
♥♥♥
"Biboy." panggil Luna berada di teras halaman belakang.
Melihat Putranya terus saja lari-lari di halaman tidak henti-henti hingga Mirna jadi kewalahan mengejar-ngejar anaknya.
Biboy sangat susah bila sudah bermain dengan kucingnya yang diberi nama Saka.
"Biboy, ayo masuk. Mandi. Clara mau kesini loh."
Mendengar nama Clara, bocah itu langsung saja lari ke arah Luna sambil mengendong Saka lalu dilepaskan ke dalam. Membiarkan Saka main sendiri.
"Clara mau kesini?" tanya Biboy kegirangan dan menarik-narik baju Luna.
"Iya sayang. Nanti malam ada acara barbeque di rumah. Jadi Biboy mandi sama Mbak Mirna. Biar wangi tambah ganteng. Kalau nanti Biboy nggak mandi. Clara nggak mau jadi pacar Biboy. Mau mandikan?" ucap Luna sedikit berjongkok menyamakan tinggi anaknya, mengusap kedua pipi tembem putranya.
"Iya Biboy mandi deh, biar Clara jadi pacar aku. Tapi mandinya sama Saka juga. Saka juga belum mandi mom."
"Nggak boleh. Saka sama Bi Surti aja."
"Tapi jangan sampai Saka kabur lagi. Saka nggak suka sama air."
"Iya, sayang."
Luna kembali berdiri karena merasa pegal kalau lama-lama berjongkok. Menghela nafas pendek. Putranya memang susah untuk mandi harus dia yang bertindak dan merayunya dengan segala cara.
Gege ayah Luna berada dirumah keluarga besar Winajaya. Untuk sekedar melepas kangen pada Galang temannya.
Sementara Reza, sibuk di kantor karena masalah perusahaan tentang kasus korupsi atas project apartemen bealuga. Pembangunannya terhenti ditengah jalan dan membuat kerugian lumayan besar. Meski begitu tidak membuat perusahaan failed. Hanya masalah kecil untuk perusahaan sekelas SJC.
Luna memang sangat terkesima dengan suami tercintanya yang begitu cekatan menghadapi semua masalah dengan tenang meski ini bisa saja mengancam nyawanya. Karena sesuatu yang bersangkutan dengan uang sangat sensitif bagi semua orang. Mungkin termasuk Luna.
Ngomong-ngomong soal barbeque Luna sudah menyiapkan semuanya. Hanya menunggu para undangan saja. Tak banyak hanya keluarga dan sahabat plusnya keluarga dari Clara teman dari anaknya yang sengaja diundang karena selama ini keluarga mereka sering mengundang Luna untuk datang ke acara keluarga seperti ini.
"Assalamualaikum…" suara Seseorang dari luar terdengar.
Luna menghampiri. "Waalaikumsalam..." Lalu melihat Rani dan Yuda di hadapannya berdiri. "Mas, Mbak ayo masuk. Aduh makasih sudah datang loh."
"Iya, aku kangen banget sama kamu." Ucap Rani memeluk erat Luna. "Si kembar sehatkan?"
"Sama aku juga一Alhamdulillah sehat."
Mereka duduk. Mereka terus berbincang akan sesuatu yang terjadi di kantor meski sudah tau tapi Luna dengan senang hati mendengarkan cerita Rani. Semenjak Fredi ditangkap menjadi tahanan. Pekerjaan Fredi di serah terima pada Rani sementara.
"Reza belum pulang?" tanya Yuda tidak melihat keberadaan adik iparnya dimana pun.
"Belum Mas, tadi aku telepon masih dikantor sama Soni." balas Luna.
"Yah, bete dong belum ada teman ngopi." keluh Yuda.
"Bentar lagi pulang."
Karena merasa bete Yuda memutuskan untuk pergi ke teras depan untuk menghirup udara segar di sore hari. Lalu di temani Pak Yanto yang sedang mengelap mobil.
"Oh iya jadi kapan rencana akad nikahnya?"
"Minggu ini."
"Cepat banget."
"Gitu deh."
"Maksud Mbak?"
"Kita khilaf jadi kecolongan deh."
"Mbak Rani hamil."
