
♥♥♥
Setelah kepulangan keluarga Luna, rumahnya menjadi sepi kembali. Karena mereka memutuskan untuk pulang lebih cepat karena memang banyak kerjaan dan urusan di Jerman.
Dan sekarang Luna, sudah bisa bernafas lega hutangnya pada dirinya berkurang. Di mana moment saat Luna, memanggil Jessy dengan sebutan Mom.
Kebahagiannya makin bertambah lagi…
Pagi harinya…
Ini bukan hari pertama putranya masuk TK, tapi tetap saja Luna dibuat kalang kabut oleh Biboy yang susah bangun dan mandi kalau bukan Luna yang memandikan. Sekarang Biboy sibuk dengan kucing kesayangannya itu, kado yang diberi oleh Luna dan Reza sebagai kado.
"Biboy."
Masih sibuk bocah itu, berjongkok riang dengan Saka sambil memberikan biskuit khusus kucing, dan masih tidak menyahut panggilan Luna sembari tadi.
"Biboy. Ayo cepat hari ini kan ada jadwal renang kamu di sekolah, nggak boleh telat." panggil Luna, melihat Biboy masih asyik bermain dengan Saka di halaman belakang.
"Yes, mommy. Tunggu sebentar."
"Cepat, kita sudah siap. Tinggal nungguin kamu."
"Mommy bawel."
"Kalau begitu, mommy tinggal. Kamu berangkat sendiri saja. Kamu mau begitu."
Biboy berlari menghampiri Luna, dengan seragam olahraga berwarna biru. Dengan semangat Biboy mengambil tas dan menggendongnya. Sebelumnya meletakkan Saka di kandangnya.
"Gitu dong. Gesit. Nanti mommy yakin Clara bakal suka sama kamu yang semangat belajar." goda Luna, dia tahu kalau Biboy akan lebih semangat bila dia membawa nama Clara sebagai alasan.
"Iya mommy."
"Hari ini daddy nggak bisa antar kamu, pagi-pagi daddy sudah berangkat ke Bogor buat kerjaan. Nggak apa-apa kan sayang."
"It's Okay. Daddy orang sibuk. Cari uang biar tambah kaya lagi. Nggak jadi orang susah."
Luna menggeleng. Otak dan sikap Biboy benar-benar sama dengan Reza dan mertuanya Galang. Orang yang pamer kekayaan di hadapan Luna, saking Luna terlalu hematnya. Kadang ketiga pria Winajaya itu selalu saja meledek dan memanas-manasi Luna.
"Terserah." Luna pasrah.
"Kok gitu mom, Biboy kalau di sekolah sering disebut anak sultan. Tapi Biboy nggak mau dibilang anaknya sultan. Biboy kan anaknya daddy Reza. Iya kan mom?"
"Iya bener, pinter kamu. Makanya jangan kayak daddy suka pamer."
"Kenapa mommy? Kita kan orang kaya."
"Nggak usah pamer deh. Mereka juga sudah tahu. Tanpa kamu pamer-pamer ke orang. Nanti di bilang sombong. Inget kamu belajar yang giat. Biboy mau jadi Pilot kan?"
"Siap kapten. Aku nggak mau jadi orang sombong." Biboy sambil memberikan hormat pada Luna dan menyebutkan senyum di wajah lugu bocah itu.
"Bagus, ayo berangkat."
Luna maupun Biboy berangkat menggunakan mobil yang sudah disiapkan dan diantar oleh Raka, yang sengaja di utus oleh Reza untuk menghantar jemput dan menjaga Biboy selama sekolah. Seperti halnya seorang bodyguard.
Memang akhir-akhir ini Biboy sangat aktif, saking aktif bocah itu pernah membuat guru-guru di sana kelabakan mencari-cari Biboy karena dia keluar dari sekolah tanpa orang di sekitar tahu. Dan itu membuat Luna dan Reza sengaja memberikan tugas pada Raka agar bisa menjaga dan melindungi anaknya itu.
Dalam perjalanan ke sekolahan, Biboy tidak pernah henti hentinya bercerita tentang kehidupannya di sekolah, dan membuat Raka maupun Luna pusing dengan suara bawel dan cempreng Biboy seperti burung beo.
"Uncle…" panggil Biboy. Raka sedang mengemudi, bocah itu duduk di samping kemudi. Sedangkan Luna duduk kursi penumpang dan fokus dengan ponsel di tangannya.
