Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
45. Ide Gila



♥♥♥


"A-ayah, apa kabar?" suara Luna sedikit berat dan menahan tangisannya. Sangat merindukan pria itu. Rasa ingin bertemu begitu kuat. Mungkin bawaan hamil.


"Tentu saja baik. Apa kamu baik? Bagaimana dengan cucuku apa mereka juga baik?" Gege begitu cemas, insting seorang ayah juga tidak bisa dibohongi. Suara berat anaknya begitu membuat dirinya merasa disasak begitu sakit, karena juga merindukan putrinya. Dan pura-pura tidak tahu saja.


"Hmm, aku baik dan begitu juga mereka sangat baik." balas Luna.


Keadaan sesaat hening tak ada suara. Namun Gege cepat membuka suara. "I miss you, Luna. Maaf ayah nggak selalu ada untukmu." berat hati mengucapkan kata itu. 


"Aku juga." kini Luna tidak bisa menahan tangisannya tak peduli dengan suaranya begitu keras, toh dia ada berada didalam kamar sendiri. Ia menumpahkan semua kerinduannya.


"Hei, jangan menangis. Kamu ini sudah punya suami dan anak tapi masih saja menangis seperti bocah saja."


"Aku nggak peduli. Aku mau ayah kesini. Aku rindu kalian juga."


"Ayah tau. Tapi ayah masih banyak kerjaan sayang. Kamu mengertikan?"


"Iya."


Acara teleponan pun cukup lama untuk keduanya, mau video call tapi dia diurungkan, dan tidak ingin ayahnya melihat ia menangis dan membuat khawatir. 


Cukup untuk melepaskan kangen dengan ayahnya, dia menutup panggilan dan masih duduk di pinggir kasur. Memandang ke arah jendela cuaca begitu cerah hari ini tapi entah dia tidak begitu semangat. 


Luna memutuskan untuk turun kebawah menuju ruang keluarga sudah ada keberadaan Abel dan Aldo sedang duduk sembari menikmati goreng pisang. Lalu cepat menghampiri keduanya dengan tatapan tajam.


Padahal dia sengaja minta belikan Surti tadi. Karena dia harus menelpon ayahnya dia meninggalkan acara makan goreng pisangnya menuju kamar. 


Tapi ternyata gorengan itu sudah lebih dulu dimakan oleh kedua adik iparnya. 


Luna cemberut. "Itu kan pisang goreng aku. Kenapa kalian makan?" menatap keduanya secara bergantian dan melihat pisang goreng yang mereka makan. 


Gawat orang hamil ngamuk. Batin Abel. 


Tahu begitu aku nggak akan makan ini pisang goreng kalau punya Luna. Abel sialan nih. Batin Aldo


"Kok malah pada diam saja?" tanya Luna lagi.


"A-aku nggak tau orang dari tadi sudah ada di meja ini. Ya, kita makan. Maaf ini aku simpan lagi." sahut Abel dan meletakkan goreng pisang yang sudah digigit separuhnya. Sebenarnya sudah tiga goreng pisang yang sudah dimakannya. Dari pada dia mendapat amukan dari orang hamil.


"Aku juga nih" Aldo meletakkan kembali. Sedangkan dirinya dua goreng pisang yang sudah dimakan dan karena memang enak.


"Jorok! Aku nggak mau. Kalian habiskan semuanya jangan sampai tersisa diatas piring."


"Apa… ?" Keduanya kaget. 


"Ini hukuman dan ini juga permintaan si kembar. Kalian nggak mau nurutin anak-anak aku?" ucap Luna sambil mengelus perutnya.


"Ini banyak banget... " Abel menghitung goreng pisang ternyata ada sepuluh biji lagi. "Aldo, kamu 5 dan aku juga 5." saling membagi-bagi.


"Tapi aku kenyang..."


"Kamu mau diamuk ibu hamil."


Aldo menoleh pada Luna, benar saja wanita itu benar sedang menatap tajam seakan memberikan perintah untuk menghabiskan makanan itu tanpa membantah perintahnya. 


Rasain aku kerjain. Batin Luna.


Luna melihat kedua orang itu melahap semua goreng pisang hingga tak tersisa. Sesaat merasa senang dan terhibur dengan datangnya mereka berdua. Dan sedikit melupakan kerinduan pada ayahnya.


