
♥♥♥
Brak
Suara pintu terbuka terdengar keras. Seorang pria datang menghampiri seorang wanita yang sedang tidur pulas di kasur king size dengan posisi tengkurap dia bangun setelah mendengar suara pintu keras dan mengucek kedua matanya dan melihat seorang pria sudah berdiri melipatkan kedua tangannya menatapnya tajam seperti elang.
"Papah bisa nggak. Kalau buka pintu yang santai aja nggak usah dibanting. Ganggu aku tidur aja."
Wanita duduk bersila dikasur dan masih belum bisa menatap fokus dengan papahnya yang sudah diselimuti amarah dipagi hari.
"Goblok! Ngapain kamu pake itu mobil. Papah bilang jangan pake itu lagi." sentak pria itu sambil memijak kening meski tidak sakit.
"Kamu sudah lupa apa yang papah bilang dulu."
"Pura-pura lupa."
"Apa memang kamu mau dipenjara, hah?"
Fredi begitu kesal dengan tingkah Alisha yang santai-santai saja padahal dia mati-matian untuk melindungi putri tunggal yang amat dimanjanya.
Bodoh.
Tidak tahu diri.
Pria itu terus dirunduk oleh pikirannya sekarang. Apalagi ternyata selama 4 tahun ada orang yang masih mencari kasus tabrak lari yang dilakukan oleh putrinya. Semua akan sia-sia saja bila akhirnya ketahuan juga.
Alisha bangkit dari kasurnya dan mengambil air putih diatas nakas. Dan diminumnya hingga habis karena memang haus.
"Penjara? Bukan aku saja yang dipenjara tapi papah juga." cetusnya tak terima seakan hanya dia yang bersalah akan hal tersebut.
Selama beberapa tahun kebelakang. Alisha mengalami hal semacam halusinasi dan depresi karena kejadian tabrakan yang dilakukannya dan itu membuat dia frustasi hampir bunuh diri. Dia merasa terus dihantui oleh rasa takut dan sering bermimpi hal yang sama setiap memejamkan mata hingga dirinya terus minum obat tidur agar terjaga.
Memang selama ini dia benar-benar telah dilindungi oleh papahnya yang setia mengubur semua bukti. Membayar mahal. Dan juga membayar dokter ahli jiwa untuk bisa menyembuhkannya.
Itu berhasil.
Hanya dalam setahun dia sudah bisa melupakan semuanya. Meski belum sembuh total karena emosinya selalu saja naik turun.
"Kamu mau ajak papah juga masuk kedalam penjara? ayolah papah hanya membantu menutupi saja. Kamu yang sudah menabrak orang itu. Bukan papah."
"Cih. Papah mau lepas tanggung jawab. Aku ini anak papah dan papah yang sudah buat aku begini. Aku punya semua rahasia papah."
"Kamu ancam papah?"
Alisha diam. Sebenarnya dia juga sudah benar-benar cape mengikuti ucapan papahnya. Dia begitu merasa jijik akan dirinya. Apalagi dia harus melayani nafsu kolegan kantor papahnya selama ini. Ia melakukannya saat umurnya masih belia. Awalnya dilecehkan. Malah berlanjut menjadi candu untuknya.
I'M BITCH !!
Entah ada desiran apa yang membuat hati Alisha runtuh dan menangis saat ini. Menangis akan dosanya dan kesalahannya. Ini bukan yang dia inginkan. Dia ingin menjadi orang normal seperti wanita lain. Yang membuat dia ingin seperti Luna wanita yang selalu mendapatkan kehidupan yang sesuai dengan dirinya.
Iri hati itu jelas.
Ia menadapatkan semuanya.
Reza yang pria idamannya sejak dulu.
Rapuh hatinya.
Sampai sekarang saja pria itu tidak mengenalinya.
Sementara pria dihadapannya hanya diam dan egois, ingin dia membencinya tapi bisa.
Alisha menyekat air matanya. "Apa papah sayang sama aku?"
"Kalau papah sayang sama aku, kenapa harus aku yang dikorbankan?"
"Kenapa?"
"Aku cape. Aku menyerah."
Fredi menatap Alisha yang sudah duduk disamping kasurnya menangis dan menyesali semuanya. Ini untuk pertama kali dia melihat tangisannya setelah 4 tahun lamanya.
"Tentu saja, papah sayang sama kamu. Papah lakukan untuk kelangsungan keluarga kita. Papah ingin keluarga kita tidak kekurangan apapun. Untuk kebahagian kalian."