"Ya, ada apa tuan muda?" balas Raka, dia menoleh sekilas pada Biboy yang sedang duduk selonjoran di sampingnya sambil memakan susu kotak cokelat yang di sedotnya itu.
"Dapat salam dari ibu Pita. Aku lupa kasih tahu. Ibu Pita cerewet banget, Uncle."
"Namanya juga cewek. Salam kembali bilangin. Jangan sampai nggak di bilangin."
"Iya entar di bilangin. Tapi aku nggak suka kalau ibu Pita sama Uncle. Nggak cocok."
"Kenapa, memang?"
"Ibu Pita genit banget. Dia kejar-kejar Uncle terus dan juga nempel-nempel Uncle kayak perangko. Ngikutin kayak aku sering ngejar Clara di sekolah."
"Berarti Biboy juga genit dong."
"Nope. Aku nggak genit. Daddy bilang aku itu harus jadi playboy. Nggak apa-apa ngejar Clara. Biar aku jadi cowok pop一"
Biboy terkejut mendengar, panggilan Luna dan sekilas melihat ke belakang tampak menatapnya tajam. Luna menggeleng.
Calon playboy cap kakap nih, Biboy.
Batin Luna mendengarkan obrolan anaknya dengan Raka sejak tadi.
"Biboy. Siapa yang ajarin?" ucap Luna, sambil mengelus perutnya yang besar.
"Daddy." jawab Biboy polos.
Mendengar hal itu sontak membuat Luna kesal, apalagi Reza sering meracuni Pikiran anaknya dengan hal-hal negatif seperti itu, yang menurut Reza hanya candaan tapi nyatanya Biboy anak yang pintar segala omongan Reza bisa diucapkan dengan gamblangnya tanpa mengerti artinya. Karena masih kecil belum paham dengan arti itu sesungguhnya.
Sedangkan Raka hanya bisa mendengar dengan tatapan geli.
"Jangan dengerin omongan daddy kamu, mau saja kamu dihasut. Itu salah sayang. Jangan diikuti. Kalau mau itu kamu banyak belajar dan mengaji. Itu baru bener." Luna memberi petuah bijaknya.
"Kata mommy harus dengerin apa yang daddy sama mommy bilang. Kok Biboy di marahin?"
"Mommy nggak marahin kamu. Tapi, nasehatin kamu yang baik-baik. Bukan hal negatif, kayak daddy kamu. Masa anaknya di suruh jadi playboy."
Biboy menghela nafas, dan menyandarkan badannya di kursi
"Salah lagi."
"Sabar tuan muda." timpal Raka. Sekilas menoleh pada Biboy.
Setengah jam sampai, di sekolahan putranya. Luna pun bergegas kembali. karena dia ada janji dengan sahabat Luna. Meski hamil tua, bukan alasan tidak bertemu dengan sahabatnya.
"Raka, bisa anter ke apartemen, di sudirman."
"Siap, bu. Nanti pulangnya mau saya jemput."
"Nggak usah, habis ini kamu langsung kembali lagi ke sekolah Biboy. Aku pulang sama Abel dan Rara saja."
"Baik bu."
"Kamu jangan bilang ke Reza, biar aku saja yang bilang sama dia. Inget, Ka. Jangan comel."
Raka tertawa. "Tapi itu sudah tugas saya bu, buat jaga keluarga anda."
"Iya, iya. Kamu memang perhatian banget sama kita." Luna tak ingin banyak bicara. Ia langsung ambil ponsel dan menelpon suaminya agar tidak mencemaskan dirinya.
•••
Sedangkan di sisi lain, seorang wanita duduk terdiam dengan wajah tampak kacau sambil mengaduk-adukkan pasta di piring dan pikirannya kemana-mana, memikir sesuatu. Wanita itu, Rara. Ya, wanita galau, bucin daripada christian grey yang entah kapan Rara akan melupakan kebucinannya. Hingga di sering kali di ledek teman kuliah dan sahabatnya. Gila. Memang itu Rara.
Suara pintu terdengar.
Tidak lama kedatangan dua wanita menghampiri Rara di meja makan dan duduk di hadapan Rara, siapa lagi kalau bukan Luna dan Abel sahabat sejatinya datang.
