
"Jadi, ayo ceritakan perubahan mu, Daniel." Hiyola lebih merapatkan duduknya. Saat ini mereka duduk di salah satu bangku taman.
"Ku harap tidak ada yang kau sembunyikan." peringat nya.
Daniel mengerutkan dahi, dengan tatapan begitu serius jauh ke depan sana. "Aku berubah karena seorang gadis." Kini ia beralih menatap Hiyola. "Aku baru sadar, setelah begitu banyak hal yang terjadi dalam hidupku." jelasnya.
Di samping itu, seseorang dari pintu kampus berjalan mendekati mereka. Jeremy, sang dosen, agaknya tidak suka dengan kedekatan dua insan yang duduk dengan jarak yang amat dekat itu.
"Hiyola Anastasya?" panggil Jeremy.
Hiyola dan Daniel sama-sama menoleh, lalu berdiri serempak. Daniel sudah mendengar perihal dosen baru mereka, dan di luar dugaan dosen baru ini terlalu tampan untuk seorang dosen. Hiyola melirik Daniel yang tampak serius, senyumnya tersungging berharap usaha Daniel untuk berubah tidak berakhir gagal.
"Bapak mencari saya?" tanya Hiyola yang kembali fokus dengan Jeremy.
"Saya minta kamu menemani saya ke perusahan periklanan, untuk sebuah riset. Bisa kan?"
Kedua alis Hiyola bertemu, "Kenapa harus saya?" yah, walaupun beberapa hari ini mereka sudah cukup dekat, takutnya hal tersebut membuat orang lain curiga.
Daniel pun turut bertanya, "Ya! Kenapa harus siswi semester dua? Bukankah bapak harus meminta mahasiswa akhir?" tambah nya menaruh curiga, melihat tatapan Jeremy pada sahabatnya.
Jeremy menoleh, alisnya mengerut. "Loh, bukankah mahasiswa manapun layak di beri kesempatan?"
Melihat ada ketegangan di sana, Hiyola sontak berkomentar, agar tidak terjadi sesuatu di luar dugaan. Terutama Hiyola sangat tahu seberapa posesifnya Daniel terhadap dirinya.
"Baiklah! Aku ikut kamu-Eh, maksud nya, saya ikut bapak." Sekarang kegugupan Hiyola lah, yang membuat dua insan di hadapan melihat ke arah nya.
Sejurus kemudian Jeremy langsung tersenyum puas. "Baiklah. Kita pergi sekarang." Mengulurkan tangan nya, mempersilahkan Hiyola untuk pergi lebih dulu, sementara Hiyola hanya bisa menuruti sambil mengusap pundak Daniel.
"Aku sungguh bahagia dengan perubahan mu, Daniel," girangnya sambil lalu. Tatapan tajam Daniel layangkan pada Jeremy, yang hanya menyunggingkan senyum sinis.
***
"Tuan, nyonya Violeta bertanya, apakah tuan sudah meminta nyonya Hiyola untuk pindah?" tanya Petra.
Saat ini mereka berada di sebuah gedung pencakar langit, milik keluarga Kohler. Roberth, tengah sibuk dengan berkas di meja kerja nya, tiba-tiba berdiri. Ia melangkah meninggalkan kursi kebesaran, berdiri menatap kota besar dari dinding kaca ruangan nya. Matnya menatap tajam setiap orang yang berukuran amat kecil di bawah sana.
"Coba berikan pendapat mu, Petra." ucap Roberth, dia masih fokus ke luar sana.
Petra berdehem. "Tentang apa, Tuan?" sahutnya.
"Jika seseorang terus menyangkal mu, apakah artinya dia tidak miliki perasaan terhadap mu?" Kali ini Roberth berbalik, dia menunggu respon Petra dengan tidak sabar.
Netra Petra memicing, ia tampak sedang berpikir. "Ya, menurut saya, bisa jadi begitu." Dia tersenyum singkat. "Apakah ini mengenai Tuan dan Nyonya Hiyola?" tebak nya.
Roberth segera menggeleng. "Jangan cepat menyimpulkan. Ini hanya kisah dari seorang kolega." dustanya.
Petra tersenyum singkat. Mana ada kolega membicarakan hal pribadi seperti itu? Astaga! Aku sendiri bingung bagaimana cara dia memenangkan semua Tender selama ini.
