
♥♥♥
Episode kali ini nggak bikin emosian, tapi bikin kejutan..
Jangan lupa Vote-nya, biar Rankingnya naik ya
Cekidot deh
♥♥♥
Seperti kata suaminya mereka benar-benar pergi untuk menemui wanita itu entahlah siapa wanita yang bernama Sarah. Tapi sebelumnya Reza juga menyuruh Aldo untuk mengantarkan anak-anak pulang ke rumah. Tidak diizinkan untuk menginap karena tidak mau merepotkan keluarga Aldo.
Takut.
Kata itu yang selalu ada di pikiran Luna. Bukan takut dengan wanita itu. Takut akan kenyataan yang tidak sesuai ekspektasi.
Bagaimana kalau Reza lebih memilih wanita itu?
Bagaimana kalau nanti Luna dimadu?
Bagaimana kalau ternyata wanita itu adalah istri siri yang diam-diam dinikahinya?
Bagaimana? Luna harus apa? Luna belum siap berpisah dengan pria itu.
Bodo kalau dia disebut egois. Apapun akan dia pertahankan rumah tangganya demi anak-anak.
Siapakah sebenarnya Sarah itu? Atau mungkin dia mantan pacar suaminya? Luna pernah mendengar dari Abel kalau Reza dulu seorang cowok playboy yang suka menyakiti wanita tanpa memberikan status dalam hubungannya.
Apa benar begitu?
Tanpa di sadari Reza memperhatikan Luna yang sedang melamun pandangan wanita itu melihat ke arah luar jendela. Reza merasa sangat sakit.
Reza menggenggam tangan Luna dan jari-jarinya saling bertautan, merasakan hal itu, Luna sekilas menoleh pada Reza dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sedangkan Reza tersenyum lirih. Hal ini membuat hubungannya semakin menjauh.
Sepanjang perjalanan mereka diam tanpa bicara atau ngobrol.
Sampailah mereka di sebuah restoran cukup elit, Luna dan Reza turun dari mobil. Jujur rasanya ia ingin pulang tidak ingin menemui Sarah sekarang.
Luna berhenti sejenak, Reza menoleh, kemudian menangkup pipi istrinya.
"Kamu harus percaya sama aku. Di dalam sana kamu akan tahu semua. Aku harap kamu bisa一" ucapannya terpotong oleh Luna yang tiba-tiba.
"Nggak usah AMBIGU deh kalau ngomong. Jangan bikin aku EMOSI. Aku mau kita selesaikan semua." sentak Luna.
"Maaf. Bukan begitu maksudku sayang. Kamu tuh terlalu berlebihan menanggapinya. Kalau nanti masalah sudah selesai aku bakal hukum kamu."
Ucap Reza, memandang wajah istrinya lekat dan penuh arti membuat Luna tegang. Hukum? Dia mau hukum Luna? Hukuman apa?
"Enak saja. Kamu yang bakal aku hukum. KAMU YANG SALAH. BUKAN AKU. INGAT!" katanya tidak mau kalah dia pun akan menghukum balik. Siapa takut, lihat saja nanti.
"Aku siap dihukum kamu. Aku malah senang." tanpa rasa takut atau protes Reza malah terlihat senang dan malah tersenyum manis ke arah Luna.
"TERSERAH. Wanita itu sudah datang belum?" ucap Luna acuh tak acuh.
"Namanya Sarah. Dia sudah datang dari tadi." mengoreksi ucapan istrinya, meski membuat Luna panas dan emosi.
"BODO, siapapun namanya. Kasian wanita kamu menunggu lama." ketus Luna tidak peduli dengan ucapan Reza, dia tidak mau lemah di hadapan Reza maupun wanita itu.
Masa bodo-ah. Luna bicara teriak-teriak, ketus, nyentak pada suaminya. Kalau jadi Luna kalian akan melakukan hal yang sama kan?
Dia yang salah. Dia yang menyebabkan semua ini. Dia juga yang harus menyelesaikan ini.
"Sabar dong. Jangan emosi begini."
"Sabar juga ada batasnya kali. Aku manusia bukan malaikat."
"Aku tahu, tapi kalau kondisi kamu kayak begini aku takut kamu tambah emosi di dalam."
"Tenang aja, aku nggak akan main JAMBAK atau TAMPAR wanita itu. Itu kalau dia nggak buat aku emosi duluan." ucapnya penuh penekanan dan penuh bara api cemburu.
