Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
37. Bertingkah Aneh



♥♥♥


Suasana Mall cukup ramai meski hari ini bukan hari libur. Luna duduk bersama Abel dan Rara bersantai di coffee shop. Sementara itu Biboy bersama Mirna bermain timezone. Dekat dengan posisi coffee shop


agar masih bisa memperhatikan gerak-gerik dari anaknya di jendela coffee shop.


Sebelum memutuskan keluar dengan kedua sahabat baiknya. Dan Reza mengijinkan. Entahlah setiap dia akan pergi Luna wajib memberikan kabar pada Reza meski suaminya itu tidak menyuruhnya. Luna tahu, bahwa dirinya harus melakukan itu. Agar suaminya tidak mengkhawatirkan dirinya. Karena sekarang dia adalah tanggung jawab pria itu. 


Ia memutuskan untuk bertemu di Mall agar dia bisa sambil belanja membelikan pakaian Biboy. Dan juga membeli kebutuhan bulanannya. 


Luna meminum coffee espresso yang biasanya dibeli tapi entah kenapa membuatnya agak mual tidak suka dengan baunya. 


Rara melihat aneh ke arah Luna. Tidak biasanya dia tidak minum  coffee kesukaannya. 


"Kamu kenapa Luna? Sakit?" tanya Rara penasaran dan meletakkan tangannya di dahi temannya.


Luna menepis tangan Rara pelan. "Nggak. Cuma agak mual. Kayaknya aku masuk angin deh." Luna sedikit tak enak dengan kondisi badannya.


"Makanya jangan naked mulu sama Kak Reza. Begitu jadinya. Coba kamu lihat tanda dimana-mana." Sahut Abel meledek. Melihat kissmark di leher sahabatnya. 


"Abel. Jangan meledek deh." Luna malu sedikit rona di wajahnya terlihat jelas.


Luna tidak mau lagi membicarakan hal 'gitu' dengan kedua sahabatnya yang kepo. Yang ada dia yang malu sendiri. Setelah maupun sebelum menikah hidupnya tidak jauh berbeda. Yang berbeda sekarang dia sudah punya suami dan anak yang harus diperhatikannya.


Dan Reza tidak mengengkang apa yang ingin Luna lakukan. Seperti saat ini dia bersama dengan Abel dan Rara. 


"Aku mau shopping?" ucap Luna memandang pada kedua sahabatnya. 


Rara dan Abel saling curi pandang. Melihat heran dengan Luna yang biasanya ogah diajak shopping. Tapi sekarang Luna yang mengajaknya. Ini sesuatu yang langka.


"Shopping?" jawab keduanya bersamaan. 


"Kenapa ada yang aneh?"


"Ada." Kata Rara dan Abel kembali menyahut jawaban secara bersamaan. Dan melirik mata aneh pada diri mereka sendiri bicara kompak seperti ini. 


"Kalian kembar?"


"Nggak."


"Habis kompak banget bicaranya. Kalian juga aneh. Aku ajak shopping malah sok kebingungan begitu."


"Ini kejadian langka buat kita." Seru Rara. Dan Abel mengangguk setuju.


"Jadi nggak mau?"


"Mau." balas keduanya cepat.


Luna tertawa. Melihat tingkah kedua sahabatnya bisa kompak berbicara seperti tadi. Dan sekarang dirinya tidak memperdulikan dengan rasa mualnya yang tak terasa lagi. 


Ketiganya memutuskan untuk pergi dari coffee shop dan berjalan terlebih dahulu ke tempat Biboy yang masih asyik bermain. Dan memberi tahu pada Mirna bahwa dia akan berbelanja terlebih dulu dan sengaja tidak mengajak mereka agar tidak bosan. Dan biar keduanya tetap disini. Karena Biboy juga masih asyik bermain dengan kenalan barunya.


Mereka melangkah ke toko tas branded tempat biasa Rara beli. Dan tanpa pikir panjang Luna memasuki toko tersebut dan diikuti kedua sahabatnya yang merasa aneh. Dan masih bertanya-tanya pada hati mereka. 


"Kamu lihat. Biasanya juga dia nggak tertarik sama tas begini. Kayaknya setan di otak kamu pindah ke Luna deh." bisik Abel pada Rara. Berada di belakang badan Luna. Tanpa disadari temannya. 


"Kayaknya begitu."


Sementara Luna memilih tas di lemari khusus dan di temani wanita berbaju seragam biru yang senantiasa menjelaskan detail dari produk tas yang Luna incar.


Merasa kebingungan karena tidak pernah berbelanja tas seperti ini sebelumnya. Dia hanya mengantar saja Rara yang sering belanja tas ketempat ini. Karena selama ini dia sering dikirim tas branded dari ibunya Jessy. Jadi ini pertama kali dirinya membeli secara langsung.


