Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
75. Happy Ending



♥♥♥


Tidak terasa sudah tiga hari berada di rumah Ayahnya dan tidak melakukan apapun diem di rumah paling mentok keluar rumah itu juga di halaman belakang, maklum dalam masa kehamilannya mood Luna selalu berubah-ubah dan juga menjadi pemalas. Kehamilan sekarang lebih merepotkan di banding kehamilan pertama si kembar, tidak rewel seperti sekarang. 


Jadi capek sendiri, kasian Reza selalu di buat repot Luna.


Luna dan Reza memutuskan untuk berkeliling Munich, sekedar berjalan-jalan berdua tanpa ada yang ganggu acara keduanya. Untung bin untung anak mereka diasuh orang tuanya dan juga mertuanya yang menjaga mereka, ataupun mengajak mereka ke tempat rekreasi yang ada di Munich yang penuh dengan tempat populer, dan juga menakjubkan lainnya.


Mereka jalan-jalan ke pusat kota utama, Munich  yang merupakan ibukota negara bagian Bavaria. Berwisata ke segala tempat contoh saja sekarang mereka berada di Neues Rathaus, kalau kata orang Jerman, alun-alunnya kota Munich atau Munchen.


Luna dan Reza bisa naik ke menara St.Peter Church untuk melihat pemandangan seluruh kota di cuaca siang hari yang cerah sangat indah dengan bangunan-bangunan kuno dan bersejarah yang masih di jaga dan sangat gotic. Ini-lah yang sangat ia suka kalau berada di sini, warganya juga sangat ramah apalagi pada turis seperti mereka yang sedang berlibur.


Setelah dari Neues Rathaus keduanya berjalan sedikit ke tempat Heilig-geist-kirche. Tidak membutuhkan mobil karena di area Marienplatz, segalanya tempat untuk sekedar jalan-jalan atau nge-date sangat lengkap di sini, tidak membutuhkan tempat atau menempuh jarak jauh ke tempat berikutnya.


Setelah melepas penat setelah lelah Keliling Marienplatz. Luna dan Reza melakukan perjalan tidak jauh dari sini ada Rindermarkt, tersedia Viktualienmarkt , yaitu pasar kecil dan toko yang menjual makanan, pernak-pernik, hingga bunga.


"Mas kita ke toko pernak-pernik yuk.." ajak Luna menarik paksa Reza tanpa menjawab iya atau tidak. Percuma saja istrinya sudah menarik masuk ke dalam toko.


"Kamu nggak capek jalan-jalan begini, sayang. Kamu lagi hamil loh. Kita juga sudah hampir ke semua tempat yang kamu mau." Reza protes mengkhawatirkan kondisi istri dan anaknya, bukan apa-apa.


Luna menoleh, saat ia sedang asyik memilih sebuah pin berlogo club sepak bola.


"Mas bawel banget kayak ibu-ibu arisan, aku tahu kamu khawatir tapi aku nggak apa-apa kok, kamu tahu sendiri selama beberapa hari aku stay mulu di rumah. Jadi sekali keluar nggak bisa diem. Maaf ya, buat kamu repot." Kata Luna, dia menyentuh pipi suaminya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu tipis membuat Reza semakin sexy di matanya.


"Kamu makin sexy banget sih, Mas." tambah Luna, aneh sendiri di saat seperti ini dia berbicara mesum, meski hanya berkata sexy.


Reza mengerut alisnya, "Kamu kenapa? Kamu mau godain aku hah?" Reza menarik pinggang Luna lembut, tidak sadar tempat kalau mereka berada di toko. Luna melepas paksa pelukan pinggang Reza, membuat sang pria kesal.


"Kenapa?" Reza kesal dengan penolakan Luna yang secara tiba-tiba.


"Kamu lupa kita ada di mana?"


Reza menyadari dengan cepat, bodohnya Reza sampai tak sadar keberadaan mereka sekarang. Reza memandang ke sekeliling toko, meski tidak ramai tapi dia merasa ada beberapa orang menatap ke arah mereka. Reza tak peduli toh ia tidak mengenal mereka. 


"Maaf lupa, abisnya kamu godain aku duluan sih."


"Dih PD siapa yang godain kamu, orang cuma memuji."


"Oh begitu ___" kemudian Reza mendekati telinga Luna, menatapnya bingung. "Awas ya nanti malam aku balas." bisiknya membuat Luna merona malu.


"Dasar mesum, nggak tahu tempat."


