
♥♥♥
Lima tahun kemudian…
"Nabila! Nadila! STOP. Bisakah kalian bermain di halaman saja. Ini dapur. Berbahaya berlari-lari di sini."
Suara teriakan Luna terlihat frustasi saat melihat si kembar berlarian di sekitar dapur. Bagaimana tidak kesal. Luna sedang memasak, membantu Bik Surti menyiapkan sarapan pagi seperti biasa.
Kedua anak kembar Luna dan Reza begitu aktif, sehingga Susi baby sitter si kembar harus lebih extra menjaga mereka hingga jatuh bangun.
Nabila dan Nadila saling berebut boneka barbie, padahal si kembar cantik itu mempunyai barbie masing-masing tapi tidak entah kenapa, Nabila yang lahir lebih awal dari Nadila lebih lemah dibanding Nadila yang aktif malah selalu merebut apa yang dimiliki Nabila.
Coba lihat sekarang saja Nabila menangis karena barbie miliknya di ambil Nadila. Geram. Melihat adegan tersebut membuat Luna menghampiri si kembar dan meninggalkan acara masakannya.
"Kenapa kalian bertengkar, hah?" tanya Luna, ia tahu apa yang menyebabkan mereka bertengkar tapi dia ingin tahu langsung keluhannya dari si kembar langsung, agar dia bisa saling memahami satu sama lain.
Lina menyekat air mata Nabila yang merengek menangis.
"Nadila merebut barbieku, mommy!" rengek dan keluh Nabila menunjuk barbie-nya yang sudah di tangan Nadila adiknya.
Luna melihat hal itu hanya menggelengkan. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan si kembar yang selalu bertengkar.
Nadila mengeratkan barbie tersebut padahal dia tidak akan mengambilnya. Nadila anak keras kepala mirip Reza. Dan sedangkan Nabila dia anak manja dengannya.
"Aku hanya meminjamnya, tapi Nabila tidak mau meminjamkannya. Makanya aku merebutnya. Itu salah Nabila. Dasar cengeng. Begitu saja nangis. Lemah kamu." desis Nadila yang memang keras kepala dan pintar bicara padahal usianya masih lima tahun.
Luna menghela nafas. "Nadila, sikap kamu salah harusnya jangan kamu rebut barbie-nya. Jangan memaksa. Mommy tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Kalau kamu ingin meminjam barbie milik Nabila kamu harus meminjamnya dengan baik. Jangan bertengkar seperti ini." ucap Luna mengelus rambut Nadila masih enggan melepas barbie milik saudaranya. Nabila sudah tidak lagi menangis.
"Sorry, mommy."
"Minta maaf sama Nabila, jangan sama mommy."
Nadila melirik ke arah Nabila. "Nabila, sorry."
Nabila mengangguk. "Ok. Tapi balikin lagi barbie milikku."
"Aku pinjam." paksa Nadila.
"Tidak. Balikin barbieku." kekeuh Nabila.
"Pokoknya aku pinjam. Titik."
"Aku bilangin sama daddy. Kamu jahat sama Nabila."
"Aku juga bilangin sama Kak Bi. Kamu itu pelit. Nanti kak Bi nggak akan ajakin kamu main lagi, Nabila."
"Aku ___ Aku juga mau main sama Kak Bi. Nadila jahat_"
Nadila menjulurkan lidahnya, meledek. Nabila berkaca-kaca. Menahan tangisannya.
Luna pusing dengan keduannya. "Kalian berdua ikut mommy."
Luna berdiri menggandeng kedua putrinya menuju ruangan keluarga. Sementara Bima dan Reza kedua pria itu masih di dalam kamar, masih tidur. Karena keduanya begadang sampai larut malam menonton acara pertandingan bola.
Mereka duduk berdampingan. Luna turun dari sofa sekarang dia berjongkok di hadapan kedua putrinya yang sedang duduk.
"Kita harus menyelesaikan pertengkaran kalian. Mommy ingin bicara dengan Nadila. Mommy mau tanya barbie kamu kemana memang?" tanyanya.
Luna memandang lembut ke arah Nadila yang tampak gelisah. Hingga barbie di tangannya dipegang begitu erat sehingga membuat tangan barbie tersebut menjadi bengkok. Ia menyadari kalau Nadila itu memang sangat kuat, lebih kuat dari saudaranya.
"Mommy janji tidak akan marah?"
"Iya janji."
"Barbieku rusak digigit Saka. Saka mengambil barbieku. Dan barbie ku hancur."