"Rara. Abel. Menurut kalian yang mana?" Ucap Luna sambil menunjuk dua tas merek GG menjadi bahan pertimbangan.


Rara dan Abel memilih tas yang ditunjuk Luna dan bukannya fokus dengan pilihan mereka. Keduanya malah melihat harga yang tertera di papan kecil tas itu. 


"27jt?" ucap keduanya kaget. 


"Kalian kenapa? Mana yang bagus?" tanya Luna heran pada Rara maupun Abel bukannya memberi pilihan. Malah terkejut dengan harga tasnya.


"Nggak apa-apa. Kaget sama harganya."


"Ini adalah tas keluaran baru. Tiga hari lalu baru saja datang dari italy langsung." Sahut wanita berseragam biru itu memberi tahu. Dan menjelaskan semua.


"Kalau begitu saya pilih ini." Luna to the point dengan pilihannya. Karena kedua sahabatnya ini terlalu lama menjawab.


"Seriously?"  Rara terkejut. Dan Abel hanya diam melongo. 


"Yes."


Luna berjalan ke arah kasir untuk membayar dan tas yang dipilih sudah berada disana dan mengeluarkan black card nya pada wanita kasir itu. Setelah selesai dengan transaksinya mereka keluar.


Rara dan Abel dibuat terkejut. Luna membeli tas GG yang harganya cukup mahal. Dan hanya mengikuti langkah kaki Luna ke setiap toko. Dan dia membeli lagi semua barang yang dia sentuh. Sampai-sampai  ada 5 kantong belanja yang dia beli. Entah dia suka apa tidak. Tidak biasanya Luna belanja banyak begini sepertinya ada sesuatu deh. Pikir Abel.


Waktu sudah pukul 18:30 dan mereka masih berada di Mall. Karena sembari tadi mereka keluar masuk setiap toko sehingga lupa waktu dan memutuskan untuk makan. Untungnya Biboy tidak rewel malah menikmati acara bermainnya. Memasuki restoran Jepang. Untuk makan malamnya. 


"Luna. Nggak salah kamu belanja segini banyaknya?" Rara terus bertanya hingga rasa penasarannya hilang dari pikirannya. 


"Iya aku juga masih syok. Apalagi kamu belanja yang bukan kamu banget?" timpah Abel.


Luna masih fokus memakan sushi yang ada di atas meja. Belum menjawab. Dan menyuapi Biboy setelah itu baru dia akan menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya.


"Kalian dari tadi bertanya seputar itu saja. Pusing tau nggak. Dan jawabannya tetap sama. Kalian bawel." cetus Luna risih dengan pertanyaan-pertanyaan dari sahabatnya itu. "Kalian berdua lebih baik habiskan makanannya. Sudah ini kita pulang."


Keduanya hanya menjawab singkat. Melanjutkan apa yang Luna suruh. Dan mereka mengikuti omongan Luna pula. Tak biasa temannya ini punya emosi yang labil tidak seperti biasanya. Abel dan Rara hanya bisa bertukar pandang.


Suara dari ponsel Luna berdering. Layar ponselnya tertera nama suaminya. Reza.


"Halo sayang. Kamu kok belum pulang? Kalian ada di mana?" Suara Reza diujung telepon terdengar cemas. 


"Kita masih ada di Mall. Mas, bisa jemput aku?" balas Luna dengan suara rendah. Merasa lelah.


"Ya sudah aku jemput. Kamu sudah makan?"


"Sudah. Mas sudah makan? Aku belikan makan malam mau?"


"Tidak usah. Bik Surti tadi masakin aku makanan sebelum pulang. Aku berangkat sekarang."


"Terima kasih. Aku tunggu."


Telepon pun terputus. Luna melanjutkan kembali makanan nya. Namun tak habis. Luna berpikir akhir akhir ini tidak begitu nafsu makan. Mulutnya terasa pahit. Menunggu Reza datang, mereka memutuskan untuk turun dan menunggu di luar gedung karena merasa kecapean. 


Tak lama mobil suaminya itu berhenti di depannya. Reza membuka pintu untuk Luna dan mengambil tas belanjaan dari Rara dan Abel.


"Ini belanjaan kamu?" tanya Reza mengangkat satu alisnya. 


Luna hanya mengangguk. Tak bicara. Dengan mata sayu. 


Mirna dan Biboy duduk didepan. Disamping  Yanto yang kemudi. Sementara itu Luna dan Reza duduk di belakang bangku penumpang. Dan selama perjalan menuju apartemen. Luna tak henti bersikap manja pada suaminya. 