Rani mengangguk mengiyakan. Malu, tapi harus bagaimana lagi. Sudah terjadi. Luna tidak bisa mengomentari apa-apa karena dia tahu kedua pasangan ini sudah dewasa. Lebih dewasa dari Luna.
"Selamat ya, Mbak."
"Makasih."
"Nanti si kembar punya keponakan deh."
"Bisa saja kamu."
Satu jam berlalu. Luna maupun Rani masih saja belum berkutik di tempat dan posisinya. Masih asyik mengobrol. Hingga tak sadar kalau Reza sudah datang bersamaan Abel, Soni, Rara dan Aldo. Sementara Yuda mengikuti dari belakang ikut bergabung duduk.
Luna berdiri mencium punggung Reza. Seperti biasanya Luna mengambil jas kerja Reza lalu meninggalkan mereka menuju kamar. Karena sekarang Luna harus mengurus suaminya ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Luna sembari dia meletakkan jas kerja suaminya di gantungnya.
"Belum sih, tapi aku pengen mie buatan kamu." jawab Reza menangkup wajah Luna dekat dan mengecup bibirnya sekilas.
"Tumben pengen makan mie. Kamu mandi gih. Nanti aku buatin. Selesai kamu mandi." ucapnya sembari mendorong badan Reza ke arah kamar mandi.
Reza menahan badannya dari dorongan yang Luna lakukan. "Tunggu, kamu sudah mandi?"
"Aku sudah mandi, mas. Jangan mesum deh." Sahut Luna terus mendorong Reza agar cepat masuk ke kamar mandi. Tidak anak tidak bapak mereka sama saja. Susah kalau disuruh mandi.
"Kan sudah lama nggak mandi bareng." Cetus Reza menggoda istrinya.
"Nggak. Sana mandi sendiri." Luna keukeuh dan terus menolak. Dia tahu apa yang diinginkan Reza. Tapi dia tidak enak dengan mereka yang ada ruangan. Menunggu.
"Tapi nanti malam kelonin ya." Luna pasrah ikut apa yang di ingin Reza asal pria itu mandi dan cepat ke bawah.
"Iya. Sana cepetan."
"Oke sayang."
Luna menghela nafasnya lagi. Lalu menyiapkan baju untuk Reza. Luna merasa bersalah melihat Reza kurang semangat karena sudah seminggu ini memang tidak melakukan hal 'itu' ya karena memang kata dokter harus mengurangi hal 'itu' meski melakukannya dengan lembut sekalipun.
Reza harus banyak bersabar dan menahannya.
•••
Semua orang sudah berkumpul di halaman dan untuk melakukan acara barbeque. Kesenangan, tertawa lepas mereka tunjukan. Apalagi melihat tingkah Biboy yang selalu menempel pada Clara temannya.
"Arga sama Reza bakal besanan nih?" Seru Yuda.
Melihat kedua bocah itu terus berjalan tidak jauh dari tempat para pria-pria sedang duduk ngopi.
"Haha… bisa saja, emangnya boleh nih besanan sama keluarga Winajaya. Kan keluargaku mah bukan apa-apa." Rendah Arga. Merasa bahwa anaknya dan anak Reza beda jauh kasta-nya. Meski dia juga nggak melarat-melarat amat sih.
"Jangan begitu, bukan apa-apa gimana sih. Suka merendah. Aku sih nggak mandang hal materi atau kasta. Yang penting anakku bisa bahagia dengan pilihannya. Lagian masih jauh mikirin begituan. Kita serahin aja sama mereka berdua kalau udah gede." Jelas Reza menepuk lengan Arga tetangganya. Arga adalah seorang pilot, Ia sangat iri karena dulu Reza ingin sekali menjadi pilot namun dia tidak bisa mewujudkannya.
"Bener kita serahkan sama anak-anak saja. Kalau mikirin beginian aku jadi nggak mau mereka jadi anak gede, terus nikah."
"Kenapa?"
"Nanti nggak jadi cogan lagi. Jadi opah-opah. Bukan oppa-oppa lagi."
"Sialan. Masih aja takut menua."
"Botok aja itu muka."