"Bagaimana bisa, boleh mommy lihat barbie mu itu, honey." Luna lumayan terkejut dengan kata yang dilontarkan Nadila. Tapi dia senang kalau putrinya jujur dengan apa yang dibicarakannya.
Nabila menangkup mulutnya. Ekspresi terkejut yang sering anak kecil lakukan. Gemes.
Nadila mengangguk. Dia berdiri dan mengambil barbie-nya yang disembunyikan di nakas meja dekat ruang TV.
Tidak lama, Nadila kembali membawa barbie miliknya terlihat banyak gigitan dan rambut dari barbie-nya sudah botak tinggal beberapa helai rambut saja. Pakaian barbie Nadila sudah tidak berbentuk. Nadila tidak bohong. Ia berkata jujur tapi sikapnya tidak bisa dibiarkan begitu saja, ia harus menasehati anaknya, meski wajar untuk usia mereka.
Merasa was-was, Nadila memberikan barbie-nya pada Luna. Masih melihat ekspresi Luna ia takut mommynya akan marah padanya dan mungkin pada Saka, kucing kakaknya Bima atau Biboy yang sudah merusak.
"Ya, sudah nanti kita beli lagi saja, ya." itu kata yang keluar dari Luna pada Nadila. Dia mengerti dan tidak ingin membuat anak-anaknya merasa bersalah dengan sikap yang dilakukan keduanya yang masih butuh bimbingan sebagai orang tua.
Nadila senang.
Nabila cemberut.
Luna mengerut alisnya. Merasa ada yang salah dengan ucapannya. Ya, dia lupa kalau mereka itu kembar.
"Kita bertiga akan membeli boneka baru untuk Nabila dan Nadila juga. Bagaimana kalian setuju dengan mommy??"
"Setuju." ucap Nabila dan Nadila bersamaan lalu memeluk Luna yang sejak tadi berjongkok ada di hadapan mereka.
Senyum kedua nya begitu hangat, dia sangat suka dengan kedua putrinya memiliki lesung pipi sepertinya. Kelahiran mereka pun menjadi hal paling unik. Karena dia melahirkan di hari dimana Rara dan Aldo melangsungkan pernikahan.
Sedikit merepotkan mereka.
•••
Flashback on
"Aldo ayo masa kamu salah lagi, ini sudah yang kedua ijab kabul kamu. Kalau yang ketiga gagal maka pernikahan kamu akan gagal." seru Reza menggoda Aldo. Padahal malam sebelum akad nikah, pria itu sudah berlatih dan mencoba ijab kabulnya dengan ajaran Reza, Soni dan Yuda yang sudah terlebih dahulu menikah.
"Sialan." Aldo mengumpat.
Rara yang sedari tadi terlihat cemas. Karena Aldo sudah dua kali salah. Mendapatkan godaan dari para temannya membuat Aldo gugup. Mati di tempat.
Lalu papah Rara, kembali menjabat tangan Aldo. Ini adalah kesempatan terakhir. Dia tidak ingin membuat Rara dan yang lain kecewa.
Aldo menarik nafas dalam-dalam lalu dihempas keluar dengan sedikit kasar.
Rilek.
Kamu pasti bisa.
Jangan bikin malu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ratasita Putri Taher binti Sandika Taher dengan mas kawin tersebut tunai." ucap Aldo dengan satu tarikan nafas dengan hatinya yang masih bergemuruh, panas dingin karena gugup.
"Bagaimana, SAH?" tanya penghulu kepada para saksi.
"SAH." Saksi dan para tamu yang hadir bersuara.
"Alhamdulillah…"
Rara merasa lega.Ibarat bisul yang sudah pecah.
Setelah acara akad selesai. Mereka melakukan ke acara selanjutnya yaitu tukar cincin. Lalu menikmati makanan dan hiburan yang sudah disediakan.
Luna melihat sahabatnya begitu senang akhirnya Rara bisa menyusul Luna dan Abel ke jenjang pernikahan.
Disaat mereka berkumpul di satu meja bundar yang cukup untuk 10 orang.
Reza dan Luna
Abel dan Soni
Yuda dan Rara
Arga dan Nita
Mempelai ikut bergabung. Menggoda pengantin baru. Banyak tema pembicaraan mereka contoh saat ijab kobul Aldo menjadi bahan ledekan dari mereka. Malu. Tapi dia tetap bernafas lega, dan tidak memperdulikan ejekan mereka, akhirnya Aldo bisa juga melakukan ijab kobul.
