Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
43. Syukuran



♥♥♥


Peringatan meninggalnya Lisa maupun Anggi nggak sengaja bertepatan dengan acara syukuran rumah baru mereka. Lalu acara ulangtahun Biboy sama dihari ini juga. Memang kebahagian dan kesedihan bercampur aduk tepatnya. Tapi memang dimana ada kebahagiaan disitu juga ada kesedihan. 


Setelah dua jam lamanya dengan mengundang para tetangganya, orang terdekat dan anak panti asuhan yang sengaja diundang untuk acara ini. Bukan hanya acara saja tapi bersilahturahmi juga dengan semuanya.


Karena keluarga dari Luna tidak hadir hanya bisa berinteraksi lewat ponsel tapi itu sudah mewakili kehadiran mereka. Ia tahu kalau mereka juga ingin datang tapi mereka tidak bisa meninggalkan kerjaan disana. Mereka hanya bisa mendoakan dalam hati. 


Kepulangan para tamu sedikit-sedikit pergi dari rumah. Dan hanya menyisakan dari keluarga inti mereka termasuk Rani dan Yuda yang sudah dari tadi berada dirumah ini mendapatkan undangan khusus.


Biboy membuka hadiah ulang tahunya dari keluarga besar yang memberikan begitu banyak kado. Tapi kado yang spesial adalah kado dari Luna dan Reza seekor kucing scottish fold. Kucing ini berasal dari Skotlandia sengaja dipilih karena untuk merawatnya tidak begitu susah. 


"Mommy! Daddy! Terima kasih." ucap bocah kecil itu mengambil kandang kucing pemberian orang tuanya. Membuka kunci kandangnya dan digendong kucing itu dan mengelusnya lembut.


Luna senang. "Kamu suka?" serunya dan menatap anaknya yang terlihat menyukai kucing itu. Sembari memberikan elusan pada kucing yang Biboy gendong.


"Suka!" singkatnya. Sekilas memberikan kecupan pipi pada kedua orang tuanya dengan senyum lesung dipipi khas bocah itu. Sangat manis. 


Lalu Abel dan Rara ikut nimbrung karena kepo dengan hadiah yang diberikan Luna dan Reza yang membuat bocah itu terus tersenyum lebar. Ia sehingga kesenangannya hampir terdengar di tempat Abel dan Rara duduk.


"Kucing scottish fold? Kenapa nggak persia?" tanya Abel melihat kucing yang dipegang Biboy. 


"Kucing itu lebih cocok sama Biboy. Dari pada persia. Lebih macho." balas Reza sambil mengangkat kedua otot tangannya memperagakan gerakan 'macho' layaknya atlet.


Mereka tertawa dengan celotehan Reza yang terlalu kekanak-kanakan. Namun tak lama Reza berpindah tempat bersama para pria lainnya diluar tempatnya di depan halaman duduk sambil menikmati secangkir teh hijau.


Reza duduk disamping Yuda dan disisi lainnya ada Aldo yang cukup akrab.


"Sepertinya asyik sekali apa yang kalian bicarakan?" tanya Reza menatap sekilas ke Aldo dan Yuda yang sembari tadi asyik mengobrol seakan ada hal yang menyenangkan dengan obrolan mereka berdua. 


Aldo menyeritkan alis. Reza pasti tidak suka dirinya dekat dengan Yuda yang notabenenya Aldo adalah mantan atau cinta pertama dari istrinya. 


Yuda buka suara. "Kami sedang membicarakan tentang kerjaan." 


"Benarkah?" tanya Reza seperti keduanya berbohong padanya. Reza tak peduli dan menyeruput teh hijau yang sudah dia dapatkan dari asisten rumah tangganya. 


Aldo tersenyum. "Iya. Kenapa memang? Apa kamu kepo dengan yang kita bicarakan?" balasnya sambil menatap penasaran pada kakak angkatnya ini. 


"Tidak lupakan saja." Reza kembali meletakkan cangkir tehnya di atas meja kaca.


Melupakan perkataan sebelumnya. Mereka memulai bincangan baru tentang profesi mereka bertiga dan memberikan motivasi dengan cara mereka sendiri hingga mereka larut dalam obrolan mereka.


Reza berniat membuka pembicaraan yang mungkin akan membuat kakak iparnya itu terkejut tapi dia ingin bantu karena semalam saja Luna terus bermimpi buruk menyebutkan nama Anggi kakaknya di sela tidurnya.


Membuat Reza cemas. Karena Luna sedang hamil muda dan tidak mau membuat Luna terlalu banyak berpikir dan stres dengan pikirannya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu sama Mas Yuda. Ini sedikit pribadi sih." Reza memberanikan diri meski tak enak hati karena mereka tak begitu dekat sebelumnya. 


