
Hei, I'm back
melanjutkan yang tertunda
Jangan kesel ya, cz ini masih flashback
Masa di mana Reza meninggalkan Lisa, Bundanya Biboy
Selamat membaca
Jangan lupa Vote, Komen dan Jempolnya (👍)
***
NYC, America
Reza berlarian di sebuah kampus megah, tidak sabar bertemu dengan seseorang yang ingin ditemuinya. Bukan hanya ingin bertemu tapi memeluk ke dalam dekapannya. Tangan sebelah kanannya memegang sesuatu yang membuat Reza senang dengan adanya ini, kekasihnya akan terikat bersamanya. Karena hal ini, Reza pastikan Lisa tidak akan pernah menolaknya lagi.
Dimana sih kamu?
Keadaan kampus memang sedang ramai namun pria itu tidak peduli dan malah terus mencari-cari, namun tidak ketemu juga.
Ponsel Reza berdering. Nama seseorang di layar terpampang jelas yaitu, Ayahnya. Reza ingin mengabaikannya namun tidak bisa akan jadi masalah kalau sampai tidak menjawab telepon pria tua itu.
"Hallo… " suara barito diujung telepon terdengar tegas. Reza hanya mendelik malas.
"Hmm, ada apa?" jawab Reza pandangannya masih mencari-cari Lisa. Berharap bertemu dengannya. Karena ada hal yang ingin di pastikan.
"Ayah sama Ibu akan berangkat sekarang menuju America." pria itu memberitahu.
Reza sudah tahu akan info tersebut dua hari yang lalu, karena acara wisudanya memang seminggu lagi, ia akan menyabet gelar MBA, tapi ada rasa tidak rela untuk meninggalkan negara ini, karena di sini ia bisa bebas dari kekangan Ayahnya.
Tidak ada balasan dari Reza, suara diujung masih bersuara. "Za, kamu dengerin Ayah kan?"
Reza tersadar dalam lamunannya. "Oh, iya, denger kok."
"Kamu bisa jemput kita nanti, Za?" tanya Galang berharap kalau Reza akan menyanggupi permintaannya.
Reza sedikit ragu. "Bisa kok, nanti Ayah kabarin Reza lagi, ya." Jawabnya.
"Kalau begitu Ayah tutup, pesawat sebentar lagi mau berangkat."
"Hati-hati,"
Panggilan pun terputus, Reza merasa lega karena dia sangat tidak suka berbicara lama dengan Ayahnya. Bukan apa-apa itu semua karena Ayahnya yang begitu keras kepala karena ingin Reza menggantikan posisinya dengan Reza. Padahal dalam hatinya sangat menolak, memenuhi keinginan Ayahnya. Reza melanjutkan sekolahnya disini saja atas permintaan Ayahnya, tapi bersyukur karena bisa bertemu dengan Lisa. Kalau ia keukeuh melanjutkan sekolah penerbangannya di Jerman mungkin Reza tidak akan bertemu dengan kekasihnya sekarang mungkin bertemu dengan orang lain.
Reza menatap Arlojinya. Jam sudah menunjukan pukul satu siang. Ia memutuskan ke kantin dan menelpon kekasihnya.
Suasana kantin begitu ramai tidak biasanya, Reza duduk di sisi jendela setelah memesan coffee kesukaannya.
Tiba-tiba seseorang duduk dihadapannya seorang pria berambut pirang dengan warna mata keabu-abuan tersenyum miring.
"Boleh duduk kan?"
Reza hanya mengangguk. Malas menjawab pria dihadapannya, pria yang pernah bersaing mendapatkan Lisa.
"Apa kamu mencari Lisa?" tanya pria itu, sebut saja namanya Trison.
Ia mengernyit seakan tahu apa yang sedang dipikirkannya. Kenapa dia tahu?
"Bukan urusanmu, Trison. Urus saja urusanmu sendiri." Tegas Reza mendelik tidak suka.
Trison tersenyum seakan apa yang diucapkannya tak berpengaruh sama sekali dengannya. Memang dasar pria psikopat!
"Aku tahu keberadaanya sekarang, kau ingin tahu?" Suara Trison seakan menghipnotisnya untuk mengatakan 'Dimana kekasihnya berada' tapi Reza menahannya. Tidak mau terburu.
"Aku akan mencarinya sendiri."
"Aku hanya ingin membantu, aku tahu hubungan kalian sedang ada masalah."
"Jangan sok tau."
Reza tidak akan percaya begitu saja. Trison adalah pria licik dan berbahaya. Ia bukan takut hanya saja mencoba menghindari masalah dengan pria itu.
"Okay, dimana Lisa sekarang?" Akhirnya Reza menyerah, karena dia ingin cepat bertemu dengan kekasihnya.
