
♥♥♥
Pagi, Luna terbangun dari tidurnya dengan pelukan erat seseorang dari belakang, melihat Biboy masih tidur pulas didepan sampingnya. Luna memutar badannya untuk melihat siapa gerangan. Ia ingin berteriak namun jantungnya berdegup kencang dan lidahnya terasa begitu kaku.
"Mas Reza?", bisik Luna menghadap wajah pria yang masih terpejam.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Luna gugup karena kaget melihat Reza berada diranjang bukan disofa yang seharusnya. "Cepat bangun, nggak usah peluk aku deh". kesalnya merasa tidak nyaman mengetahui bahwa Reza berada disatu ranjang dengannya.
"Tidur" balasnya masih malas membuka mata dan menghiraukan pertanyaan kekasihnya.
"Kalau yang lain tahu bagaimana, mau tanggung jawab memang? Mencari kesempatan dalam kesempitan" ujar Luna berusaha melepaskan diri dekapan Reza yang semakin erat karena tidak bisa melepaskan diri ai pun pasrah.
"Aku tidak mencari kesempatan, semalam dingin banget kamu tega nanti pacar kamu ini jadi beku dan bisa―"
"Cepat bang―"
Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka cukup keras, saat melihat sosok wanita dengan wajah kaget menghiasi wajahnya, "Reza! Luna! Sedang apa kalian berdua?" teriaknya sontak membuat Reza dan Luna bangun dan berdiri disaming ranjang.
"Kenapa Kalian ada didalam satu kamar dan satu ranjangnya, Hah?"
Deg!
Jantung keduanya benar-benar dibuat kalut begitu saja.
Sial!
Teriakkan dan tatapan tajam Sarah membuat keduanya poolseperti orang yang tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah, padahal keduanya sama sekali tidak berbuat lebih dari iti selain tidur dan pelukan.
Berbeda dengan Sarah berpendapat bahwa kedua melakukan hal yang tabuh, kalo dipikir-pikir mereka memang salah tidur diranjang yang sama disaat kedua belum resmi menjadi suami istri.
"Kalian Lupa sama ucapan Mbak kemarin?" Sarah tegas menginginkan kembali, "Kalian memang sudah kebelet pengen kawin? Eh nikah? " Kata Sarah mengedipkan mata kearah keduanya.
Hening! Reza maupun Luna menolehkan pandangan secara bergantian.
Belum sempat mereka menjawab semua pertanyaan bertubu-tubi dari Sarah sebelum keduanya akan menjawab.
Beberapa orang berdatangan menghampiri suara Sarah yang terdengar nyaring dilorong kamar. Yang masih berdiri diambang Pintu.
"Ada yang tercyduk?" seru Abel dan Rara secara bersamaan menegok keadaan keduanya diluar pintu kamar. "Siapa tuh" godanya Abel.
Reza maupun Luna masih tertunduk malu, bukan hanya kepergok berdua tapi mereka juga menjadi bahan ejekan teman-temannya. Reza berdeham, "Hmmm"
"Aku jelasin kita nggak melakukan hal-hal aneh, baju aja masih melekat dibadan kita" ucapnya klarifikasi, "Lagian kemarin Aku―sedikit kepikiran cerita Mas Abdul", Reza menelan salavinya kaku.
"Modus itu bilang aja udah kebelet" ledekin Abel menatap kakaknya senang.
Adik kurang ajar!
"Terus kenapa ada satu ranjang, kamu kan bisa tidur disofa. Alasan terlalu dibuat-buat kalian berdua" Sarah menguji keduanya yang sudah terlihat sangat bersalah.
"Itu―" Reza gugup, "Tadinya juga aku tidur disofa kok" ucapnya memberikan alibi.
"Terus, kenapa kamu ada diranjang?" tanya Sarah terus memojokan keduanya karena merasa senang bisa mengerjai Reza yang terlihat sangat tertekan sementara Luna diam tanpa mau menatap orang-orang sekitar kamar yang berusaha mengintrograsi.
