Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 27 : Penasaran



"Kamu baca chat ku, ya?" tuduh Hiyola saat membuka Wa baru tanpa nama, yang ternyata sudah di baca, dari isi dia bisa tahu siapa pengirim nya.


Daniel menyeruput es jeruk seraya menggeleng. "Aku tidak membaca apa pun. Memangnya ada pesan penting?" celutuk Daniel, menjulurkan kepala ke depan, hendak ikut membaca isi pesan yang Hiyola permasalahkan.


Buru-buru mematikan layar ponsel, Hiyola mengunyah roti tawar yang di beli untuk makan siang. "Tidak, bukan apa-apa!" elak nya, memasukkan ponsel ke dalam saku celana.


Daniel memicing curiga. Hari ini dia tidak mengenakan baju berbunga seperti biasanya.


"Kau itu semakin hari, semakin mencurigakan." Daniel mencomot kentang goreng favorit nya. Wajah nya penuh dengan curiga, membuat Hiyola ikut tertekan. "Kamu belum mau cerita?"


Hiyola memgangguk, sendu. Dia yakin jika menceritakan apa yang terjadi, Daniel akan membunuh nya.


"Jangan melihat ku seperti itu. Aku bukan nya tidak mau cerita. Aku belum bisa."


Daniel mendengus. Walau di luar Hiyola selalu menunjukkan sisi ceria, sebenarnya dia tipe orang yang tertutup. Walau kadang kata-kata yang keluar tidak di saring, dia bukan tipe orang yang suka mengumbar cerita sedihnya.


"Sudah, jangan melamun lagi. Ayo kita masuk, sebentar lagi matkul manajemen." Daniel merapikan barang nya dan Hiyola. Kebiasaan nya karrna tidak bisa melihat kekacauan.


"Eh, tapi ku dengar, ada dosen baru di jurusan. Dengar-dengar tampan orang nya dan masih muda." celetuk Hiyola di sela-sela kunyahan roti yang belum habis. Dia menoleh, melihat ekspresi Daniel. Pria itu biasa saja. Tentu sebagai penggila pria, Daniel pasti sudah tahu informasi tersebut sebelum nya.


Hiyola mendengus sebal. Sepertinya mereka sudah mulai main rahasia-rahasia.


"Kau sudah tahu?"


Daniel mengangguk agak malas-malasan. Matanya fokus pada layar ponsel. Sebuah pesan masuk membuatnya mengerutkan dahi.


"Kamu jangan kepincut dengan pria tampan. Mereka itu suka menyakiti." Daniel berucap sambil tetap fokus ke layar ponsel nya. Sejurus kemudian, Hiyola spontan menarik tangan Daniel. Pria itu hampir terhantuk batu bata yang tergeletak di tengah jalan, entah siapa yang meletakkan batu tersebut di sana.


"Kamu kenapa, Daniela! Ada apa sih? Dari tadi aku ajak bicara, kau sibuk dengan ponsel mu!!!" Hiyola menghentikkan langkah nya sedikit kesal. Sejak tadi Daniel hanya fokus pada ponsel, dan menanggapi uacapan Hiyola seadanya.


"Mmm, aku punya urusan penting. Ku rasa aku akan membolos." beritahu Daniel tergesa-gesa. Tanpa menunggu jawaban Hiyola, Daniel langsung berlari begitu saja. Bahkan panggilan Hiyola pun tidak di gubris.


"Ada apa dengan nya? Apa aku ikuti saja?" Hiyola menimbang, antara pergi atau tinggal. Beberapa hari terakhir, sikap Daniel sangat aneh. Dia lebih banyak diam saat di ajak bicara, lebih banyak berselancar di atas layar ponsel ketimbang mencatat materi saat kuliah, dan mood nya sering berubah-ubah.


Kadang dia sangat cerewet seperti beberapa menit lalu ketika mereka di kantin, kemudian berubah murung saat mereka berjalan tadi.


"Huh, mungkin perasaan ku saja." Hiyola yang tentunya tidak ingin rugi uang, lebih memilih masuk dan mengikuti kuliah. Nanti dia akan memberi alasan masuk akal agar Daniel bisa mendapat ijin.


***


Di dalam kelas, fokus Hiyola terganggu dengan pesan yang ia tahu dari Roberth. Tidak ada seorang pun yang berani mengirim pesan pemaksaan, kecuali makhluk itu.


Tentang memberi tahu di mana keberadaan nya, Hiyola merasa ada yang aneh. Tidak mungkin, tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba Roberth mengirim pesan aneh tersebut.


"Apa mungkin, dia memang kemasukan angin aneh?"


Ktak...


Sebuah spidol melayang menyentuh dahi Hiyola. Ia meringis kesakitan sekaligus sebal. Memarnya belum benar-benar sembuh, sudah di timpa lagi.


"Dari tadi saya perhatikan, fokus kamu tidak berada di kelas! Kamu mau saya kasih nilai E?" ancam pak dosen berkacamata, yang sudah sangat tua, salah satu dosen paling killer di jurusan nya.


Untungnya dosen tersebut sedang dalam mood baik, jadi Hiyola tidak sampai di keluarkan. Sehingga ia bisa kembali mengikuti kuliah.


