
♥♥♥
Luna mengelus rahang wajah Reza yang sedang tidur pulas, ia tidak tega untuk membangunkanya. Beberapa menit dia memperhatikan wajah Reza, suaminya memiliki wajah tampan. Dia menyentuh wajah Reza dari kening, mata, hidung dan bibir pria itu dengan jari telunjuknya. Luna suka sekali melihat wajah Reza diam -diam saat tidur terlihat begitu mempesona.
Seperti merasakan sesuatu di wajahnya di sentuh Reza sedikit mengeliat, "Daddy...cepetan bangun, katanya kamu bilang akan ada rapat penting hari ini?"
Masih belum ada respon apapun dari Reza yang masih tidur nyenyak seperti seorang bayi.
Damai.
"Sexy…ayo bangun." godanya bicara bisik tepat di telinga Reza.
Luna kembali mengusap rahang Reza, mencium bibir Reza bilang saja namanya morning kiss dan tidak lama Reza bangun membuka mata susah payah karena masih mengantuk. Ia melihat Luna berada di pelukannya tepatnya di atas dadanya, memandang Reza dan tersenyum. "Morning, my wife...morning kiss please... " goda Reza.
"Tadi aku sudah memberikannya." Kata Luna, dia hendak bangkit namun Reza menariknya kembali ke dalam pelukannya.
"Kapan?" Reza mengerut alisnya. "Aku nggak merasa mendapatkannya kiss dari kamu, deh." ucapnya terus mengeratkan tubuh Luna kedalam dekapannya.
"Tadi. Sekitar tiga puluh detik yang lalu."
"Aku maunya sekarang."
Luna menghela nafas.
"Baiklah." Luna mengecup bibir suaminya. "Ayo, cepat bangun ada rapat pentingkan di kantor?" kata Luna lanjut.
"Iya…"
Mereka berdua bangun turun dari kasur lalu Reza bergegas menuju kamar mandi sedangkan Luna membereskan kasurnya dan membuka gorden jendela agar matahari masuk.
Reza sudah mengunakan setelan jas berwarna navy-terlihat gagah seperti biasanya tidak pernah pudah oleh usia, tampan dan awet muda. Sama halnya dengan Luna, ia memakai dress berwarna cream selutut dengan tangan sebahu tidak kalah cantik seperti gadis-gadis muda lainnya masih sebelas dua belaslah.
Mereka keluar kamar bersamaan, turun tangga menuju ruang makan dan sudah ada Bima dan si kembar duduk menunggu dengan wajah masam mereka.
"Tumben mommy baru turun. Biasanya sudah standby disini sebelum kita." ucap Nadila tidak sabar, menatap kedua orangtuanya yang baru saja duduk bergabung.
"Kita laper mommy." keluh Nabila.
"Sepuluh menit kita menunggu. Kalau kita tinggal makan, nanti diceramahin." kata Bima yang juga terlihat mumet.
"Betul." Nabila dan Nadila setuju.
"Sorry, ini semua gara-gara daddy!" balas Luna kemudian sambil menyuapi bubur buatan Bi Surti karena Luna tidak sempat untuk masak pagi ini.
Bima dan Si kembar menoleh pada Reza yang sedang menikmati sarapan, merasa mendapat tatapan dari segala arah dia pun buka suara.
"Ekh... Sorry tadi daddy ajak mommy olahraga pagi, guys." ucap Reza enteng melanjutkan lagi sarapannya.
Luna tersedak mendengar jawaban Reza. Lalu membidik suaminya tajam. Sedangkan Bima ia mungkin paham karena ia sudah SMP kelas 1 berbeda dengan si kembar mengerutkan alisnya.
"Modus." singkat Bima mengerti maksud Reza.
"Biarin." sagah Reza.
"Biasanya daddy nggak pernah olahraga, tumben ajakin mommy?" sahut Nabila polos.
"Biar sehat sayang, dan juga menghasilkan." jawab Reza geli.
"Menghasilkan apa, daddy? hadiah? Uang?" kemudian Nadila bertanya penasaran.