Mereka mengobrol sambil menikamati menu di atas meja yang sudah disediakan.
Para pria tidak habis-habisnya membahas yang akan dilakukan Aldo nanti dimalam pertama. Dan para wanita hanya ngobrol biasa tidak seperti pria yang sejak tadi menggoda Aldo terus, bercanda dan tertawa.
Saat itu pula, Luna merasakan perutnya mulas tidak biasanya.
Dia merasa seperti akan melahirkan, tapi dokter bilang prediksi kelahirannya sekitar dua minggu lagi.
Dan bisa jadi lebih awal.
"Luna kamu kenapa?" Abel disebelah merasa cemas karena Luna keringat dingin.
Dia menggeleng. Tak kuat.
Karena tidak tahan dia menepuk punggung Reza disampingnya.
Reza menoleh. "Ada apa sayang? Kamu kenapa?" tanyanya, cemas. Mereka yang berada melihat ikut cemas dengan tingkah Luna.
"Kayaknya aku mau ngelahirin deh?"
"APA." semua terkejut.
Reza dan lainnya membantu Luna berdiri dari duduknya. Reza dan Yuda membantu Luna untuk berjalan. Soni menyiapkan mobil cepat-cepat. Para tamu sedikit terkejut dan melihat ke arah Luna yang sedang berjalan di temani Reza dan Yuda keluar dari gedung. Aldo dan Rara tidak bisa ikut karena acara resepsi masih belum selesai. Luna menjadi sorotan para tamu karena dirinya menjadi sedikit kacau acara sahabatnya.
Bukan kacau dalam arti rusak.
Reza dan yang lain langsung membawa Luna ke rumah sakit bersalin yang dekat dengan hotel tempat acara Rara dan Aldo menikah.
Dalam mobil Reza terus menenangkan Luna dan begitu juga Nita berada di samping Luna, karena Nita sudah pernah melahirkan jadi dia tahu apa yang dilakukan.
"Tahan Luna bentar lagi kita sampai." Runtuk Reza cemas. Apa yang dirasakan sekarang tidak bisa diungkapkan. Dia terus memegang tangan istrinya. Mengecup keningnya karena keringat.
"Sakit banget, Mas." Rintih suara Luna membuat Reza sakit juga tidak tahu harus berbuat apapun juga hanya bisa menenangkan.
"Tarik nafas Luna pelan-pelan." Ucap Nita. Agar Luna tenang.
Mereka sampai dirumah sakit, Luna dibaringkan di ranjang lalu didorong oleh para suster, lalu ia dibawa ke dalam ruangan bersalin.
Reza ikut dalam persalinan atas izin dokter dan bisa melihat perjuangan Luna atau seorang ibu hendak mengeluarkan si kembar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia bisa melihat seperti apa perjuangan seorang ibu yang bisa rela untuk berkorban dan kesakitan yang pasti sangat sakit demi melahirkan anaknya ke bumi.
Saat persalinan cukup lama akhirnya.
Si kembar terlahir.
Dua putri cantiknya.
Nabila dan Nadila Reza Winajaya.
Reza mencium kening Luna yang masih lemah, melihat perjuangan Luna, istrinya yang bertaruh nyawa demi si kembar Reza berjanji akan selalu menjaga dan melindungi keluarga kecilnya itu sampai kapanpun.
Flashback off
•••
Merasa terganggu dan berisik, Reza yang masih menutup matanya pun dengan pelan membuka kedua matanya dan merasa goyangan kasurnya terus terasa berguncang.
Apa ada gempa bumi? Itu hal pertama yang dia pikirkan. Tapi dia sadar saat melihat si kembar berjingkrakan di kasurnya. Ya, Nabila dan Nadila yang melakukannya.
Reza bangun terduduk.
Nabila dan Nadila berteriak memanggil. "Daddy."
Mereka memeluk Reza tampak kacau, rambut yang acak-acakkan dan masih setengah sadar. Gangguan kedua putrinya membuat Reza pusing karena dia masih sangat mengantuk kemudian berbaring kembali hingga Nabila dan Nadila juga ikut berbaring di pelukan Reza, daddy-nya.
"Daddy bangun. Ini sudah pagi." Nadila menepuk wajah Reza keras. Hingga Reza merasa kesakitan akan ulah putrinya. Berbeda dengan Nabila yang diam lalu membangunkan Reza dengan mencium pipinya. "Ayo, daddy bangun."
