
♥♥♥
Setelah hari itu Reza menceritakan semua tentang apa yang sedang di selidikinya bersama Aldo, Yuda, dan Raka akhir-akhir ini. Tapi masih belum memberitahu siapa pelakunya. Dia berharap banyak pada suaminya yang membantu mengungkapkan kasus tabrakan lari kakaknya yang belum terungkap sampai sekarang
Luna melihat pada cermin dihadapannya memakai dress berwarna hitam dengan panjang dibawah lutut. Terlihat tonjolan diperutnya terlihat jelas tapi dia merasa sangat sexy dengan bentuk tubuhnya sekarang.
"Kamu terlihat sangat cantik dan kamu juga terlihat sexy sayang." bisik seseorang memeluk dari belakang. Membuat Luna merona merah.
"Gombal banget sih."
"Gombal sama istri nggak apa-apa dong. Memangnya kamu mau aku gombalin wanita lain diluar." Reza niat menggoda tapi malah mendapat amarah istrinya.
"Ya, sudah gomalin saja wanita lain." Luna sewot dan mendorang badan Reza setelah membalikan badannya berhadapan.
"Aku cuma becanda." sesal Reza menahan bahu Luna agar tidak beranjak. "Kamu itu wanita satu-satunya dan terakhir buat aku." ucapnya mengecup kening istrinya lama dan Luna berdesir akan ketulusan yang diucapkan suaminya ini. Luna pun memeluk suaminya erat.
"I love you."
"I love you too."
Luna melihat baju yang dipakai Reza terlihat rapih dan sangat tampan dikenakannya. "Kamu rapi banget, mau kemana?" tanyanya penasaran.
"Aku sama Biboy ikut kamu ke acara reunian kamu." jawab pria itu membuat Luna terkejut.
"Kalian ikut?"
"Iya. Kamu keberatan?"
Luna menggeleng cepat. "Nggak sama sekali. Aku itu malah senang. Kamu ikut. Tapi bukannya kamu nggak bisa temanin aku, ya?" Luna kembali bertanya karena rasa penasarannya.
"Aku nggak mau kamu didekatin pria lain. Kata Aldo teman sekelas kamu itu pada suka sama kamu waktu SMA. Jadi buat jaga-jaga, aku mutusin buat ikut sama Biboy biar nggak ada yang bisa gomalin kamu nanti disana."
Luna tertawa pelan. "Segitunya banget. Lagian mereka juga nggak akan gombalin aku yang lagi hamil begini. Aku suka sama kamu yang posesif begini tandanya kamu cinta banget sama aku." jelasnya menatap pria dihadapannya dan melingkarkan tangannya dileher suaminya.
Reza merapatkan tubuhnya menempel. "Karena kamu itu milik aku. Milik dari Reza Raditya Winaja." ucap Reza dan mencium bibir ranum istrinya lembut dan melumatnya dalam.
Luna menghentikan ciumannya sepihak. "Mas nanti lipstik aku habis sama kamu. Kita berangkat sekarang yuk." Luna merapihkan lipstiknya.
Reza kecewa acara mesra-mesraannya ditunda begitu saja. Dan mengikuti keinginan istrinya.
"Ayo kita berangkat, sayangku." Ajak Reza dan Luna menggaitkan tangannya ditangan Reza dan bergegas turun. Reza bersikap romantis.
Biboy sudah siap dengan pakaiannya kemeja blue jean dan celana baggy pant hitam terlihat tampan dan imut.
Bocah itu menghampiri keduanya berlari kecil. Minta untuk digendong pada Luna. Namun Reza langsung mengangkatnya.
"Mommy! Daddy!" Rajutnya dihadapan keduanya dan di gendong langsung oleh Reza.
"Anak Mommy cakep banget." Luna gemas. Mencium putranya dalam gendongan suaminya itu.
"Mommy juga cantik."
"Thank you sayang."
Ketiganya bergegas masuk keluar dan menaiki mobil yang sudah siap. Diantarkan langsung oleh Pak Yanto.
Luna merasa bahagia bisa berasa dengan keluarga kecilnya saat ini. Dan siap mengenalkan suami dan anaknya pada temannya. Karena tidak banyak teman sekolahnya yang diundang di acara pernikahannya.
Sesampainya di restoran mereka turun. Luna dibantu oleh Reza yang menggendong putranya itu. Parkiran cukup sepi karena sebagian orang sudah masuk dari tadi.
Belum sempat masuk suara terdengar dari arah depan ya benar saja suara cempreng sahabatnya ini terdengar nyaring.
"Luna!" Panggil Rara dan Abel bersamaan.
Melihat keberadaan kedua sahabatnya membuat Luna senang. Luna dan Reza yang menggendong Biboy jalan menghampiri keduanya di depan restoran tempat reuni mereka lakukan.