Rara tinggal di apartemen Luna dulu. Semenjak menikah apartemennya ini di tinggali Rara dan mereka tempat untuk curhat dan melakukan kesenangan lainnya di sini, sebagai nostalgia mereka bertiga.
Kedatangan kedua wanita itu membuyarkan lamunan Rara.
"Ada apa lagi, Rara?" tanya Luna.
"Kenapa? Kalian berantem lagi?" timpal Abel.
"Begitulah, pacar aku tuh galak bener. Mulutnya nggak pernah nggak nyerocos kalau ngomong. Nggak ada titik nggak ada koma. Terus aja kaya jalan tol. Sekali berhenti, aku cuma dikasih 15 detik kalau ngomong." Sahut Rara, masih dalam mode kesal. Menoleh pada kedua sahabat yang senantiasa mendengarkan isi curhatannya setiap hari.
"Tapi cinta kan?" goda Luna.
"Cinta lah, kalau nggak aku nggak akan bertahan sampai sekarang." balas Rara, sembari makan pasta yang sejak tadi diaduk-aduknya. Merasa dilanda lapar, saat isi hati Rara di keluarkan. Lega.
"Itu bumbu-bumbu cinta, Ra." Seru Abel. Ia tahu, Rara belum pernah pacaran sekali pacaran bapernya kelewat akut. Hingga setiap hari selalu mengeluh. Tapi untung si pacar sabar menghadapi, kalau nggak pasti sudah putus saat mereka pertama kali menjajaki hubungan ini.
"Rara, aku kasih saran ya. kita ini kan sudah berumah tangga nih. Dalam hubungan itu karena harus saling memahami, percaya, dan menerima kekurangan dan kelebihan pasangan kita. So, kamu jangan terus menekan pacar kamu untuk menjadi apa yang kamu ingin, kamu mau nanti di saat pacar kamu itu sudah tidak punya stok kesabaran, dia menyerah. Bagaimana? Kamu nggak mau hal itu terjadi kan?" Kemudian Rara mengangguk, setuju. "Inget, Ra. Penyesalan itu datangnya belakangan." kata Luna panjang lebar. Memberi wejangan pada Rara.
Rara, menelan salivanya. Dia memikirkan ucapan kedua sahabatnya. Benar, semenjak pacarnya masuk acara TV tentang masak memasak pacarnya menjadi populer di kalangan kaum hawa, apalagi sekarang pria itu adalah Chef populer, macam Chef Juna, Chef Marinka dan juga Chef Arnold yang terlebih dahulu populernya.
"Pacar aku setia, nggak bakal tergoda." bela Rara. Sedikit Ragu.
"Yakin?" Abel memberikan tatapan keyakinan pada Rara, yang sedikit Ragu. Siapa yang tidak terpesona dengan pacar Rara sekarang.
"Kamu kelihatan ragu?" sahut Luna.
"Nggak."
"Ra, harus tambah perhatian sama dia. Di luaran banyak wanita-wanita cantik. Apalagi dia sekarang banyak teman satu profesinya yang cantik dan sexy pula. Aku lihat waktu di acara mereka, ya ampun mereka serasi dan一"
Ucapan Abel terhenti.
Abel terus menggoda Rara, dia suka kalau temannya di buat cemburu. Karena mukanya kalau sedang dalam mode seperti sekarang mirip sama nenek gerondong lagi marah. Serem.
"Stop please... pacar aku nggak mungkin begitu dan dia nggak akan khianatin aku. ALDO MAHENDRA pacarku meski galak tapi SETIA. Titik." Rara menekan ucapannya, dia tahu sahabatnya selalu menggoda dan membuatnya cemburu.
Ya, Rara dan Aldo resmi pacaran. Sudah hampir 5 bulan mereka jalani. Ada suka dan duka mereka hadapi. Meski awalnya susah menjalaninya, sering cekcok dan mereka berdua benar-benar bertolak belakang. Tapi mereka bisa menghadapinya dengan baik berkat cinta yang mulai tumbuh karena terbiasa.
Hubungan mereka tadinya hanya coba-coba karena ada desakan dari sahabat mereka yang selalu memaksa Rara maupun Aldo untuk pacaran. Sampai sekarang mereka pun bertahan. Dan tanggal jadian mereka di hari dimana Abel dan Soni menikah. Lucu.
