
♥♥♥
Satu minggu berlalu. Setelah selesai dengan acara wisuda dilaksanakan. Luna begitu puas dengan hasil nilainya. Nilainya juga termasuk nilai tertinggi di kampusnya. Tidak ada planning akan hasil yang nilainya yang terpenting ia bisa lulus wisuda dan mendapatkan gelar atas kerja kerasnya selama menuntut ilmu di universitas terbaik di indonesia. Dan membawa kebanggaan untuk keluarganya.
Bicara soal keluarga. Luna menjadi sedikit melow. Kenapa? Karena mereka harus kembali. Sedih. Itu yang Luna rasakan saat Ayah, Jessy, Barrack dan Deleena pulang ke rumah mereka. Rasanya seperti dejavu. Tapi ia bersyukur karena mereka ada saat di hari paling penting. Saat lamaran, pernikahan, dan wisudaan mereka selalu dekat dengannya. Keluarga yang sangat ia rindukan.
Setelah wisuda pun Luna belum memutuskan untuk kembali bekerja seperti niatnya dulu. Ia masih berpikir matang-matang untuk ke depannya. Luna merasa tak enak bila harus bekerja dan melantarkan Biboy sendiri dan di asuh oleh baby sister. Ini sudah resiko Luna menikah dengan Single Daddy.
Karena sekarang ia memiliki keluarga yang harus diurus dan membahagiakan mereka.
Luna berada diapartemen bersama Biboy. Keadaan rumah lumayan sepi karena hanya ada Ia dan Biboy. Mirna dan Surti sudah pulang tadi pukul 16:00 jam kerja mereka. Karena memang tidak banyak yang di kerjakan disini. Sisanya Luna yang mengerjakan. Karena ia mencoba untuk bisa mengerjakan kegiatan rumah tangga yang sering dilihat saat mendiang ibunya lakukan. Untuk keluarganya.
Biboy duduk di karpet lantai dan bermain dengan mainan kesukaanya 'Tayo' dan Luna menemai Biboy bermain dengan dunianya.
"Biboy, kamu mau jalan-jalan sore?" tanya Luna lembut melihat anaknya masih sibuk dengan mainanya.
"Uhmm..iya, mau. Mommy" balas Biboy setuju dan mengahampiri Luna manja minta digendong.
"Ayo kita jalan." Luna mengendong anaknya dan berjalan keluar dari apartemennya.
"Ayo. Ayo. Biboy mau jalan-jalan."
Tanpa berganti pakaian Luna dan Biboy mengarah ke pintu lift dan masuk. Dan tak butuh lama ia sudah sampai di bawah dan menuju pintu utama gedung apartemen.
Ia sengaja keluar kata merasa bete berada didalam seharian. Dan berjalan kehalaman. Membiarkan Biboy bermain diatas rumput, memberikan kebebasan untuk bergerak.
"Biboy sayang, jangan lari-larian nanti jatuh." teriak Luna melihat Biboy begitu senang bermain diatas rumput.
Luna berlari menghampiri Biboy namun bocah itu malah berlari menjauhinya dan tak lama Biboy jatuh tersandung dan menangis. Ia pun cepat menggendong putranya. Untung tidak ada yang terluka. Sedikit tergores.
"Cup.. Cup anak Mommy jangan nangis. Anak Mommy jagoan." Luna menengkan anaknya yang masih menangis.
"Mommy sakit. Sakit." Biboy mengeluh menunjuk ke arah tumitnya sedikit tergores.
"Kita pulang yuk. Mommy obatin. Tadikan Mommy bilang jangan lari-larian. Jadi beginikan."
Biboy mulai tenang. Luna bergegas masuk ke gedung apartemennya. Namun tertahan oleh suara panggilan dari seseorang yang ia kenal. Orang itu adalah Aldo.
"Hai. Luna."
Aldo menyapa wanuta dihadapannya. Yang sedang mengendong keponakannya. Setelah sebelum tak bertemu membuat Aldo terpesona dengan wanita yang pernah mengisi hatinya. Luna dimata Aldo terlihat cantik dan lebih dewasa pesona dan aura yang dipancarkan berbeda sebelum menikah. Tanpa sadar ia terus memandangi wanita yang sekarang adalah kakak iparnya. Ya, sekarang Luna adalah kakak iparmu Aldo. Jangan berpikir lebih. Move on.
"Aldo." ucap Luna terkejut.
"Apa kabar?"
"Baik. Kamu?"
"Aku sangat baik."
Aldo mengambil Biboy ditangan Luna dan menciumi keponakannya dengan gemas. Luna pun mengajak Aldo masuk ke apartemen. Meski sedikit canggung. Namun ia ingin memperbaiki semuamya dari awal lagi.