Luna meninggalkan Reza menuju rak penuh patung kecil monumen bangunan terkenal di Munich, sedangkan Reza yang masih terkekeuh geli melihat istrinya yang terlihat malu-malu kucing akan ucapannya. 


"Kok aku di tinggal sih, sayang."


"Bodo, dasar suami mesum."


"Mesum sama istri sendiri, emang boleh mesumin cewek lain?"


Luna berhenti sejenak menatap tajam suaminya, meski katanya bercanda tapi tetap saja membuat Luna kesal. 


"Awas aja kalau kamu berani mesum sama cewek lain, kamu tahu akibatnya, masih ingat kata ayah aku kan?"


Reza menelan salivanya dengan susah payah, siapa yang tidak ingat. Ucapan mertuanya selalu terngiang di kuping Reza sampai sekarang-saat acara lamarannya dulu… 


"Atas nama keluarga, sekaligus Ayah dari Luna menyetujui dan merestui lamaran kamu Reza. Dan Saya harap kamu tidak menyakiti apalagi sampai Luna menangis, Bila hal itu terjadi saya akan sunat kamu yang kedua kalinya". Ucap Gerraldy-Gege seraya bercanda sambil memperagakan gerakan memotong sehingga semua orang yang berada di ruangan tertawa riang dan acara lamaran yang tadi tenggang menjadi lebih santai. 


Reza menggeleng kepalanya pelan, Luna mengerut satu alisnya ke atas.


"Kenapa, Mas? Ngebayangin anunya di sunat lagi ya?" Luna terkikik geli dengan ucapan frontalnya sendiri.


"Ck, enak saja, daripada aku ngebayangin di sunat lagi, mending aku ngebayangin kamu Naked selonjoran di ranjang…"


Luna memukul bahu Reza keras. "Mas, mesum banget nanti di dengerin orang gimana."


Reza hanya mengangkat bahunya pelan, "Kamu duluan yang mulai, lagian mereka juga nggak akan mengerti apa yang kita omongin kecuali mereka belajar bahasa."


"Inget sama umur… "


"Ssst...kalau sudah tua nggak akan bikin kamu hamil lagi dong, ini buktinya aku masih bisa buat kamu melendung. Hayo… "


"Apaan sih... " membuat Luna malu.


"Nanti kalau dede bayi lahir, kita tambah lagi ya."


"Kamu aja buat sendiri…"


"Kan harus ada partner tempurnya, sayang. Mana bisa main sendiri."


Luna diam tidak menjawab, takut salah. Yang ada nanti salah paham terus cecok. Apalagi dia tidak mau kembali bertengkar dengan suaminya. Setelah kejadian Sarah yang membuatnya salah paham, yang hampir _ ingat hal itu membuat Luna takut, dia tidak akan bersikap egois lagi. 


Suara Reza membuyarkan pikiran Luna. 


"Maunya nambah lagi setelah dede bayi lahir. "


"Gimana nanti... "


"Okay, nanti kita bikin planning dulu, sebelum kita buat berikutnya, aku punya keinginan, -ingin sekali punya anak ganda campuran, boleh kan?"


"Kamu pikir bulu tangkis, ganda-gandaan."


"Kan kita udah punya ganda putri, tapi ganda putra juga nggak apa-apa."


"Dasar nyebelin, bikin anak kayak bikin adonan kue aja, nggak tau apa prosesnya susah."


Luna semakin geram mendengar ocehan suaminya sejak tadi, mungkin bawaan orok juga, biasanya juga nggak bawel begini, kalau bukan di ranjang maksudnya pillow talk…


"Nyebelin tapi cinta kan?"


"Tau ah gelap... "


"Terangin dong pake lampu, obor atau korek api gitu?"


"Nggak lucu, garing…"


"Basahin dong biar, nggak garing."


"Ya, ampun omongan kamu, Mas."


"Apa?"


"Ih dasar mesum, mesum, mesum…"


"Kok mesum sih… ??"


Luna kembali memilih pernak-pernik yang ingin dibeli tidak mau menanggapi ucapan suaminya yang semakin mesum, apalagi mereka juga menjadi pusat perhatian di toko karena takut obrolan keduanya membuat ketidaknyamanan pengunjung. Negara orang, kalau negara sendiri nggak masalah toh negara sendiri lebih nyaman.