"Tapi bukan begini caranya. Aku kotor dan aku juga penjahat. Aku nggak pantes hidup. Harusnya aku mati saja dulu."
•••
"Kamu ngapain disini? Cepat turun kamu bisa jatuh." pria itu mengelurkan tangan pada Alisha yang hendak akan terjun ke sungai.
Alisha masih diam.
"Kamu mau dimakan buaya. Dicabik-cabik jadi santapannya."
"Kalau aku sih nggak mau karena rasanya akan sakit."
"Kalau ingin melakukan hal itu cari yang tidak membuatmu merasakan sakit."
Pria itu senyum.
Alisha mematung dan mendengarkan ocehan pria itu. Bukan menarik tangannya. Pria itu malah mengajak ngobrol dipagar besi putih jembatan. Menyandarkan badannya.
Terus bercerita.
Sedangkan Alisha masih mengeratkan tangannya dibesi agar tidak terjatuh. Karena posisinya sudah ada diluar pinggir jembatan. Yang memang sedang sepi, karena Alisha sengaja mencari tempat sepi untuk aksinya. Agar tidak ada yang membantunya.
"Aku juga tadinya berniat sepertimu terjun dari sini tapi aku urungi lagi. Karena bila aku melakukannya wanitaku akan marah padaku nanti. Kalau aku menyusulnya cepat."
"Karena aku sudah berjanji padanya."
Pria itu terus mengoceh. Tentang masalahnya. Dan menoleh pada Alisha yang masih berdiri diambang jembatan. Asal tau saja kakinya mulai merasa bergetar dan lemas.
Karena ucapan pria itu. Alisha harus berpikir ulang lagi. Dia masih ingin menikmati hidupnya dan mengubah semuannya.
"Kenapa kamu melakukan ini? Putus cinta?" tanya pria itu menatap Alisha dan membantu dia jauh dari pagar besi. Dan duduk bersila.
"Aku―"
"Aku sudah menabrak seseorang dan aku juga cape harus menjadi budak nafsu pria-pria itu. Membuatku semakin fruatasi dan depresi. Dunia memang kejam apalagi padaku."
Pria itu merasa iba dan mengelus rambut Alisha pelan dan tangannya begitu hangat. Debaran jantungnya begitu cepat dan yang dia rasakan berbeda dengan pacar sebelumnya.
"Kamu bisa mengubahnya lebih baik lagi. Jadilah dirimu sendiri. Kamu tahu mana yang benar dan salah. Kamu juga tahu mana yang harus kamu lakukan dan tidak. Semua ada ditanganmu. Keputusanmu akan memberikan jalan pada kehidupanmu nantinya. Dan dosa ataupun perbuatanmu mungkin akan mendapatkan balasannya tapi kamu bisa memulai hal itu dengan kehidupanmun yang baru. Jalani yang sudah ada. Lupakan yang sudah berlalu."
"Entahlah apa aku bisa melakukannya."
"Tentu saja."
Pria itu lagi-lagi tersenyum manis padanya. Tulus. Tidak seperti pria diluar sana yang hanya menikmati dirinya diatas ranjang. Untuk pertama kalinya ada seorang pria peduli akan dirinya. Dan itu membuatnya merasa nyaman.
Pria itu berdiri dan diikuti Alisha.
"Sepertinya aku harus pergi."
"Oh! Tentu saja."
"Aku harap kamu bisa hidup bahagia nanti."
"Terima kasih."
"Aku pergi."
Alisha mengangguk. Namun ada rasa kecewa saat dia pergi begitu saja. Alisha memberanikan diri untuk mendekati pria itu.
"Siapa nama kamu? " Seru Alisha saat pria itu hendak memasuki mobil.
"Reza. Namaku Reza."
"Apa kita bisa bertemu lagi?"
"Maybe. Karena ingatanku itu sedikit buruk."
Pria itu memasuki mobil dan menjalankannya menjauhi Alisha yang berdiri diam melihat mobil itu sudah hilang dari pandangannya.
Aku akan mengingatkanmu. Sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu, Reza.
•••
Fredi dan Alisha terdiam sesaat. Memikirkan kembali yang sudah terjadi. Keluarga mereka bisa sukses begini karena bantuan dari kolega kantornya yang mengajak kerjasama untuk mendapatkan uang lebih mudah.
