Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
18. Kerinduan



♥♥♥


Satu hari dirawat dan setelah kepulangan dari rumah sakit, Luna sudah berada diapartemenya dan beristirahat total karena Reza melarangnya untuk masuk kerja karena kondisinya masih terbilang lemah.


Ia mendengar dari Lukas yang selalu memberi info perihal kerjaan dan kantor. Karena semenjak kejadian pengeroyokan, suasana kantor menjadi ramai sampai membicarakannya.


Suara bel berbunyi Luna berjalan menuju arah pintu dan membukanya tanpa ia cek dimonitor komputer. Dan dia kedatangan Abdul, Sarah dan Biboy seketika itu ia merasa senang apalagi mereka sudah lama tidak bertemu.


"Mas Abdul, Mbak Sarah  ayo masuk kenapa nggak chat dulu aku pasti siapin sesuatu buat kalian". kata Luna sambil mengajak keruang tamu dan mengambil Biboy dari gendongan Sarah.


"Kamu baik-baik saja kan?". Sarah cemas.


"Aku sudah baikan kok". Balas Luna memeluk Biboy yang sangat ia rindukan.


"Mbak sama Mas Abdul khawatir banget saat Reza bilang kamu dikeroyok dikantor, kita langsung saja beli tiket pulang". sahut Sarah mengelus lembut bahu Luna.


"Aku jadi nggak enak ganggu liburan kalian padahal masih ada dua hari lagi kalian untuk pulang". seru Luna.


Dan meletakkan dua cangkir teh hangat untuk mereka.


"Luna, kan udah sudah kami anggap keluarga. Jangan merasa tidak enak hati begitu". kata Abdul tegas.


"Benar kata Mas Abdul". Sarah setuju, "Oh iya, kamu sama Reza sudah resmi pacaran ya? Mbak senang baget dengarnya". Ucapnya senang.


"Iya, belum lama". Luna malu.


"Mbak sangat yakin kamu adalah wanita yang tepat untuk Reza adikku". Seru Sarah.


Luna tersenyum senang karena hubungannya dapat respon baik dari keluarga Reza. Dan belum dengan keluarganya, selama ini Luna hidup sendiri sedangkan Ayah dan Ibu tirinya tinggal diluar negri, sementara keluarga dari ibunya berada disemarang jadi ia tidak pernah bertemu lagi semenjak peninggalan Alm. Ibu dan kakaknya.


Setelah dua jam berlalu Abdul dan Sarah memutuskan untuk kembali keapartemennya Reza untuk istirahat semenjak turun dari pesawat mereka langsung menuju apartemen Luna dan Biboy pun yang tertidur dibawa oleh mereka. Banyak oleh-oleh yang dibawa dari bali seperti Cokelat, Tas Anyaman, Kaos, Dress Pantai dan banyak lagi.


Memang hal yang paling membosankan adalah diam diri diapartemen, selama beberapa berlalu karena bosan suara bel pun berbuyi kembali membuat Luna senang karena banyak yang menjegguk dirinya saat sakit seperti ini.


"Luna, kamu sudah sehatkan?", Rani memeluk Luna cemas, ternyata bukan hanya Rani tapi juga Mas Yuda dan Lukas ikut datang memberikan parsel buah dan sebuah Cake.


Merekapun masuk dan duduk diruang tamu, sementara Luna masuk kedapur untuk membuatkan teh manis dan dibantu oleh Rani yang kekeuh untuk membantu karena dia tahu kalau Luna masih belum sembuh total.


"Sini, biarkan Mbak yang bawa nampannya". Ucap Rani mengambil nampan dari tangan Luna.


"Terima kasih". Luna tidak enak.


Dan berjalan menuju ruang tamu dan duduk diantara mereka.


"Mas khawatir banget dengarnya?", kata Yuda.


"Nggak apa-apa, aku udah baikkan". balas Luna. "Oh iya Mbak Rani sama Lukas kok bisa kesini saat jam kerja sibuk?". katanya penasaran.


"Kita dapat izin dari calon suami kamu Lun?". goda Lukas.


Luna menuduk malu dengan ucapan Lukas, berarti gosip tentang benar-benar tersebar dikantornya.


"Jangan ngomong gitu deh, kalian disana makanin gosip ya?". seru Luna.


