Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 60 : Kau Putra Clodio Kohler?



Tok...tok...tok...


Hiyola terkejut saat pintu kamarnya di ketuk. Dengan tergesa-gesa ia segera membuka. Sungguh kesuntukan ini sangat mengganggu.


"Huh, syukurlah kau datang sebelum kebosanan ini membunuhku," ucapnya saat sosok Jeremy terlihat. Pria itu tersenyum, sedikit merasa bersalah karena telah meninggalkan Hiyola untuk waktu yang lama.


"Ayo ke bawah. Aku akan mengenalkan mu pada keluarga ku," ujar Jeremy, mengusap gemas puncak kepalanya.


Hiyola segera mengangguk, menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan menuju lift. Keadaan di dalam kotak besi sangat hening. Entah apa yang di pikirkan Jeremy, namun Hiyola masih terganggu dengan suara pertengkaran dua orang di luar kamar beberapa saat lalu.


Lift berhenti, membawa mereka ke lantai satu. 


Tuk tak tuk ...


Suara hentakan sepatu Hiyola dan Jeremy bersahutan memenuhi ruang makan yang amat hening.


Dari jauh Alberto mengumumkan kedatangan mereka. "Tuan muda Jeremy dan Nona Hiyola akan bergabung di meja makan." 


Mendengar hal itu, sebisa mungkin Hiyola mengatur penampilan nya lagi. Dia tidak ingin Jeremy di permalukan di depan keluarga besar hanya karena penampilan nya. Hiyola bahkan menggunakan dres selutut yang membuatnya tampak cantik dan siap untuk di perkenalkan.


Selesai memastikan penampilan nya, Hiyola mengangkat wajah seraya tersenyum manis. Namun, senyum itu langsung pudar saat melihat empat orang di meja makan, dan tiga di antara nya yang sudah berdiri dengan mata membelalak sempurna.


Tanpa sadar Hiyola yang balas menatap mereka pun, sontak mengumpat pelan.


"Sial!"


 ***


Kimberly, Violeta dan Roberth! 


Ya, Tuhan, bagaimana takdir bisa seabsurd ini? Demi apa pun di dunia, dari sekian banyak manusia di bumi, dan semua negara, kenapa harus di sini, kenapa harus mereka? Kenapa harus orang-orang yang paling ia hindari ini yang ada di meja makan, dan akan duduk bersamanya? 


"Kau putra Clodio? Clodio Kohler?" pekik Hiyola dengan suara sekecil mungkin. matanya membelalak, tangan nya yang bebas, mencengkram lengan Jeremy agar pria itu tidak bergerak ke mana pun. Tapi, bukan nya menjawab, Jeremy malah melempar senyum penuh arti, lalu kembali mengajak Hiyola untuk mendekati meja makan.


"Oh, cucu kesayangan ku! Sudah berapa lama sejak aku terakhir kali melihat mu?"


Wanita tua di ujung meja, satu-satunya wanita yang tidak Hiyola kenal menyapa mereka. Dia berdiri menghampiri lalu memeluk Jeremy hangat. Tangan nya mengusap lembut wajah cantik Hiyola. 


"Kau pasti calon istri cucuku, kan?" ucap nya.


Wanita tua bergaya eropa itu, bernama Esmeralda. Jeremy sudah pernah cerita tentabg nya. Dia adalah ibu Clodio, wanita kebangsaan Jerman, nenek Jeremy.


Hiyola balas tersenyum. Dia tidak mengangguk, dan tidak menjawab sebab atmosfer dingin yang tercipta di ruangan itu membuat bulu kuduk nya berdiri merinding. 


"Ayo, kenapa berdiri saja? Duduklah," seru Esmeralda, dia menatap tiga orang yang juga masih berdiri. "Kalian bertiga juga, duduklah. Apa kalian sama tidak percaya bahwa Jeremy akan membawa gadis asia secantik ini?" ujar nya dengan mata berbinar saat menatap Hiyola.


Violeta dan Kimberly mencibir pelan, sementara Roberth, hanya ia dan Tuhan yang tahu bagaimana kondisi hatinya saat ini. Wajah nya tanpa ekspresi, namun nampak merah padam.


Suasana bertambah tegang saat Hiyola dan Jeremy sudah mengambil tempat di deret kanan Esmeralda. Di kiri, Roberth dan Kimberly, sedangkan di ujung meja yang lain, Violeta duduk dengan wajah angkuh dan tatapan tajam yang masih tertuju pada satu orang.