Dan anaknya menjadi korban kolegannya. Sebenarnya dia juga tidak ingin. Tapi ini demi kesejahteraan keluarganya siapa yang tidak ingin uang banyak. Dengan banyak uang dia bisa membeli keluarganya apapun dan liburan keluar negeri seperti orang kaya kebanyakan.
Yang dia takutkan adalah bila kasus korup yang dilakukan kolegan-kolegannya ketahuan maka dia juga ikut terlibat.
Fredi duduk dengan tangan memijat keningnya. Merasa sedikit pusing akan semua masalah yang terjadi. Melihat Alisha melamun duduk diatas kasur membuatnya terkikis perih. Karena dia begitu menyayangi anaknya meski dia terus menyakiti putrinya itu.
"Kamu harus kembali ke singapura hari ini juga. Kata Fredi menghampiri anaknya dan mengelus lembut rambut Alisha yang sedikit acak-acakkan. "Demi kebaikan kamu."
Alisha diam. Masih belum menjawab ucapan papanya. Pikirannya kalut. Ditambah dia ingin melihat terus memikirkan Reza pria yang sudah menyelamatkan hidupnya.
"Aku nggak mau." tolaknya masih dengan pandangan kosong.
"Kamu jangan egois Alisha. Papah sampai kapanpun akan melindungi kamu."
Alisha tertawa dan berdiri masih di kamarnya berputar-putar berjingkrakan. Aneh. Memang saat ini Alisha tengah tertekan hidupnya begitu kacau.
"Alisha hentikan." teriak Fredi melihat tingkah anaknya kembali aneh seperti dulu. "Kamu jangan begini." teriaknya lagi dan menarik lengan Alisha hingga terjatuh duduk dikasur dan mencengkram bahu wanita itu.
Plak
Tamparan mendarat di pipi Alisha hingga tercetak merah. Alisha diam melotot ke arah papanya. Mata merah seakan dia siap menerkam.
"Sadar Alisha."
Fredi memeluk putrinya. Alisha menangis sesenggukan merasa memang dia sudah gila. "Dengarkan papah kamu kembali ke singapura tinggal disana. Kamu harus lupakan semua yang ada disini."
"Alisha nggak mau jauh dari Reza pah. Aku cinta sama dia. Kenapa sih dia nggak pilih aku malah pilih Luna sialan itu? Alisha lebih cantik dan kaya. Apa pah kekurangan Alisha?" rengek Alisha dalam pelukkan Fredi.
Fredi menghela nafas. Alisha begitu menyukai bos tempat kerjanya begitu mendalam. "Alisha dia sudah punya istri kamu harus lupakan dia. Masih banyak pria baik diluaran sana. Papah ingin kamu hidup bahagia dengan pria lain bukan Reza."
"Nggak. Reza yang bisa buat aku bahagia. Cuma dia pah. Bukan orang lain."
"Kamu dengarkan papah. Reza itu tidak penting. Yang penting itu kamu. Kamu mau masuk penjara. Ingat kasus dulu ada orang diam-diam menyelidikinya. Kamu harus waspada Alisha. Kamu harus cepat pergi dari sini."
"Tapi―"
"Tidak ada tapi-tapian. Kamu dalam masalah sekarang. Kamu juga gila, dalam situasi begini masih saja memikirkan pria itu. Dia nggak akan mikirin kamu. Sadar Alisha. Sadar. Hidupmu masih panjang."
Seseorang berlari masuk kedalam kamar dengan nafas tidak beraturan. Wanita itu menghampiri Alisha dan Fredi. Merasa ada yang tidak beres. Keduanya mematung.
"Ada apa?" Fredi berdecak pinggang menatap wanita paruh baya dengan memakai daster sedang menunduk didepannya.
"Anu…anu pak aa-ada polisi datang."
Keduanya dibuat terkejut. Yang tak habis pikir ada apa polisi mencari. Sampai datang pula ke rumah.
"Siapa yang dia cari?" tanya Fredi pada asisten rumah tangganya.
"Nona Alisha, pak."
Deg!! Keduanya mematung. Jantung terasa berhenti sesaat. Seperti waktu juga berhenti. Polisi Alisha.
♥♥♥
hai reader. terima kasih dukungannya 🤗
episode ini full Alisha aja
setelah baca ini apa yang kalian rasakan? kasian kah sama Alisha apa masih benci?
penasaran kan next episode selanjutnya?
ditunggu ya. kejutan lainnya. suka deh kalo nyiksa Alisha pengen diapain ya 🤔😏