"Bukan gosip Luna, Pak Reza sendiri yang umumin itu didepan semua karyawan kantor saat mengumpulkan seluruh karyawan dishow room. Menjelaskan tentang gosip yang tersebar tentang kamu dan dia. Ditambah pengeroyokan yang kamu alami waktu itu. Sumpah ya Boss Reza kelihatan Gentlemant banget dan dia juga cinta banget sama kamu". Cerita Rani panjang lebar.


Luna terkejut, "Apa? kenapa sampai diumumin segala aku jadi nggak berani buat masuk kerja kalau gitu". kesalnya.


"Kenapa? Harusnya kamu bangga. Dan soal kerjaan kalian juga profesionalkan selama ini". Sahut Luna.


Diam.


Lunapun merenungkan ucapan Rani, memang Reza sangat peduli dan mencintainya hanya saja ia sangat malu pada dirinya selalu merepotkan Reza selama ini.


Selama diapartemen mereka terus berbincang tentang masalah pengeroyokan tiada henti karena kasus ini mengemparkan seluruh karyawan kantor, dan tidak menyangka bahwa Novi and Genk bisa melakukan hal itu pada anak magang apalagi Luna berstatus calon suami Boss mereka.


Sementara karyawan yang ingin melakukan hal yang sama seperti mereka harus berpikir dua kali, karena mau tidak mau mereka akan berurusan dengan Boss pemilik perusahaan.


•••


Chat masuk,


Ayah


Bisa kamu jemput kami dibandara, kami menunggu di Coffee Shop dekat bandara pintu keluar. Kami tunggu disini.


Mendapat pesan bahwa ayahnya sudah sampai dan sekarang mereka sudah berada dijakarta. Luna pun bergegas keluar membawa kunci mobilnya dan pergi kebandara Soekarno-Hatta. Pasti kalian berpikir Luna punya mobil?, ayolah Luna itu orangtuanya seorang pengusaha juga ya dan punya perusahaan digermany. Dan selalu mengirim uang tiap bulannya dan mobil adalah kado ulang tahunnya yang diberikan ayah dan ibu tirinya.


Mungkin dia tidak terlalu dekat dengan Ibu tirinya tapi ia sangat baik meskipun sibuk sebagai coach model, dan Jessy sangat terkenal di Germany.


Dan hari ini ia tahu bahwa Ayahnya ternyata tidak datang sendiri melainkan berdua dengan adik tirinya Barrack, meskipun dia anak Jessy dengan suaminya terdahulu setelah cerai. Luna sangat sayang pada adiknya yang manis dan tampan.


Selain Barrack, Luna punya adik juga perempuan anak dari Ayah dan Jessy masih berumur sekitar lima tahun, karena masih kecil Deleena tidak ikut dan Jessy yang sibuk.


Setelah sampai dibandara, Luna memarkirkan mobil dan bergegas menuju Coffee Shop tempat mereka menunggu sambil melepas lelah selama perjalan jauh yang mereka tempuh.


Lun menghapiri seorang pria dengan hitam yang melekat dibadan pria yang sudah berumur itu dan seorang pria muda bule duduk santai sambil menikmati  Coffee.


"Ayah". Panggil Luna kegirangan memeluk Ayahnya yang sedang duduk terkejut dengan suara anak gadis yang sudah beranjak dewasa tanpa dia sadari.


"Anak Ayah". ucap pria itu. Memeluk erat putrinya untuk melepas kerinduannya dan dengan mata berkaca-kaca terharu.


"Vater, Ich vermisse dich". kata Luna dalam aksen Germany dengan pasih, dan melepas pelan pelukannya.


"Ich vermisse dich auch, mein kind". Balas Gerraldy.


Barrack berdeham membuyarkan kedua orang yang sedang melepas rindu, tapi dirinya seperti penonton dan dia abaikan begitu saja.


"Ehhm, Bruder vermisst du vater, ich nicht". ucapnya cemburu karena merasa diasingkan.


Luna tersenyum dan memeluk pria muda disamping dan mencium gemas pipi Barrack, "Natulich, vermisse ich dich auch". ucapnya senang.


Luna sangat bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Ayah dan adiknya. Menginggatkan dulu pertama kali bertemu Barrack dia sangat tidak menyukai Luna dan Anggy karena mungkin dia berpikir kami masih asing baginya tapi waktu berlalu kami sangat dekat seperti saudara kandung.


Beberapa jam berlalu kami menghabiskan waktu untuk mengobrol dan kami pun memutuskan ke Hotel dekat apartemennya, karena Gerraldy tak mau merepotkan putrinya. Dan memutuskan seminggu ini untuk tinggal disebuah Hotel bintang lima.