Mereka tertawa. Tema obrolan mereka masih seputar Biboy dan Clara. Memang gemas bila dibicarakan. Dimana kelak mereka akan jadi dewasa dan begitu pula orang tua mereka jadi semakin tua.
"Soni dengan Mas Yuda akan segera menyusul, terus kamu kapan Al?" tanya Reza. Meskipun ini adalah pertanyaan sensitif tapi Reza ingin tahu. Dia tak ingin kalau Aldo masih belum move on dari Luna.
"Belum ada yang cocok." jawab Aldo lalu sambil minum kopi sedikit-sedikit karena masih panas.
"Cepatan cari. Nanti jadi bujang lapuk." Sahut Reza bercanda. Meninju dada Aldo pelan.
"Enak saja." balas Aldo mengelus dadanya bekas tinjuan Reza meski tidak sakit.
"Mau aku kenalin, di maskapai aku banyak loh pramugari masih single. Kalau mau nanti aku kenalin deh salah satu." Seru Arga memberikan solusi agar Aldo tidak menjadi bujang lapuk. Meski cuma perumpamaan tapi dia yakin kalau Aldo masih bisa cari sendiri. Karena tampang dan bentuk tubuhnya cukup profesional.
"Boleh tuh kenalin aja, Aldo memang harus di paksa." ujar Yuda. Memberikan sate pada Aldo dan pria itu menerimanya.
"Kayak Aldo nggak laku aja…tenang nanti Aldo bakal cari sendiri."
Lalu seorang wanita datang menghampiri dan tersenyum dan meletakkan sate dan sosis bakar yang sudah matang.
Mereka melihat ke arah Rara. Reza, Arga, Yuda, dan Soni saling bertukar pandang mereka pun tersenyum dan mempunyai satu pemikiran yang sama.
"Bapak-bapak silahkan dinikmati." kata Rara sok menjadi pelayan. Setelah meletakkan piring isi sate dan sosis bakar dan mengambil pula piring yang kosong.
"Permisi ya."
Namun saat itu pun langkahnya terhenti, Reza memanggil wanita itu akan dan membuat Rara bingung.
"Kenapa Mas?"
"Kamu sudah punya pacar?"
Rara bingung. Aneh. Kenapa Reza menanyakan hal begitu. Dengan cepat Rara menggelengkan.
"Belum."
Aldo merasakan ada yang aneh dengan tingkah para pria di sekitarnya mengelum senyum pada Aldo dan Rara.
"Aldo masih jomblo tuh." Seru Soni menggoda pada Rara dan Aldo.
Rara bukannya malu atau arah malah tertawa pelan membuat para pria itu kebingungan akan sikapnya. Begitu pun Aldo merasa malu akan para pria-pria itu.
Rara menyekat air matanya, karena geli. Bukan sedih. "Aldo mah bukan tipe aku." ucapnya dan menatap Aldo terlihat datar akan ucapan Rara.
Mereka terdiam. Secara tidak langsung Rara menolak Aldo.
"Lagian kamu juga bukan tipe aku Rara. Jangan mimpi."
"Cih. Sok ganteng. Kalau boleh mimpi aku itu mending sama christian grey."
"Aku memang ganteng. Kalau mimpi jangan tinggi-tinggi. Jatuh sakit, tau rasa."
"Kalau mimpi jadi nyata bagaimana?"
"Nggak bakal. Kamu lupa christian grey cuma ada di dunia novel."
Rara menelan ludah. Aldo benar. Dia memang mimpi mendapatkan pria seperti christian grey yang memang susah digapai.
"Tau ah." Rara cemberut. Kesal. Meninggalkan para-pria itu.
Melihat mereka bertengkar membuat mereka semakin ingin menyatukan dua sejoli ini untuk bersama. Aldo yang tenang akan disandingkan dengan Rara yang cerewet membuat keduanya menjadi saling melengkapi.
"Rara cocok sama kamu, Al." kata Yuda.
"Nggak. Rara itu cerewet." balas Aldo cepat.
"Eh. Jangan begitu. Dari nggak suka tumbuh cinta loh."
"In your dream."
Dalam obrolan mereka sudah menghabiskan beberapa cangkir kopi dan beberapa tusuk sate yang dibuat para wanitanya di seberang sana.