"Ah! Aku kenyang…?" keluh Abel mengelus perutnya terasa begah. Dan begitu juga dengan Aldo melakukan hal yang sama.


Lalu Surti membawakan es sirup rasa jeruk untuk keduanya. Sedangkan Luna hanya air putih biasa karena sedang hamil dia mengurangi minum es berwarna dan juga coffee. 


"Ini minumnya." Surti meletakkan minumnya dan melangkah kembali ke dapur.


"Terima kasih."


Abel mengambil minum tersebut, "Luna memang kejam." lalu meminumnya hingga tandas dan melekatkan kembali ke meja. "Si kembar juga tegak, sama saja kalian bertiga." Abel terus mengeluh karena sakimg kenyang berasa perutnya mau meledak. 


Luna tertawa, "Itu salah kalian juga." katanya "Rara kok nggak kesini sih?" tanyanya.


"Bentar lagi juga sampai."


"Semalem Mas Reza aneh banget minta buku tahunan sama aku. Buat apa ya? Punya aku hilang nggak tahu kemana." cerita Luna pada keduanya merasa sedikit aneh dan penasaran.


"Sama dia juga minta itu. Buku tahunan aku sudah dibuang kayaknya. Karena aku jorok menyimpannya dimana-mana." Abel juga menjadi penasaran.


Aldo hanya bisa diam. Tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Luna dan Abel karena memang tak mau mereka ikut campur biarkan dia dan tiga pria itu yang mengatasi semua ini. 


"Kamu tahu sesuatu, Al?" tanya Luna melihat pria itu gelisah.


Aldo hanya mengangkat kedua bahunya tak tahu dan tersenyum masam. 


Tak lama Rara datang dengan sebuah tas jinjing yang dibawanya dan langsung memberikan itu pada Aldo. Sontak membuat Luna dan Abel berbidik penasaran pada tas yang Rara bawa.


"Itu apa?" tanya Abel.


Belum sempat menjawab Aldo cepat mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, minggu depan ada reuni tapi khusus kelas kita saja. Acara makan-makan saja sih. Pada mau ikut nggak?" katanya sedikit lega. 


Untung saja. batin Aldo


"Makanya ikut group. Kemana saja kalian." sahut Aldo mencibir ketiganya. "Gaul dong. Jangan bertiga melulu. Dasar geng bajaj." tempiknya lagi. 


"Masukin dong kita-kita." Pinta Luna.


Rara dan Abel pun mengangguk setuju dengan Luna. Tak butuh lama Aldo sudah memasukkan ketiganya masuk grup lumayan rame saat ada nomor baru masuk. Ternyata Aldo adalah Admin di grup pantas dia bisa memasukkan ketiganya dalam waktu singkat. 


"Terima kasih Aldo." ketiganya.


•••


"Ini bukti transaksi mereka, pak?" Seseorang memberi amplop berisi lembaran pada Reza.


Ia pun membaca tiap lembar laporan yang diberikan Raka. "Apa benar mereka berhubungan?" tanyanya.


"Benar pak." balas Raka dan memberikan ponselnya pada Reza untuk segera dilihatnya. 


"Bukankah ini... " tukas Reza saat melihat video yang diputar. 


"Dugaan bapak benar. Mereka berhubungan. Tapi kita belum punya banyak bukti untuk menuduh mereka. Karena mereka benar-benar rapi dalam menjalani semua transaksi mereka." ucap Raka. 


"Sudah aku duga… baiklah kamu bisa cari kembali bukti-bukti lainnya. Yang penting kita sudah dapat kunci mereka." kata Reza sejenak. "Lalu bagaimana dengan pengecekkan plat mobil itu."


"Baik pak." singkatnya. "Saya sudah mengecek, mereka sudah membayar seseorang untuk menghapus data tersebut. Tapi kita harus mengeluarkan banyak uang untuk itu."


"Lakukan, berapapun aku bayar."


"Baik saya mengerti."


Raka berjalan cepat meninggalkan ruangan. Memang untuk mencari bukti tersebut membutuhkan waktu yang agak lama tapi untuk Raka bisa melakukannya dengan waktu singkat. Meski ini bisa membahayakan nyawanya sendiri.