"Bukan."
Nabila dan Nadila penasaran. "Apa dong?"
"Kepo…"
"Pelit." ucap si kembar bersamaan.
Reza, Luna dan Bima tertawa melihat reaksi dari Nabila juga Nadila yang ingin tahu. Suasana pun menjadi ramai dengan gelak tawa dan cerita pagi mereka sebelum melakukan aktifitasnya. Seperti biasa Reza sibuk dengan perusahaannya, Luna sibuk dengan coffee shopnya memang tidak tiap hari dia ke sana tapi dia harus mengobrol coffee meski sudah ada yang mengelolanya. Lalu Bima, dia sekolah pada umumnya, sedangkan Nabila dan Nadila belajar, sekolah taman kanak-kanak.
•••
Setelah pagi harinya mengurus keluarga, siangnya la berangkat ke coffee shop miliknya. Meski belum lama membuka tapi cukup ramai dan digemari anak remaja dan dewasa karena coffee shop Luna bukan hanya sekedar kumpul dengan teman dan keluarga saja,tapi bagus untuk selfie juga. Nama coffee shop miliknya diberi nama N&N inspirasi nama anaknya si kembar.
Kadang Luna juga sering membantu pekerjaan pegawainya. Seperti sekarang dia berada di kasir membantu Tita melayani pelanggan. Meski tidak kekurangan pegawai.
Siang ini cukup ramai karena sudah memasuki jam kantor, ada yang sekedar minum coffee atau berbincang.
Pelanggan satu persatu datang dan memesan coffee pesanan, Luna membantu membuatkan coffee.
Seorang pria berpakaian rapi datang masuk ikut mengantri di belakang pelanggan lainnya, pria itu tersenyum ke arah Luna, dia membalas senyum tersebut. Tak kalah manis.
Setelah sekarang pria itu berada di hadapannya, pria itu kembali memberi senyuman sedangkan pegawai lainnya hanya diam, menunduk saat ia melayani pelanggan pria itu.
"Mau pesan apa pak?" tanya Luna ramah tamah. Memandang pria itu masih dengan pemikirannya, membuat dia menggelengkan pelan kesal karena lama berpikir.
"Apa..ya?" pria itu mempertimbangkan papan menu diatasnya.
Tapi pria itu tak kunjung memberikan pesanan kepada Luna. Membuat sang empu berdetak kesal.
"Kelamaan.."
"Uhm… saya bingung… kamu saja yang pesankan, saya tunggu di meja sana..!" perintah pria itu lalu menunjuk meja yang akan dia duduki.
"Dari tadi kek."
"Sorry.."
"Kebiasaan, sana duduk… " keluh Luna pada pria itu yang mana dia malah tertawa, cecengiran bikin emosi.
"Gitu aja ngambek, nggak pake lama."
"Dasar tukang ganggu.."
"Iya, gitu aja marah, aku pelanggan loh."
"Tahu, cepet sana. Banyak pelanggan lainnya lagi ngantri di belakang kamu."
Memang benar nggak bohong, ada tiga orang di belakang pria itu sedang menatapnya dan juga memandang ke arah Luna.
Pria itu bergegas duduk menunggu pesanannya.
Setelah Luna selesai menyiapkan pelanggannya dia segera membuat pesanan pria pengganggu yang sejak tadi cerewet menelponnya karena lama, membawakan pesanannya.
Luna mengantarkan dua cheese cake, coffee americano dan coffee caramel macchiato ukuran reguler. Melenggang ke arah pria itu sejak tadi menunggu.
Pria itu menyadari kedatangannya. "Ini pesanan bapak." Luna meletakkan di atas meja bundar.
"Terima kasih, sayang."
Luna hanya mengangguk, kemudian menyodorkan coffee milik suaminya, Reza.
"Mas, kamu tuh kebiasaan deh, kalau lagi rame begini jangan bikin ulah kayak tadi malu diliatin orang-orang tadi.."
"Kenapa malu, ini coffee shop milik kamu. Dan aku suami kamu. Hayo mau alasan apalagi coba." sagahnya sedikit songong.
