
Cerita ini sebelum pertemuan Luna dan Reza, Jodoh yang tertunda. Di mana dulu Reza dan Luna pernah di jodohkan sama kedua orangtuanya. Kalian tau kan DUO G?
Curut dan Kodok, eh maksudnya Galang and Gerrarldy
So, selamat membaca!
Jangan Lupa jempolnya (👍)
♥♥♥
"Jadi, Ayah gak jadi jodohin kamu sama teman Ayah, Gi. " ucap seorang pria separuh baya. Menatap gadis di hadapannya tampak santai memainkan ponselnya.
"Iyalah, masa mau anak teman Ayah sama wanita bersuami, yang ada Anggi jadi poliandri. Bersuami lebih dari satu." celotehnya meletakkan ponselnya. Kemudian menyuapkan cake ke dalam mulutnya, tapi sang Ayah malah mencabik-cabik cake hingga tidak berbentuk.
"Makanya gak jadi. Kira-kira sama Luna mau gak ya?!" ujar Gege menoleh pada Anggita minta pendapatnya. Anggita dan Luna sangat berbeda. Anggita lebih dewasa dan kalem karena memang dia sudah menjadi seorang istri menikah di usia muda. Sedang Luna, dia sangat tomboy dan bebas tidak suka di kekang, maklum masih remaja pada umumnya, umur tujuh belas tahun sangat rentan dan labil.
"Pasti maulah Ayah, Luna cantik dan pintar. Meski modelannya begitu dia banyak yang suka. Ayah sih gak pernah perhatiin adek somplak. Makanya gak tau kalau anaknya populer di kalangan cowok-cowok di sekolahnya."
"Masa?"
"Hahaha, Ayah makanya gaul. Lagian sibuk kerja dan pacaran sama si Jessy jadi lupa perhatiin anaknya."
"Ayah kerja buat kalian. Soal Jessy, masih penjajakan. Lagian sudah hampir dua bulan gak ketemu. Prioritas Ayah kalian berdua."
"Tapi, Ayah juga harus bisa kasih perhatian sama Luna. Anggi gak bisa setiap saat buat Luna. Luna butuh perhatian Ayah. Kadang dia suka mengeluh kalau Ayah susah di ajak makan di luar selalu gak ada waktu."
"Iya Ayah janji, akan kasih perhatian lebih buat Luna dan kamu juga meski sudah menikah."
"Gitu dong, tapi bukan janji aja, tapi bukti juga."
"Siap."
Saat keduanya sedang asyik mengobrol, seorang gadis berpakaian seragam putih abu-abu datang dengan wajah lesu. Rambut yang di kuncir kuda sekarang berubah di gelung asal. Keringat membasahi wajah gadis cantik itu. Memerintah ART-nya untuk membuatkan minuman segar untuknya. Sedangan Gege dan Anggita hanya bisa memperhatikan gadis itu dengan seksama. Gadis itu tidak ada rasa sopannya terhadap orang lebih tua. Harusnya saat memasuki rumah seseorang wajib memberi salam. Ini mah pasang wajah lesu, letih dan muka di tekuk.
"Walaikumsalam… " sindir Gege, membuat gadis itu tehentak. Gadis di hadapannya tersenyum geli sendiri akan sikapnya.
"Hehehe, sorry, Assalamualaikum…" ucapnya meski telat, tidak apa setidaknya ada niatan memberi salam meski terlebih dahulu dapat sindiran. Langsung menghampiri dan mencium tangan keduanya.
"Walaikumsalam…" keduanya menajawab.
"Bad mood?" tanya Gege, pada putri keduanya Luna Anatasya Gerraldy. Biasanya gadis itu tampak ceria tapi berbeda dengan hari ini. Dia sangat terlihat kacau balau. Seperti orang yang patah hati.
Luna mengangguk tidak menjawab. Bi Fati datang membawakan minuman pesanan Luna. Lalu pergi kembali ke dapur. Dan Luna menghabiskan minuman hingga tetesan terakhir. Gege dan Anggita masih memperhatikan Luna belum membuka suaranya. Keduanya menggelengkan tingkah Luna bersendawa sembarangan.
"Kamu yakin, anak teman Ayah bakal suka sama Luna?" bisik Gege pada Anggita di sampingnya. Apalagi setelah melihat kelakuan ajaib gadis itu.