Dan sekarang keduanya berada di apartemen. Aldo sibuk dengan biboy bermain dibawah sofa. Sementara Luna membuatkan minum dan membawakan cemilan untuk Aldo.
"Aldo. Kamu minum dulu tehnya." Ucap Luna setelah meletakkan secangkir teh dan cemilan.
Aldo duduk di sofa. Dan membawa pula Biboy duduk dipangkuanya.
"Sini. Biboy sama aku. Aku mau obatin dulu luka di lututnya tadi sempat jatuh ditaman."
"Ini pertama kali Biboy Luka. Bagus deh. Selama ini dia itu nggak pernah main keluar."
"Iya. Makanya aku ajak Biboy main. Biar dia bisa bergerak leluasa. Dan dia suka."
"Biboy beruntung punya Mommy kayak kamu."
Luna tersenyum canggung. Ini pertama untuk mereka mengobrol tanpa mengungkit masalah masa lalu. Memang seharusnya keduanya lupakan dan menjalin pertemanan yang seharusnya ia lakukan dulu.
Asyik mengobrol. Keduanya tak sadar Reza sudah berada di dalam melihat keduanya mengobrol akrab. Bagaimana perasaanya sekarang? Tentu saja kesal. Marah. Cemburu. Namun ia tahan. Ia bukan anak remaja yang main tonjok saat melihat wanitanya bersama pria lain. Apalagi pria itu. Mantan pacar. Oh tidak Reza murka. Ia berjalan menghampiri Luna dan Aldo.
"Asyik banget ngobrolnya." Seru Reza menatap tajam ke arah keduanya dan melipat kedua tangan di depan dadanya.
Mas Reza.
Luna kaget tak tau kalau suaminya sudah berada di dalam tanpa dia sadari. Muka Reza terlihat kesal dan rahangnya terlihat jelas begitu keras. Luna bergegas menghampiri Reza dan mencium punggung tangan suaminya.
"Mas Reza. Kapan kamu datang?"
"Sejak tadi. Melihat kalian asyik mengobrol."
Aldo menyipitkan matanya, "Mas. Jangan salah paham aku cuma mengobrol saja. Lagian aku kesini juga ada urusan sama kamu, Mas." katanya.
Reza menahan emosinya dan duduk di sofa dan sementara Luna mengambil minum untuk Reza ke dapur.
"Kapan kamu pulang. Kok nggak kasih kabar. Ah! aku juga lupa kamu berangkat saja tidak memberi tahu. Kamu anggap aku apa, hah?" Cetus Reza sedikit meredamkan emosinya.
"Kemarin malam. Maafkan aku, Mas. Bukannya aku nggak kasih kabar kepergian dan kepulangan aku. Kepergian aku saja mendadak. Guru aku suruh aku bantuin pekerjaanya direstorannya di milan."
"Setidaknya kamu kasih tau aku. Dari mulut kamu langsung. Bukan dari Abel."
"Iya sorry."
Luna datang membawakan teh untuk Reza dan menghentikan acara obrolan kedua pria itu dan merasa sedikit canggung apalagi melihat raut muka Reza yang dingin. Serasa ia kepergok suami sedang berselingkuh. Reza pasti marah. Melihat aku bersama dengan Aldo.
"Ini. Minum dulu tehnya."
"Terima kasih, sayang."
Luna pun berpamitan dan sengaja meninggalkan kedunya agar lebih Leluasa mengobrol. Memutuskan untuk membawa Biboy ke kamar karena ia terlihat sangat lelah tadi bermain.
Didalam kamar Luna menidurkan anaknya yang sudah tertidur pulas setelah meninabobokan Biboy dan memberikan kecupan dikening.
Ia mulai tak tenang memukirkan kejadian tadi. Harusnya ia tidak usah membawa Aldo masuk saja ke apartemen. Tapi Luna merasa tidak enak. Bila harus mengusirnya. Aku harus jelasin ini semua ke Mas Reza.
Setelah itu mengambil ponsel untuk menghubungi Abel. Namun tidak diangkat. Begitu pula dengan Rara.
Pada kemana sih. Dihubungin susah banget.
•••
Luna terus mondar-mandir di dalam kamar. Sambil menunggu Reza keluar dari kamar mandi. Tapi masih belum selesai. Perasaannya terus gelisah dan hatinya terus bertanya-tanya. Di Hati kecilnya. Ia tak mau ada kesalahpahaman antara ia dan suaminya. Sejak Aldo pulang Reza terus diam tak bicara.
Ia duduk di samping ranjang karena merasa pusing. Kepalanya seperti berkunang-kunang entahlah bukan karena tadi ia mondar-mandir tapi ia tak pedulikan ia terus menunggu Reza sampai selesai dengan ritual mandinya. Tumbem. Mas Reza mandinya lama. Batin Luna.