"Menurut saya, Tuan harus melihat lebih jelas, kenapa nyonya Hiyola seperti itu. Saya rasa, itu karena nyonya wanita yang sulit di gapai."
Jawaban Petra mendapat tatapan tajam dari Roberth. "Kau jangan asal bicara! Sudah ku katakan ini bukan tentang ku!" kecam Roberth. Ia langsung melenggang keluar, dengam sedikit salah tingkah. Tangan nya mengacung menunjuk Petra begitu tiba di ambang pintu.
"Cepat siapkan mobilnya. Kita harus ke hotel Algebra," perintah nya, langsung melenggang keluar di ikuti Petra yang sibuk tersenyum sendiri.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang di tumpangi Roberth, memasuki sebuah kawasan perhotelan bintang lima. Sungguh pertemuan yang memuakkan untuk Roberth, namun, dirinya harus bisa mendapatkan kesepakatan sebagai sebuah syarat agar dirinya bisa memenangkan tender besar yang telah ia rancang selama dua bulan lamanya. .
Begitu memarkirkan mobil, Petra berlari cepat mengitari nya, kemudian membuka pintu untuk sang bos. Semua mata tertuju ke arah mereka, begitu keduanya memasuki lobi Hotel. Bahkan resepsionis sampai gugup ketika memberikan kunci kepada Petra, karena terpesona akan ketampanan pria berjas hitam di samping nya.
Akan tetapi, di saat mata semua orang tertuju kepanya, mata Roberth malah memicing ke arah lift akibat di kejutkan oleh tubuh mungil di dalam sana yang baru saja menutup. Gadis yang sangat ia kenal tersebut, berdiri di samping seorang pria, yang wajahnya tidak jelas karena terhalang pintu lift.
Dengan santai namun langkah cepat, Roberth melenggang pergi, hendak mencegah lift tersebut. Karena terlambat, Roberth memutuskan menaiki lift yang terbuka kosong, tanpa menghiraukan Petra yang coba menyusul. Tiba di dalam, ia segera memencet tombol 7, mengikuti lantai tujuan lift sebelum nya.
Ting...
Denting lift membuyarkan lamunan Roberth, dia buru-buru keluar, lalu berjalan cepat mengikuti gadis berambut sebahu di depan sana, yang hendak memasuki salah satu kamar hotel.
Dengan pikiran yang sudah kemana-mana, Roberth membanting kuat pintu hotel yang baru saja tertutup, membuat orang di depan berbalik spontan, dengan mata membulat sempurna dan mulut menganga yang juga sama terkejutnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Hiyola???" ketus Roberth. Pikiran aneh mulai menyelimuti dirinya. Sementara Hiyola, dia tampak gelagapan tidak tahu harus menjelaskan bagaiman.
Dengan senyum aneh di wajah tampan nya, Roberth yang tampak tenang mengacuhkan pertanyaan Hiyola. Kekesalan nya ia sembunyikan di balik wajah datar nya. Kemarahan karena kejadian di restoran masih menyelimuti dirinya.
"Apa yang aku lakukan?" Roberth mengulang pertanyaan Hiyola, sinis.
Dengan langkah tenang, ia berjalan memasuki kamar berukuran lumayan besar tersebut. Dia menghampiri gorden besar di samping ranjang, lalu menyingkapnya dengan curiga. Dirinya kemudian mengangkat seprai yang menjuntai ke lantai, menggunakan kaki, namun tidak menemukan apa-apa saat melongok. Belum puas sampai di situ, dia berjalan ke arah pintu lain yang berada di dalam kamar, kemudian membuka nya cepat. Hiyola masih setia berdiri di sana sambil mengamati apa yang tengah di lakukan suami setahun, dengan dahi berkerut.
Matanya baru membulat sempurna ketika otak lemotnya baru konek tentang apa yang mungkin terjadi. Sambil mencoba menahan emosi, Hiyola kembali bersuara.
"Apa yang kau lakukan, Tuan!!!???" teriak nya, mulai hilang kesabaran. Kini ia bisa menebak kemana jalan pikiran Roberth.
Pria bersetelan jas hitam itu berjalan ke arahnya. Satu alisnya terangkat, dengan tangan kanan yang dimasukkan de dalam saku celana.