•••


Berdiri tepat di depan Allianz Arena, sekedar melihat-lihat bazar di sekitar stadion membuat Luna tidak berdecak kagum, meskipun ini bukan yang pertama kalinya, tapi dia selalu kagum dengan Allianz Arena, karena memiliki desain bangunan yang unik dan berbeda dari stadion lainnya di Jerman maupun Eropa.


Dan Luna juga sudah pernah duduk menonton di stadion, saat ada pertandingan final League Champion, atmosfernya begitu berbeda kalau berada di sana begitu menakjubkan. Pengalaman yang tidak pernah dia lupakan. Tentunya bersama Reza, suaminya.


Berkeliling, berfoto, dan menjelajahi setiap kios makanan membuat Luna dan Reza tidak merasa lelah, karena lelahnya terbayar dengan setiap tempat yang mereka tuju.


Keduanya duduk di bangku panjang yang tersedia, di tempat ini, dan sekedar melepas lelah kaki mereka seharian berjalan.


"Mas, kira-kira aku bisa ketemu sama, pemain FC Bayern Munchen nggak? Aku pengen banget ketemu sama pemain club itu. Bisa nggak?" usung punya usung Luna terus saja mendesak Reza untuk bertemu dengan pemain Bayern Munchen yang memang susah ditemui karena memang tidak gampang membalikan gorengan bakwan.


Karena jadwal musim ini, tidak ada pertandingan ataupun jadwal latihan untuk para pemain, FC Bayern.


"Susah sayang, mereka itu lagi sibuk kegiatan lain di luar, sepak bola, mereka juga punya kegiatan lain dengan keluarga mereka." Jelas Reza memberi pengertian pada Luna. 


"Tapi aku pengen ketemu salah satunya aja, ini maunya dede bayi loh!"


"Alesan…" acuhnya. 


"Nggak bohong. Bilang aja nggak bisa mempertemukan aku sama mereka. Payah." elak Reza, tidak kalah.


"Aku nggak payah, memang kalau mau ketemu harus ada pertemuan atau perjanjian terlebih dahulu. Kalau kamu pengen ketemu pemain selain mereka aku jabanin, mau CR7, Mesut Ozil, atau Arsene Wenger mantan pelatih Arsenal sekalipun aku pertemukan. Nanti aku minta Soni buat janji sama mereka."


"Benar, ya. Tau deh orang kaya mah bebas. Apapun bisa di handle. Tapi, waktu Rara pengen ketemu Bambang Pamungkas, pemain Legend, bisa ketemu. Sama dia juga terkenal juga kan."


Reza menghela nafas pendek. 


"Maaf banget sayangku, bukan membandingkan pemain kita sama pemain di sini, jelas bedalah. Kelasnya aja sudah beda banget. Bukan menghina, tapi memang faktanya begitu. Untung bin kasarung si Rara bisa ketemu juga karena memang mereka tetanggaan sama BP, jelas bisa ketemu."


Luna mengangguk tidak menjawab, Memang benar juga kata suaminya.


"Tapi aku pengen ketemu" rajuknya.


Reza menghela nafas panjang lalu menghembuskan lagi.


"Ketempat lain aja, ya. Ini sudah mau malem loh, kita makan malem aja mau, gak? Terserah mau makan apa, nggak akan aku larang deh, asal makanan sehat."


"Gitu deh." Reza cecengiran khalayak bocah.


"Bagaimana kalau kita kembali ke alun-alun aja, Neues Rathaus, jam segini pasti lebih ramai. Malam minggu. Makan di Austin Keller, ya?"


Austin Keller, restaurant terkenal di Munich. Dan sebelumnya Luna juga sudah referensi tempat tersebut dua hari yang lalu dengan bantuan Barrack. Tanpa sepengetahuan Reza. 


"Okay, kalau itu kemauanmu aku mah siap aja, gampang itu mah. Tapi kita harus referensi dulu sayang, kalau restoran itu?" ujarnya.


"Pokoknya aku mau di sana." tegasnya. 


"Aku usahakan. Sekalian kita merayakan Anniversary kita, kamu masih ingat kan? Atau jangan-jangan kamu lupa?"


Luna tersentak saat Reza membicarakan Anniversary mereka. "Siapa yang lupa, ingat kok." kata Luna, Padahal mau kasih kejutan. Lanjut Luna dalam hati.


"Oke kita berangkat sekarang."


