Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
73. Kejutan Untuk Reza



Sorry banget baru bisa update 😭 karena memang sibuk kerja, mau nulis malas 😔 karena memang kalau sudah sibuk sama kerjaan, nggak ada inspirasi buat nulis alias ngeblank, jadi bingung sendiri 🙄


Selamat membaca ya!! 😍


♥♥♥


Masih berada di kediaman Winajaya, Luna maupun anak-anaknya sembari tadi. Bukan betah berada di sini, tapi memang ada urusan. Minus Reza_


Suasana sore begitu ramai dengan anak, menantu, dan cucu. Mereka berkumpul bercanda gurau dan saling bercerita menunggu sesuatu hal tiba. 


Para pria masih sibuk dengan tugas mereka, menyiapkan segala sesuatunya. Sedangkan para wanita mengurus hal yang memang harus dikerjakan, semuanya di sini sudah punya tugas masing-masing, kecuali anak-anak mereka yang memang sedang bermain khusus yang disediakan di kediaman ini, mertuanya sengaja membuat taman bermain seperti timezone di rumah untuk cucu mereka bila datang kemari jadi mereka tidak bosan kalau datang. 


Memang keluarga Winajaya itu sangat royal dan juga dermawan pada siapapun. Keluarga Winajaya termasuk keluarga terkaya di Asia, meski tidak masuk top 10 tapi seenggaknya masuk bagian juga. 


Kesibukan semakin berkurang karena semuanya sudah hampir selesai, mereka memutuskan untuk beristirahat sementara sekedar minum atau makan snack yang sudah disediakan.


"Luna kemana, Bang?" tanya Abel pada Soni sembari menyodorkan es sirup orange untuk suaminya yang terlihat kelelahan membantu pekerja menyiapkan untuk malam nanti.


"Tadi aku lihat ada di halaman belakang deh, duduk di gazebo sama ayah mertua. Kenapa?" Soni, meletakkan gelas yang berisi es sirup yang diberikan Abel diatas meja.


"Pantesan, tadi aku cariin dia nggak ada, galau dia, abis di ceramahin Mbak Sarah kayaknya." Jelasnya. 


Soni mengerut alisnya, "Kok bisa, kenapa memang?"


"Biasalah, kesalahan kecil di buat besar sama Mbak Sarah. Luna sengaja matikan ponselnya, memang mau kasih kejutan buat malam ini."


"Oh, pantes! Tapi Luna memang salah sih, kamu tau seharian kakak kamu uring-uringan karena ponsel Luna nggak aktif, galau abis deh. Tahu sendiri Reza kalau sudah galau gitu, habis yang ada di hadapannya. Marah nggak jelas, kacau banget deh tadi di kantor. Semua kena!"


"Posesif banget sama istri. Nggak boleh inilah nggak boleh itulah. Apa-apa harus bilang kasian kali Luna kalau begitu. Heran sama Kak Reza, terlalu obsesi."


"Wajar dong. Luna istrinya, dia orang yang sangat dicintainya, cuma dia yang bisa meredam sikap keras Reza, dia juga nggak mau kehilangan lagi orang yang dia sayangi. Makanya dia begitu posesif sama Luna. Itu juga demi Luna, kamu berpikir positif aja, jangan banyak mikir hal negatif tentang kakak kamu sendiri aku sudah lama sama dia, jadi aku tahu kalau Reza itu sayang dan cinta sama istri dan anak-anaknya." 


Ungkap Soni panjang lebar membuat Abel begitu terkesima akan ucapannya, hanya bisa membalas dengan anggukan saja, karena memang benar kata Soni hingga dia tidak bisa menjawab apapun.


"Sekarang jam berapa bang?"


"Jam setengah enam, bentar lagi."


"Yang-nanti telepon kak Reza siapa, bang?? Harus yang menyakinkan. Jangan Abel atau kamu malah nggak percaya nanti."