Yuda penasaran. "Tidak masalah. Tentang apa?" 


Reza menelan salivanya sebelum membuka ucapannya ternyata lebih tegang daripada bertemu dengan orang tua istrinya sendiri. "Ini tentang…?" Sial susah sekali bicara begitu saja. Pikirnya dalam hati. 


"Aku tahu… tentang mendiang istri saya kan?" Yuda sengaja menebak karena sebelumnya Luna memberi tahu tentang niat suaminya membatu kasus kecelakaan Anggi yang sudah lama.


"Mas tahu darimana? Luna?"


Yuda mengangguk membernarkan. Dan mengelus memukul bahu Reza pelan. "Susah amat mau bilang gitu saja. Nggak usah tegang. Saya nggak akan gigit kamu kok. Nanti saya malah diterkam balik sama istri kamu." ucapnya memberi sedikit candaan agar Reza bersikap santai. 


"Mas Reza memang begitu orangnya nggak enak hatian." timpah Aldo menyeringit kearah Reza yang sudah terlihat santai. 


"Sialan kamu, Al."


Tidak butuh lama Yuda menceritakan semua dengan detail. Memberitahu tanggal dan tempat kejadiannya. Dan dimana istrinya sempat dilarikan kerumah sakit mana. Reza terus mendengarkan dengan seksama dia begitu ingin tahu dan ingin juga menangkap pelakunya yang tega menabrak kakak istrinya.


"Ada CCTV di tempat itu? Kita bisa melacak mobil plat nomor tersebut dan melihat daftar nama pemiliknya." Kata Reza.


"Saya memiliki rekaman CCTV itu dan setelah Anggi dinyatakan meninggal saya langsung memerintahkan orang mengambilnya dan mengeceknya. Sehari setelah tabrakan. Saya mengecek daftar plat tersebut, anehnya flat nama itu tidak terdaftar. Makanya sampai sekarang kita belum menemukan pelakunya."


"Ini sengaja dihilangkan. Sepertinya yang menabrak mendiang Kak Anggi adalah orang yang mempunyai koneksi dengan mereka. Apakah aku boleh melihat rekaman itu? biar orang aku yang mencari, aku yakin tidak lama pelakunya akan tertangkap."


Yuda sedikit diam belum bicara. Merasa ragu dengan niatan Reza. Tapi dia berpikir kembali yang dibilang oleh pria itu. Pelakunya sengaja menghilangkan jejak. Sehingga empat tahun ini dia tidak bisa menemukan buktinya.


"Baiklah bagaimana kalau besok kita bertemu kembali di suatu tempat untuk membicarakan ini."


"Tentu saja. Itu ide yang bagus."


"Apa aku juga boleh ikut bergabung? Ayolah please." kata Aldo merasakan penasaran karena seperti detektif yang mengungkapkan kasus yang belum terpecahkan.


Reza dan Yuda beradu pandang melihat tingkah Aldo yang terlihat kepo. "Baiklah. Sepertinya kita bicarakan ini di restoran kamu. Bagaimana?" Reza memandang pada Yuda dan Aldo. Dan tidak salahnya juga bila Aldo ada dia juga orang yang bisa diandalkan saat ini. 


"Setuju." keduanya menjawab. 


•••


Selesai acara keluarga dan teman mereka pulang dari rumah mereka. Luna bergegas masuk ke kamar mandi dan membuka pakaiannya. Dan ia berendam di bathtub dengan menggunakan sabun aroma lavender kesukaan dirinya dan mencium aromanya membuat Luna lelah berkurang. Meskipun tidak banyak hal yang dilakukan tapi tubuhnya terasa lelah. 


Cukup lama merendam ia mengguyur tubuhnya dengan shower dan menikmati guyuran air dingin di tubuhnya yang sudah terasa menggigil. 


"Dingin banget!!"


"Kamu nggak mandi?" tanya Luna melihat Reza sibuk dengan ponselnya dan menoleh pandangan menggoda.


"Kamu nggak ajakin aku mandi bareng?" Sahut Reza bangkit mengarah pada Luna yang berdiri di sisi kasur dan berhadapan memandang istrinya.


"Nggak. Mandi sama kamu bisa ngabisin waktu lama." tanggap Luna sengaja membuat Reza kesal karena dia ingin menggoda suaminya. 


Reza menarik pinggang Luna pelan karena ia tahu ada bayi didalam perut istrinya. Merapatkan tubuhnya dan memandang wajah wanita di hadapannya dan mencium harum wangi di tubuh Luna yang dia sukai.


"Kamu makin cantik aja." Reza terus memandang penuh ke arah wajah Luna tanpa polesan make up.