•••


Memasuki restoran bergaya, vintage, dengan pencahayaan ruangan yang begitu hangat membuat restoran Austin Keller begitu banyak dikenal, maklum saja restoran berkelas ini hanya untuk kaum jetset saja, tapi akhir-akhir ini juga sangat terbuka untuk kalangan umum lainnya, sehingga tempat ini sering ramai, hingga mereka yang ingin memesan tempat harus seminggu atau dua hari sebelumnya untuk makan disini, memang sangat ribet, tapi cukup memuaskan dan tempatnya juga sangat romantis.


Reza saja sempat kaget saat mereka masuk, ternyata Luna sudah menyiapkan semua ini tanpa dia tahu, bener-benar suatu kejutan.


Meski angka pernikahan mereka masih bisa dihitung dengan jari tangan mereka, ibarat anak baru masuk sekolah SD, tapi itu tidak menjadi patokan untuk keduanya karena pernikahan mereka itu selalu dilandasi, 4K (kejujuran, kepercayaan, kenyamanan dan kesetian). Dan untuk cinta sebagai bumbu penyedap, setiap harinya. Karena cinta tidak butuh ucapan tapi bukti di setiap perilaku dan keseharian mereka berdua.


Keduanya duduk berhadapan dengan penerangan remang-remang.


Tidak lama seorang pelayan pria bertubuh kokoh datang melayani, sambil membawa minuman. Pelayan itu kembali meninggalkan keduanya, dan tidak perlu memilih menu, mereka hanya tinggal menunggu pesanan mereka datang.


"Sayang, kamu menyiapkan ini semua?" tanya Reza, begitu girang, tidak pernah sebelumnya istrinya begitu romantis kepadanya, tau lah hanya Reza yang selalu melakukan hal romantis biasanya. Tapi kali ini Luna yang melakukannya, sangat langka dan bin ajaib.


"Tentu saja, sayang. Ini spesial untukmu, Mein Ehemann" balasnya, kemudian menggenggam tangan Reza erat. "Bagaimana kamu suka?" timpalnya. (Suamiku)


"I love it, apa kamu melakukan ini sendiri?"


"Tentu saja tidak, Barrack membantuku."


"Adik iparku, baik sekali."


"Sangat."


Reza mencium punggung tangan Luna begitu lembut membuat Luna tersipu malu. Bagaikan pengantin baru keduanya menikmati setiap perjalan mereka berdua saat ini.


Tidak lama moment mereka terhenti saat pelayan datang dengan makanan mereka yang merek hidangkan di meja, pelayan juga tidak henti menebarkan senyum lebarnya, membuat Reza kesal karena memang pria muda itu sangat _ lupakan intinya Reza tidak suka apalagi melihat Luna begitu senang saat memandang pria itu, Reza memang sangat cemburuan seperti ini anak ABG.


"Bitte nikami meine damen und herren." pelayan itu sambil meletakkan makanannya dengan lihai. (Silahkan dinikmati tuan dan nyonya) 


"Danke" ucap Luna dan Reza bersamaan. (Terima kasih)


"Kamu suka sama dia?" tanya Reza tiba-tiba saat pelayan itu sudah pergi.


Luna mengerut alisnya bingung. "Maksud, Mas?"


"Dia, pelayan tadi, aku lihat kamu nggak berkedip sama sekali melihatnya." Reza sewot kemudian memotong Falscher Hase, daging sapi yang dicincang, dengan isian telur yang dibentuk seperti sosis besar dan juga Halal, itu yang penting. Karena di restoran ini juga menyediakan makanan Halal. Di Jerman sekarang banyak para imigran dari timur-tengah tinggal berada.


"Dia itu sangat tampan kan?"


"Ya, dan juga MUDA." ucap Reza penuh penekanan. Sedangkan Luna hanya bisa tersenyum melihat tingkah Reza dan kecemburuannya.


"Sangat MUDA dan TAMPAN. Dia juga ___" kaget, belum sempat menyelesaikan ucapannya Reza sudah memotong terlebih dahulu.


"Terserah, aku memang sudah TUA."


"Cemburu niye... Kayak anak SMP aja, kamu Mas. Nggak pantes."


"Jadi kamu belain dia. Sok aja belain yang daun muda, aku mah apa atuh daun kering…"


Dasar ABG tua! 


Luna benar-benar kesal dengan tingkah suaminya, sensitif kalau membicarakan soal pria lain, padahal Luna hanya sedang ingin menggodanya tapi malah begini jadinya.