"Tenang aja, Mas Abdul yang bakal telepon nanti. Dia kan orang paling serius, pasti ucapannya bakal bikin Reza yakin deh, aku harap nanti kalau tahu, siap aja di amuk sama banteng, tanduknya pasti keluar tuh. Serem pake banget."


"Lebih serem lagi, kalau yang keluar buntutnya. Mau nggak mau harus siap, siap di lempar ke sungai amazon di makan ikan piranha."


"Nggak ada yang lain bang, serem banget kalau di makan piranha, di lempar ke luar angkasa aja, apa boleh?"


"Coba nanti kita nego sama kakakmu."


"Minta ampun aja deh, yang aman."  Abel memang lebih takut dengan Reza di bandingan kakak pertama, Abdul.


Soni hanya tersenyum diam tidak mau menjawab, dia membayangkan saja sudah serem, bagaimana nanti. 


Mereka berkumpul di ruang keluarga, anak, menantu dan cucu ada di sana, termasuk Aldo dan Rara.


Galang dan Luna masuk ke dalam rumah, Sehak Yadi mereka berdua duduk mengobrol di belakang, Luna memutuskan untuk ke kamar sedangkan Galang ikut gabung ke ruang keluarga.


Keadaan di dalam ramai sudah bersiap-siap, Luna akan bergegas ganti baju menuju kamarnya di atas. Namun saat akan menaiki tangga hal itu terjadi__


"LUNA"


Semua orang teriak dan terkejut memanggil namanya hingga saat menoleh. "Kamu mau kemana? Dia sudah di telpon, bentar lagi nyampe." ucap Sarah, memberitahu. Kadang Luna kesal dengan kakak iparnya yang satu ini sangat bawel, maklumlah ibu rempong.


Luna pun menghampiri mereka, tidak jadi ke kamar untuk ganti baju. Menyebalkan padahal dia ingin tampil cantik. Meski dia sudah cantik tanpa polesan makeup. 


"Kalian, ngagetin tahu. Untung Luna nggak jantungan, untung bin untung nggak jatoh dari tangga." cetus Luna sedikit kesal, dadanya masih bergetar.


"Sorry, Luna." Mereka sentak, kompak kalau keluarga Winajaya sudah kumpul. Luna hanya berdecak. Senyum masam.


Mereka sudah siap dengan perlengkapan hanya tinggal pemeran utamanya datang.


•••


"Yan, bisa cepatan dikit nggak sih."  Reza dengan hati gelisah, Bagaimana tidak ia mendapat telepon dari Abdul kalau terjadi sesuatu dengan istrinya, berada di rumah orangtuanya.


Yanto hanya mengangguk, mengiyakan. 


Ia sangat takut, takut terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya dalam kandungan. Apalagi Luna tidak boleh kecapean atau banyak pikiran.


"Tambahin dong kecepatannya, Yan. Aku khawatir banget sama Luna."


"Siap, pak."


"Semoga Luna dan dede bayi tidak apa-apa." doanya. Reza terus memandang ke arah jendela, melihat jalan dipenuhi kendaraan mobil maupun motor, karena memang sekarang jadwal pulang kantor. Makanya jalan padat, tapi tidak terlalu macet, masih bisa di bilang lancar.


Perasaan Reza mulai gelisah, selama perjalanannya Reza tidak pernah berhenti berdoa agar Luna tidak terjadi apa-apa.


Lima belas menit kemudian…


Mobil memasuki perumahan elit, dada Reza semakin berdebar kencang begitu takut saat mobil sudah akan masuk melalui gerbang tinggi melewati pos satpam, ia terus memanjatkan doanya, berpikir positif tentang Luna, karena Abdul tidak memberitahunya apa yang terjadi dengan Luna tadi, tapi Reza tahu kalau dari nada suara Abdul begitu panik hingga Reza tidak tahu harus berpikir apa.


Sampai depan pintu Reza tanpa aba-aba ia langsung masuk ke dalam rumah yang tampak gelap, berseru memanggil mereka tapi tidak ada jawaban sama sekali, dengan berani Reza mencari saklar lampu dan apa yang terjadi.