Reza **** senyum. Melihat sikap Luna, Fix Luna sangat cemburu. Reza senang. Jangan Reza saja yang merasakan hal itu. Luna juga, pikirnya.
"Memang berani JAMBAK dan TAMPAR Sarah?"
"BERANI. SIAPA TAKUT. Awas aja kalau kamu nanti bantu Sarah atau menghalangi aku buat lakukan itu."
"Tenang. Aku bakal jadi penonton yang baik."
"Pegang itu omongan.
"Apapun untuk kamu sayang. Asal kamu senang." Reza mengecup kening Luna. "Nanti di dalam sana jangan kaget, dia agak cerewet orangnya. Tapi dia baik. Kamu jangan sampai menyinggung dia. Karena dia sama kamu sangat berbeda, sayang."
Berbeda?
Tahu, nggak usah diperjelas, dia sexy-cantik aku mah cantik-polos gampang dibego-begoin. Sial.
Batin Luna emosi.
Luna mengangguk. Membuang mukanya. Kesal dengan Reza.
Masih di parkiran mereka malah ribut tidak jelas, meski sudah malam tapi parkiran di sini cukup ramai orang-orang sekedar duduk di bangku yang disediakan dan para pengunjung yang memang baru datang atau sudah pulang.
Luna dan Reza beranjak masuk ke dalam restoran bergaya victoria, memang wanita itu punya selera yang bagus. Untuk kalangan atas.
•••
Lihat sekarang mereka duduk berhadapan dengan Sarah, dia tampil dengan dress merah, make up tebal menggoda seperti seorang wanita nakal, dia juga selalu melihat ke arah Luna dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya merinding seperti ada sesuatu yang mengganjal dan aneh?
Pandangannya tidak lepas dari Luna.
Apa dia itu sedang membandingkan pakaian Luna dengannya? Beda jauhlah.
Sarah tersenyum menyungging. "Perkenalkan, aku Sarah Az-tari temannya Reza sekaligus klien-nya." ucapnya sambil melayangkan tangannya ke arah Luna.
Sedangkan Luna sekilas melirik pada Reza, dia hanya minta agar Luna menyambut tangannya.
"Luna."
Mereka saling bersalaman, tapi entah kenapa, dia merasa geli saat menyentuh tangan Sarah, agak aneh Luna akan menarik tapi tangannya terlalu erat digenggam oleh wanita itu.
Kemudian suara deheman Reza terdengar, ketika itu pun salaman mereka langsung terlepas. Luna merasa takut dengan pandangan wanita itu dan masih terasa genggam Sarah tadi.
Perasaan yang sulit dijelaskan.
"Nama yang bagus, aku suka." ucap wanita itu.
"Makasih." ucap Luna canggung. Luna terus saja melirik pada Reza minta jawaban apa yang terjadi dia malah jadi bingung sendiri. Reza tidak banyak bicara.
"Kamu manis." kata Sarah. Melihat tingkah Luna yang membuat gemas sendiri dalam arti lain.
"Apa?"
Reza melerai. "Sudah jangan godain istriku. Disini kita mau menyelesaikan masalah, Sarah. Bukan membuat bingung Luna." protesnya tidak sabaran.
Luna setuju. Mengangguk.
"Oke tapi kita makan dulu dong. Laper nih." kata Sarah sambil mengelus perutnya yang rata. Lalu pandangan teralihkan pada Luna. "Setujukan Lu?" kata Sarah dan memanggil Luna dengan panggilan 'Lu' terasa aneh di telinga Luna.
Dia tidak suka.
Luna hanya mengiyakan saja. Sebenarnya ia tidak lapar hanya saja dia tidak enak hati dengan Sarah yang memang kelihatan lapar.
Mereka pun memesan makanan. Tepatnya steak. Pesanan belum datang Sarah berpamitan ke toilet dan ini kesempatan Luna untuk bicara pada Reza tentang keanehan ini.
"Mas.." Luna memandang Reza penuh pertanyaan. Ia melihat ke segala arah memastikan aman kalau dia bicara. "Aku merasa aneh deh sama Sarah, dia kok kelihatan bukan wanita pada umumnya. Luna merasa ada yang janggal sama dia." akhirnya dia mengungkapkan semua pikirannya saat pertama melihat Sarah.
"Maksud kamu? Aku nggak mengerti. Nggak usah ambigu kalau ngomong." balas Reza sengaja dia memperkuat pembicaraan Luna.