Setelah menunggu sekitar 45 menit lamanya. Reza keluar dan sudah memakai baju piyamanya. Dan mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil yang dilingkari di lehernya.
Luna berdiri tepat di depan Reza. "Kamu marah sama aku?" tanyanya menatap tajam ingin tahu kenapa suaminya ini mendiamkan dirinya. Tidak enak tahu didiamkan begini.
"No." singkatnya. Dan malah berjalan ke arah cermin menyisir rambut hitam pekat. Meninggalkan istrinya.
"Kamu cuekin aku?"
"No"
"Reza!"
"Hmm"
Luna kesal. Ia berbaring ditempat tidur menutup tubuhnya dengan selimut. Merasa pria itu tidak peduli dengan dirinya. Luna salah. Membiarkan seorang pria masuk ke apartemen. Dimana tidak ada orang hanya ada Luna dan Biboy saja saat itu. Mungkin itu yang membuat reza kecewa.
Tanpa sadar air matanya keluar. Ia menangis. Dalam selimut. Dan entah kenapa ia semakin cengeng seperti ini. Tak bisa menahan tangisannya hingga ia tidak bisa menopang mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara.
Reza sudah berada diranjang dengan Luna. Sejak tadi memperhatikan istrinya. Sebenarnya dia tidak marah. Toh, Aldo sudah menjelaskan semuanya. Ia hanya mau ngerjain Luna saja. Tapi ternyata malah Luna marah beneran. Reza mendengar suara tangis dibalik selimut samar-samar saat ia sedang sibuk dengan laptopnya.
Ia meletakkan laptopnya di atas nakas. Dan membuka selimut yang dipakai Luna. Betapa terkejutnya ternyata Luna sedang menangis. Wait menangis? Kenapa? Apa karenanya? Pikir Reza.
"Sayang kamu kenapa? Kamu menangis?" Reza dengan perasaan cemas membalikan badan Luna mengarah padanya.
Luna tidak menjawab ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dan terdengar sesenggukan. Reza khawatir. Takut. Lekas ia memeluk Luna.
"Sayang. Maafkan aku. Kalau aku salah."
"Ayolah bicara."
"Kamu buat aku cemas."
Kata Reza bertubi-tubi.
Luna meronta tak ingin di peluk dan masih menutup wajahnya. Reza dengan paksa membuka wajah Luna dan melihat wajah istrinya begitu sembab dan matanya terlihat bengkak karena menangis.
Reza menarik Luna dalam dekapannya. Ia salah. Seharusnya tidak mengerjainya tadi kalau akibatnya seperti ini. Luna menangis semakin menjadi. Merasa aneh. Biasanya ia tidak seperti ini.
"Kamu jahat―" Luna bersuara dalam tangisannya.
"Aku minta maaf sayang. Aku tadi cuma ngerjain kamu saja." Lirih Reza begitu cemas.
"Bohong.." cicitnya.
"Aku tidak bohong sayang. Please jangan menangis. Aku takut. Cemas. Kalau kamu begini."
Reza terus menenangkan Luna cukup lama sampai istrinya kembali tenang dan tak menangis lagi. Ia terus saja meminta maaf. Dan terus menyesalinya atas perbuatannya. Karena ia tak sanggup melihat Luna menangis seperti tadi. Sakit rasanya. Perih hatinya.
Reza dan Luna saling berhadapan duduk bersila diatas ranjang. Ia mengelus pipi istrinya lembut dan mencium kening Luna lama. Mulai membicarakan semuanya yang terjadi.
"Jadi kita mulai dari mana?" tanya Reza pada Luna masih terlihat merah di area matanya.
"Darimana? Kamu kok tanya aku sih?" Luna malah balik tanya. Merasa bingung harus mulai darimana.
Reza menghela nafas pendek. "Oke. Mulai dari pertanyaan kamu tadi. Kamu bilang aku marah atau nggak? Jawabannya aku nggak marah." cetusnya.
"Kalau nggak marah. Kenapa kamu diam dan cuekin aku? Mau ngerjain aku. Yang tadi kamu bilang. Untuk apa?" kata Luna melipat kedua tangannya di dadanya. Menuntut jawaban suaminya.
"Ya memang mau ngerjain kamu saja. Nggak ada maksud lain."
"Aku nggak percaya."
"Percaya sama aku. Untuk permintaan maaf aku karena sudah buat kamu menangis. Kamu mau apa? aku bakal kabulkan."
Luna mulai tersenyum. Dan mempertimbangkan apa yang dia mau. Dan melihat Reza menunggu jawaban darinya. Sebenarnya ia ingin sesuatu yang sudah lama. Dan merasa ngiler saat membayangkan makanan itu.