Karena terlalu senang dengan kedatangan Ayah dan Adiknya Luna tidak sadar bila ponselnya sembari tadi berbunyi dan ada 85 panggilan tak terjawab dan 45 pesan belum dibaca sama dari Reza.


Luna pun merasa bersalah karena ia lupa mengecek ponselnya. Pasti Reza sangat mengkhawatirkan dirinya dan dia tahu bahwa dirinya belum sembuh total meski Lukanya sudah mendingan.


Luna pun memutuskan untuk menelpon Reza belum lima detik Reza sudah mengangkat dan marah karena cemas.


"Kamu dimana? Kenapa nggak angkat telpon chat aku nggak dibalas aku khawatir banget sama kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa, aku berpikir negatif, aku pikir kamu diculik sama seseorang, aku benar-benar sangat cemas__". Reza belum sempat melanjutkan kata-kata terhenti.


"Mas Reza_aku benar-benar minta maaf, buat kamu khawatirkan". Balas Luna merasa bersalah mendengar ucapan kekasihnya begitu mencemaskan dirinya.


"Aku harap kamu jangan seperti ini lagi, kamu buat aku gila Luna. Sangat gila". Reza merasa lega kekasihnya tidak apa-apa. "Kamu sekarang ada dimana? Aku mencarimu keapartemen tapi kosong." katanya.


"Maaf aku lupa kasih kabar sama Mas, sekarang aku ada dihotel__". balasnya terputus.


"Hotel? hotel mana? Kamu lagi ngapain disana?". ucap Reza benar-benar kalut dan kacau.


"Mas, tenang dulu". Luna memberi instruksi agar Reza bisa tenang karena ia merasa kalau Reza begitu kacau dengan nada suara berat.


Reza pun menghela napas panjang, membuang pikiran yang membuatnya kacau.


Hening sesaat.


"Sudah tenang?". ucap Luna. Ia hanya mendengarkan dehamam Reza bahwa dirinya sudah tenang. Dan melanjutkan lagi ucapan penjelasnya pada Reza agar dia tahu apa yang Luna lakukan beberapa waktu lalu.


"Tadi aku jemput ayah dan adikku dibandara. Makanya aku nggak ada diapartemen. Aku lupa kabarin sama kamu, saking senangnya ayah datang, sampai nggak sempat cek ponsel karena dalam mode silent. Aku benar-benar minta maaf". Jelas Luna.


"Oke aku mengerti, tapi aku nggak mau kejadian ini terulang lagi. Aku cemas banget Luna. Sekarang kamu ada dihotel mana biar aku jemput?".


"Nggak usah, aku bawa mobil sendiri. Bentar lagi aku pulang, ayah sama Barrack juga mau istirahat karena kelelahan".


"Kamu setir mobil sendiri? Kamu kan masih lemas Luna".


"Aku sudah sehat. Aku hati-hati kok, tenang aja".


"Kalau ada apa-apa hubungin aku".


"Iya".


Panggilanpun berakhir, Luna memasuki kamar hotel dengan ukuran besar dan mewah, terdapat dua kamar didalamnya, dan design yang terlihat modern dengan suasana eropanya yang kental.


Ia pun duduk disofa merah besar dan melihat keliling kamar yang membuatnya terpesona dan kedatangan ayahnya membuyarkan aktifitas matanya yang terus mengintai isi kamar.


Sedangkan Barrack istirahat tidur karena lelah.


"Ayah mau tanya dari tadi cuma ayah tahan, luka dibibir kamu kenapa?". Tanya Gerraldy cemas.


"Oh ini, Luna jatuh dikamar mandi". Balas Luna gugup tidak mau ayahnya khawatir bila dia tahu penyebab sebenarnya ia takut akan diajak paksa tinggal bersama ayahnya.


"Kamu tidak bohong". Mengerutkan alis tidak percaya karena Gerraldy tahu pasti Luna berbohong padanya.


"Baiklah, Ayah percaya. Kamu sudah punya pacar?".


"Kenapa ayah bertanya seperti itu?".


"Kamu sudah dewasa, masa kamu tidak punya pacar sudah berumur begini".


"Tentu saja sudah".


"Kenalkan pada Ayah, pria seperti apa yang sudah buat kamu jatuh cinta".