Dua jam berlalu, Hiyola bergegas meninggalkan kelas. Dia lari buru-buru menuju parkiran. Rencana nya akan ke rumah Daniel. Namun, langkah nya terhenti, saat kakinya hampir menginjak halaman parkiran.


Menunduk, Hiyola kembali memastikan mobil yang ia lihat tadi, meyakinkan diri bahwa penglihatan nya tidak salah.


Saat orang di dalam mobil keluar, jantung Hiyola hampir meloncat keluar. Benar, dia memang Roberth.


Untuk apa pria itu datang ke kampus nya. Apa mungkin dia tahu mengenai latar belakang Hiyola yang sebenar nya? Atau, mungkin ini sebabnya dia mengirim pesan singkat tadi?


Hiyola sudah keringat dingin. Ketakutan, Roberth akan mengetahui rahasia nya, semakin besar.


Masih menunduk, berusaha bersembunyi, Hiyola mendengar grasak grusuk dari depan fakultasnya. Ternyata para wanita tengah bergunjing ria, dengan wajah sok tersipu, merona karena, ketampanan Roberth.


Hiyola yang menyaksikan hal tersebut juga jadi agak kesal. Dia tersenyum kecut. "Apa yang manusia itu lakukan di sini? Sepertinya dia ingin membunuh ku secara perlahan." ucapnya bermonolog.


Saat memastikan Roberth telah hilang dari pandangan, Hiyola bergegas menyalakan motor nya. Dia harus segera kabur. Kalaupun tertangkap, setidak nya bukan di tempat ini, sebab hal tersebut bisa berpengaruh pada kehifupan perkuliahan nya.


Tiba di rumah Daniel, Hiyola buru-buru turun dan memarkirkan Hope. Gambaran penuh tanya, tercetak jelas di wajah Hiyola, saat melihat kondisi rumah Daniel yang ramai, tidak seperti biasanya. Dari dalam rumah juga Hiyola mendengar suara isakan, dari orang yang dia kenal.


Hiyola langsung berlari tergesa-gesa memasuki rumah mewah, berwarna dasar putih, abu-abu tersebut. Ada banyak polisi dan juga wartawan di sana.


Menerobos masuk, Hiyola mencoba mengikuti asal suara yang ia kenal. Membeku seketika, saat menemukan Daniel yang bersimpuh, sembari menatap wanita yang tergeletak di depan. Di samping nya, Om Bram tengah terisak sambil memegang tangan wanita itu.


Walaupun tidak bersuara, sikap dingin Daniel menunjukkan bahwa ia juga sangat terluka. Matanya kosong, memandang wanita yang bisa Hiyola tebak, ibu Daniel. Selebriti yang nama nya sudah tenggelam karena kasus narkoba, Hiyola pernah melihat nya di youtube sekali, karena tidak percaya apa yang Daniel katakan soal ibu nya seorang artis pendukung. Hiyola juga pernah melihat beberapa foto Daniel bersama ibu dan ayah nya saat pria itu masih kecil.


Wanita paruh baya, yang memiliki tubuh semampai, dan langsing tersebut, terbaring tidak bernyawa. Tubuhnya penuh dengan luka lebam. Ada yang masih membiru, dan ada juga yang sudah menghitam, menunjukkan luka yang sudah sedikit lebih lama.


Mungkin karena mantan selebriti, para wartawan juga ikut bagian dalam kejadian naas tersebut.


Hiyola kemudian berjalan mendekati Daniel. Saat tangan Hiyola menyentuh pundak nya, Daniel langsung menoleh. Matanya seketika berair. Hanya kepada Hiyola ia berani menunjukkan sisi lemah nya. Hiyola langsung membawa Daniel ke dalam pelukan nya.


Daniel tidak menolak, ia menyembunyikan wajah kesakitan nya, di balik lengan Hiyola. Dia mengangis sejadinya, mencurahkan semua sesak yang tertahan. Walaupun membenci ibu nya, Daniel sadar dia masih menyayangi sang ibu. Bagaimana pun juga, sebelum membenci, dia juga pernah merasakan kasih sayang yang begitu besar dari wanita jahat itu.


Bisa merasakan sedih yang di rasa Daniel, Hiyola membiarkan pria itu bersembunyi di balik lengan , mengusap lembut pundak bergetar nya.


***


Di lain tempat, Roberth saat ini tengah duduk berpangku kaki, di dalam ruangan Rektor. Dia duduk tepat di bagian kepala meja sepanjang ruangan. Ternyata sudah lama keluarga Roberth menjadi donatur di kampus swasta tersebut.


Saat berbincang, mata Roberth tidak sengaja menangkap sosok Hiyola, yang di tayang kan di dalam sebuah acara selebritas. Alisnya mengerut, saat melihat pria yang bersandar dalam pelukan gadis itu. Duduknya mulai tidak tenang. Walau tahu pria tersebut Daniel yang notabene seorang penyuka sesama jenis, Roberth merasa sedikit risih.


Greget, Roberth langsung terdiam. Sejurus kemudian.


"Tolong keraskan suaranya!" ujar Roberth di tengah perbincangan serius, membuat beberapa orang yang berada di dalam ruangan, melongo.


***