Anggita mengangguk yakin. "Ayah jangan lihat Luna dari covernya aja tapi dari hatinya. Anggita yakin seyakin yakinnya, anak teman Ayah bakal suka sama Luna. Nggak akan ngecewain kok." jelasnya dengan suara bisik pula. Membuat Luna penasaran dengan kedua orang tersebut.
"Bisik-bisik tetangga, ya?"
"Kayak judul lagu, dek."
"Gak usah mengalihkan pembicaraan. Kalian bisik-bisik ngapain. Curiga? Ngomongin aku ya?"
Gege dan Anggita matanya melebarkan terhentak akan omongan Luna yang ada benarnya.
"Dasar, kepedean kamu." balas Anggita pada adik kesayangannya.
"Habis Luna gak di ajakin bisik-bisik tadi. Kepo kan Luna." Gege menepuk sofa agar Luna duduk dekat dengannya. Luna mendekat duduk di tengah di sisi keduanya.
"Kamu sudah punya pacar?"
Luna mengerit alis. "Sudah, tapi baru beberapa menit yang lalu baru aja putus."
"Kenapa?" Gege maupun Anggita penasaran.
"Dia selingkuh."
"Kok bisa." Lagi-lagi keduanya kompak.
"Bisa. Buktinya dia selingkuh."
Keduanya manggut-manggut.
"Lagian masih sekolah gaya-gayaan pacaran segala. Sekolah dulu yang benar, dek."
"Iya... "
"Denger kata kakak kamu, dia gak pacaran malah di halalin sama Yuda. Bagus begitu."
"Iya… "
"Kalau gitu kamu mau di jodohin?"
"Iya…Eh tunggu, di jodohin? Aku?"
"Iyalah kamu siapa lagi."
"Gak mau."
"Kenapa?"
"Luna masih laku kali, gak usah di jodohin segala."
"Tapi dia anak baik kok."
"Gak."
"Mau ya? Nanti Ayah kasih apa aja yang kamu mau." Gege tidak mau menyerah.
"Apa aja?" Luna mulai tertatik.
"Aku mau, Ayah sama Jessy PUTUS?"
***
Luna membaringkan tubuhnya di atas kasur melihat ke langit-langit kamarnya. Memikirkan kembali perkataan tentang dia meminta Ayahnya putus dengan Jessy model asal Jerman itu. Bukannya Luna ingin durhaka dengan Gege. Luna berpikir karena Jessy lah Ayahnya kurang perhatian terhadap Luna dan Anggita. Semenjak Ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu, Luna sangat kesepian dan sangat merindukan sosok Ibunya, bukan wanita yang menjelama macam Jessy. Dia tidak butuh.
Memikirkan masalahnya saja sudah pusing, d li tambah Ayahnya main jodoh-jodohin segala. Di kira zaman siti nurbaya.
"Hidupku gini banget, Ya Allah… " Luna mengubah posisi tidurnya yang tadinya terlentang, sekarang tengkurap. Ia menyembunyikan kesedihannya. Sedih karena merindukan Ibunya, sedih karena Ayahnya lebih perhatian terhadap wanitanya dan terakhir Luna sedih karena Aldo berselingkuh di belakangnya. Dunia memang kejam. Hidupnya selalu di permainkan.
Mungkin orang berpikir Luna terlihat senang tapi hatinya tidak pernah tahu seberapa hancurnya dirinya.
Tidak lama suara knop terdengar.
Suara langkah jalan mendekat. Luna tidak tahu siapa, yang pasti ia bisa merasakan seseorang menaiki kasurnya.
"Oi, dek bangun kamu. Kakak tahu kamu gak tidur." tepak Anggita pada betis Luna. Ia merasa lumayan sakit. Meski tidak keras.
"Apa-apaan si kak. Sakit tahu." keluhnya mengelus betisnya bekas tepakkan. Dengan raut muka sebal dan bibir manyun. Ia enggan melirik Anggita. Bangun terduduk.
"Itu bibir biasa aja kali. Gak usah di maju-majuin. Sexy juga gak." Anggita mengejek. Duduk sila di atas kasur Luna mengajaknya pillow talk.
"Bodo." melempar bantal ke arah kakaknya. "Mau ngapain ke sini?"
"Mau ngomong."
"Ini dari tadi lagi ngomong."
"Mau ngomong serius, dek."
"Tentang?"