Luna menceritakan sedikit tentang Reza, agar ayahnya tidak terlalu kaget dengan kekasihnya yang seorang Single Daddy, mungkin ayah akan paham dan banyak orang yang belum paham dengan perbedaan kata Single Daddy dan Single Parent.


Single Parent bisa diartikan seorang pasangan yang sudah menikah kemudian cerai. Sedangkan dengan Single Daddy or Mom diartikan seorang pasangan dan belum ada ikatan pernikahan, tapi sudah berpisah.


Untung Ayahnya mengerti, dan tidak masalah dengan status kekasihnya dan ingin anaknya ini berbahagia siapapun pasangannya.


"Aku akan kenalkan nanti".


"Ayah sangat menatikan itu sayang".


•••


Suasana diapartemen sangat ramai dengan kedatangan Reza, Abel, Rara dan Biboy yang membuatnya begitu sangat senang dengan keberadaan mereka.


"Jadi, Ayah kamu sudah datang?". Tanya Rara.


"Iya". Balas Luna singkat sedang mengendong bocah kecil dipangkuannya dan Reza duduk bersandar manja sedang menikmati acara bola kesukaanya.


"Barrack ikut dong?". ucap Rara lagi


"Ikut, kenapa memang? Jangan ada niatan buat pacarin adik aku ya, nggak aku restuin". kata Luna.


"Lumayan kali dapet cowok bule ganteng". Rara genit.


"Big No, dan inget umur kalian jauh berbeda, kamu udah tua Rara, sedangkan Barrack baru 17 tahun".


"Cuma beda 6 tahun doang, nggak masalah. Zaman sekarang umur bukan halangan". Rara kekeuh.


Luna menggelengkan kepalanya pelan, melihat Rara yang memang genit melihat cowok ganteng, kemudian menghampiri Abel yang sedang sibuk membuat sosis bakar, cemilan untuk mereka makan.


Dan Luna menatap kesal dengan Reza yang sibuk pada perbandingan bola kesukaannya, padahal tadi dirinya sangat cemas pada Luna sampai-sampai gila katanya.


Memang menyebalkan melihat semua pria kalau sudah dengan bola akan lupa segalanya.


"Mas". Panggil Luna.


"Hmmm". Balasnya bergumam pelan tanpa menoleh pada Luna disampingnya.


"Aku dan Biboy dicuekin nih?". kata Luna cemberut, tapi Reza belum sempat balas dia berteriak 'Goal' dan kegirangan melihat team bolanya bisa mengoalkan gawang kelawannya. Luna hanya menghela napas dan meninggalkan Reza dan bergabung dengan temannya didapur sembari mengendong Biboy yang asyik dengan mainannya.


"Mas Reza kalau sudah mantenggin bola, lupa sama aku dan sekitarnya, nyebelin". Sewot Luna.


"Sabar, dia memang seperti itu. Namanya juga cowok". kata Abel.


Luna pun mengambil sosis bakar yang sudah matang dipiring dan sudah hangat diberikannya pada Biboy yang duduk diatas meja.


"Biboy, mau sosis?". tanya sembari memegang sosis ditangannya.


"Mauuu Mommy". ucapnya riang. Luna pun memberikan sosis itu pada Biboy.


"Hati-hati makannya pelan".


Keadaan dapur menjadi ramai dengan obrolan dengan gelak tawa. Melihat keadaan didapur begitu berisik membuat Reza menghampiri mereka dengan raut wajah penasaran dan memeluk dan mencium pipi Luna tiba-tiba dari arah belakang membuat Luna terkejut dan malu dihadapan Abel dan Rara.


Reza ikut bergabung duduk.


"Ada apa sih? Berisik banget?". tanya Reza sembari mengambil sosis bakar dihadapanya dan dimakannya.


"Mas Reza, merasa terganggu?". Sindir Luna.


Mendengar sindiran dari kekasihnya, Reza jadi merasa tidak enak hati karena lebih fokus menonton bola dari pada bersama Luna dan Biboy.


Melihat raut muka Luna kesal, tanpa melihat situasi dan tempat Reza mengucup bibir Luna singkat karena merasa gemas dengan tingkah Luna yang terlihat kesal karenanya.


"Mas Reza__". Luna menyentuh bibirnya dan terkejut mendapat kecupan mendadak dari Reza.


Semetara Reza hanya tersenyum menang dan lanjut memakan sosisnya, dan melihat adegan keduanya membuat Rara maupun Abel jadi begong seketika mungkin bisa diartikan syok.