"Karena semalem dingin banget, makanya diam-diam keatas ranjang. Tapi sumpah aku nggak berbuat macam-macam kok". Reza menjelaskan semuanya dan mengangkat dua jari sebagai sumpahnya.
"Udah, Mbak langsung nikahin aja ke K.U.A", ucap Rara sontak buat Luna kaget, sebaliknya Reza malah senyum sumbringah.
"Jangan" Serunya sedikit teriak Luna.
Dan membuat keberadaan mereka sedikit terkejut.
"Kenapa? Kamu nggak mau nikah sama aku?" Reza membidik tajam kekasihnya karena respon yang buat Reza tidak suka.
"Bukan gitu―" Luna kaku, "Maksudnya harus ada acara lamaran dulu baru nikah" Kelasnya Luna merasa bila dirinya terlihat sedikit heran sendiri mengucapkan hal itu.
"Hmm kode tuh, biar cepat-cepat dilamar" Abel berceruta senang.
Salah ngomong lagi aku, Batin Luna.
Reza merasa senang melihat Reaksi Luna terlihat malu-malu, "Ditunggu lamaran dari Akang Reza ya, Neng Luna" Jelas Reza mencondongkan badannya sedikit kearah Luna disamping, Lunapun memukul dada Reza karena membuat dirinya sedikit malu dan merona.
Karena keberadaan dikamar terlalu ramai membuat Biboy terbangun dari tidurnya, mengeliat dan melihat keberadaan orang didalam.
"Mommy" serak Biboy baru bangun tidur.
Luna menghampiri bocah kecil diatas kasur dan mengambil dalam pelukannya. Pembicaraan itu pun berakhir, itu berkat Biboy semua beralih pada wajah anaknya terlihat Menggemaskan saat bangun tidur.
Semuanya meninggalkan kamar menuju ruang tamu sekedar meregangkan badan ataupun sekedar duduk menonton acara dan menghirup udara segar diluar.
Reza mengambil ponselnya, dan mengetik sesuatu dan membaca balas chatting masuk dilayar ponselnya dan tersenyum sumbringah.
Chat
Aku sudah dalam perjalanan satu jam lagi aku sampai.
•••
Sebuah mobil menghampiri perkarangan villa, Rara dan Abel yang sedang duduk didepan sambil menikmati goreng bala-bala hangat dan teh manis, membidikan tatapan penasaran dengan mobil yang tidak asing untuk mereka, saat seorang pria itu keluar sontak keduanya terbelalak kaget dengan kedatangan Aldo ke villa.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Abel sinis pada Aldo karena kedatangannya akan mengancaukan segalanya termasuk Luna. Bagaimana kalau Reza tahu bila Aldo adalah mantan kekasih dari Luna.
Benar-benar membuat Abel dan Rara terkejut dan tak tahu harus bagaimana, untung Luna ada didalam dan belum keluar dari villa.
"Kenapa? Nggak boleh. Aku disuruh Mas Reza kesini" balas Aldo binggung dengan sikap keduanya, namun Aldo tiba-tiba terbesit dalam pikirannya bila Rara dan Abel berada disini, otomatis Luna pun disini. Ia pun mencari sosok wanita yang ingin dia temui namun tidak ada.
"Apa?" Singkat Abel kaget, ternyata Reza yang sudah menyuruh Aldo untuk datang.
Gawat!
"Kenapa sih? Nggak boleh aku kesini? Aku balik lagi nih?" ucap Aldo bingung dan pura-pura akan kembali.
"Bagus! Cepat pulang sana balik" Rara sinis.
"Kejam banget kalian berdua, mana Luna dia ada disini juga kan? Nggak mungkin Geng Bajaj pake dua ban saja, nggak bisa jalan dong". Aldo bercandanya garing.
Rara dan Abel diam bingung mau menjawab karena pikiran mereka sangat kacau dengan kedatangan Aldo tiba-tiba.
"Kok pada diam".
Rara maupun Abel terdiam dan saling pandang tidak bisa berbicara, namun keadatang wanita menggendong seorang bocah menjadi perhatian mereka. Abel, Rara dan Aldo mengarah pada sosok Luna menghampiri namun terhenti.