"Tentang tadi. Soal perjodohan."
"Kalau soal itu aku gak mau ogah."
Luna kembali membaringkan tubuhnya. Tidak ingin membahas soal perjodohan.
"Please jangan tiduran lagi, kita ngomong."
"Nyebelin. Dibilangin gak mau. Maksa banget sih."
Anggita tidak akan membahas perjodohan. Karena adiknya memang orang paling gak mau di paksa.
"Dek, kamu gak kasian sama Ayah?"
"Kasihan kenapa?"
"Soal dia harus putusin Jessy."
"Iyalah harus, kenapa memang?"
"Kamu tega, kamu tau sendiri Ayah sudah hidup sendiri selama tiga tahun. Jessy wanita pertama yang ia kenalkan serius ke kita. Kamu lihat sendiri sekarang Ayah lebih berwarna."
"Jangan lupa dia juga sudah gak pernah perhatiin kita berdua. Lebih sibuk sama wanita itu."
Luna menghela nafas.
Anggita menatap Luna tidak terbaca. "Kamu gak tahu kan kalau selama ini Ayah juga sangat terpuruk di tinggal Ibu. Ayah selalu menyibukan dirinya sejenak melupakan Ibu, bukannya Ayah ingin melupakan selamanya. Beliau sangat mencintai Ibu saking cintanya dia selalu menghindari kakek saat memintanya menikah. Tapi setelah dia bertemu dengan Jessy, Ayah seperti kembali hidup. Kamu merasakannya juga kan? Mungkin akhir-akhir ini Ayah sibuk dengan pekerjaanya. Bukan karena Jessy. Kamu harus tahu itu. Kamu sudah dewasa bisa membedakan mana yang benar dan salah."
Anggita dengan ucapannya panjang lebar. Sesekali Luna memang harus diberi nasehat. Luna anak yang baik, hanya saja dia belum bisa mengerti keadaan sesungguhnya.
Luna terdiam. Memikirkan ucapan Anggita. Semuanya yang diucapkannya tergiang-giang di telinga Luna. Ia ingin Ayahnya bahagia. Tapi kenapa harus Jessy yang membuatnya bahagia?
Ia menjadi frustasi mengacak rambutnya. Sedangkan Anggita setelah bicara panjang lebar keluar dari kamarnya. Memberikan ketenangan dan pemikiran untuk Luna sementara waktu. Luna beringsut dari kasur untuk mandi mendinginkan pikirannya yang membuatnya pusing tujuh turunan.
Selesai ritual mandi. Luna turun ke bawah melihat Gege, Anggita dan Yuda berada di ruang tamu. Luna menghampiri mereka dengan senyum manis terpaksa, duduk di seberang Gege.
"Ayah setuju."
Luna mengerut alisnya. "Setuju?"
"Ayah akan putus dengan Jessy. Asal kamu terima perjodohan ini. Ayah tidak mau ada penolakan."
Yang benar saja? Perjodohan? Kenapa jadi ribet seperti ini. Di sisi lain Luna senang mendengar Ayahnya akan memutuskan Jessy tapi hati Luna entah kenapa terasa sakit. Dia memegang dada terasa nyelekit tidak karuan. Apa ini yang terbaik untuk Ayahnya dan dirinya.
" Ayah benar-benar mewujudkan kemauan Luna?"
Gege mengangguk, mengiyakan.
***
Kok masih ada thor?
Entah kenapa aku tidak rela berpisah dengan Daddy Reza dan Mommy Luna, pasangan fenomenal yang aku buat. Di extra part special ini bakal banyak penjelasan di masa lalu yang gak sempat aku publish di episode Kemarin-kemarin.
Jadi yang masih penasaran sok di baca gak juga sok aja di abaikan.
Ohya, jangan lupa ramein BIMA LOVERS juga dong kasian, masa Daddynya aja, anaknya enggak😁 (masih dalam masalah review) mohon bersabar.
Sedikit info: Kemarin Author ikut acara 'Be A Successful Writer'
Acara sukses abis. Keren bisa ketemu Author Mangatoon atau Noveltoon yang datang, pengalaman yang gak akan pernah datang sekali. Bisa ketemu editornya langsung. Sharing juga.
Mantap deh. Banyak Author lain yang baca 'Married With Single Daddy' juga ternyata. Keren.
Segitu aja infonya.
Terima kasih guys.