"Balas dendam ceritanya." ucap Luna, Reza hanya menaikkan bahunya ke atas.
"Nanti kamu tahu sendiri. Biar kamu sadar sendiri. Aku udah bilang sama kamu sebelumnya. Kamu bakal menyesali semuanya."
"Apaan sih. Gaze tahu nggak."
Tidak lama Sarah pun ia datang dengan tampilan glamornya. Ternyata dress merah yang dipakai sangat panjang dan terlihat semampai di tubuh wanita itu.
Sarah duduk dengan masih melirik ke arah Luna yang sedang mengaguminya.
"Kenapa Lu? Kagum sama aku?" Sarah percaya diri.
Luna diam malu karena kepergok mengaguminya.
"Nggak. Dressnya bagus."
"Kamu suka?"
"Suka."
"Nanti aku belikan buat kamu."
"Nggak, makasih tawarannya."
"It's ok, apapun buat kamu sayang." Ujar Sarah mengedipkan matanya pada Luna.
Reza hanya diam tidak komentar. Belum saatnya.
Luna membidik ngeri melihatnya. Ini nggak wajar. Apalagi sembari tadi Sarah hanya fokus pada Luna saja. Kalau memang dia suka Reza pasti dia yang diajak ngobrol bukan Luna.
Tapi dia tidak ada tanda di mana Sarah menyukai atau menggoda Reza. Apa ada yang Salah?
Luna memegang tangan Reza, mengeratkannya. Entahlah apa hanya perasaan Luna saja atau dia memang wanita seperti itu.
Kemudian dua pelayan datang dengan pesanan mereka, sebenarnya dia kurang suka steak. Tapi dia tidak banyak mengeluh. Selama makan Reza mengalihkan pembicaraan ke arah bisnis karena setelah selesai makan maunya mereka langsung menyelesaikan masalah yang ada.
•••
"So, apa yang mau dibicarakan sekarang." Sahut Sarah sambil meneguk wine sedikit-sedikit ke mulutnya menikmati aroma dan rasanya. Sarah terlihat sangat elegan. Tapi juga aneh binti ajaib.
Siapa sebenarnya Sarah?
Luna meminum air putih. Dia tidak suka minuman keras meskipun wine tidak banyak mengandung alkohol yang banyak.
"Luna menyangka kalau kamu itu selingkuhanku." kata Reza tanpa basa-basi membuat Luna merona malu. Bisa-bisanya Reza langsung bicara pada inti masalahnya. Mencubit perut Reza meski pelan tak membuat Reza mengaduh kesakitan.
Sarah tertawa pelan, menurutnya semua ini lucu? Luna mengerut alisnya. Reza terlihat biasa saja melihat Sarah tertawa, seperti mengejek atau dia tidak terrarium dengan obrolan mereka sekarang.
Luna berdecak. "Memangnya ada yang lucu ya, Mbak?" tanyanya berani. Padahal sedikit gugup.
Sarah tidak tertawa lagi, dia berdehem. "Nggak ada, tapi yang lucu itu kamu, sayang." ungkap Sarah semakin membuat Luna penasaran akan ucapannya.
"Sarah, serius dikit doang. Jangan godaan dia. Ada aku disini." cercah nya kesal dengan Sarah yang tidak serius. Padahal ingin segera selesai.
"Sorry, habisnya Luna lucu banget sih. Aku suka. Kamu pinter milih. Selera kamu sama aku sama. Suka yang polos-polos." Sarah tertawa pelan dia memandang pada Luna yang tampak merasakan keanehan.
"Maksudnya?" guman Luna pelan. Tetap terdengar jelas di telinga Reza dan Sarah.
"Dengar ya, Luna. Aku sama Reza hanya TEMAN saat kuliah dulu di NYC. Kami bekerjasama untuk proyek hotel kami di Bali. Rekan bisnis. Aku juga tidak menyukai Reza, aku nggak doyan pria. Aku malah tertarik sama kamu di banding sama Reza."
Jelas Sarah, membuat Luna terkejut bukan main saat dia bilang 'dia nggak doyan pria' dan lebih terkejut lagi saat dia bilang terang-terangan, dia lebih tertarik pada Luna, dirinya.
Ya gusti. Jadi selama ini aku salah sangka sama suami sendiri. Hingga aku dibutakan amarah ku sendiri.