Luna tidak melanjutkan langkahnya dan kaget atas keberadaan Aldo disini. Masih beradu pandang dengan pria disebrangnya, tak lama kedatangan Reza membuat Luna terkejut secara spontan dia mencium pipinya singkat.
Melihat Reaksi itu membuat Aldo bingung apa hubungan Luna dan Reza yang terlihat seperti pasangan pada umumnya. "Mas" Aldo melambaikan tangan kearah Reza sementara kedua wanita disamping membeku tanpa merespon.
"Hai, Al" Balas Reza melambaikan tanganya balik, "Itu Unclenya Biboy yang aku ceritain" kata Reza menoleh pada Luna yang terlihat terkejut dan aneh.
Luna tidak merespon hanya berdeham kecil.
"Al ayo masuk, dan kalian berdua kenapa diam aja ada tamu malah dianggurin gitu saja". tegasnya dan masuk keruangan untuk duduk.
"Ak―aku mau kedapur dulu ambil minum" Luna memberikan Biboy kepada Reza.
"Nggak usah biar Bi Minah saja yang bawain minum" seru Reza menahan lengan Luna dan menyuruhnya duduk disampingnya.
Sementara Aldo, Abel dan Rara masih diam tidak melakukan pembicaran pertama. Terlalu canggung untuk mereka terutama Luna dan Aldo yang sesekali bertatapan, entah kenapa suasa menjadi hening.
Saat kedatangan Bi Minah membawa minum untuk saat itu pun mereka memulai buka suara, "Aku kira kamu nggak datang, soalnya kamu sibuk terus". kata Reza memecahkan keheningan.
"Aah itu karena sibuk direstoran, Mas". balas Reza sedikit kaku dan menggaruk kepala dengan jari telunjuk meski tidak gatal.
"Kenalkan. Ini wanita yang aku pernah ceritakan sama kamu, namanya Luna?" Reza memperkenalkan dan menoleh pada Luna yang terlihat puncat.
"Aku sudah kenal Luna, dia―" Aldo melirik kearah Luna sekilas, "Dia teman Aldo sama kayak Rara dan Abel kita satu sekolah saat masih SMA". Jelasnya.
"Oh iya, aku baru sadar kalau kalian satu SMA, Pantesan saja dari gelagat kalian kayak yang saling kenal" Reza merasa ada sesuatu yang aneh antara empat orang yang berada diruangan, terutama Aldo dan Luna seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
"Berarti kalian bertiga tahu dong wanita yang Aldo suka waktu masih SMA?" tanya Reza penasaran dengan reaksi Luna yang sontak tersedak saat sedang minum teh. "Kamu nggak apa-apa kan sayang?" Reza cemas dan mengelus panggung Luna lembut.
"Aku nggak apa-apa" Jawab Luna mengelap bibirnya menggunakan jari jempolnya.
"Pelan-pelan minumnya" kata Reza mengelus kembali punggung Luna.
Aldo masih terbelenggu dalam diam tanpa merespon pertanyaan Reza pada ketiga wanita itu dan malah menatap Luna intens. Kenapa wanita yang dia cintai bisa bersama Reza pria yang pernah menyakiti Lisa dulu, tapi ia sudah melupakan masalah itu karena ini permintaan mendiang kakaknya.
"Kok, jadi bahas Aldo sih" Aldo buka suara karena ia tahu bila Luna tidak ingin kalau Reza mengetahui hubungan mereka dulu.
"Penasaran, wanita yang buat kamu belum juga move on sampai sekarang" Reza bersikap seakan-akan ingin tahu tentang wanita yang Aldo sukai.
"Mas, kita bertiga mau kekamar dulu. Ada sesuatu yang mau diomongin" ucap Abel menyeret Rara dan Luna yang siap untuk meninggalkan ruangan.
Sebelumnya itu Reza menahan kembali mereka, "Memang ada apa sih? Emang Luna juga harus" curiga Reza dengan sikap ketiganya. "Kalian bertiga sangat mencurigakan?". protesnya.