"Tau ah nyebelin.." kata Luna sambil menyuapkan cheese cake memakannya pelan.
"Gitu aja ngambek…oh ya nanti ikut ke kantor ada yang mau aku bicarakan." desis Reza, paling suka kalau dia mengerjai istrinya saat berada di coffee shop miliknya, membuatnya kesenangan tersendiri dan istrinya juga mendapatkan perhatian.
"Kenapa nggak disini aja,"
"Aku maunya di kantor aku. Nggak ada penolakan. Karyawan di kantor banyak yang nanyain kamu tuh. Nggak kangen gitu."
"Emang boleh kalau kangen sama karyawan kamu?"
"Boleh asal cewek,"
"Padahal aku kangen sama Lukas, dia apa kabar ya? Udah punya pacar belum?"
"Bocah itu kamu kangenin, yang suka sama k-pop. Tiap hari dia bikin masalah, sayang."
"Masalah apa?"
"Masalah style-nya ke kantornya. Dia kira kantor tempat fashion show."
"Jangan marahin dia mas, kasian. Dia memang begitu."
"Belain nih ceritanya.."
"Aku kan istrinya dari pemilik perusahaan SJC, ya harus membela karyawan yang lemah kayak dia yang sering kamu bully."
"Dia suka ngadu... "
"Nggak, cuma pernah cerita aja."
"Awas aja, nanti aku mau kasih pelajaran sama dia kalau begitu, tukang ngadu."
Reza menusuk-nusuk cheese cake-nya kesal. Luna hanya tersenyum geli melihat tingkah Reza.
•••
Kedatang Luna dan Reza begitu disambut hangat oleh para karyawan yang berlalu-lintang di lobby kantor. Karena memang jam masuk istirahat kerja masih belum habis ada sisa 15 menit lagi.
Sehingga keduanya menjadi pusat perhatian, para pegawai. Ada yang sekedar dan menyapa ada juga yang menjabat tangan Luna.
Sebelum mereka mengarah ke pintu lift, "Mas, aku mau ke Karin dulu sebentar. Nanti aku nyusul abis ini. Boleh ya?" Luna memelas memberikan wajah penuh harapan. Membuat Reza menghela nafas, ia tidak bisa menolak istri tercintanya.
"Oke, tapi nggak pake lama… karena aku… "
"Iya tahu, kamu nggak suka menunggu."
"Pinter."
"Dah.. Aku kesana dulu."
Setelah berpamitan dan meninggalkan Reza yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lift khusus atau eksekutif, Luna berjalan cepat menuju Karin yang sudah siap menyambutnya.
"Luna, aku kangen."
Karin dan Luna berhamburan lari saling melepas kangen. Mengingatkan kembali dia adalah Karin, dewi penolong Luna. Kalau tidak ada dia mungkin dia tidak tahu akan jadi apa dia di toilet itu yang penuh kenangan buruk.
"Kamu kok jarang ke kantor sih."
"Ngurus anak."
"Aduh, jadi ibu rumah tangga toh. Tapi sumpah ya kamu nggak pernah berubah dari ujung kepala sampai kaki. Iri deh," keluh Karin, yap Karin baru saja melahirkan jadi berat badannya masih belum turun juga.
"Bisa aja. Gimana kabar, Firza anak kamu?"
"Baik banget dia sudah bisa bicara sedikit-sedikit meski masih acak kadut. Terus bagaimana kabar anak-anak kamu, kapan tambah momongan?"
"Alhamdulillah baik semua...soal momongan coming soon… "
Keduanya tertawa.
"Syukur deh, nanti kapan-kapan kita shopping bareng dong."
"Hayu aja, aku mah free."
"Gaya bener bu Boss."
"Kamu main dong ke rumah. Jangan nggak enak melulu sama Reza, biasa aja."
"Iya nanti dikabarin."
"Bener ya, kalau begitu aku ke atas dulu. Nanti dia ngamuk."
"Yaudah, gih sana."
Luna pun bergegas masuk lift eksekutif, karena ia ingin lebih cepat menuju ruangan Reza.