Luna jadi ngeri saat tahu kenyataan wanita cantik itu membeberkan semuanya. Luna sesak nafas, ia mengambil air putih di hadapannya kemudian dia menghabiskan semuanya hingga tandas. Haus.
"Percayakan sama aku?" suara Reza memecahkan lamunan Luna. Ia memandang ke arah suaminya. Merasa sangat malu akan tingkahnya. menuduh tanpa bukti dan alasan yang jelas.
"Maaf."
"Iya, aku tahu kamu sedang emosi."
Reza mendekap bahu Luna, mencium kening Luna lembut. Tapi mereka lupa kalau mereka tak sendiri ada Sarah yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.
"Sudah baikan?" tanya Sarah sembari bersedekap memandang keduanya yang terlihat malu.
"Sirik saja." balas Reza asal.
"Kalau boleh tahu umur kamu berapa, Lu?" Sarah bertanya, membuat Luna tidak nyaman apalagi setelah Luna sudah tahu dia nggak doyan terong, ternyata doyan sama apem.
"Dua puluh sembilan." jawabnya singkat sembari senyum canggung.
"Masih muda, beda enam tahun denganku."
Sumpah aku nggak nanya.
"Aku denger kamu waktu kuliah pernah magang di perusahan Reza. Jadi kalian cinlok?" Sarah terlihat ingin tahu, kepo.
Apa-apaan sih, kenapa dia banyak bertanya terus dia tahu dari siapa Luna pernah magang di kantor Reza.
"Iya, pernah. Soal cinlok bisa dibilang begitu." jawab Luna santai dia sudah bisa menguasai obrolan mereka tanpa terganggu rasa cemas sembari tadi.
"Wow, aku iri sama Reza. Kalau aku lebih dulu ketemu sama kamu. Mungkin saja, jalan cerita kita akan berbeda." desis Sarah, kemudian dia meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja.
Jangan berharap deh, Aku sama Reza sudah ditakdirkan untuk bersama.
"Ngaco kamu, sudah deh. Masalah sudah kelar. Kita mau pulang." protes Reza menjadi tidak suka akan sikap Sarah yang terus terang.
Ini yang Reza tidak ingin kalau Luna bertemu dengan Sarah.
Flasback on
"Siapa itu? Istri kamu?" ucap wanita itu duduk tenang sambil memasukan sushi ke mulutnya.
Reza duduk saat dia sudah memastikan kalau Luna dan anak-anaknya pulang. Ada perasaan bersalah melihat kepergian mereka.
"Iya, itu Luna istriku dan kedua anak kami."
"Pinter juga kamu pilih pasangan."
"Sudah deh jangan bilang kamu tertarik sama istri orang. Jangan macam-macam."
"Ya, ampun. Jangan cemburu dong. Wajar kalau aku suka sama dia. Kelihatan polos. Gemes deh."
"Nggak mau sembuh memangnya?"
"Sudah berusaha, tapi susah. Aku sudah nyaman. Ketertarikanku lebih dominan ke cewek, dan itu nggak bisa diubah sampai sekarang."
"Heran. Padahal kamu itu di mata laki-laki nggak ada cacatnya. Malah sempurna. Cuma pikiran kamu aja yang kurang."
"Aku aja heran." wanita itu tertawa kecil. "Banyak cowok yang dikenalin ataupun mereka nyodorin sendiri ke aku. Sebagai dari mereka cowok kaya, tampan dan sexy. Tapi aku tolak. Aku bilang aja jujur. Mereka kaget malah antusias buat deketin aku. Aneh kan?"
"Mungkin mereka pengen nolongin cewek cantik biar nggak tersesat ke lubang paling dalam. Kamu harus hargai itu. Kasian orang tuamu."
"Ya, ya, ya, bawel. Kamu cinta sama istri kamu?"
"Cinta pake banget. Jangan ditanya."
"Kalau nggak, cinta buat aku. Siap menampung."
"Sialan kamu Sarah."
Tak lama Soni datang terburu-buru. "Sorry lama."
"Lama banget, tadi Luna kesini. Dia salah paham. Dia nyangka aku selingkuh."
Soni tertawa. "Siap dia amuk, pak."
"Kampret."
Soni dan Sarah tertawa.
Flashback off
•••
Akhirnya, semuanya sudah kembali sepertinya semula. Masalah sudah selesai. Tidak habis pikir ternyata Luna malah salah paham dengan Reza sampai menyangka Reza selingkuh, nikah siri, dan lain-lain.