"Kalian kalau mau mesra-mesraan jangan didepan kita dong, sengaja ya". Abel sewot melihat kemesraan Luna dan Reza yang membuat dirinya mersa sangat iri.


Reza tersenyum meledek.


"Benar tuh, kasiahani kami jomblo-jomblo ini". Rara memelas.


"Siapa juga yang sengaja, Mas Reza duluan yang main nyosor aja". bela Luna.


Reza hanya bisa tertawa melihat wanita-wanita muda dihadapannya merasa kesal pada tingkah agresif yang dia lakukan pada Luna.


"Sorry, kelepasan". ucap Reza tanpa merasa bersalah dan berjalan santai kembali keruang tamu membawa Biboy bersamanya.


Masih kesal dengan apa yang dilakukan Reza padanya tadi, ia pun ikut keruangan tamu menyusul dan duduk disampingnya. Untung saja acara pertandingan bolanya sudah berakhir, Luna pun bernapas lega dan bisa untuk memulai kembali perbincangannya dengan serius.


"Mas?". panggilnya.


"Apa Luna sayang?". ucap mengoda dan menatap penuh kearah Luna.


Luna malu dengan ucapan Reza yang memanggilnya 'Sayang' dan merasa melayang dilangit dengarnya.


"Ayah mau ketemu sama kamu? Mas tak keberatan kan?". tanya Luna memandang dengan penuh harapan.


Diam.


"Kok diam sih? Kalau memang nggak mau nanti Luna cari alasan lain".


"Bukan begitu, aku mau kok, cuma aku benar-benar merasa gugup aja. Ini kan pertama kali aku ketemu sama ayah kamu. Aku takut kalau status aku itu buat ayah kamu__".


"Ayah nggak keberatan kok, aku udah kasih tahu dia. Tadinya juga aku pikir ayah bakal marah tapi ternyata nggak, dia malah bilang mau ketemu sama kamu, dan dia juga membebaskan aku memilih pasangan sesuai kemauan aku".


"Syukur deh kalau begitu, kapan memang?". Reza merasa lega.


"Nanti katanya ayah yang kabarin". kata Luna beritahu Reza yang sedang bermain dengan Biboy disamping tempat duduknya.


"Besok kamu nggak usah lagi masuk kerja?". kata Reza menoleh singkat sebelum kembali asyik dengan Biboy memainkan pipi temben anaknya dan dicium gemas.


"Kenapa? Masa mangang aku kan tinggal 2 hari lagi sayang banget".


"Nggak apa-apa nanti biar soni yang urusin".


"Aku nggak mau, aku mau usaha sendiri. Aku nggak enak sama Aldan dan Reyhan bersusah kerja, sedang aku enak-enakkan karena dibantu atas koneksi pacar sendiri. Nanti karyawan dikantor malah agap aku aji mumpung".


"Terserah kamu deh, kamu kan keras kepala".


"Kok begitu sih, harusnya Mas bangga dan dukung aku, masa bilang terserah". Luna kesal.


"Iya deh sorry ya sayang. Aku bangga sama kamu karena kamu mau berusaha sendiri tanpa bantuan dari aku, aku juga bakal dukung kamu biar cepat wisuda, dan nikah sama kau". ucap Reza mencubit gemas pipi Luna yang begitu merah merona saat mendengar kata terakhir yang ia ucapkan.


"Mas tahu, awal pertama ketemu sama kamu, saat itu kamu terlihat pendiam dan dingin. Tapi setelah kenal lama ternyata orangnya super bawel dan juga gombal abis".


Reza tertawa pelan mendengar kata Luna, memang entah sejak kapan dirinya berubah sekian dratisnya dan orang sekitarnya pun menyadari perubahan itu.


Memang saat bertemu dengan kekasihnya ini telah membuat Reza seiring waktu berubah menjadi orang baru, dimana dirinya dulu dingin, sombong, dan tidak peduli dengan orang.


Note:


Vater, Ich vermisse dich


(Ayah, Aku merindukan kamu)


Ich vermisse dich auch, mein kind


(Aku merindukan kamu juga, Anakku)


Bruder vermisst du vater, ich nicht


(Jadi hanya merindukan Ayah, Aku tidak)


Natulich, vermisse ich dich auch


(Tentu saja, Aku juga merindukan kamu)


♥♥♥