"Kemarin kau bekerja di restoran, apakah hari ini kau mendapat job di hotel?" tanya Roberth sinis.
Hiyola bingung harus menjelaskan seperti apa. Pasalnya ia sendiri pun tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Roberth.
"Saya..." Dia menggantung kalimatnya.
Roberth sontak bersedekap dada. "Apa kau jual diri? Apakah benar yang Kimberly katakan tentang uang 200 juta yang sudah ludes?" tuduh Roberth.
Degh...
Tudingan Robert langsung menusuk tepat di jantungnya, perut Hiyola bahkan terasa mual hanya karena mendengar pekerjaan yang seumur hidup tidak pernah ia jamah.
Entah mengapa, kali ini sakitnya berkali lipat. Walau sudah sering mendengar tuduhan tersebut dari orang-orang, mendengarnya dari Roberth, nyatanya sangat menyakitkan. Sesuatu di dalam sana pun ikut terasa ngilu ketika pertanyaan tidak berdasar tersebut, terlontar begitu saja dari bibir yang mencium nya semalam. Di tambah sikapnya yang begitu santai, Hiyola merasa jauh lebih baik jika Roberth membentaknya.
Sambil menunduk, menahan mata yang mulai memanas, Hiyola berucap. "Ternyata, nilai saya di mata Tuan, hanya sebatas ini." lirih nya.
Mengangkat wajah nya, Hiyola menyunggingkan sebuah senyum dipaksakan, membuat Roberth yang tengah menahan diri, semakin merasa kesal. Padahal yang ia butuhkan hanyalah penjelasan dari nya.
"Kau bahkan tidak mau menjelaskan apa pun?" sergah Roberth, melihat Hiyola yang melenggang begitu saja.
Hiyola meringis, "Apakah Tuan akan percaya?" tanyanya, namun, Roberth bergeming.
Hiyola tersenyum kecut. "Rupanya, butuh waktu yang lebih lama untuk kita saling memahami." ucap Hiyola, berjalan keluar. Air matanya baru menerobos tumpah begitu melewati Petra.
Menghampiri bosnya, Petra berkata, "Tuan, saya berpapasan dengan Nyonya Hiyola, dan dia--"
Namun, kalimat nya terhenti saat isyarat tangan Roberth terangkat.
"Aku tidak ingin mendengar nama nya." potong Roberth, lalu melenggang keluar menuju lift.
"Undur pertemuan ke dua hari lagi." perintah nya ketika mereka sudah berada di dalam lift. Petra disampin hanya bisa mengangguk, patuh.
Sementara itu, Hiyola yang berjalan cepat, bertubrukan dengan Jeremy, yang juga tengah menuju ke tempatnya.
Yup! Sebenarnya, tadi saat dalam perjalanan menuju perusahan periklanan, Jeremy mendapat telfon mendadak sehingga merubah tujun mereka. Jeremy yang harus bertemu klien, meminta Hiyola untuk mencatat kelengkapan kamar hotel menggantinya, untuk keperluan riset. Itu sebabnya Hiyola masuk ke salah satu kamar dan bertemu Roberth.
"Maaf, saya tidak sengaja." lirih Hiyola dengan suara seraknya. Ia bahkan tidak tahu bahwa yang berdiri di depannya adalah Jeremy.
Jeremy yang mendengar suara Hiyola, sekaligus gelagatnya yang menunduk, spontan mencengkram kedua bahunya saat Hiyola hendak berlalu. Raut wajah khawatir tidak bisa pria itu sembunyikan.
"Hei! Apa yang terjadi? Kenap kau menangis?" tanya Jeremy, cemas. Dl
Hiyola mendongak. Matanya merah, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi. Dia menggeleng.
"Aku baik-baik saja." lirihnya, seraya mengangkat tangan, mengusap air matanya.
Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan orang lain, namun kali ini sepertinya terlalu sulit.
Dengan cepat Jeremy menarik Hiyola masuk ke dalam pelukkan nya, mengacuhkan beberapa kolega yang baru saja keluar. Menenggelamkan kepala mungngil itu di ceruk dadanya, merasakan isakan yang mengganggu fokusnya.
"Siapa yang melakukan ini pada mu?"
***