"Aku nggak mau berantem ini kita mau Anniversary-an loh, kok jadi begini sih?" protes tidak tahu siapa yang mulai membuat masalah tanpa sadar mereka sudah berdebat.


"Kamu sendiri yang mulai, sayang."


"Maaf kalau begitu." dengan penuh keberanian, dan mengutuk gengsinya Luna berucap permintaan maaf. Padahal dirinya tidak sama sekali salah. 


"Maaf soal apa?" ucapnya pura-pura. 


Dalam mode makan saja mereka berdua bisa bertengkar, padahal dalam rangka hari spesial keduanya.


"Soal, Antesky, pelayan itu."


"Kamu tahu namanya?"


Luna mengangguk tanpa dosa. 


"Sejak kapan kamu kenal."


"Sejak tadi, beberapa menit yang lalu."


Reza curiga. 


"Bohong, jujur saja?"


Luna tertawa.


"Kok malah ketawa?"


"Abisnya kamu lucu deh, Mas. Itu pelayan ada name tag-nya jelas tahulah. Maksud kamu apa? Nuduh aku selingkuh hah? Ya, ampun bagaimana bisa kalau kamu setiap saat ada di sebelah aku, lagian selingkuh masa jauh-jauh sampai sini. Ngaco kamu."


Sekarang Reza merasa bersalah terhadap Luna. Ia berdiri sembari memindah kursinya dekat dengan Luna.


"Sorry sayang, aku terlalu posesif sama kamu. Aku cuma nggak mau kamu meninggalkan aku. Aku takut."


Keduanya melupakan makanan mereka di atas meja.


"Aku senang kok dengan sikap kamu seperti itu, menandakan kamu sayang dan cinta sama aku, Mas. Aku kan sudah janji nggak akan meninggalkan kamu. I promise…"


"Thank you my perfect wife…"


"Yes, my husband…"


Selama makan berlangsung, berbincang, dan mengingat awal mereka bertemu sampai menikah sekarang benar-benar sebuah anugerah yang tidak bisa dijabarkan, pertemuan yang berawal dari sesuatu hal yang biasa saja, bilang saja tidak berkesan tapi akhirnya bahagia.


Allah memang maha Adil, memberikan jodoh pada umatnya, dari kekurangan segalanya ditutupi kelebihan mereka masing-masing.


Ingat kata Ayah, mereka pernah dijodohkan dulu tapi tidak jadi, dan setelah beberapa tahun di pertemukan kembali dengan cara mereka sendiri.


Suasana restoran menjadi romantis apalagi saat melihat keadaan di luar jendela, malam di Munich dengan segala cahaya lampu menyala di setiap bangunan dan gedung-gedung. Cantik dan indah.


Tiba-tiba Reza mengeluarkan sebuah kotak bulat berwarna biru tua, berisi kalung, disodorkannya ke arah Luna. 


"For you…"


Luna terkejut senang mendapatkan sebuah kalung begitu indah simple dan elegan. Hingga membuat Luna tidak bisa berkata. Dan memeluk Reza begitu erat.


"Thank you, sayang… "


Pelukan mereka terlepas. "Mau aku bantu pakaikan." ucap Reza. 


Luna manggut-manggut. Dengan hati penuh bunga bermekaran.


Sangat bahagia.


Boleh jujur, dalam hidup Luna tidak ada pernah penyesalan sama sekali dengan awal pertemuan mereka dulu, status Reza yang dulu seorang Single Daddy tidak ada pengaruh apapun dalam hubungan keduanya, Bima yang sudah besar sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri.


Reza membantu memakaikan kalung itu ke leher jenjang Luna, begitu cantik saat di pakai istrinya. 


Dan menambah kadar kecantikan Luna yang begitu alami.


"Your so beautiful, I love you, Luna Anatasya Winajaya…"


"I love you too, Reza Aditya Winajaya…"


**TAMAT**


♥♥♥


Terima kasih untuk para Reader-reader yang sudah senantiasa membaca ceritaku, ceritaku yang pertama yang sudah selesai alias tamat. Banyak banget kesulitan saat menulis cerita ini, ada juga kebosanan saat buat cerita ini, pokoknya senang dan duka deh. Tapi akhirnya bisa menyelesaikan cerita ini. Meski suka update telat atau kelamaan maaf ya sekali lagi bikin kecewa. 😂😂😂😂


Terima kasih banyak guys,


Di tunggu EXTRA PART dari Married With Single Daddy. 🙏😎