"Hmm―aku mau uli ketan bakar."
"Apa? uli ketan bakar. Itu dimana? Aku nggak tahu itu jenis makanan apa."
"Pokoknya aku pengen itu. Kalau nggak. Aku nggak akan maafin kamu."
"Tapi ini sudah malam. Cari dimana coba."
"Terserah cari sampai dapat."
Luna merebahkan bahannya diranjang dan menutup wajahnya dengan bantal. Tak memperdulikan Reza bagaimana caranya dia mendapatkannya. Dan mendengar suara pintu. Tanda Reza sudah keluar. Ia bernafas lega.
Arrgh. Reza mengeluh. Dia mondar-mandir di ruang tamu. Berpikir harus mencari kemana makanan ini. Dan ia pun mencari di app google. Diketiknya nama yang dimaksud istrinya. Setelah tahu jenis makanan itu. Reza menelpon Soni sekretarisnya.
"Halo Soni? Apa kamu sudah tidur?" tanya Reza. Merasa tidak enak.
"Belum. Kenapa memang?" Balas Soni.
"Bisa bantu aku tidak mendapatkan makanan yang Luna mau. Ia ingin sekali makan uli ketan bakar. Kamu tahu dimana belinya."
"Oh! uli ketan bakar. Itu suka ada di pinggir jalan tempat nongkrong aku. Di taman elang. Luna ngidam bukan?"
"Ngidam? Luna nggak hamil. Tapi kalau kamu tahu tempatnya bisakah belikan buat aku. Biar aku cepat dimaafkan. Karena itu syaratnya."
"Kalian berantem. Ya sudah aku belikan. Tapi benar Luna nggak ngidam?"
"Kayaknya nggak deh. Thanks before."
"Okay!"
Setelah cukup lama menunggu sekitar 30 menit akhirnya Soni datang membawa pesanan. Dan Reza sengaja menunggu di lobby agar Soni tidak capek naik turun keatas meski menggunakan lift.
Reza mengucapkan terima kasih dan berpamitan pada Soni karena menjadi penyelamatnya. Dan bergegas naik tidak ingin istrinya menunggu lama.
Sampai di apartemen Reza berjalan terus naik ke lantai dua menemui Luna yang masih berada di kamar menunggunya. Namun saat ia masuk Luna sudah tidur pulas. Mencoba mengguncangkan tubuh istrinya pelan membangunkannya.
"Sayang. Ini uli ketan bakarnya aku sudah beli." kata Reza mengelus rambut Luna agar ia terbagun.
"Hmm." gunem Luna masih dengan mata tertutup.
"Kamu bukannya tadi pengen uli ketan bakar. Aku sudah dapetin." ucap Reza masih belum menyerah untuk membangunkan Luna.
"Ganggu tidur aja." Luna tergesa duduk. Dengan mata masih tertutup.
"Hei. Bangun."
"Iya. "
Luna terpaksa membuka matanya meski mengantuk, ia melihat kantong plastik hitam yang dipegang Reza dan mengambilnya. Dan benar ini makanan yang dimaksudnya uli ketan bakar. Bagaimana bisa dia mendapatkannya.
Luna menyipitkan matanya. "Kamu beli dimana. Ini kamu tahu. Katanya nggak tahu ini jenis makanan apa." serunya penasaran menatap tajam pada Reza.
"Ah! Aku beli di taman elang. Dan aku searching di internet." jawab Reza untung ia masih ingat ucapan Soni mengatakan tempatnya.
"Oh begitu. Aku nggak minat lagi. Ini buat kamu aja. Aku ngantuk. Mau tidur."
"Tapi―"
Luna kembali tidur. Tanpa mencicipi makanan itu. Entah kenapa ia sudah tidak menginginkannya lagi. Dan rasa ngantuknya begitu membuat matanya berat dan lelah.
Sementara Reza hanya bisa diam. Padahal ia sudah kalang kabut memikirkan keinginan Luna. Ia malah berpikir kalau Luna mengerjainya. membiarkan Luna tidur. Karena ia tahu istrinya lelah. Merasa sayang dengan makanannya. Dan mencicipinya sedikit.
"Enak juga. Aku makan saja."
♥♥♥
Hai semuanya terima kasih sudah vote dan dukung cerita novel saya. Meski jarang Update tapi aku benar-benar ucapkan terima kasih banyak. Bersabar menunggu Update dari saya.
Tokoh Aldo saya munculin lagi tapi bukan penditor loh. Aldo udah Move on kok. Jadi jangan bully Aldo. Alisha aja yang di bully 😂
Thanks sekali lagi 🙏