"Cie, kayaknya ada yang nggak mau kehilangan."
"Yes, of course. My chef is fierce. that's Aldo."
•••
Makan malam keluarga, Reza berlangsung dengan tawa dan obrolan ringan. Meski hanya bertiga, tidak membuat acara makan mereka sepi. Semuanya menikmati makan mereka, apalagi mendengar cerita putranya itu. Biboy.
Menghabiskan makanan dengan penuh nikmat, seperti biasanya mereka bertiga meneruskan obrolan di ruang tamu sambil menonton acara TV, dan sambil menikmati secangkir teh dan snack yang disiapkan. Hanya Luna yang hanya bisa minum susu saja.
"Sayang, kamu jangan banyak bergerak ataupun aktivitas di luar rumah. Nggak baik. Nanti kamu kelelahan. Inget kamu bentar lagi mau ngelahirin si kembar loh." Reza membahas kepergian Luna ke apartemen Rara dengan Abel.
"Iya, Mas maaf. Habisnya aku bete dirumah melulu." bela Luna. Siapa juga yang tidak bosan seharian di rumah tanpa aktivitas, selama ini Luna melakukan hal itu harus dibatasi. Olahraga renang dan yoga khusus orang hamil dia lakukan di rumah hanya melakukan satu minggu sekali. Itu juga kalau dia menginginkannya.
"Aku mengerti. Kamu kan bisa panggil mereka berdua disini. Aku nggak mau ada apa-apa dengan kamu dan bayi kita berdua." Reza menyandarkan kepala Luna ke bahu lebarnya dan memeluk istrinya sesekali menyentuh perut Luna.
"Iya, itu nggak akan terulang lagi. Kamu memang suami perhatian banget sih."
"Makasih, ya."
Reza tidak peduli kalau dia dicap pria posesif ataupun Protektif pada Luna, nyatanya dia tidak ingin kejadian di masa lalu terjadi kembali. Bukannya dia masih mencintai Lisa, tapi yang disesali tidak bisa menjaga Lisa saat masa kehamilannya. Dan itu menjadi trauma untuknya.
Masa lalu tetap menjadi kenangan, dan masa depan dia dan keluarganya adalah prioritas dia saat ini. Mereka yang menjadi pacu Reza untuk menjadi seorang pria yang akan melindungi, mencintai, menyayangi dan menjaga mereka semua.
Saat pikirannya bercampur aduk bak adonan kue, suara cempreng Biboy terdengar saat bocah itu sedang sibuk dengan ponselnya yang entah apa yang membuatnya itu terlihat kesal.
"Kok malah di matiin." keluh kesah Biboy melihat ke layar ponsel.
"Kenapa kamu?" tanya Reza masih memeluk Luna erat, tampak romantis.
"Ini daddy, Clara susah dihubungi. Aku mau video call di matiin. Kesal banget aku." gerutu Biboy masih utak atik ponselnya terus menerus.
Luna menghela nafas, "Kamu jangan ganggu Clara dia sudah tidur kali, sayang. Ini sudah malam juga, kan." protes Luna, dia jadi semakin kesal melihat Biboy lebih menaruh hati pada Clara padahal masih kecil. "Ini semua karena kamu Mas." kata Luna, tiba-tiba mencubit perus Reza kencang. Gemas.
"Sakit sayang. Kok aku yang salah sih. Biboy yang suka sama Clara." Reza merasa sakit di perutnya dan mengelus perut yang tadi di cubit Luna kencang.
"Kamu yang ajarin dia."
"Itu karena Biboy yang maksa aku, sayang."
"Alasan, dia itu masih kecil belum mengerti hal cinta dan pacaran. Kamu malah ajarin begituan. Yang ada nanti dia jadi cowok playboy yang suka nyakitin cewek kayak kamu dulu begitu."
"Ya, Ampun. Suudzon banget sih, istriku ini. Bikin gemes deh. Biboy itu bakal jadi anak baik kok. Nggak udah pikir macam-macam."
"Ish. Nyebelin."
Reza memeluk Luna masuk ke dalam dekapannya. Lalu Sekilas mencium kening Luna, sedangkan Biboy masih sibuk berkutik dengan ponselnya.
Memang jaman sekarang, anak kecil tahunya gadget tak seperti dulu main ala-ala anak kecil pada umumnya.