"KEJUTAN…!!!"


"HAPPY BIRTHDAY REZA"


Suara lantunan membuat Reza terkejut dan keluarga mereka berkumpul dan berdiri di hadapannya. Luna, istrinya melangkah kaki menghampirinya, sambil membawa cake. Reza masih terkejut bukan.


"Tiup lilinnya, sayang!" ucap Luna pada Reza, tidak menunggu lama Reza meniup lilin. Luna mencium sekilas pipi Reza.


"Happy birthday, daddy." seru Luna, tidak hanya ucapan ia juga mendoakan semua yang terbaik untuk suaminya.


"Makasih, sayang. I love you... "


"I love you more… "


"Tunggu hukuman dariku, sayang... " bisik Reza pada Luna.


"Aku nggak sabar, mereka mendapatkan hukuman dari kamu..."


"Oh iya... "


Kalau sudah berdua memang dunia milik bersama, saat Reza siap menunduk kepalanya dan mencium Luna, Abel dan yang lain menghentikan kegiatan mereka.


"Ehem, nggak liat ada kita, inget ada anak kecil loh di sini. Nggak tau tempat." seru Abel mengejek.


Reza dan Luna tertunduk malu, melihat sekitarnya. Bima dan si kembar berlari memeluk Reza sembari mencium pipinya mengucapkan selamat.


"Ini kado dari kita bertiga buat daddy, semoga daddy suka. Ini bukan barang mahal." Bima menyodorkan kado cukup besar, lebar dan tipis. Reza penasaran. "Bukanya nanti aja daddy." lanjut Bima, si kembar juga hanya memberikan senyum.


"Makasih sayang, buat kadonya. Daddy nggak butuh barang mahal yang penting niat kalian, karena kado apapun bentuknya, menurut daddy kado kalian paling berharga. Tidak bisa dibandingkan barang mahal sekali pun."


"Makin sayang deh sama daddy." Bima notabenenya paling gengsi mengungkapkan hatinya, tapi kali ini, Bima menghapus rasa gengsinya. Terbukti sekarang. 


"Aku juga, sayang sama daddy." Nadila ikut-ikutan.


"Daddy sayang kalian semua." Ia memeluk anak dan istrinya. 


Reza menghampiri ibu dan ayahnya, merekalah yang sudah membesarkan Reza, memeluk keduanya, meski sudah mempunyai keluarga sendiri tapi Reza tetap seorang anak yang manja dengan ibu dan ayahnya.


"Selamat ulang tahun, nak." Galang mendekap Reza erat, setelah kejadian dulu, kedekatan mereka begitu terjalin akrab kembali malah lebih akrab dari sebelumnya. Dan ibunya pun sama. 


"Makasih yah, bu." parau Reza ingin sekali menangis tapi dia menahannya, mana ada pria dewasa menangis kayak bocah yang ada nanti di ledek anak-anaknya, keponakan dan adiknya.


"Ayah dan ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu dan keluargamu, Za. Jaga dan lindungi keluargamu. Jangan buat kecewa kami sebagai orangtua." 


"Iya, Reza akan selalu ingat apa yang ayah katakan, Reza janji dan Reza juga akan buktikan dengan menjaga dan melindungi orang yang Reza sayangi dan cintai." sekilat Reza melirik ke keluarga kecilnya yang sedang berdiri menyaksikan semuanya, bukan sekedar kata, dia akan buktikan semuanya. 


Mata Reza sedikit berkaca-kaca. Rasanya begitu bahagia. Aldo dan Rara pun tidak lupa mengucapkan selamat pada Reza.


"Kalau mau nangis keluarin aja kak, nggak usah di tahan." ejek Abel, memang adiknya ini suka sekali melihat Reza menderita. Adik sialan. 


Abel mendekati kakaknya. "Happy birthday, kakakku." ucapnya memeluk Reza sekilas. "Maaf nggak sempat beli kadonya. Lagian kak Reza bukan anak bocah yang butuh kado dari kita kan?"