"Itu―lagian kepo banget, ini urusan wanita bukan pria" sahut Abel membawa mereka keatas tepatnya kekamarnya.
Kepergian ketiga wanita itu pun berlalu begitu saja.
Aldo!
Apa wanita yang selama ini kita bicarai dan kita cintai, apakah orang sama?
Semua pemikiran terlintas kembali diotak Reza saat ini, keduanya saat bertemu begitu canggung ditambah Abel dan Rara berdiam diri seakan mengetahui sesuatu dengan apa yang terjadi.
Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?
Sementara Reza dan Aldo berkeliling villa bersama Biboy yang terlihat sangat senang dengan rumput halus dipekarangan berlari-larian mengejar bola diatas rumput kegirangan.
•••
"Jadi kalian semua bohongin aku, sembunyikan ini semua dari aku" Luna begitu marah dan kesal karena kedua tidak memberitahu.
"I'm so sorry. Sumpah tadinya aku mau kasih tau hari ini biar kamu tahu, tapi malah begini jadinya kacau. Aldo datang tiba-tiba." kata Abel membenarkan dan tidak ingin kalau Luna menyalahkanya.
"Aku pengen tahu semuanya, gak ada yang sembunyikan?". Gegas Luna.
"Aku bakal ceritakan semuanya, apa yang mau kamu tahu, tapi―kamu juga nggak bisa sembunyikan semua ini dari Mas Reza". tungkas Abel memandang harapan pada Luna.
"Aku bakal cerita sama Mas Reza, karena aku juga udah nggak ada hubungan apa-apa sama dia".
Rara hanya mendengarkan dua temannya, karena masalah ini hanya Luna dan Abel yang tahu.
"Begini ceritanya. Aldo adalah adik dari mendiang Lisa pacarnya Kak Reza, ibunya Biboy. Aku tahu itu waktu kita selesai UAS kamu ingetkan kejadian waktu mendiang Anggi meninggal, dihari itupun Lisa Meninggal dirumah sakit yang sama. Dan disaat itu aku tahu ternyata Aldo adalah adik dari Lisa, waktu itu Kak Reza benar-benar syok dia hubungin aku kalau Lisa meninggal dunia".
"Ah aku inget. Pantas aja aku minta kamu datang tahu-tahu udah nonghol aja dirumah sakit". kata Luna mengingat kembali.
"Iya, sorry. Udah rahasian ini, aku lakukan ini buat kamu juga. Malah aku aja nggak percaya kalau Kak Reza kepincut sama kamu, dunia emang terlalu sempit".
"Itu namanya takdir, takdir nggak bisa diubah begitu aja". sahut Rara.
Mereka bercerita semua yang mereka utarakan diatas ranjang.
"Aku juga mau cerita sama kalian" kata Luna.
"Tentang?" Abel Rara penasaran.
"Aku juga baru tahu ini nggak lama sih, ternyata ayah kalian sama ayah aku berteman lama". cerita Luna beritahu karena tidak mau ada sesuatu yang disembunyikan lagi.
"Aku tahu" Abel santai.
Luna membidik tajam kearah Abel jadi selama ini dia tahu segalanya tapi diam saja, "Jadi apa lagi yang kamu sembunyikan dari aku?" kesalnya.
"Waktu itu Om Gege pernah kekantor ayah, tapi nggak tahu mau ngapain. Aku juga nggak begitu fokus soalnya aku cuma lihat Om Gege keluar dari ruangan kantor, aku cuma berpikir dia teman bisnis ayah".
"Jangan-jangan kamu tahu aku sama Mas Reza pernah dijodohin dulu". ucap Luna.
"Dijodohin? Aku nggak tahu" Abel merasa tidak tahu bila soal perjodohan.
"Bohong".
"Sumpah, kamu tahu dari mana?".
"Ayah aku yang bilang, waktu kita makan malem bersama".
"Apa ini dunia Novel? Kok bisa banyak yang kebetulan begini sih" Rara merasa kalau Luna benar-benar banyak kejutan hidupnya.