"Aku menyerah. Clara nggak angkat ponselnya." suara Biboy membuat kedua orang tuanya, yang sedang mesra-mesraan duduk disampingnya.
"Menyerah, gitu aja?"
Biboy mengangguk lalu menyimpan ponselnya di atas meja. Menyilang kedua tangan didada dengan wajah cemberut.
"Payah kamu. Cemen. Katanya mau jadi pilot, bisa bawa Clara keliling dunia. Berarti daddy nggak jadi deh beliin kamu pesawat kalau begitu. Bagus buat daddy nggak jadi keluarin uang banyak buat beli pesawat itu dengan harga milyaran." goda Reza, dan entah apa yang membuat Biboy ingin menjadi pilot. Dan itu akan membuat cita-cita Reza yang dulu, dilanjutkan oleh anaknya. Mungkin.
"Dompet aman berarti." Lanjut Reza.
Luna menggeleng tidak mau ikut campur. Masih dengan memeluk suaminya.
"Cemen? Aku nggak cemen. Daddy kan janji mau beliin pesawat buat Biboy. Nggak boleh ditarik. Pamali tahu."
"Kenapa memang suka-suka dong. Uang-uang daddy."
"Pelit… "
"Bodo. Daddy yang berkuasa. Daddy yang punya kendali. Dasar bocah."
"Prettttt…Jangan jadi orang susah dah. Aku bisa minta Opah Galang sama Opah Gege buat beliin. Opah-opahku kan orang kaya juga. Lebih kaya malah. Buat beli pesawat pasti mampu lah. Uang segitu mah, cetek." bantah Biboy percaya diri dengan sikap sombong dengan dagu sedikit di angkat. Angkuh.
"Sombong kamu."
"Daddy juga sombong."
"Kalian berdua sama aja. Anak sama bapak." sahut Luna risih dengan debatan keduanya. Tukang pamer.
Luna mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Melihat ke arah Biboy dan sekilas berpaling ke arah Reza.
"Biboy sayang. Kamu masih kecil. Jangan dulu mikirin yang namanya cinta, pacaran, ataupun keinginan kamu pengen pesawat itu masih jauh sayang. Inget kamu harus sekolah dulu yang pinter dan capai cita-cita kamu yang tinggi." kata Luna dengan nasehatnya. Berhenti sejenak Biboy ataupun Reza diam mendengarkan hingga Luna kembali mengucapkan nasehatnya. "Ngertikan maksud mommy?"
"Iya mommy. Aku ngerti."
"Pintar. Kamu juga harus jadi kakak yang baik buat adik-adik kamu. Jagain mereka."
"Iya, Biboy akan jagain adik Biboy. Aku juga janji nanti bakal jadi kakak yang selalu ada buat mereka dan juga menuruti apa yang mereka mau nanti."
"Anak mommy dan daddy pinter banget. Jangan lupa janjinya."
"Iya janji."
Mereka bertiga pun saling berpelukan. Hal yang benar jarang terjadi. Tapi ini obrolan yang sangat menyentuh untuk ketiganya saling mengutarakan hatinya.
♥♥♥
Masih belum nyangka kalau novel ini banyak yang suka, tadinya cuma iseng-iseng dilapak sebelah tapi pindah ke sini, banyak yang baca juga..
Ini nggak tahu berita bagus atau nggak, penting atau nggak. Cuma ngasih Info aja sih 😁
Terima kasih buat para pembaca sekalian, mau kasih tau kalau 'Married My Single Daddy' akan saya selesai kan ceritanya alias THE END tapi tenang aja aku bakal bikin skuel lanjutannya di judul berbeda. 'Your Mine' judul sementara tapi nggak tau bakal update disini atau dilapak lain.
Cerita ini,
Tentang kehidupan cinta anak, Reza dan Luna. Ya, siapa lagi kalau bukan Biboy atau Bimatara Reza Winajaya dan Clara Argata Steal, anaknya bapak Arga dan ibu Nita tetangga sebelah 😃
pacar lima langkahnya Biboy... 😂
Adakah yang keberatan?
Setuju End atau Lanjut?
Jujur kalau lanjut, takutnya bikin kalian bosen sama ceritanya..
Kadang aku juga suka bosen dan binggung arah ceritanya mau di bawa kemana..
So, dan sekali lagi terima kasih dukungannya..