Saat akan membereskan semua lembaran itu suara chat masuk terdengar dan mengambil ponselnya.


From: Aldo


Apa kakak bisa datang ke restoran, Aku dan Mas Yuda sudah sampai. Aku membawanya.


To: Aldo


Aku kesana sekarang. 


Sudah membalas chat dia langsung keluar dari ruangan dan berhenti tepat di meja Soni "Aku keluar sebentar. Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku segera."


"Baik, pak."


Reza beranjak dari kantor ke restoran ldo yang tidak jauh. Hanya berjalan kaki saja beberapa menit sudah sampai. Benar saja Yuda sudah duduk manis melihat sebuah buku yang tebal yang diperkirakan adalah bukti kecil yang Aldo maksud. 


"So, bagaimana?" Reza duduk diantara keduanya yang masih sibuk menyamakan gambar di buku dengan foto di layar laptopnya. 


"Ini sama. Bagaimana menurutmu?" Yuda memberikan buku itu pada Reza. 


Ia terus memperhatikan tiap inci ganbar itu. Memang apa yang dilihat sama persis dengan apa yang ada di rekaman CCTV.


"Tapi kita masih butuh bukti lain selain inikan. Mobil itu sekarang dimana?" Aldo terus bertajuk misteri ini semakin menarik. 


Yuda melipat kedua tangannya didada. "Kamu benar sekarang yang kita harus cari adalah dimana mobil itu berada."


"Itu biar Raka yang urus yang penting kita sudah punya beberapa bukti untuk menemukan pelakunya. Kita masih belum bisa meneduh wanita itu, bukan." Reza menambahkan penjelasannya.


"Aku ada ide?!" gambalng Aldo. "Mungkin ini ide paling gila. Tapi juga mungkin bisa berhasil karena untuk melakukannya butuh wanita itu langsung sebagai sasarannya." katanya ide begitu saja keluar dari otaknya. 


Reza penasaran "Maksud kamu?" 


"Ah! Aku tau, maksud kamu dekatin wanita itu?" Yuda mencerna semua ide Aldo yang memang sedikit gila. 


"Maksud kamu Al? kamu mau deketin dia?" Reza terus berputar-putar. Kenapa perasaanku tidak enak. Batinya. 


Aldo memandang kearah Reza. Sedangkan yang merasa dipandang mengerutkan salah satu alisnya keatas. 


Kenapa Aldo lihatin aku. Nggak beres ini. Kata Reza dalam hatinya.


"Heh! Jangan bilang…" Reza tolak melayangkan tangannya. "Aku nggak mau, kamu saja yang deketin itu orang. Ogah!! Aku sudah punya Luna." bentaknya menolak. 


Aldo tertawa pelan melihat tingkah konyol Reza yang ketakutan. Ya, memangnya siapa juga yang mau sama wanita stres seperti Alisha. 


"Kalau aku yang deketin dia nggak akan mau mungkin malah dia curiga. Lagian cuma deketin buat hal-hal biasa nggak dibuat pacaran atau selingkuhan kok." Jelas Aldo memberikan penjelasannya lagian ini untuk membuktikan semua kasus empat tahun yang lalu. 


"Sama saja. Oncom!! No!! Nggak nanti malah bikin masalah besar aku sama Luna. Cari yang lain saja." ucap Reza terus menolak dan berdiri kesana kemari mencari ide yang lebih waras bukan ide gila Aldo yang cukup ekstrim.


Aldo dan Yuda juga terus memikirkan ide lagi yang pas untuk keduanya. Tapi entah kenapa hanya ide itu saja yang bisa dianggap berhasil. Alisha tidak akan menolak apa yang Reza mau karena wanita itu memang cinta atau obsesi terhadap pria mapan dan tajir itu. 


Reza menghela nafasnya. Seakan dirinya menyerah untuk memikirkan ide yang bagus. Otaknya sudah lelah.


"Jadi bagaimana ada ide lagi?" sahut Yuda pasrah. 


Aldo dan Reza hanya mengangkat bahunya seolah tidak mendapatkan apa-apa.


Reza menghela nafas panjang. "Apa hanya ide saja?"


♥♥♥