Para pria kalau sudah asyik dengan obrolannya pasti lupa dengan para wanita yang sedang sibuk membakar daging. Melihat keakraban mereka, para wanita pun tidak ingin kalah.
"Coba deh lihat mereka. Asyik banget ngobrol. Bukannya bantuin disini." Sewot Abel. Melihat mereka tertawa tanpa beban.
"Sudah. Biarin mereka. Jarang-jarang mereka bisa kumpul bareng." balas Luna sekilas melihat ke arah para一pria berkumpul. Luna mengelum senyum.
"Bener kata Luna. Mereka terlalu sibuk bekerja." sahut Nita setuju. Nita adalah Ibunya Clara dan juga istri dari Arga. Tetangganya.
"Mereka itu ngomongin orang." cetus Rara kesal.
Luna, Abel, Rani, dan Nita bertukar pandangan. Melihat wajah Rara yang terlihat kesal. Sejak dia kembali dari tempat para pria itu.
"Ada apa sih, Ra. Itu muka ditekuk melulu?" tanya Rani. Langsung bersuara sebelum yang lain ikut bicara.
"Cerita dong?" tanya Abel ikut penasaran.
"Iya, cerita jangan dipendam?" tanya Luna juga.
"Kok diam." kata Nita.
Rara menghela nafas panjang. Bersiap untuk buka suara. Namun dia ragu-ragu. Tapi dia benar-benar kesal karena kejadian tadi. Malu.
"Sumpah ya aku ini jomblo ngenes banget. Aku terlalu banyak mimpi punya pacar kayak grey. Sampai-sampai ada orang bilang, aku jangan mimpi terlalu tinggi nanti jatuh baru tahu rasa. Sakit hati ini. Apa salah aku bermimpi punya cowok kayak grey. Aku suka sama sosok grey bukan hal negatifnya tapi positifnya. Bukan aku pengen punya grey yang memang cuma ada di dunia novel." Ceritanya panjang lembar saking lebarnya mereka yang mendengar tidak tahu harus bicara apa.
Mereka tahu maksud Rara. Grey (christian grey), novel populer dewasa dari penulis E. L. James yang sudah difilmkan dan dimainkan oleh Jamie Dornan dan Dakota Johnson.
Memang Rara itu sudah akut dengan yang grey.
"Sabar ya, orang yang ngomong mungkin nggak tahu apa-apa tentang kamu. Kamu cukup jadi diri sendiri. Mungkin nanti kamu bakal dapetin pria yang lebih dari grey." Nasehat Luna pada Rara. Menepuk punggungnya dan memeluk wanita itu dalam dekapan. Lalu melepaskan lagi pelukannya.
"Ra, kamu tahukan grey mah nggak ada apa-apa nya. Banyak pria yang lebih romantis dari dia." kata Abel menghibur Rara.
"Kok jadi sedih-sedihan begini sih. Ra, mas Arga punya banyak teman pilotnya yang jomblo. Mau dikenalin nggak?"
"Nggak ah."
"Kenapa?"
"Aku mau cari sendiri aja."
"Benar?"
"Iya, aku cari sendiri."
"Begitu dong itu baru namanya Rarasita Putri Taher. Anak Pak Taher dan Bu Putri."
"Sialan."
Mereka terbawa suasana malam ini. Senang dan sedih mereka rasakan. Hingga mereka tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 10:08 dan para pria dan para wanita masih asyik mengobrol.
Beda dengan Clara dan Biboy sudah tidur di kasur lantai untuk keduanya tidur sementara di jaga oleh Mirna yang setia menemani dua anak kecil itu, sabar.
Acara mereka berakhir hingga pukul 23:30 tengah malam tidak terasa hingga bubar jalan. Sementara itu Abel dan Rara menginap. Aldo pulang. Rani dan Yuda pulang. Arga, Nita dan Clara pulang juga ke rumah mereka.
Hingga malam ini benar-benar berakhir dengan lelah dan capek.
Dan seseorang terlihat kesal karena semua yang akan dia lakukan gagal total.
Sabar. Tahan. Itu ucap Reza lagi-lagi. Melihat Luna sudah berbaring tidur kelelahan di sisi Reza.
♥♥♥