Para pelayan dengan gembira mulai menyajikan makanan sementara para majikan malah cenderung diam. Hanya Esmeralda yang sibuk memperhatikan kerja para maid, sambil sesekali mengomel.


Sepertinya ini bukanlah sesi makan siang, melainkan lomba tatap menatap. Violeta dan Kimberly sibuk melihat Hiyola dan Jeremy, bergantian, sedangkan orang yang di tatap malah sibuk menoleh ke arah Jeremy dengan penuh tanya, sekaligus sengaja menghindari kontak mata dengan pria berjas hitam di depan nya.


Roberth dengan sejuta tanya dan gejolak kekesalan berusaha menahan diri. Esmeralda sama saja dengan Clodio, jadi ia tidak bisa bersikap sembarangan. Mata nya hanya bisa menatap Hiyola dengan intens.


Walau kekesalan tengah menggerogoti relung hatinya, Roberth tidak bisa menyangkal segelintir rindu yang kini meronta minta di lampiaskan.


Mata bulat yang sesekali melebar karena kesal, bibir mungil yang sering mengerucut jika Roberth bersikap seenaknya, dan poni yang tercipta karena kekonyolan trauma nya, semakin membuat usaha Roberth selama dua minggu terakhir menjadi sia-sia. Sungguh demi apapun, saat ini yang ingin ia lakukan hanyalah membawa sosok cantik yang telah membuatnya tersiksa selama dua minggu ini, kedalam pelukan nya.


Beberapa saat kemudian, para pelayan sudah selesai menyajikan makan siang. Meja makan sudah penuh dengan makanan, tampak tidak bisa menggoda selera dari para penghuni. Semua mulut terkatup rapat dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda.


"Baiklah Hiyola, sebelum kita makan. Grandma akan memperkenalkan semua anggota keluarga yang ada di meja ini." ucap Esmeralda, memecah keheningan. Hiyola bergeming, dia bingung tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Wanita berwajah masam di depan sana, Violeta. Dia seling--"


"Grandma!" Roberth yang sudah tahu apa kelanjutan nya langsung memprotes sang nenek.


"Tenang Rob. Hanya gurauan," balas nya. Roberth tidak lagi berkomentar. Jika tidak ada Esmeralda di sini, ia mungkin sudah minggat dari meja. Apalagi melihat Jeremy yang dengan berbisik-bisik di kuping Hiyola. Kegeraman di hatinya jadi berlipat ganda. 


***


Perkenalan berakhir, semua orang makan dengan tenang. Kalau boleh jujur, Hiyola berharap ia memiliki kekuatan teleportasi agar bisa menghilang saat ini juga. Apalagi tatapan semua orang selama makan siang selalu tertuju padanya, membuat Hiyola merasa di telanjangi.


"Tenanglah, Hiyo. Setelah makan siang selesai, aku akan menjelaskan segalanya padamu." Jeremi berbisik hampir mendekati kuping Hiyola, namun orang lain di depan sana malah melihatnya berbeda.


Brakkk...!


Roberth sengaja menjatuhkan sendok sehingga Hiyola yang terkejut spontan menjauh membuat sang empu sendok tersenyum puas. Tanpa banyak berkomentar, Roberth segera merubah sikap.


"Alberto, ambilkan sendok lain untuk ku," titah nya.


Setelah beberapa saat, suasana kembali hening. Sudah menjadi peraturan bahwa saat makan, tidak seorang pun di ijinkan bicara. Rumah utama memang selalu memiliki peraturan nya sendiri. Entah dari jam makan pagi, siang, malam, aturan waktu keluarga, jam malam, semuanya sudah di buat sedemikian rupa. Oleh sebab itu, Jeremy maupun Roberth lebih memilih tinggal sendiri saat usia mereka sudah mulai menginjak remaja. 


Di meja makan, Kimberly tampak tidak berselera, begitu pun Roberth dan Violeta. Mereka lebih ke mencicipi dari pada memakan. Semnatara Jeremy dan Esmeralda tampak tidak terganggu. Hiyola pun, walau dalam keadaan jantung yang berdegup kencang, ia tetap berusaha bersikap biasa sambil menikmati makanan nya.


Selesai makan, semua orang menunggu Esmeralda kembali ke kamarnya di lantai tujuh. Wanita tua itu sempat bercakap-cakap sebentar sementara orang-orang yang mendengar sudah tidak berminat, terkecuali Hiyola. 


Setelah puas dengan ceritanya, Esmeralda memutuskan untuk pamit. 