Jadi air matanya yang sudah keluar, adalah hal yang sia-sia saja.
Memalukan. Luna malu dengan Reza sampai sekarang dalam mobil dia belum mau bicara.
"Kenapa nggak bilang kalau Sarah itu doyan apam?
"Kalau aku bilang pasti kamu nggak akan pernah percaya bilangnya, alasan doang."
"Iya juga sih. Dia padahal cantik-sexy tapi sayang doyan apem ! "
Reza hanya bisa tertawa, sudah seharian ini dia banyak
pikiran tentang masalah dengan Luna. kesalah pahaman.
"Maafkan aku Mas, aku salah paham sama kamu." sesalnya, memberanikan untuk memandang wajah suaminya yang tampan, siapa yang tidak tertarik akan suaminya. Meski umurnya sudah tiga puluh enam tahun tidak menampik kalau pesona wajah dan auranya tetap memikat kalangan remaja dan ibu-ibu sekalipun.
"Ya, aku maafkan. Aku juga salah karena tidak menjelaskan semuanya dari awal. Aku takut kamu nggak percaya. Saat itu kamu lagi emosi makanya aku mengalah. Tapi ternyata malah begini. Aku minta maaf ya."
"Iya, kita berdua salah."
Mereka saling berpelukan, rasanya ada rasa rindu begitu dalam setelah masalah mereka selesaikan.
"Oh, iya. Yang kamu bilang menyesal itu, tentang kebenaran Sarah?"
"Iya, menyesal?"
"Nggak. Malahan kalau aku nggak ketemu, Mbak Sarah tadi mungkin kita nggak akan baikan kayak sekarang sama kamu, Mas."
"Syukur deh. Jadi kamu menerima dia?"
"Maksudnya?"
"Menerima dia sebagai rekan bisnisku."
Luna memukul bahu Reza keras, sampai mengaduh kesakitan.
"Sakit, sayang. Kenapa kamu memukul aku?"
"Habis, omongan kamu AMBIGU." sentaknya kesal dengan ucapan Reza yang begitu membuat Luna emosi. Masih sibuk memukul bahu Reza meski tak sekeras pertama tadi.
"Masa sih?" Reza terlihat tak percaya.
"Ini yang buat aku salah paham sama kamu. Cara memakai ucapan kamu terlalu BAKU bikin orang salah paham." Jelasnya, berhenti memukul Reza.
"Sorry, Sorry, Sorry"
Luna berdecak, kemudian melipat tangan didepan cermin dadanya cemberut.
"Maaf deh, terserah kamu mau apa dari aku asal jangan pukuli aku."
"Apa aja?" Luna mulai tertarik. Tersenyum simpul. Menoleh pada Reza. "Tapi, sekarang aku tuh lapar, sayang. Aku pengen Bakso setan."
"Bakso setan?"
Mengangguk antusias.
"Di tempat biasa?"
Ia mengangguk, mengiyakan.
"Sekarang?"
Luna mengangguk lagi.
Reza merasa gemas dengan Luna sembari tadi hanya menjawab dengan mengangguk kepala. Saking gemas, dia mencubit pipi Luna sekilas mencium bibir Luna.
Terkejut bukan main, karena dalam mobil ada Pak Yanto sedang menyetir dan untung supirnya tidak menyadarinya.
"Mas Reza." pekiknya.
Mobil pun melaju ke tempat bakso langganan Luna, yang memang jadwal tutup sekitar jam sembilan malam jadi masih ada waktu satu jam. Bukannya bernostalgia dengan mantan, tapi memang sejak masih SMA, bakso setan adalah makanan favorit Luna.
♥♥♥
So, senang? Ternyata bukan Sarah bukan pelakor, Sarah numpang lewat doang...😁
Ada yang nembak benar nggak tentang konflik ini? baca komen kalian yang aku baca banyak banget menyangka Sarah is pelakor, mantan Reza, kejutan ultah atau lebih parah istri siri…big no 😋
Tahunya? Apem 😶
Aku bikin konflik berbeda, soalnya aku anti mainstream, anti pelakor, anti mantan dalam unsur cerita 😙 suka bikin galau sendiri…
Jadi nggak tega mau tamatin cerita ini? 😭 mungkin beberapa episode lagi..
Terima kasih buat dukungannya 😍
#curhat