepas.


"Hiyola...!!!"


Roberth tiba-tiba tersadar dari hayalan nya, mata keabuan nya melebar kala melihat wajah tak berdaya di depan nya.


Brak...!!!


Roberth melemparkan tubuh tak berdaya Hiyola ke lantai, hingga kepala gadis itu terbentur dinding kamar.


"Aww..." pekik Hiyola kesakitan. Mata nya yang ber'air menatap Roberth ketakutan dengan nafas tersengal. Tangan Hiyola bahkan gemetar saat menopang tubuh nya berdiri.


"Hiyola..." Roberth beranjak dari ranjang hendak mendekati Hiyola, namun raut ketakutan di wajah nya mengatakan ia tidak ingin di sentuh.


"Hiyola... maafkan saya..." lirih Roberth, mengacak rambut gusar, menyesali perbuatan nya.


Hiyola hanya mengangguk sembari menyentuh dahinya yang terbentur, air mata belum juga berhenti mengalir wajah ketakutan nya. Dia tahu Roberth tadi melakukan nya dalam keadaan tidak sadar jadi ia akan paham.


"Saya akan melakukan sesuatu untuk dahi mu." ucap Roberth yang hendak meraih sesuatu dari dalam laci, namun saat melihat reaksi Hiyola yang tiba-tiba melompat kaget, Roberth menghentikan kegiatan nya. Rupanya Hiyola masih ketakutan.


"Baiklah saya tidak akan melakukan apa pun." putus Roberth akhir nya.


Hiyola mengangguk, mengusap air mata yang mengalir di wajah Hiyola. Inilah sebab nya Roberth sangat takut jika suatu saat ia menikah dengan Kimberly, dan melakukan hal yang sama seperti yang saat ini ia lakukan pada Hiyola. Trauma masa lalu yang selalu hadir dalam tidurnya ini penyebab Roberth harus selalu mengkonsumsi obat-obatan.


"Saya akan kembali ke kamar." ucap Hiyola akhirnya.


Roberth menggeleng, penuh penyesalan. "Tidak, saya yang akan pergi ke kamar sebelah. Kamu tetaplah di sini, lagi pula ini sudah pukul empt, sebentar lagi Ami pasti akan bangun. Saya bisa memberi alasan jika Ami mendapati saya di kamar sebelah." jelas Roberth. Tanpa menunggu persetujuan Hiyola, Roberth langsung berjalan menuju pintu lalu membuka nya.


Sebelum benar-benar melangkah, Roberth menoleh, "Saya sungguh menyesal." lirih nya kemudian menutup pintu.


Hiyola masih terpaku di tempat nya. Tangan nya masih bergetar walau ia sudah tidak menangis lagi. Ingatan akan tatapan Roberth tadi membuat seluruh tubuh Hiyola merinding.


Di mata Roberth tadi Hiyola bisa melihat jelas ketakutan bahkan kegelisahan, entah apa yang menimpa pria itu, namun Hiyola tahu selama ini di balik sikap cuek dan kaku nya, Roberth sedang menyembunyikan ketakutan nya.


Beranjak ke tempat tidur dengan langkah gontai, sesak nafas yang masih sedikit tersengal, membuat Hiyola tiba-tiba teringat saat-saat ketika sang ibu pergi meninggalkan nya dulu. Ingatan yang kadang-kadang membuatnya menangis sendiri, ingatan yang membuat nya ingin mati karena harus berjuang seorang diri.


Tanpa sadar, air mata Hiyola kembali mengalir. Dia berbaring diatas ranjang kebesaran milik Roberth, meringkuk memeluk tubuh nya sendiri. Rasanya sangat sesak saat kau harus membenci seseorang dan di saat yang sama kaupun merindukan nya.


Sementara itu, di luar kamar, tepat nya di depan pintu, Roberth masih berdiri mematung. Menyalahkan dirinya karena luka masa lalu nya yang telah menyakiti orang lain. Padahal selama ini Roberth selalu menyembunyikan trauma nya dari orang lain, bahkan dari Violeta sekali pun. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa seorang Roberth Mesac Kohler, yang nampak sempurna memiliki cela masa lalu yang amat dalam.