"Berarti kamu itu jodoh Kak Reza yang tertunda, coba kamu pikir kenapa sampai sekarang Kak Reza belum berhubungan sama wanita lain" kata Abel sementara Luna dan Rara menggelengkan kepala tidak begitu paham.
"Karena kalian direncanakan untuk bersama, mungkin dulu kalian gagal dijodohin, tapi sekarang kalian dipertemukan lagi dengan cara seperti ini". Jelas Abel beragumen karena semua ini bukan hanya kebetulan belaka tapi sebuah takdir yang sudah disusun oleh Sang Pencipta.
"Betul tuh, aku setuju JODOH YANG TERTUNDA" sahut Rara memberikan jempol pada Abel.
"Kayak judul Novel yang pernah Rara baca tuh" Luna mencairkan suasana.
"Benar banget".
Mereka bertiga pun tertawa lepas dengan suasana menyenangkan, saat keasikan mengobrol suara ketukan pintu membuyarkan mereka.
Luna menghampiri pintu dan ternyata Barrack sudah berada didepan dengan wajah pucat pasih seperti terjadi sesuatu.
"Kenapa Barrack?" tanya Luna penasaran dengan adiknya yang terlihataneh tidak seperti biasanya.
"Aku dapat telpon, Dad masuk rumah sakit". Barrack benar-benar terlihat ketakutan.
"Apa?" Luna syok tanpa pikir panjang dia bergegas mengambil ponsel dan menghubungi ayahnya beberapa kali tapi belum diangkat. Tak lama terdegar suara diujung telpon terlihat lemas.
"Ayah, ayah kenapa? Ayah ada dirumah sakit mana? Luna mau kesana. Ayah? Ayah―" Luna cemas dan terus bertanya tanpa memberi kesepatan pria diujung suara menjawab.
Rara dan Abel menghampiri menenangkannya. Dan Barrack terlihat gusar terlihat diwajahnya begitu pucat.
"Luna ayah baik-baik saja, cuma luka kecil nggak usah khawatir. Ada Yuda sama calonnya yang jagain ayah tenang aja". Gerraldy dengan suara lemas.
"Aku bakal pulang sekarang". kata Luna khawatir dan tidak bisa berdiam diri.
Setelah sambungan terputus Luna bergegas turun untuk mememui Reza dan tidak peduli dengan keberadaan Aldo bersamanya, setelah sosok yang dia cari ketemu Luna berlari untuk menjakau Reza yang berada dipekarangan villa.
"Luna". seru Reza melihat kedatangan Luna yang terlihat cemas.
"Mas, bisa kita pulang sekarang? Ayah masuk rumah sakit" ucap Luna sedikit bergetar.
Aldo masih memandang keberadaan keduanya yang begitu dekat.
"Bagaimana bisa? Kita pulang sekarang, kamu jangan khawatir". Gagas Reza.
"Ayah nggak bilang jelasnya, tapi Luna cemas banget Mas" Mata Luna berkaca-kaca tapi tidak ingin menagis karena dia tidak mau membuat Reza khawatir.
"Sekarang kita beres-beres" Reza mendekap Luna erat tanpa memperdulikan keberadaan Aldo yang sedang mengendong Biboy.
Apa kamu sudah melupakan tentang aku Luna? Aldo dalam hati memandang keduanya yang masih berpelukan.
Reza melepas dekapannya dari Luna dan beralih pada Aldo, "Sorry padahal kamu baru datang, tapi aku harus pulang ke jakarta, ayah Luna masuk rumah sakit". Reza merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, aku ngerti kok". Aldo santai.
"Tenang aja yang pulang duluan Aku, Luna sama Barrack yang lainya belum".
"Siap. Jangan ngebut-ngebut bawanya, Hati-hati dijalan"
"Terima kasih! sorry banget ya".
Luna dan Reza bergegas masuk kedalam villa untuk mengambil barang bawaanya.
Dan berpamitan langsung pada semuanya.
Perjalana pulang cukup memakan waktu dijalan, karena kalian tahu puncak dihari weekend benar-benar ramai dan jalan pun dibuat satu jalur selama beberapa jam sehingga harus menunggu jalur pulang dibuka kembali setelah menunggu lama.
