Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
53. Rapat dan Rencana



♥♥♥


Suasan kantor semakin terasa menegangkan, di saat Reza masih duduk disinggahannya masih bisa **** senyum melihat video Biboy dan Luna bermain di halaman belakang, yang sempat di rekam oleh Abel. Menjadi obat untuknya saat sekarang. 


Rapat ini akan di lakukan pukul 10:00 ada waktu 30 menit untuk Reza menghadiri rapat penting itu. Dia bersikap santai memberikan ruang untuk para penghianat bersiap-siap untuk menghadapi rapat tersebut. 


Dia tidak akan memberikan ancang-ancang atau pembelaan untuknya, bersikap santai dan tidak tahu apa-apa saat ini. Sampai dia bisa memberi hadiah untuk mereka.


Memang untuk saat ini adalah hal yang paling ia khawatirkan, karena dia harus melawan seorang yang mempunyai koneksi cukup kuat. Tapi itu bukan halangan baginya. 


Soni masuk setelah mengetuk pintu. Dia melihat Reza masih asyik dengan ponselnya. Bagi bosnya rapat hari ini bukan hal yang harus di takutkan tapi harus di hadapai dengan percaya diri. Agar lawan tidak bisa memandang remeh Reza yang begitu kuat. 


"Semua sudah kumpul, pak." Kata Soni berdiri di depan meja Reza yang sudah mengalihkan wajah tampannya ke arah Soni yang terlihat gugup. Dan berbeda dengan Reza malah memberi senyum di wajahnya. Tanpa rasa tegang sama sekali. 


"Apa kamu suka menyiapkan semua? Balas Reza hendak berdiri mengambil ponsel, di masukan kedalam jas.


"Sudah pak."


"Ayo. Jangan sampai mereka menunggu lama."


Reza berjalan di depan dan Soni mengikutinya di belakang badan bosnya. Para karyawan yang hilir mudik melihat begitu gagah saat pria itu berjalan dengan hentakkan kaki begitu lincah bak model yang sedang memperagakan busana rancangan seorang desainer di fashion week.


Para wanita berdecak kagum mata mereka tidak ada yang berkedip satu pun, arah mata terus saja melihat ke beradaan Reza hilang dari pandangan mereka saat memasuki sebuah ruangan besar.


Reza menghembus nafas. Berjalan masuk. Atasan tiap department sudah duduk ditempat mereka dan berdiri menghormati atasan mereka meski lebih muda dari pada mereka.


Dia duduk tepat di tengah. Soni duduk di sisinya. Taj jauh dari tempat Reza.


"Saya tidak akan basa-basi jadi rapat kita mulai sekarang." perintahnya. Dan semua mengangguk setuju. Reza mengambil profosal didepannya dan dia baca saksama. Berkas yang sudah penghianat itu siapkan. Begitu rapi. Seakan tidak menyentuh apapun dalam pembangunan apartemen.


Reza senyum simpul.


"Apa ada yang akan menjelaskan semua ini?" kata Reza. Mengangkat profosal melayang di atas dan setelahnya di hempas di meja sedikit membuat orang yang menyaksikan sedikit bergetar.


"Tentu saja ada. Pak Fredi yang akan menjelaskan semuanya." ucap pria berumur 50-an berambut putih bukan karena di warnai sengaja tapi emang sudah hormonnya.


"Kenapa tidak anda saja, Pak Hardian?" tanyanya menatap Hardian dengan mata elang. Tapi Reza harus bisa menahan emosinya saat ini. Tak mau rencananya nanti gagal. 


"Pak Fredi saja, Pak Reza. Dialah yang presentasi profosal ini." balas Hardian percaya diri. Menatap balik Reza seolah memberi tantangan.


"Anda memang pintar." Reza santai dan jari-jari  tangannya memgetuk pelan di atas meja. Tetap memperhatikan setiap orang dalam ruangan itu. 


Ada yang tegang. Ada juga yang terlihat percaya diri, seperti Hardian, Satya dan Fredi. Ketiganya terlihat tidak mempunyai beban apapun. Tenang. 


"Sebuah kehormatan mendapatkan pujian dari anda." jawab Hardian. Lalu tidak sabar dia beri perintah. Menatap Fredi. "Tunggu apa lagi Pak Fredi. Lakukan sekarang saya tidak mau rapat hari ini berjalan lama."


Seorang pria berdiri. Fredi dari bagian keuangan menpresentasi proposal yang dipegang oleh para peserta rapat.


Dari semua dana pengeluaran dan masuk, Fredi jelaskan semua.


Hanya butuh 15 menit dia menjelaskan presentasi selesai. Dan pria itu masih berdiri. Bila mana ada yang mungkin dari peserta rapat tidak mengerti.


Reza mengigit bibir bawahnya dan memainkan pulpen ditangan. Seakan memikirkan apa yang akan dia tanyakan.