Sampai di depan ruangan ada Soni yang sibuk di depan layar komputernya.
"Serius banget." sapa Luna pada Soni. Pria itu menoleh, saat mendengar suara tersebut.
"Iya nih banyak kerjaan menumpuk. Yayangnya udah tuh nunggu. Nggak sabaran. Tadinya kalau nggak datang-datang mau di jemput sama saya." ucap Soni tersenyum renyah.
"Berlebihan."
Luna mengetuk pintu lalu memasuki ruangan, dia melihat Reza sedang menyandarkan tubuhnya di kursi arah pandangannya menuju Luna. "Lama."
"Sorry deh, namanya juga melepas kangen." ucap Luna, berada di hadapan Reza tepatnya di depan meja kebanggaannya.
Reza berdiri.
Kemudian menarik lengan Luna dan membawanya ke arah sofa dan duduk berdampingan.
"Kamu mau bicarakan apa sih?"
"Banyak."
Luna hanya mengerutkan alisnya.
"Penasaran ya?" tanya Reza, Luna mengangguk membenarkan.
Reza memulai pembicaraan pertamanya tentang masalah pertemuannya dengan Novi & Genk dan benar saja, Reza memang menyuruh orang untuk mengikutinya. Luna pun menceritakan semua itu, dari awal tanpa ada kebohongan apapun karena Reza paling tidak suka kalau Luna berbohong dan menutupi kesalahan orang.
Menceritakan semua, giliran Reza juga memberi teguran semacam ancaman kepada mereka agar tidak mengganggu keluarganya.
Menurut Luna, Reza adalah suami terbaik di jagat raya. Ia benar begitu perhatian, peduli dan juga menjaga keutuhan keluarganya meski masalah kecil sekalipun.
"Mas, tapi kamu nggak usah begitu berlebihan pada mereka. Sampai ngancem segala."
"Aku bukan mengancam, tapi memberikan teguran aja sama mereka bertiga. Aku lakukan buat kita semua. Aku nggak suka sama cara mereka atas omongan tentang anak-anak sayang. Mereka harus diberi pelajaran. Aku nggak terima. Aku marah. Apalagi mereka menghina-hina kamu."
"Aku nggak bisa bicara apa-apa, aku memang wanita lemah. Kalau urusan begini."
"Kamu wanita kuat sayang, buktinya sampai sekarang kamu selalu ada disampingku, dan mendampingiku. Meski banyak masalah yang selalu muncul di antara kita."
"Hmm.. Terima kasih. I love you.."
"I love you more.. "
"Jadi, apa yang kamu lakukan ke mereka.."
"Nanti juga kamu tahu."
•••
Dua hari sebelumnya sebelumnya…
Reza duduk berhadapan dengan tiga orang wanita yang pernah menjadi karyawan di perusahaan. Kejadian dulu yang membuat mereka bertiga keluar adalah-telah mengusik wanita yang dicintainya, Luna yang sekarang adalah istrinya, nyonya Winajaya. Dan sekarang mereka kembali mengusik istrinya dengan gamblang menghina anak-anak dan istrinya-itu. Membuat Reza semakin geram dan marah tentunya.
Untuk pertemuan mereka sudah hampir 1 jam lamanya. Tapi tidak ada satupun membuka suara, meski sebelum nya mereka saling menyapa.
Reza di temani oleh Soni dan Raka, karena kalau tidak ada mereka Reza pasti sudah menghabisi ketiganya saat pertama bertemu.
Ketiga wanita itu terlihat gelisah dan takut mendapat tatapan kemarahan dari Reza bekas atasanya, yang siap menerkam mangsanya setiap saat.
Sementara itu Reza akan bersiap bersuara, sebelumnya dia memerintahkan pada Raka untuk mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkannya pada ketiganya dan membuat penasaran.
"Silahkan kalian lihat... " kata Raka pada ketiganya jadi semakin bingung. Lalu mengambil ponsel itu dan di lihat sebuah video, mereka pun memutarnya.