Setelah Reza mendapatkan info dari Trison. Ia melangkah cepat untuk bertemu Lisa dengan tidak sabar. Reza melewati koridor kelas dan berbelok menuju tempat yang dimaksud Trison yaitu, ruangan serbaguna di kampusnya.
***
Seorang wanita sedang duduk disebuah kursi. Seorang pria datang menghampirinya. Wanita itu mendongkak wajah saat pria tersebut memanggilnya.
"Lisa... " sapa pria itu. "Are you okay?" tanya pria itu khawatir, karena melihat wajah Lisa tampak pucat.
"Aku baik."
"Tapi kamu tampak pucat, Li." Pria itu tidak percaya akan jawaban Lisa. "Jangan bohong, Li. Aku tahu mana orang sehat sama gak."
Helaan nafas kasar lolos begitu saja, Lisa memang sedang tidak baik-baik saja dan sekarang dia benar-benar merasa bingung akan situasi ini. "Kamu mau bantuin aku?"
"Tentu saja." Balasnya cepat. Evan heran akan sikap Lisa tidak biasanya. "Ada apa, Li? kamu bisa ceritakan sama aku."
Ia mengelus perut ratanya. "Ada kehidupan di dalam, Van." Ungkap Lisa menunjuk perutnya otomatis Evan mengerti maksudnya. Ringisan mendekap tubuhnya sendiri.
Evan terkejut. "Apa dia tahu?"
"Aku belum memberitahunya, aku takut." Lisa meringis tidak berani memberitahu kehamilan dirinya.
"Kenapa, Li? Dia adalah Ayah dari kandungan mu. Dia harus tahu dan bertanggung jawab dengan perbuatannya." Seru Evan tidak terima akan sikap Lisa yang menyembunyikan suatu kebenaran yang mungkin adalah kabar baik untuk pria itu yang akan menjadi seorang Ayah.
"Aku tahu. Tapi...aku dan Reza gak mungkin bersatu. Aku takut kalau keluarganya gak akan menerimaku yang anak yatim piatu dan lagi aku bukan dari keluarga kaya." Ungkap Lisa membeberkan semua keluh kesalnya pada Evan.
"Dengarkan aku," Evan menangkup wajah Lisa membuat keduanya saling bertatapan. "Kalau dia cinta sama kamu, dia bakal berjuang buat kamu. Dia sangat serius denganmu, nyatanya dia ngajakin kamu pulang ke Indonesia dan melamar kamu. Coba pikirkan nasib anak di dalam kandunganmu. Buang pikiran negatif kamu. Jangan egois dan percaya satu hal yang belum pasti, aku yakin anak di dalam kandungan kamu akan membuat keluarganya menerima kamu tanpa melihat status dan latar belakang kamu."
Lisa mencerna semua ucapan Evan yang benar adanya. Untung sekali Lisa bisa menceritakan semuanya.
Suasana ruangan memang tidak ada orang selain Lisa dan Evan. Namun cahaya lampu menerangi tempat tersebut karena letaknya dekat dengan ruang musik yang lengkap, di mana para mahasiswa bisa menyalurkan segalanya yang berhubungan dengan musik.
"Aku gak tahu harus gimana lagi. Tapi aku mohon kamu rahasiakan ini darinya."
"Kenapa harus di rahasiakan?" Hardik Evan.
"Aku akan memberikan tahunya, nanti. Saat kita wisuda."
Pria itu mengangguk kemudian memeluk Lisa erat. "Baiklah, aku janji."
"Terima kasih, Evan kamu memang yang terbaik."
Mereka berdua berpelukan seakan mereka tidak bisa di pisahkan, pelukan mereka pun berlangsung beberapa menit. Hingga mereka tidak sadar ada seseorang yang melihatnya dengan tangan terkepal dan rahang wajahnya berubah menjadi keras.
"Jadi selama ini kalian ada hubungan?" Gunam pria itu, pelan. Dia masih menatap keduanya yang masih belum mau melepas pelukannya. Dia melempar sesuatu yang ia pegang dan temukan di Apartemennya.
Tadinya dia ingin tahu dari mulut wanitanya langsung namun melihat adegan pelukan ini, membuat semuanya buyar begitu saja dan di sisi lain hatinya begitu panas rasanya.
"REZA… "
Menyadari kehadirannya wanita itu melepas pelukan pria yang bersamanya. Tanpa ingin menahan rasa sesak di dadanya Reza cepat melangkah meninggalkan tempat tersebut tanpa memgeluarkan satu kata pun.
***
"Please, aku bisa jelasin. Kamu salah paham, Za." Oceh Lisa tanpa henti. Dia terus mengejar Reza tanpa lelah padahal dia sedang hamil.
Reza berhenti. "Jelasin apa? Aku sudah lihat dengan mata aku sendiri, Sa. Apa kalian ada hubungan? Sejak kapan? Kamu selingkuh? Ya kan?" Tuturnya penuh tuduhan.