"Kalau mengantuk kamu tidur aja. Nanti kalau sudah sampai aku bangunin. Kamu kelihatan capek banget." kata Reza mengelus rambut Luna yang sedang duduk bersandar di bahunya.


"Aku nggak mau tidur." Sahut Luna terus meronta memainkan jari tangan Reza.


"Oke! Tumben kamu belanja banyak begini..? Kamu tahu ponsel aku terus berbunyi notif transaksi yang kamu beli loh. Bukan kamu banget."


Luna sedikit menoleh. "Kenapa? Kamu nggak suka aku pake kartu kamu. Ya sudah nanti aku ganti uang kamu." Luna sewot. Ia Bangun dari sandarannya dan memalingkan wajahnya ke luar jendela. Kesal. 


Reza hanya menghela nafas panjang. Melihat tingkah Luna yang labil. Sedikit-sedikit ngambek. Reza harus ekstra sabar dan membujuk Luna agar tidak marah padanya lagi. Ia mendekati dan memeluk istrinya namun ditolaknya.


"Hei. Kamu emosian banget sih sekarang."


"Aku nggak mau ngomong sama kamu."


"Tadi itu kamu ngomong."


"Bodo."


Reza tertawa pelan. Melihat Luna yang marah dan cemberut. Dan selama dalam mobil pun mereka diam tak bicara. Reza sengaja tidak mau membuat Luna semakin emosi. Sama halnya dengan Luna, Ia juga melihat ke arah luar jendela.


Mobil berlalu lintang dan orang-orang pejalan kaki berhamburan di sisi jalan. Setiap lampu merah seniman jalanan terus melantunkan lagu ciptaan mereka terdengar indah. Reza membuka jendela dan memberikan uang lembaran merah pada seniman itu. Yang terlihat senang. 


Tak lama mereka sampai di gedung apartemen dan mobil berhenti tepat di pintu utama. 


"Ayo turun. Kita sudah sampai."


Reza menoleh. Melihat Luna sudah masih belum mau beranjak. Sedangkan Biboy sudah keluar digendong Mirna masuk. Luna masih bertahan. Wajahnya masih cemberut. Membuat Reza gemas. 


"Kamu nggak mau turun."


Luna masih enggan menjawab masih menghindari tatapan Reza yang yang sejak tadi memandang ke arahnya. Yanto masih setia menunggu majikannya yang masih belum keluar didalam mobil. 


"Sayang. Kamu mau tidur di mobil. Kamu mau apa?"


Reza terus bicara tapi Luna masih tidak merespon. Membuatnya kesal. Tidak tahu apa yang diinginkan Luna. Sabar Reza, ini ujian kalau istri lagi ngambek. Batinnya.


"Aku mau digendong." Luna buka suara dan menoleh pada Reza. 


Reza mengangkat satu alisnya. "Mau digendong?"


"Kalau nggak mau aku minta Pak Yanto saja yang gendong―" ketus Luna dan sekilas menoleh ke depan tempat supirnya duduk. 


"Enak saja. Aku yang gendong."


Yanto tertawa pelan. Mendengar ucapan suami istri yang sedang bertengkar. Dan siap akan menjalankan mobilnya.


Reza menggendong Luna dengan gaya bridal. Dan keluar dari mobil. Masuk kedalam gedung. Berjalan pelan. Mengambil posisi yang benar karena Luna merasa tidak nyaman. Memasuki lift dan menekan tombol angka. Sementara itu Luna mengalungkan tangannya dileher Reza agar tidak terjatuh. 


Sampai dikamar Reza menidurkan Luna diranjang. Tapi Luna tidak melepas tangannya dari lehernya dan malah menarik sehingga wajah Reza menunduk dekat dengan Luna. Terkejut. Karena Luna malah mencium Reza cepat. Untuk pertama kalinya Luna berinisiatif memulainya duluan.


Tidak bisa berpikir lagi. Reza pun membalas ciuman istrinya dan melumatnya dengan lembut. Banyak pertanyaan yang dia pikirkan tentang istrinya. Luna bukan hanya labil, emosi, tapi juga agresif seperti sekarang ini. 


Disela-sela ciumannya. Sambil menghirup udara. Luna terus saja mengecup bibir Reza berkali-kali tidak memberi kesempatan dirinya untuk bicara. 


"Istirahatlah kamu pasti capek. Apa kamu mau mandi dulu?"


Luna mengangguk. "Tapi sama kamu."


"Baiklah. Ayo!" 


Reza mengangkat Luna memasuki kamar mandi. Kali ini Ia tidak akan banyak bicara. Menuruti kemauan istrinya.


♥♥♥