"Dalam profosal ini, saya merasa ada perbedaan dalam presentasi anda Pak Fredi. PT. Antariksa Gunjaya adalah pembesut tender ini bukan, lalu kenapa dalam profosal ini anda menyebut PT. Dirgantara Brijasa? Bisa anda jelaskan?" tanyanya menatap pada Fredi yang berdiri dekat disisinya. 


Pria itu terkejut. Kaget. Gugup. Saat mendapat pertanyaan dari Reza. 


"Anu… itu maksud saya PT. Dirgantara Brijasa adalah anak perusahaan PT. Antariksa Gunjaya."


"Maksud anda. Kalian memakai contractor dari anak perusahaan yang tidak ada pengalaman? Kalian tahu PT. Antariksa Gunjaya sudah failed 3 tahun lalu. Harusnya kalian minta pertanggung jawab pada PT. Dirgatara Brijasa untuk semua ganti rugi yang ada. Bukankah dalam kontrak itu sudah jelas PT. Dirgatara Brijasa sebagai pihak ke dua dalam project ini."


"Itu… " Fredi tak bisa menjawab memang bukan jalurnya bila menjelaskan kontrak kerjasama itu. Fredi melempar pandangan pada Hardian dan Satya agar menolongnya. Tapi keduanya acuh tak acuh. 


"Cukup anda boleh duduk. Proposal atas nama Pak Hardian dan Pak Satya. Lalu kenapa Fredi yang melakukan presentasi macam ini. Kalian berdua yang bertanggung jawab dalam project apartemen bealuga. Saya minta penjelasan dari kalian berdua." Kata Reza mempersilahkan Fredi kembali ke tempatnya. 


"Pak Reza. Kami memang yang memegang itu semua tapi ini tidak lepas dari tanggung jawab Pak Galang dulu."


"Maksud kalian apa?"


"Kami sudah memberi semua modal pada anak perusaahan tersebut langsung. Atas izin beliau. Kami hanya menuruti semua."


"Kalian lepas tangan begitu. Kalian tahu proyek ini hampir menghabiskan uang 500 milyar. Dan pembangunannya butuh 5 tahun malah berhenti di tahun ke 2 yang harusnya selesai 1 tahun lalu. Apa ini kesalahan contractor-nya apa memang dana yang dikeluarkan tidak disalurkan atau dananya tidak一"


"Pak Reza itu…."


"Saya belum selesai bicara Pak Hardian. Kalian kan tahu apartemen ini project paling besar di antara project lainnya. Bagaimana bisa kalian memakai contractor biasa saja. Apakah untuk menghemat uang??" ucap Reza keras membuat mereka dalam ruang cukup tersentak kaget dan parah dingin yang ditunjukkan.


"Bapak menuduh kami." Satya angkat suara. Dan menatap Reza dengan rasa tidak suka.


"Saya tidak menuduh? Lalu kemana dana itu? material bangunan ditempat pun tidak ada. So, no money, indeed you tricked the contractor  or your mistakes." Bela Reza. Tidak mau kalah dan bersikeras.


Hardian dkk terdiam. Tidak bicara. Terjebak oleh  pembelaan mereka sendiri.


"Saya minta kalian kumpulkan data-data yang saya minta. Soni akan memberikanya setelah ini. Rapat saya tutup. Kita lanjutkan nanti lusa. Saya harap dapat kabar baik dari kalian bertiga." ucap Reza lagi. 


Setelah berpamitan Reza maupun Soni langsung keluar dan diikuti yang lain. Hardian dan Satya geram dengan hasil rapat tadi. Sedangkan Fredi menunduk takut akan dua pria itu yang terlihat kecewa menatap tajam. 


"Aku kesana sekarang." jawab Reza dengan orang di ujung telepon. Dan menyimpannya ke dalam jas. Lalu masuk ke dalam lift khusus. Soni juga. "Son, kamu siapkan berkas yang akan kita beri kepada mereka. Aku keluar sebentar. Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku."


"Baik pak."


Reza keluar dari lift menuju mobil yang sudah siap di depan. Soni kembali ke ruangan untuk melakukan tugas yang diberikan Reza.


•••


Reza sampai di kediaman keluarga Winajaya, dia mendapat telepon sebelumnya itu dari Galang ayahnya. Dia disambut oleh Ilyas asisten dan juga sekretaris Galang dulu yang setia menemani pekerjaanya semasa menjabat dan sekarang dia masih bekerja dengan Galang sekedar membantu menghandle usaha keluarga yang lain.


"Pak Galang sudah menunggu." Ilyas memberikan arahan pada Reza untuk mengikutinya. 


Reza dan Ilyas berjalan melewati lorong cukup panjang menuju ruang kerja Galang. Reza masuk dan Ilyas menunggu di luar.


"Kenapa ayah memanggilku? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Reza saat sudah masuk, pintu tertutup.


"Ini, kamu lihat saja. Pasti kamu akan membantu masalahmu." Galang memberikan dokumen yang dia ambil di laci meja. Diberikan pada Reza. Mata menatap tajam. 