"Mas Reza sama Biboy juga ikutan?" Seru Abel.
"Iyalah. Kenapa memang?" Reza menatap tajam pada adiknya.
"Berarti harus bayar iuran juga." balasnya.
"Berapa sih memang?" Reza menantang.
"250.000,-"
"Segitu doang. Aku yang bakal bayar semua makan kalian didalam." Reza sedikit menyombongkan diri.
Luna, Abel, Rara terkejut dengan ucapan Reza dan ikut menyusul pria itu karena sudah beranjak dari tempatnya masuk kedalam.
Mereka memasuki ruangan yang sudah dipesan khusus reunian SMA mereka. Ruang luas yang sudah tersedia panggung kecil, bangku dan meja. Dihadiri oleh empat puluh orang dan ditambah keluarga atau patner yang mereka bawa seperti halnya Luna.
Aldo melambaikan tangan seolah menyuruhnya untuk duduk di tempatnya yang memang masih kosong dan cukup untuk mereka dan ada satu bangku kosong yang belum terisikan.
"Aldo kamu memang penyelamat." Abel menepuk pundak Aldo pelan.
"Iya sengaja biar kita bisa duduk barengan disini."
Asyik mengobrol tiga orang pria datang menghampiri meja mereka. Yang ternyata Agung, Septa dan Bara mereka adalah panitia acara reuni.
"Hai semuanya." Sapa Agung dengan suara keras khas sundanya. Dengan penampilan baru Agung sekarang tanpa kacamata. Dulu begitu culun dan berkacamata. Biasanya orang berkaca mata diibaratkan orang pintar tapi beda dengan Agung dia adalah juara satu dari bawah. Saking oonnya. Berbeda dengan yang lain masih tetap sama tapi terlihat dewasa.
"Hai."
"Halo Luna makin cakep aja. Sudah ada yang punya belum apa masih sama Akang Aldo." Seru Bram yang blak-blakkan tanpa melihat Reza disampingnya. Malah menoleh pada Aldo.
Reza yang mendengar menjadi kesal. Dia menahannya karena tidak ingin membuat masalah. Sedangkan Aldo hatinya makin tidak karuan melihat Reza yang terlihat geram sesekali menatapnya.
"Terima kasih pujiannya. Aku sama Aldo hanya teman saja. Sekarang aku sudah punya suami sama anak juga. Aku juga bawa mereka." balas Luna cepat. Lalu Luna memperkenalkan Reza dan Biboy. Disambut hangat oleh ketiga pria itu meski rasa bersalahnya masih tidak hilang dari benak mereka.
"Itu masa lalu." seru Aldo.
"Maaf ya nggak tahu. Selamat menikmati acara kalau begitu." Bram merasa bersalah. Dan merasa menyesal dan meminta maaf pada Reza.
"Santai aja bro." sahuy Reza. Sebenarnya masih belum bisa terima begitu saja. Tapi sembari tadi tangan Luna sudah menahan lengannya agar ia tidak marah apalagi harus bertindak bodoh.
Reza memaklumi mungkin benar dia tidak tahu karena waktu pernikahan mereka tidak banyak teman sekolah yang diundang.
Ketiganya meninggalkan meja Luna dan bergegas naik panggung untuk memulai acara.
Selama acara berlangsung Luna merasa terganggu karena sejak tadi banyak wanita melihat ke arah Reza suaminya. Memang siapa yang tidak terpesona dengan ketampanan suaminya dia Sebagai istri saja masih tetap mengagumi dan malu-malu saat mendapatkan gombalan dan tatapan dari pria itu.
•••
Alisha melangkah masuk dan mendapat tatapan dari semua orang karena penampilannya yang terlihat sexy mengenakan dress tanpa lengan di bawah lutut yang berwarna hitam.
Alisha terlambat.
Wanita melangkahkan kaki bak model dan mengibas rambutnya yang terurai panjang. Mata pria pun fokus pada lekuk tubuh Alisha. Tidak untuk Reza yang setia mengelus punggung istrinya yang merasa pegal dan juga Aldo senang menggendong Biboy dipangkuanya tanpa ingin melihat kedatangan wanita itu.
Tak disangka wanita itu malah mengarahkan kakinya ke meja Luna dan yang lain dengan tidak sopannya duduk begitu saja dikursi kosong dekat Reza.
Terang-terangan menyentuh pundak Reza. "Hei, Mas." sapa Alisha tak menghiraukan orang yang di satu meja.
Reza diam tidak bicara hanya mengangguk saja. Malas meladeni wanita itu.
"Alisha ngapain kamu duduk disini. Siapa yang suruh. Main duduk-duduk saja." ketus Abel sedikit keras dan membuat sebagian orang memperhatikan ke arah meja mereka. Meski di depan panggung ada orang berpidato memulai acara.