"Baiklah semuanya, kita akan bertemu lagi saat makan malam," ujarnya. "Oh, iya, Violeta, kau pun dilarang menemui Clodio! Aku tidak ingin putra ku kembali sakit karena melihat wajah mu!" lanjut Esmeralda, menyindir.


Akhirnya dengan di bantu Alberto, Esmeralda pun kembali ke kamarnya.


Beberapa saat kemudian, baru saja lift membawa wanita itu melewati lantai dua. Satu pukulan telak mendarat sempurna di wajah Jeremy. 


"Haa....!!!" Teriakan terdengar dari Hiyola, Kimberly, Violeta bahkan para pelayan secara bersamaan. 


"Bangsat kau! Beraninya kau mendekati istri ku!!!" umpat Roberth tanpa sadar, membuat Violeta membelalak.


"Istri mu?" Jeremy tersenyum miring. "Kau sudah gila, Roberth? Istrimu berada tepat di samping mu!" ucapnya menunjuk Kimberly yang kini tampak berusaha menutupi rasa kesal sekaligus malu. Seketika, Roberth yang di kuasai kecemburuan, sadar akan sikap bodohnya. Tentu saja semua orang pasti akan sangat kebingungan.


Hiyola yang ikut menjadi penonton di sana hanya bisa menatap Roberth dengan ekspresi bingung. Pria itu selalu berhasil membuat Hiyola terbang tinggi, kemudian jatuh hingga tergeletak. Dengan banyak pengalaman, Hiyola tidak ingin kembali terjebak dalam sikap Roberth yang ambigu.


"Tenanglah Hiyola! Dia hanya tidak ingin 200 juta nya terbuang sia-sia," batin Hiyola. Dia tidak ingin kembali jatuh ke dalam kesimpulan nya sendiri.


Kimberly yang sudah menebak akan ada kekacauan tidak menyangka kejadian nya akan secepat ini. Roberth seorang pria yang terkenal akan ketenangan nya, memulai pertengkaran dengan sebuah pukulan? Sungguh keajaiban dunia.


"Roberth! Apa yang kau lakukan?" bentak Violeta, melihat wajah putranya yang sudah merah padam. Akan bahaya jika Esmeralda mengetahui kejadian ini. Untung tidak ada Alberto. Pria bermulut lemas itu pasti akan langsung mengadu pada Esmeralda.


"Apa kau sudah kehilangan akal mu?" ketus Violeta, menyadarkan Roberth.


 Di saat Kimberly dan Violeta memilih menenangkan Roberth, Hiyola malah menghampiri Jeremy yang tengah menyentuh bibirnya.


"Astaga, Jeremy! Kau baik-baik saja?"  tanya Hiyola. Jeremy mengangguk dan tersenyum simpul. Hiyola tampak begitu khawatir, tanpa ia sadari reaksi itu mengundang geram dari lawan mereka.


Beraninya dia bersikap manis terhadap pria lain, tepat di depan wajah ku!!! Gerutu Roberth.


Dari pintu depan, Erik maupun Petra yang baru datang ikut bertanya-tanya, melihat semua orang dengan wajah cemas, tengah memegang dua pria yang saat ini saling menatap penuh kebencian. 


"Nyoya Hiyola?" panggil Petra ikut terkejut melihat kehadiran Hiyola di rumah besar Kohler. Dia kemudian menghampiri bos nya.


Tersenyum kecut, Hiyola hanya membalas sapaan Petra sekadarnya. Wajahnya tampak cemas, melihat bibir Jeremy yang mengeluarkan darah segar. 


"Astaga, Jeremy, bibir mu berdarah," pekik Hiyola mengusap lembut bibir Jeremy dengan tisu yang di berikan Erik, saat mereka sudah mengambil posisi duduk.


Melihat perhatian Hiyola yang menurutnya amat berlebihan, Roberth mengepalkan tangan nya kuat. Dia sengaja menepis tangan Violeta dan Kimberly, lalu bergegas keluar tanpa sepatah kata pun. Matanya memerah mengisyaratkan kemarahan.


Sementara itu, Hiyola hanya bisa pasrah melihat kepergian Roberth. Apalagi saat Kimberly yang juga ikut menyusul, semakin membuat ia berpikir kalau mereka adalah pasangan yang serasi, dan kehadiran nya telah menjadi benalu dalam hubungan mereka.


Kendalikan dirimu Hiyola. Ingat peran mu!!!


***