"Yang penting doanya."


"Pokoknya doa buat kak Reza yang baik-baik. Nggak akan putus-putus Abel doain kok. Abel sayang sama kakak." kata Abel kembali memeluk kakaknya kali ini berbeda, Abel sedikit mengeluarkan air matanya, bukan sedih tapi air mata kebahagiaan. 


"Kok kamu cengeng sih, malu di liatin. Udah punya suami, anak, sekarang lagi hamil masih aja cengeng nggak ingat umur udah tua juga."


Sedangkan yang lain hanya melihat interaksi adik-kakak tersebut dengan senyum. 


Abel melepaskan pelukannya. "Aku masih muda, kakak yang sudah tua. Nggak sadar."


Reza tersenyum tidak peduli meninggalkan Abel masih cemberut kemudian menghampiri kakak pertamanya, Abdul dan Sarah. Reza sebenarnya sangat tidak suka dengan adegan seperti ini. Melow-melowan, entahlah agak risih dan lebay. 


"Sorry ya dek, buat kamu khawatir tadi, ini Mas di paksa sama mereka tuh." Abdul membeberkan semuanya, ini semua utusan dari Abel, Sarah dan ibunya. "Jadi jangan ngamuk sama Mas." belanya. 


Sarah menyikut perut Abdul, "Tukang ngadu, penakut."


"Sorry aku nggak mau kena amukan banteng, macam Reza." bisiknya pada Sarah. 


"Sue!"


Reza hanya tersenyum. Ia tau maksud mereka baik, tapi nggak gitu juga kali. Buat orang khawatir setengah mati. 


"No problem, kali ini kalian beruntung karena hari ini aku sedang senang. Kalau tidak? Hm, kalian akan Reza hukum____Aku laper nih." keluhnya, Reza sejak tadi sore belum makan karena memikirkan istrinya.


Abel dan Sarah membidik horor tapi juga bernafas lega. Beda dengan Yunita, ibunya terlihat santai saja.


Reza anaknya mana mungkin melakukan sesuatu pada ibunya sendiri. 


"Ayo kita makan, kasian nih yang kelaparan." Ajak Galang. 


Mereka pun melangkah ke ruangan makan keluarga, meja bentuk balok panjang. Menikmati masakan yang memang sudah di sajikan dan di buat khusus untuk acara special Reza.


•••


Suasana malam terasa ramai dengan kelengkapan keluarga mereka yang datang dan membuat kejutan untuk hari special Reza. Tidak pernah terbayang kan sebelumnya akan mendapatkan kejutan meriah dari keluarganya, ultah sebelumnya tidak begitu ramai seperti ini, biasa tapi berkesan, ultah kali ini luar biasa begitu sangat berkesan.


Acara makan malam di lakukan di luar ruangan, tepat di halaman belakang luas yang sudah dihias begitu cantik dan indah. Meskipun berlebihan. 


Selesai makan malam mereka melakukan barbeque dan senang-senang.


Sedangkan anak-anak mereka berada di dalam karena angin malam lumayan dingin. 


Luna memakai cardigan berbahan wall membuatnya hangat. Reza duduk di sampingnya memberikan teh hangat untuknya. Yang lain juga menikmati semua makanan yang disajikan, apalagi kali ini barbeque dilakukan oleh kedua orangtuanya, pasanganya begitu spesial.


"Reza, sebelum berangkat nanti ke jerman, Luna harus cek kandungannya dulu. Karena takutnya Luna tidak kuat untuk pergi jauh apalagi kamu tahu jarak jerman dan indonesia jauh butuh waktu belasan jam untuk sampai."  Ujar Abdul bersuara.


"Itu pasti, nanti aku bakal minta dokter Regina untuk periksa Luna." jawab Reza menjadi suami siaga.


"Baguslah kalau begitu, jaga kesehatan jangan sampai kecapean, Luna-nya."


