
Hi guys Author kalem comeback
Slow update
Maaf kependekan yang penting up
Selamat membaca
Semoga kalian suka
♥♥♥
Setelah pertemuan dengan Jessy tanpa ada yang tahu. Pikiran Luna mengawang kemana-mana. Ada rasa tidak rela saat Jessy memutuskan untuk pergi. Luna melangkah kaki masuk kedalam tanpa menyadari ada Anggita di ruang tamu. Menunduk lesu tidak semangat.
"Masuk rumah harusnya mengucapkan salam bukan main nyolonong saja." seru Anggita. Bangkit mendekati Luna. Tatapannya masih fokus pada adiknya yang masih memakai pakaian seragam.
Luna menoleh ke arah suara. "Maaf. Kirain gak ada orang." Anggita memaklumi kalau selama ini di rumah hanya ada Luna dan Gege. Sedangkan Ayahnya belum pulang jam segini, karena sering pulang larut malam. Membuat Anggita merasa salah akan ucapannya."Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, darimana saja,Dek? Kok baru pulang jam segini?" tanya Anggita pada adiknya sesaat melihat jam tangannya menunjukkan pukul enam malam. Biasanya pulang sekolah Luna sudah ada dirumah tiga jam lalu.
Luna terkejut akan keberadaan Anggita di rumah. Harusnya Anggita berada di apartemen dengan suaminya. Hendak melangkah ke dapur untuk mengambil minum. Anggita terus saja mengajukan pertanyaan yang membuat Luna kesal.
"Main sama Rara dan Abel." ucapnya bohong. Tidak mungkin kah ia bilang sudah menemui Jessy. Yang ada ia akan di ledek oleh kakaknya. Anggita tahu kalau Luna sangat anti dengan Jessy.
Anggita melipat kedua tangan nya mengikuti langkah kaki Luna menuju dapur. Masih setia dengan kekepoannya. Ia mengambil botol berisi air dan menuangkannya ke dalam gelas.
"Jangan bohong. Tadi Abel sama Rara nyariin kamu kesini."
Saat Luna mendengar ucapan Anggita membuat ia hampir tersedak dan menatap kakaknya yang mendelik curiga. Ia menghapus bekas air minum di bibirnya. Siap mencari alibi yang tepat.
"Mau tahu aja sih. Kepo! Lagian kakak ngapain ada di rumah? Suami kakak nanti nyariin loh." elaknya mengalihkan pembicaraan. Kemudian duduk di depan meja bar mini. Diikuti Anggita duduk bersebelahan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan kakak. Lagian Mas Yuda lagi keluar kota. Kakak jadi menginap di rumah." jelasnya. Luna mengangguk,mengerti. "Sekarang bilang tadi kamu kemana aja, gak boleh bohong."
Luna menimba-nimba apakah ia harus memberitahu Anggita kalau Jessy akan pergi ke negaranya. Ia bimbang sejak mengobrol dengan Jessy tadi. Seolah sekarang ia merasa menyesali sesuatu yang entah apa. Luna menghembus nafas gusar. Anggita masih menunggu jawaban adiknya.Luna adalah seseorang yang tidak pandai berbohong dan merahasiakan sesuatu.
"Itu—Luna tadi… "
"Kakak gak paksa kamu buat cerita kalau memang belum siap. Kakak mengerti kok. Asal kalau kamu ingin ke suatu tempat,kamu hubungi orang rumah terlebih dulu."
"Orang rumah? Siapa kak?" Luna benci hal ini. Ia tidak merasakan ada orang rumah. Yang ada hanya ia dan Ayahnya. Pembantu saja hanya seminggu tiga kali di rumah.
Kali ini Anggita terdiam. Meruntuk hatinya sendiri.
"Sudahlah kak, aku sudah bukan anak kecil bisa jaga diriku sendiri."
"Maksud kakak kamu bisa menghubungi Ayah agar tidak khawatir kalau tidak kakak."
"Oke. Nanti Luna lakukan."
"Kamu sudah makan?"
"Belum." jawabnya singkat. Ia sudah makan tapi rasanya masih belum kenyang.
"Mau makan apa? Kakak siapin." tawar Anggita membuat Luna sumbringah.
"Benar?"
"Iya."
"Apapun?"
"Cepat sebelum kakak berubah pikiran."
"Sabar dong. Aku pengen makan nasi liwet kak. Kayaknya enak deh."
"Macem-macem saja.Kayak orang.ngidam. Kakak yang hamil kamu malah banyak maunya."
"Tadi nawarin mau makan apa. Tapi kok sekarang aku minta buatin nasi liwet, malah protes sih. Niat buatin gak?"
"Oke. Kamu menang. Mumpung kakak lagi mode baik dan nurut. Kakak buatin."
"Iya, kakak siapkan makan untukmu."
"Yang enak ya!" ledeknya.
Anggita mengangguk.Kemudian Luna meninggalkan Anggita dengan persiapan acara masaknya.
•••
"Wah nasi liwetnya sudah jadi." suara Luna terdengar melangkah mendekati meja makan sudah ada Anggita dan Gege duduk. Luna memandang ke arah Ayahnya sudah berpakaian santai. Ia tidak tahu kalau Ayahnya sudah berada dirumah. Aneh dan tumben.