"Lihat daddy sudah bangun!! Tapi daddy mandi dulu. Bilang pada mommy agar menunggu daddy sarapan. Oke?"
"Oke." seru keduanya.
Reza bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi namun sebelumnya dia memandang ke arah si kembar keluar dari kamarnya dengan raut muka cerianya. Semenjak keduanya terlahir, rumah menjadi berwarna dengan suara, tangisan dan tawa mereka. Meski Reza dan Luna sedikit kesal karena tingkah keduanya yang selalu bertindak semaunya.
Selesai dia mandi. Reza bergegas menghampiri ruang makan yang sudah ada istrinya, Biboy dan kedua putrinya duduk di depan meja makan menunggu kedatangannya.
"Daddy lama, kami kelaparan." sahut Bima kesal.
Reza tidak menjawab. Hanya tersenyum. Dia tau akan dapat amukan dari anak-anaknya karena dia lama turun.
"Iya daddy lama mandinya." timpal Nadila ikut kesal sambil memainkan alat makan di atas meja dan piring yang masih kosong harus menunggu sang empunya datang.
"Sorry, guys. Tadi cukur jenggot dulu." bela Reza dengan ucapan gaya anak muda lalu duduk di tengah dan yang lain di sisi sampingnya.
"Alasan kamu, Mas." timpah Luna sambil menyiuk nasi dan lauknya untuk suaminya.
"Kamu suka begitu deh, kamu sendiri yang suka komplain kalau aku cium, kamu bilang geli kan, karena jenggot tipis aku. Pura-pura." bela Reza memandang ke arah Luna dengan sedikit rayuan dan mengedipkan sebelah matanya.
"Mas Reza. Disini ada anak-anak."
"Mereka belum ngerti."
"Aku mengerti." sanggah Bima.
Kemudian Reza mengarahkan pandangan pada anak-anaknya si kembar masih belum mengerti, dan berbeda dengan Bima. Dia pasti tahu. Bima sudah dua belas tahun sebentar lagi lulus, masuk SMP.
Ternyata tahun terus berganti. Hingga sekarang dia dan Luna semakin hari semakin bertambah umurnya. Tapi mereka berdua masih terlihat muda seperti anak berumur 25-an kurang lebih.
Luna semakin cantik dan mempesona kadang dia takut bila Luna akan kelain hati, karena pesona Luna masih seperti seorang gadis. Meski dirinya juga tidak berubah. Tampan dan sexy.
"Kamu masih bocah Biboy." balas Reza tidak mau kalah sembari melahap makanannya.
"Daddy. Sudah tua. Ingat umur." timpah Bima lagi.
"Gini-gini ABG tua."
"Ck. Ngelawak daddy. Garing."
"Makanya cepat gede."
Luna dan si kembar hanya mendengar sahutan kakak dan daddy-nya mereka memang sering sekali beradu bicara jadi tidak aneh. Selebihnya mereka yang mendengar hanya bisa menikmati sarapannya.
"Daddy dan Kak Bi kayak tom & jerry bertengkar melulu." Kata Nadila tak nyaman. "Lagi makan, kalem dong."
"Iya tuh. Setuju sama Nadila." Nabila buka suara dan untuk kesekian kalinya dia membela kepada Nadila musuh sekaligus saudara kembarnya.
"Daddy duluan tuh."
"Sama aja. Daddy dan kakak juga Nggak ada bedanya." cerocos Nadila yang memang paling berani bicara. Paling cerewet.
"Baru kali ini daddy di nasehatin bocah selain Biboy. Wah, nambah satu lagi biang rusuh di rumah." Seru Reza bercanda, mendapat satu musuh lagi. Menoleh pada Nadila yang memang anaknya yang paling ceria. Dan banyak omongan.
Nadila dan Biboy memiliki karakter yang sama dengannya, mereka sering bertengkar dalam suatu hal. Tapi tidak saling membunuh.
Hal layaknya pertengkaran anak dan ayah pada umumnya. Sedangkan Nabila dan Luna mereka kalem bukan berarti diam. Sekali bersuara kedua perempuan itu akan seperti burung beo tidak akan berhenti mengomel dan mengoceh.
"Sudah kalian makan, jangan banyak bicara. Nggak baik. Habiskan." tegur Luna pada suami dan anak-anaknya untuk menghentikan adu bicara mereka.
"Yes, mommy."
Mereka bersamaan hingga detik berikutnya tidak ada yang bersuara sampai makan habis. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu diatas piring.
♥♥♥