"Kamu tenang ya jangan panik". kata Reza menoleh pada Luna disamping yang terlihat begitu cemas, ia mengerti karena Luna begitu menyayangi ayahnya keluarga dekat satu-satunya.
"Iya. Sorry Mas gara-gara Luna acara liburannya jadi berantakan". Sesal Luna.
"Kita nggak tahu musibah datang, dan nggak akan pernah tahu. Soal liburan kita masih bisa lakukan itu lagi nanti masih banyak waktu kok. Jangan berpikir begitu, Ok?".
"Thanks ya Mas".
Setelah perjalanan cukup panjang mereka lekas masuk kerumah sakit dan memasuki lift tergesa-gesa tidak sabar, tapi mereka tetap tenang meski kecemasan melanda mereka.
Memasuki kamar sosok pria setengah baya sedang tidur tenang diranjangnya, dengan luka dikepala cukup ngilu dilihatnya. Wajah pucak pria itu tetap tenang dan senyum mengembangkan saat menyadari kedatangn Luna, Reza dan Barrack.
"Kalian ada disini?" Gerraldy membuka mata pelan dan membenarkan posisi tidurnya.
"Tentu aja kita disini, aku khawatir banget sama ayah". Luna memegang erat tangan ayahnya yang lemas.
"Bagaiman luka Om?". tanya Reza khawatir.
"Cuma, kebentur saja kok" balasnya. Gerraldy tersenyum lemas karena kondisinya "Reza kamu pasti capek, kamu istirahat dulu disofa". katanya.
"Iya Om" singkat Reza memang sangat lelah dan merebahkan badannya disofa.
Barrack memeluk Gerraldy takut kehilangan, "Daddy maaf Barrack nggak bisa jagain Daddy, harusnya aku nggak ikut". sesalnya.
"It's Ok I fine" Gerraldy menepuk pelan punggung Barrack. Dan melepaskan kembali pelukanya, "Jangan menyalahkan diri kamu, semuanya bukan kemauan kita kan". ulasnya.
"Sana istirahat perjalanan kalian pasti capek". ucap Gerraldy, Sementara Barrack mengangguk mengerti dan tidak banyak bicara dan permisi untuk menyusul Reza yang sudah terlelap karena kecapean.
"Kenapa ayah bisa kecelakaan begini?" tanya Luna karena ayahnya tidak menjelaskan semua ditelpon.
"Mobil depan berhenti mendadak. Otomatis ayah ngerem mendadak. Nanti ayah ganti ya mobil kamu". Ceritan tentang insiden tabrakan itu.
"Masa bodo sama mobil toh masih ada asuransi, yang penting itu keadaan ayah. Jessy sudah tahu sama keadaan ayah?".
"Jangan bilang nanti dia bakal cemas, ayah juga udah bilang Barrack nggak usah hubungin Jessy".
"Tapikan―"
"Sudah, ayah nggak apa-apa. Lihat Reza kasian dia pasti kecapean sampai tidur begitu" Gerraldy menoleh kearah Reza yang sudah tidur disofa, "Kamu juga pasti lelah kan?" katanya lagi.
"Iya, aku juga merasa bersalah Mas Reza jadi kecapean begitu. Aku nggak capek kok. Oh iya Mas Yuda sama Mbak Rani kemana, yah?" tanya Luna.
"Mereka sudah pulang ayah yang suruh, nggak mau repotin mereka. Ayah senang kalau Yuda sudah mulai berhubungan dengan seseorang lagi".
"Sama aku juga. Ayah tahukan dia kehilangan Kakak Anggi jadi sedikit depresi. Tapi sekarang dia sudah bisa menerima seseorang dihatinya lagi".
Gerraldy mengangguk setuju.
"Kalau gitu ayah istirahat dulu, ayah pasti masih lemas".
"Kamu juga".
"Iya".
Karena sudah larut malam Luna memutuskan untuk menginap dirumah sakit, karena memang ingin menemani ayahnya. Sementara Reza dan Barrack pulang keapartemen Reza disudirman karena dekat dengan rumah sakit.
♥♥♥