"Ayo sini." Anggita menyuruh Luna cepat untuk bergabung.
"Kapan Ayah pulang?" tanya Luna merasa aneh dan duduk menyangga tubuhnya di kursi. Tatapan matanya sekilas melihat Ayahnya yang sudah menyantap makanan nya.
"Aneh ya?" katanya sesuai pemikiran Luna tadi. Ia sendiri merasa aneh akan sikapnya.
Luna mengangguk. Biasanya Gege akan pulang larut malam. Hingga tidak pulang. Luna tidak tahu apa yang dikerjakan Ayahnya sampai bekerja begitu keras. Padahal seharusnya dia bisa santai karena perusahaan itu miliknya bukan orang lain meskipun tidak tidak besar.
"Ayah mau fokus sama kamu saja. Makanya Ayah kurangi kerjaan dan meminta Yusuf untuk ganti posisi Ayah sementara mulai besok." jelasnya.
"Ayah gak harus mengorbankan pekerjaan demi aku kok. Aku sudah besar gak butuh dijagain. Luna mengerti akan posisi Ayah sebagai seorang atasan di kantor. Luna gak mau buat beban Ayah bertambah." Luna merasa tidak enak kalau itu menyangkut dirinya.
Gege menghentikan makannya, meletakkan sendok yang dipegang menatap Luna serius. Gege tidak suka akan ucapan Luna tadi. Bagaimanapun Luna adalah anaknya yang butuh perhatian meski dia sudah besar dan masih tanggung jawabnya. Tidak ada orang tua yang mau anaknya merasakan hidup sendiri. Sekarang Gege sadar akan perbuatannya terhadap anak-anaknya. Setelah peninggalan istrinya, hidup Gege menjadi gelap menyibukan diri dengan kerjaan.
"Kamu maupun Anggi bukan beban Ayah. Kamu jangan berpikiran seperti itu. Seorang Ayah akan mengorbankan apapun demi kebahagian anaknya." tekan Gege.
"Apa termasuk mengorbankan kebahagian Ayah?" kali ini Luna memberikan pertanyaan pada Gege yang sekarang diam.
"Tentu saja, demi kalian."
Luna mendongkak wajahnya melihat wajah Ayahnya terlihat begitu muram. Ia bukan menyindir atau berkata semaunya. Tapi Luna memang tidak ingin memaksa Ayahnya untuk selalu ada. Meski memang itu kemauan dalam hatinya. Sedangkan Anggita hanya menatap keduanya diam. Acara makan pun berubah tegang.
Apa yang harus Luna lakukan? Ayahnya begitu saja mengorbankan kebahagiaan deminya. Tanpa memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak mau hal itu. Malah sebaliknya Luna ingin melihat Gege yang dulu. Ayah yang hangat.
"Luna bukan bermaksud demikian.aku hanya—" Luna menghentikan ucapannya. Membuat Ayah dan kakaknya mengerut kening. Ia merasa sedikit tegang. "Aku hanya ingin Ayah bisa melakukan apapun yang Ayah mau. Mulai sekarang aku tidak akan melarangnya. Aku ingin Ayah bahagia." sambungnya membuat Gege terkejut akan lontaran kata Luna. Yang Gege tahu Luna sangat keras kepala dan egois tapi sekarang dia malah menyerah dan mengalah demi dirinya?
"Ayah bahagia kalau lihat anak-anak Ayah bahagia. Itu sudah cukup."
"Tapi—"
"Sudah cukup Luna Ayah tidak mau dengar apapun lagi. Keputusan Ayah sudah final."
Acara makan mereka menjadi sedikit kacau. Tidak ada nafsu makan untuk Luna. Ia melihat Ayahnya diam seribu bahasa saat obrolan terakhirnya. Luna meletakan alat makannya. Meminum tandas airnya.
"Ayah tahu kalau Jessy mau kembali ke Jerman? Dan tidak akan pernah kembali lagi." kata Luna memberanikan diri.
Anggita maupun Gege kembali memandang Luna dan menghentikan acara makan mereka yang hampir Selesai.
"Apa?" kali ini Anggita bersuara, yang sejak tadi bungkam. "Kamu tahu darimana?"
"Tadi aku sama Jessy bertemu untuk yang terakhir." Anggita mengangguk, mengerti. Sekarang tahu kalau adiknya pulang terlambat karena apa.
Gege masih diam. Melanjutkan kembali makannya. Luna melihat Ayahnya terlihat biasa meski Luna tahu kalau dalam hatinya pasti merasa kecewa.
"Ayah gak larang dia?"
"Memang harus? Apa hubungannya dengan Ayah?" Gege menjawab dengan pertanyaan.
Kali ini ia diam. Mana mungkin Luna bilang, Ayah harus melarang Jessy pergi mau ditaruh dimana muka Luna. Gengsi itu benar. Karena Luna adalah orang yang meminta Jessy dan Gege putus. Masa iya Luna juga yang meminta Jessy dan Gege bersatu. Luna pusing. Makan omongan sendiri. KARMA kah?
"Kalau itu membuat Ayah bahagia, aku tidak akan larang yang Ayah lakukan."
"Meski Ayah bersama lagi dengan Jessy?"
♥♥♥
**Terima kasih
Masih setia menunggu 😘**