"Iya, Mas Abdul. Luna bakal jaga kesehatan." untuk kali ini Luna menjawab, agar keluarganya tak khawatir. Reza mengangguk.


"Salam buat Ayah sama Mom kamu." Sarah titip salam, tadinya keluarga Abdul akan ikut tapi nggak bisa karena akan pulang dan liburan ke bandung ke rumah mertua, orangtua-Sarah.


"Iya, Mbak."


Pulang ke jerman membuat Luna tidak sabaran ingin bertemu kedua orang tua dan adik-adiknya yang sudah lama tidak bertemu mereka. Terakhir sekitar lima bulan lalu. 


Kali ini hanya berlibur bukan honeymoon, termasuk mertuanya juga ikut andil. Ya, mereka juga ikut lepas kangen dengan sahabatnya.


Bukan hanya senang, tapi juga begitu antusias untuk bisa menghabiskan waktu dengan keluarga tercinta.


"Jangan lupa oleh-olehnya... " celetuk Rara menatap Luna di hadapannya.


"Oleh-oleh apa oleh-oleh?" goda Luna, ya kalian tahu dong, kalau dulu Rara ngebet banget sama Barrack adiknya. 


"Maksudnya?" Rara pura-pura. Sedangkan Aldo dan yang lain di buat penasaran. 


"Cie, Rara pura-pura lupa, sama someone!" tambah Abel membuat mereka yang mendengar menjadi semakin penasaran. Terutama muka Aldo kayak ayam kejepit.


"Siapa?" Rara buang muka, kampret. Sahabatnya bikin Aldo panas aja, apalagi dia nggak tahu menahu tentang Rara dan Barrack dulu, cuma saling suka sama suka aja. 


"Siapa, yah aku juga lupa." Abel maupun Luna terus saja menggoda Rara. Sampai sang empunya membidik seram ke arah keduanya. 


"Siapa si yang kalian omongin?" cetus Aldo, pancingan yang dibuat Luna dan Abel berhasil membuat Aldo berbujuk penasaran terlebih cemburu.


"Bukan apa-apa, Mas Aldo Jangan di dengerin mereka berdua cuma pengen godaan kamu." Rara berusaha untuk menenangkan Aldo yang terlihat cemberut.


"Jiah Aldo panas! Bukan apa-apa kok, kita cuma bercanda doang." balas Abel. 


"Bohong!" Aldo tidak percaya.


"Aldo, Rara itu suka sama Michael Ballack legenda pemain germany. Dia minta tanda tangannya, Coz, rumahnya dekat dengan rumah ayah." Luna dusta. Boro-boro tahu rumah Michael Ballack, dia saja tidak tahu keberadaannya dia dimana.


"Oh! kiran apa." 


Rara bernafas lega. Tersenyum manis ke arah Aldo.


Aldo percaya dengan jawaban Luna, "Cih, sama Luna percaya sama aku nggak."


"Ya kamu nggak jelasain lengkapnya. Makanya aku nggak percaya." tebusnya pada Abel.


"Sudah-sudah kok malah debat sih." Reza menengahkan kemudian berdiri. Kemudian diikuti semuanya dengan menyodorkan gelas minum mereka, "Bagaimana kalau kita cheer untuk kelangsungan bersama, kesuksesan, dan kebahagian keluarga kita."


Mereka Pun saling bertautan gelas. "Untuk keluarga semuanya." mereka serentak, meski bukan minuman Wine, Beer atau Vodka tapi mereka menikmatinya.


Acara berlangsung hingga larut malam. Mereka semua menginap di kediaman Winajaya, yang menyediakan banyak kamar di sini sehingga cukup untuk beberapa keluarga. Maklumlah rumah ini memang khusus, bila keluarga mereka berkumpul. Ada sekitar sepuluh kamar di kediaman orangtua Reza. Hingga mereka tidak akan kekurangan apapun.


♥♥♥


Terima kasih buat dukungannya selama ini 😘 siap untuk ending ya 😂 terima kasih juga sudah menunggu. Maaf kalau kalian kesal 🙄