"Kamu tahukan project apartemen bealuga. Ayah pernah menyelidikinya dulu一namun tidak ada titik terang kenapa project ini gagal. Sementara contractor yang kita pakai mereka merasa tidak mengambil bagian dana itu. Mereka menerima, dengan 3x tahapan. Kenapa perusahaan mereka failed, itu karena untuk menutupi dana yang tak pernah mereka dapatkan." Jelas Galang.


Reza membaca dokumen itu dengan teliti. Tapi tidak ada rasa terkejut sama sekali.


"Menurutmu Hardian dkk menggelapkan dana itu dan bagaimana dengan anak perusahan yang kita pakai. Saat mereka menuntut bayaran. Padahal di dalam kontrak kita sudah membayar一"


" Ayah tahu aku juga menyelidiki kasus ini. Sudah aku dapatkan buktinya. Dan mungkin dalam tiga hari ini mereka akan mendekam dalam penjara."


Galang mengerutkan dahi. "Benarkah, Reza? Itu bagus. Ayah harap mereka yang segera ditangkap agar mereka tidak mengambil uang perusahaan."


"Tentu saja, mereka akan menerima balasannya. Aku juga punya rencana lain. Mungkin akan lebih cepat memasukan mereka." cetus Reza sambil mengepal tangan.


"Apa itu?" mata Galang menyipit.


Dalam ruang hening. Reza belum menjawab. Dan menimbang-imbang. Menghembus nafas pendek seakan siap akan jawabannya. "Aku berniat untuk mengajak Fredi kerjasama一dengan imbalan itu, Reza yakin dia akan setuju."


Galang menelan ludah. "Kamu yakin dia akan setuju?"


"Pasti, dia akan setuju. Aku yakin itu."


Dalam sejenak Galang masih tidak buka suara. Ia pun berdecak kagum. "Ayah percaya denganmu."


Reza tersenyum. Mendapatkan dukungan penuh dari ayahnya. Ia akan menjaga dan melindungi keluarga dan perusahaanya dari tangan orang jahat sekalipun.


"Terima kasih, ayah."


"Kamu memang anakku." bisik Galang sembari menepuk pundak Reza.


Disisi lain, Luna dan Abel sedang menunggu di depan bandara. Mereka melihat seorang pria paruh baya datang menghampiri. Kedatangannya seorang diri. Dengan menggunakan mantel hitam dengan panjang dibawah lutut. Cukup menawan. 


"Ayah." panggil Luna keras. Melayangkan telapak tangannya ke arah Gege. Memberikan pelukan.


"Luna." balas Gege, melonggarkan pelukannya dan sedikit menundukan badannya menyapa si kembar mengajak bicara. "Hai, cucu-cucuku, apa kalian sehat?" Gege mendekatkan telinganya di perut Luna.


"Sehat kakek." jawab Luna dengan suara anak kecil. Mewakili. 


"Hai, Om Gege apa kabar?" sapa Abel memberi kode keberadaanya. 


"Abel. Om sehat. Kamu apa kabar?" jawab Gege.


"Seperti Om lihat. Abel sehat." Balas Abel.


"Reza nggak bisa jemput dia ada rapat."


"Ayah maklumi. Ayo kita bergegas sekarang. Kamu pasti lelah."


Mereka masuk kedalam mobil. Dikemudikan oleh Pak Yanto. Reza mengemudi sendiri. Perjalanan butuh satu jam sampai rumah. Gege sangat ingin tahu dengan pelaku yang sudah menabrak anak sulungnya dan cucu-cucunya. Tidak ingin lihat wajah pelaku karena cukup dengan mendengar pelakunya tertangkap Gege sudah bersyukur. 


Luna menceritakan semua yang dia tahu pada Gege. Ia terkejut saat mengetahui pelakunya adalah teman sekolah Luna dulu. Gege tahu ini pasti berat untuk Luna. Tapi dia yakin Luna akan menerima dengan lapang dada.


Mengalihkan pembicaraan Gege memberikan bingkisan dari Barrack adiknya. Karena dia tidak bisa ikut.


"Aku kangen sama Barrack dan Deleena." rajuk Luna menyandarkan kepalanya di bahu Gege. 


"Mereka juga kangen kamu kok." Gege mengelus lembut rambut kepala Luna. " Ayah ingin ziarah ke makam larasati dan Anggi. Apa kamu tidak keberatan kita kesana dulu sebelum kita kembali kerumah?"


"Nggak apa-apa." balas Luna. "Pak Yanto kita ke makam ibu sama kakak dulu ya." Yanto setuju. lalu menoleh pada Abel. "Bel, keberatan nggak?"


"Tentu saja nggak."


"Thanks ya."


Pak Yanto berputar kembali ke arah sebaliknya untuk ke area pemakaman yang dituju. Hingga mereka sudah berada di pemakaman umum. Di sana mereka tidak lama, hanya mengucapkan salam dan doa lalu pergi kembali karena cuaca sudah mendung meski masih siang. Kembali ke perjalanan semula yaitu rumahnya.


♥♥♥