Luna malu mendapat pujian dari suaminya meskipun sudah mendengarkan beberapa kali keluar dari mulut manis pria itu. Tapi merasakan sihir yang dipancarkan oleh mata dan mulut suaminya yang membuat dia bisa tersipu malu.


"Kamu mau menggodaku hah?" Luna melingkari kedua tangannya dilekuk leher Reza dan merasakan detak jantung suaminya. 


Reza tak menjawab dia menundukkan wajahnya dan menempelkan bibirnya singkat. Dan memandang lagi wajah Luna lalu melumat bibir ranum istrinya lembut dan menuntun cumbuannya hingga Luna membalas ciumannya dan memejamkan matanya menikmati keintiman keduanya.


Reza mengangkat tubuh Luna dengan ala bridal dan tanpa melepas ciuman keduanya dan berbaring di kasur king size milik keduanya. Keduanya semakin panas sehingga nafas mereka tak beraturan. 


Namun aktivitas mereka berhenti begitu saja saat suara pintu terdengar. Suara cempreng memanggil keduanya terdengar samar-samar.


Mommy! Daddy! 


Reza merasa kesal. Karena acaranya selalu tidak tuntas diganggu oleh putranya. Luna mendorong tubuh Reza. Menghampiri pintu dan membuka seorang anak kecil yaitu Biboy berdiri tepat di depan membawa boneka teddy bear yang dibeli jepang dulu.


"Aku mau tidur sama Mommy." Runtuknya.


"Ayo masuk."


Luna membawa Biboy masuk dan menutup kembali pintunya dan melihat Reza duduk di kasur dengan raut wajah kesal melihat putranya sudah naik di kasur dan berbaring dengan memeluk bonekanya. 


"Daddy kenapa cemberut?!"


Reza tidak menjawab dan turun dari kasur menuju kamar mandi. Luna geli dengan tingkah suaminya yang merasa kesal karena Biboy mengganggu acara keduanya.


Nggak bisa lihat Daddynya senang. Batinnya. 


Beberapa detik kemudian Luna terkejut saat itu Reza menarik tangannya untuk ikut namun ia menahannya.


"Mas Reza?"


"Kamu juga harus mandi lagi Luna?"


"Tapi…?"


Reza memandang kearah Biboy yang masih menatap keduanya penasaran. "Biboy, Daddy akan mandi dulu dengan Mommy kamu tunggu disini lihat tayo."


"Yes, Daddy."


Reza bergegas menarik Luna masuk ke kamar mandi. Entah apa yang mereka lakukan. Siapa yang tahu?!! 


Setengah jam kemudian Luna dan Reza keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap dan langsung naik kasur king size dan berbaring di sisi anaknya yang masih fokus menonton video.


"Jangan banyak menonton. Mata kamu nanti rusak kalau keseringan." Luna mengambil lembut ponsel milik Reza dan meletakkannya di atas nakas. Bocah kecil itu diam tanpa merengek dan memeluk Luna.


"Sebaiknya kamu tidur!!" Luna mengelus punggung anaknya dan menariknya ke dalam dekapannya agar lebih nyaman.


Biboy menggeleng. "Mommy mau punya baby?"


"Iya. Kamu bakalan jadi kakak."


Reza menaiki kasurnya dan melihat keduanya sedang asyik berbincang.


Kemudian Reza menarik tubuh Biboy ke arahnya dan menggigit pipi embul putranya. Dengan reflek bocah itu mengangkat tangannya pada wajah Reza.


Pletak!


Kening Reza ditabok Biboy dan pura-pura kesakitan. Karena tabokan anak kecil tidak menyakitkan untuk dirinya. 


"Aw! kamu kenapa nabokin Daddy?"


"Pipi Biboy sakit."


Bocah itu menjauhkan diri dan masuk kedalam pelukan Luna yang sembari tadi menertawakan Reza. Pertama kali melihat Reza dipukul oleh anaknya sendiri. 


"Sayang kamu ketawain aku sih. Sakit tau?" seru Reza minta perhatian pada istrinya. Dengan raut wajah sok kesakitan dan memelas agar istrinya merasakan kasihan padanya. 


Luna memanyunkan bibirnya ke arah Reza. "Itu salah kamu. Main gigit-gigit pipi anak sendiri. Kamu pikir bakpao." Ia mengeratkan pelukannya pada putranya.


"Kasian deh lo…" cibir bocah kecil lalu mengumpat di dekapan Luna.


Merasa kesal dengan anaknya Reza menggelitik perut buncitnya hingga bocah itu menyerah karena kegelian.


Daddy! Daddy! Ampun


Reza menyudahi bermain gelitikannya dan mencium kening anak dan istrinya agar cepat tidur. Mereka pun tertidur dengan pulas dan saling berpelukan.