"Ya, Ampun…" itu reaksi ketiganya saat melihat video itu diputar. Salah satunya ada menutup mulutnya karena terkejut.
Reza hanya tersenyum sinis melihat reaksi ketiganya ia tidak peduli.
"Nov, bagaimana dong…?" bisik Eria pada Novi berada di tengah. "Kelar hidup kita kalau begini." timpal Shella, ia ketakutan. Sedangkan sang leader terlihat biasa tidak bicara hanya diam.
Novi menatap ke arah Reza, dengan mantap melempar ponsel itu asal ke atas meja. Dengan cekatan Raka pun mengambil ponselnya yang hampir terjatuh. Novi tidak kalah menatang dengan Reza, wanita itu mengikuti gaya Reza yang sedang duduk sambil menyandar dan melipat kedua tangannya di dada.
"Maksud Bapak Reza-ralat maksudnya Reza. Hampir aku lupa karena sekarang kamu bukan atasan aku. So, aku nggak akan bersikap formal lagi sama kamu. And kamu kesini cuma mau ngasih lihat video karena membully Luna, oops... maksud aku istri atau nyonya Winajaya. Kamu mau membuat perkara sama kita, hah." cetus Novi meski suaranya bergetar, terlihat sangat gugup dan juga ketakutan meski hanya pura-pura.
"Kamu apa-apaan sih… " bisik Shella protes akan sikap Novi yang tampang bulu. Sok berani padahal hatinya ciut. "Tanggung jawab, kalau kenapa-kenapa." tambah Eria tidak suka akan sikap Novi.
"Iya." singkat Novi pelan pada keduanya.
Reza sembari tadi hanya melihat tingkah konyol mereka. Suara deheman Reza membuyarkan ketiganya membuat mereka menelan salivanya susah payah.
"Bukannya kalian yang membuat perkara sama saya? Kalian menghina ISTRI DAN ANAK-ANAK SAYA. Keluarga Winajaya. Saya bukan sombong akan kekuasaan saya. Tapi kalian salah karena berurusan dengan saya." ucap Reza penuh penekanan setiap ucapannya membuat ketiga wanita itu menelan ludahnya sudah payah dan merinding.
Mereka diam.
"J-jadi mau kamu a-pa?" ucap Novi sedikit gugup dan gemetar. Ia melihat Reza penuh amarah di wajahnya meski dia tahan.
"Mau saya? Kalian tahu kan jawabannya."
Ketiga wanita itu saling tukar pandang, dan masih tidak paham maksud ucapan Reza karena otak mereka sudah tidak bisa merespon cepat.
"Maksud kamu?"
"Saya nggak nguluk-nguluk, minta maaf pada istri saya. Kalau memang kalian masih ingin hidup. Dengan ikhlas." ucap Reza penuh ancaman, sebenarnya dia tidak serius mengucapkan itu. Sedangkan ketiganya tampak begitu resah. Bagaimana tidak mereka merasa terancam dan juga ketakutan.
Memang orang bodoh yang berusaha dengan Reza yang mempunyai kekuasaan lebih dari mereka yang memang seorang pengangguran.
Mereka bertiga selama ini bekerja serabutan karena mereka melamar ke setiap perusahaan mereka ditolak. Karena memang Reza yang melakukan hal itu.
Tanpa pikir panjang dan tidak mau berurusan lebih serius karena memang mereka salah, mereka bertiga langsung menerima begitu saja.
"Kita akan melakukannya."
"Pilihan yang bagus." Reza berdiri. "Raka, sekarang tugas kamu sama Soni. Suruh mereka tandatangan. Sebagai jaminan kalau mereka tidak akan buat macam-macam pada keluargaku." sekilas Reza memandang ke arah tiga wanita itu yang tunduk malu.
"Baik, pak."
Sepeninggal Reza. Soni dan Raka melakukan apa yang diperintahkan sang Boss.
♥♥♥
Maaf menunggu lama...moga tidak mengecewakan...😁
pada nanyain visualnya agap aja mereka deh, cz bingung siapa yang cocok.. hehe
jangan lupa VOTE ya... 😁😍