PLAK!
Tanpa sadar Lisa menampar nanar wajah Reza. Pria itu tersenyum sinis akan tamparan dari wanita yang di sayanginya. Sedangkan Lisa tiba-tiba menunduk akan perbuatannya, dia bukan sengaja tapi dia tidak suka akan ucapan Reza yang menuduhnya selingkuh dengan Evan.
Harusnya Reza tahu kalau Evan itu adalah sahabatnya saat di panti. Tapi pria itu sudah gelap akan kabut hitam yang sudah tidak bisa di ajak bicara baik-baik.
"Za, aku…" Lisa kehilangan kata-katanya. Dia merasa bodoh akan kelakukannya. Sampai harus menampar keras kekasihnya.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu." Kata Reza tidak terima akan semuanya. "Kamu nampar aku karena pria itu?"
"Za, aku bisa jelasin soal tadi ke kamu, aku gak ada hubungan apa-apa sama Evan. Aku cuma..."
"Kamu pikir aku bodoh. Apa dia lebih muasin kamu, hah?" Reza terus menuduh Lisa tanpa menyaring ucapannya membuat wanita itu terdiam akan lotaran Reza.
Kekasihnya menghinanya.
"REZA… " Teriak Lisa tidak terbendungi, air matanya lolos begitu saja. Lisa sadar kalau dia salah karena menerima pelukan dari pria lain. "Kamu keterlaluan, Za. Kamu pikir, aku wanita murahan yang mencari kepuasan dan nafsu semata. Aku di sini yang kecewa sama kamu, Za. Kamu nuduh aku tanpa bukti dan alasan yang gak jelas. Hanya karena aku pelukan sama Evan, kamu malah menuduh aku selingkuh. Dan apa kabar kamu sama Amber waktu di lapangan sambil pelukan, di depan anak-anak? Aku di sana juga, Za. Kamu malah memeluk wanita lain tanpa merasa bersalah apapun sama aku. Aku diam bukan berarti aku gak punya hati. Selama ini aku simpan sendiri rasa sakit ini, Za. Kamu mana tahu." Kata Lisa panjang lebar mengeluarkan semua unek yang selama ini di pendamnya. Air matanya terus membasahi kedua pipinya. Lisa tidak peduli kalau pria itu mengatainya cengeng.
Lisa sudah bersabar dengan hubungannya selama ini, di mana Reza memang sering main dengan banyak wanita meski dia yakin mereka tidak mungkin berhubungan lebih jauh seperti ia dan Reza saat ini.
Ia melihat sosok pria idamannya berubah menjadi seseorang yang berbeda. Tidak ada sosok yang penyayang dan ramah yang ada hanya pria egois dengan kemarahan yang tidak beralasan.
Reza hanya diam.
Dia memang salah saat itu, tapi dia tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita lain. Hanya ada Lisa di hatinya.
"Hubungan kita kayaknya gak bisa di lanjutin lagi deh, Za. Aku menyerah. Kita seharusnya sejak awal tidak memulai semuanya. Kita ini adalah kesalahan. Aku sudah terlanjur sakit hati dan kecewa akan semua ucapan kamu, Za." Ungkap Lisa lagi.
Reza mengepal jari-jarinya dan marah apalagi mendengar kalau hubungan mereka adalah sebuah kesalahan.
Ya, kesalahan.
Reza tersenyum getir. "Ok, kalau itu mau mu. Kita putus. Aku harap kamu bahagia dengan selingkuhan kamu itu." Saat hendak berbalik, Reza menatap Lisa. "Jangan pernah menemui aku lagi. Rasa sakit ini tidak akan pernah bisa aku lupain, Sa." Timpalnya lalu meninggalkan Lisa sendiri.
Kepergian Reza membuat kaki Lisa lemas dan tubuhnya bergetar. Yang tadinya ingin memberikan berita bahagian malah menjadi duka untuk dirinya dan calon bayinya.
Evan melangkah mendekati Lisa. Sejak tadi dia berada di balik tembok menyaksikan semuanya. Ingin rasanya Evan menghajar pria itu namun dia tahu kalau Lisa tidak suka hal itu.
"Li, aku akan jelasin semua ke Reza. Dia seharusnya gak seperti ini. Kamu hamil anak dia, Li. Dia harus tahu kebenarannya."
Lisa menggeleng. "Gak, Van. Biarin dia gak tahu. Aku bisa jaga anak ini tanpa Reza kok. Kamu dengar sendiri kan dia minta aku jangan menemuinya. Itu berarti dia sudah gak mau mengenalku lagi, Van."
Lisa terus menangis dan mengusap perutnya yang masih rata, "Bunda harap kamu tidak membenci Ayah kamu, Nak." Ucapnya pelan.
***