Nenek sihir
Nenek lampir
Nenek grandong
Ngapain disini sih?
Umpatan-umpatan yang dilontarkan Abel saking kesal tidak suka akan kedatangan wanita ini. Tadinya Abel, Luna dan Rara sudah wanti-wanti dan berdoa agar dia tidak datang.
Tapi doanya tidak dikabulkan.
"Abel kamu nggak suka banget sama aku. Lagian aku sudah bayar jadi hak aku dong duduk dimana saja dan aku juga melihat kursi kosong. Aku tempati. Salahku begitu kalau aku duduk di tempat kosong ini." Ucapnya membuat Abel bungkam dan memang tidak salah juga yang dibilangnya. Salahnya harusnya kalau tahu akan kedatangan wanita ini. Ini kursi sudah disingkirkan.
"Sudah kita nikmati saja acaranya. Nggak usah ribut soal kursi segala. Kita kesini buat reuni silaturahmi sama teman lama. Bukannya ributin hal nggak jelas." kata Luna santai meski hatinya agak tidak suka dengan kedatangan Alisha yang curi-curi pandang pada Reza.
Meski Luna tidak masalah bila banyak wanita mencuri pandang pada suaminya. Tapi entah dia tidak suka bila Alisha memandang suaminya seakan dia memikirkan hal dipikirannya tentang suaminya sebagai objeknya.
"Iya betul kata Luna kita harus menikmati acara ini." kata Aldo setuju dengan apa yang dikatakan Luna.
"Cih. Bela mantan nih." Alisha berdecit masam ke arah Aldo.
Sontak membuat orang di meja memandang hal tidak suka. Apalagi wanita itu begitu santai tanpa tahu bila Reza sudah mengepal tangannya. Dan lagi-lagi Luna selalu menahannya.
"Sabar" bisik Luna. Dan menggenggam tangan suaminya erat. Reza menoleh ke arah istrinya mencium sekilas pipinya.
Dan membuat Alisha yang melihat semakin geram dan berdecit kesal.
Harusnya aku yang sedang berada disisi Reza. Bukan kamu Luna. Teriak batin Alisha.
Selama acara demi acara berjalan lancar dan sampai di ujung puncak acara akan dilakukan dengan undian yaitu semua orang mengambil kertas dalam wadah kaca yang sudah dituliskan oleh panitia yang sudah di edarkan panitia lainnya yang membantu.
"Oke. Ini adalah undian special. Bila diantara kalian yang mendapat kata menang saya harap kalian maju keatas panggung. Untuk dua orang beruntung." Agung dengan suara jelas karena dengan menggunakan mix yang cukup keras.
Semua orang pun membuka kertas yang mereka ambil dari wajah kaca. Sementara Luna dan yang lain harap cemas karena tidak ada keinginan untuk mendapatkan kata menang pasti akan ada akan mereka lakukan di atas panggung dan itu akan membuat mereka malu.
Rara Kosong
Abel Kosong
Aldo Menang
Reza Kosong
Luna Menang
Alisha Kosong
Sontak membuat Luna terkejut. Reza yang melihat hanya tersenyum. Dan Aldo masih terlihat biasa tak bisa merespon apapun.
"Aldo dan Luna menang kalian memang jodoh ya." lontar Alisha seenak jidat. Ia berdiri dan mengatakan keduanya yang mendapat undian tersebut.
Luna dan Aldo berdiri saat nama mereka dipanggil dan tidak lupa membawa lembaran kertas itu. Luna sedikit menoleh ke belakang. Melihat Reza senyum tanpa rasa cemburu. Dan sekilas melihat senyum menang yang di lihat kan oleh Alisha.
"Nah karena kalian yang menang. Kami selaku panitia akan memberikan hadiah dan gelar King & Queen."
Entahlah ini membuat Luna maupun Aldon merasakan canggung saat mendapatkan gelar tersebut dan hadiah yang diberikan.
"Selamat untuk kalian berdua."
Tepukan riuh dalam ruangan terdengar gemuruh dan mereka juga harus mengucap beberapa patah kata sambutan sebagai pemenang. Sebenarnya ini adalah hal konyol. Ia tidak bisa untuk menolak.
Luna berdiri dan memegang mix dan mulai berbicara.
"Thanks untuk gelar Queennya dan hadiah yang sudah panitia siapkan. Saya disini bukan untuk mendapatkan gelar atau hadiah. Tapi bertemu dengan teman sekalian yang sudah lama tidak bertemu. Dengan adanya acara ini saya harap akan selalu menjaga silaturahmi kita semuanya. Dan saya harap kalian semua bisa sukses dan mendapatkan yang kalian inginkan. Dan saya juga ingin berterima kasih untuk suami dan anak saya yang sudah mau ikut menemani saya kemari. Terima kasih."