***


Hiyola mengerjap beberapa kali mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata nya. Saat kepalanya menyentuh dahi, ia merasakan kesakitan yang teramat perih.


"Astaga!" pekik Hiyola yang saat ini bediri di depan cermin. Matanya melebar berkali-kali saking tidak percaya dengan benjolan ungu yang telah mengganggu kecantikan nya.


"Ck, Roberth sialan!" maki nya. Padahal ia berencana menerima permintaan maaf nya semalam, namun melihat benjolan di kepala nya Hiyola spontan menarik semua niat nya.


"Maaf kaki ku!!! Argghhh....!" Hiyola terus mendumel seiring perjalanan nya yang hendak keluar dari kamar yang amat sangat megah tersebut. Bahkan kamar Roberth ini lebih besar dari rumah nya.


Saat pintu terbuka, Hiyola spontan menangkap nampan yang hampir jatuh dari genggaman Ami, karena wanita itu tengah sibuk merapatkan telinga nya ke pintu.


"Hati-hati, Mbok Ami..." pekik Hiyola menangkap nampan berisi roti dan susu untuk dua orang.


"Maaf nyonay, maaf..." ucap Ami gugup. Wanita itu nampak memperhatikan wajah Hiyola dengan serius. Alisnya bertemu saat melihat benjolan besar di dahi Hiyola. Tapi di detik berikut, wanita tua itu langsung menarik bibirnya membentuk sebuah lengkungan.


"Ih, ternyata tuan main nya kasar ya, nyah..." goda Ami sembari menunjuk dahi Hiyola yang membiru. "Sampai membiru..." timpal nya.


Hiyola yang tidak paham hanya mengangguk saja, ia teringat akan kejadian semalam saat Roberth mencekik nya.


"Iya mbok, ganas!"


Ami yang punya pemikiran berbeda sontak membelalak. Ia tidak menyangka majikan nya yang begitu cuek dan kaku ternyata sangat ganas.


Saat tengah berbincang, Hiyola dan Ami di kejutkan dengan Roberth yang keluar dari kamar nya. Melihat tampang Roberth, Hiyola spontan menunduk menyembunyikan benjolan di kepala nya.


Roberth yang merasa Hiyola menghindari nya hanya berusaha bersikap seperti biasa.


"Tuan, loh..." Ami menunjuk Hiyola dan Roberth bergantian. Roberth yang paham langsung memberi penjelasan.


"Oh, tidak, Ami. Saya tadi pagi ingin membaca, takutnya mengganggu Hiyo, jadi saya pindah ke kamar sebelah."


Ami manggut-manggut lalu menyerahkan nampan kepada Hiyola. "Oh iya tuan, saran saya tuan pelan-pelan, kasihan nyonya Hiyo sampai biru dahi nya." ujar nya sedikit berbisik, lalu pergi dengan senyum jahil.


Stelah kepergian Ami, Roberth tampak sedikit panik, ia berjalan mendekati Hiyola memotong jarak di antara mereka,


"Kau baik-baik saja?" cemas nya mencoba menyibakkan rambut yang sengaja Hiyola sampirkan untuk menutup lebamnya, namun secepat kilat Hiyola menghindar.


Hiyola masuk ke dalam, kemudian meletakkan nampan di atas meja yang berada persis di samping pintu.


"Saya baik-baik saja tuan. Saya mau ke kamar membersihkan diri." dusta nya kemudian pergi dari sana meninggalkan Roberth yang masih di penuhi rasa bersalah.


Padahal sebenarnya Hiyola sengaja menghindar agar Roberth tidak perlu cemas. Ia tidak ingin pria itu merasa bersalah.


"Keras kepala..." ucap Roberth memandangi Hiyola yang masuk ke kamarnya dengan berlari terbirit-birit.


***