Saat mendapatkan ucapan terima kasih dari Luna tentang suaminya. Reza. Dia sempat berdiri dan membuat orang-orang iri karena memiliki pria yang begitu penuh kasih sayang dan perhatian yang begitu besar.
Selesai berpidato Aldo dan Luna turun panggung dan diiringi tepukan meriah dari orang-orang.
"Selamat sayang." Reza mengecup pipi Luna saat dia baru hendak duduk dan membuat iri Alisha cemburu buta.
Luna mengangguk.
"Selamat Aldo." Alisha sok perhatian padahal hanya ingin memanasi Reza. "Kalian serasi." katanya lagi.
"Nenek lampir diam kamu bacot mulu." Rara protes kesal sembari tadi menahannya.
"Tau tuh. Itu mulut dari tadi berkoar aja." timpal Abel.
"Suka-suka mulut aku dong." keluh Alisha. Songong.
"Suka-suka tapi kelewatan." kata Abel kembali panas di ubun-ubunnya.
"Kalian bertiga bisa nggak sih kalian nggak usah ribut malu diliatin orang dari tadi tuh memperhatikan kita. Disini itu banyak orang kalau mau kalian lanjutin diluar." kata Reza blak-blakkan.
Mereka diam tak bicara hingga acara selesai ternyata ampuh juga kalau seorang Reza Raditya Winajaya sudah bicara menundukan tiga wanita sekaligus.
Semua orang keluar dari ruangan karena acara selesai hingga pukul 21.00 dan itu cukup membuat Luna lelah karena bawaan hamil dia cepat pegal dengan kondisi badannya. Semantara Biboy sudah tidur di gendong Aldo.
Seperti omongannya Reza dia membayar semua biaya acara reuni tanpa embel-embel namanya dan minta untuk dirahasiakan. Karena dia tahu Luna tidak suka kalau dirinya menghambur uang yang tidak perlu.
Luna dan Reza yang sudah menggendong Biboy berdiri di depan restoran menunggu mobil mereka datang. Aldo masih mengobrol dekat mereka bersama teman yang lain menunggu giliran parkiran yang menumpuk.
Luna dan sahabatnya pergi ke toilet.
Mobil berhenti didepan Reza namun bukan mobilnya melainkan Alisha. Dan lebih mengejutkan lagi mobil yang ditumpangi mirip mobil yang sedang dicari Reza.
"Mas Reza masih nunggu ." Kata Alisha dalam mobil melihat pria disisi mobilnya menggendong anaknya.
Reza tersenyum simpul. "Iya. Mobil kamu bagus." katanya.
"Ini mobil sudah lama makanya aku pakai lagi sayang juga kalau aku buang." balasnya merasa senang karena pria itu merespon ucapan Alisha meski dengan sikap dinginnya. Alisha juga sudah melupakan kejadian Reza menolak program magang gara-gara Aldo. Memang cinta itu buta. Sehingga dia melupakan status pria itu yang sudah berkeluarga.
Tidak tahu malu memang. Tapi itu prinsipnya. Bitch !!
Yang sudah melekat pada dirinya.
Aldo menghampiri Reza memandang mobil merah yang ditumpangi Alisha.
"Ini mobil waktu kita pacaran kan Alisha?" seru Aldo buka suara karena sudah gatal ingin kebenarannya.
"Iya. Itu masa lalu Aldo. move on." Alisha dengan percaya dirinya.
"Kayaknya kamu yang belum move on. Stikernya juga masih nempel. Padahal sudah lama." ucap Aldo terus memastikan akan mobil tersebut kalau dilihat memang sama dan tidak berubah sama seperti pertama kali dia melihatnya.
Hanya plat nomornya saja yang berbeda.
Alisha melihat kedatang Luna dan sahabatnya berada di belakang kedua pria itu.
"Mas aku pamit, muach.." Ucap Alisha memberikan kiss bye ke arah Reza.
Luna terkejut. Dan mengelus perutnya. Amit-amit.
Reza merasa ingin muntah.
"Senang dapat kiss bye dari Alisha." Luna bersidakep.
"Nggak sayang. Itu buat aku pengen muntah. Mending dapet kiss kiss hot dari kamu." goda Reza agar Luna baper padanya dan melupakan ucapan Alisha yang dilontarkan tadi.
"Mesum."
Mobil mereka tiba. Mereka bergegas masuk. Semetara Aldo, Abel dan Rara masih menunggu. Sebelum mobil beranjak Reza membuka jendelanya.
"Aldo. Besok kita beraksi."
"Siap."
Ucapan keduanya terdengar ambigu dan membuat Luna dan dua sahabatnya tak mengerti. Luna tidak ambil pusing dia sangat lelah dan menyandarkan kepalanya di bahu Reza.
Mobil pun melaju saat Reza memberikan perintah dan meninggalkan kawasan.
♥♥♥
promo lagi 😁😁😁