Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
58. Thank You, Mom



♥♥♥


Beberapa bulan kemudian… 


Keluarga besar dari kedua keluarga hadir dan para tamu berdatangan untuk melakukan nujuh bulanan Luna sudah 7 bulan kehamilannya berlangsung,  perut, badan Luna tambah besar membuat Luna kesusahan bila duduk dan berjalan karena beban semakin berat yang ditopang. 


Dua bayi perempuan…


Acara berlangsung cukup lama hampir tiga jam, hingga Luna sedikit kewalahan dengan acara nujuh bulanan tersebut.


Setelah acara nujuh bulanan, hanya menyisakan keluarga dan sahabat terdekat saja. Ditambah dengan kedatangan keluarga Luna dari Jerman. Lengkap tidak ada yang tidak hadir. Yup, Jessy istri ayahnya begitu antusias dengan kehamilan Luna, karena dia kan menjadi seorang nenek. 


Janji ayahnya benar-benar telah ditepati. Mereka datang kemarin malam, pesawat Jet yang mertuanya siapkan. Ya, tidak sia-sia mempunyai mertua orang kaya. Hidupnya selalu di permudah, terutama urusan keluarga.


Mereka berkumpul di ruang tamu tanpa sofa, mereka duduk lesehan di permadani halus yang sempat untuk melakukan pengajian sebelumnya.


"Za.. " panggil Gege. 


"Iya, yah?" jawab Reza sambil menyuapi Luna makan, karena sejak tadi siang Luna susah makan.


"Kalian sudah siapkan nama anak kalian?" tanya Gege.


"Sudah, yah."


"Bagus dong. Siapa kalau boleh tau namanya?"


Reza terdiam sesaat, lalu menoleh pada Luna. Seakan dia tidak ingin memberitahu mertuanya. Apalagi dia harus memakai nama keluarga Winajaya yang memang wajib untuk semua keturunan di keluarganya. Takut kalo Gege tidak menyukainya atau dia merasa tidak dianggap oleh Reza maupun Luna. Tidak memakai nama belakang dari keluarga Luna, ayahnya. 


"Kok diam sih?" tanya Gege lagi.


Reza masih belum menjawab. Kemudian memberanikan menjawab setelah dia menghembus nafas pelan.


"Karena kata dokter anak kembar kami adalah perempuan, kita namai Nabila Reza Winajaya dan Nadila Reza Winajaya."


"Bagus tuh. Ayah suka."


"Ayah nggak marah, kan?"


"Marah kenapa?"


"Aku nggak pake nama belakang ayah."


"Nggaklah, anak harus ikut nama ayahnya. Bukan ibunya."


"Terima kasih, yah. Aku kira ayah marah." Reza sambali mengelus dadanya. Mertuanya ternyata tidak begitu mempermasalahkan nama belakang yang di gunakan anaknya. Dan itu membuat Reza dan Luna bernafas lega.


"Drama banget kamu. Kamu kira aku bakal sirik sama si Curut karena pake nama keluarga dia. Nggak bakal."


"Syukur deh kalau begitu. Reza lega dengernya."


"Lebay kamu, kayak ke siapa aja. Bangga dong punya mertua kayak ayah. Baik dan tidak sombong. kayak bapak kamu. tukang pamer."


"Iya, Iya bangga."


Reza tertawa cengegesan melihat bodoran Gege, mertuanya ini tipe orang yang lebih suka to the poin kalau bicara, tidak suka bertele-tele.


"Curut menurut kamu bagaimana nama cucu kita?" kata Gege menatap Galang yang sembari tadi melahap rujak beubeuk tanpa jeda. Maklum aja raja cabe sekali liat rujak secara otomatis nafsun setannya keluar.


"Bagus banget buat si kembar. Tapi kamu juga siapin nama buat cowok takut aja yang nongol cowok buat jaga-jaga aja, Za."


"Tenang yah, sudah Reza siapin kok." ujar Reza kepada Galang. Dia menggelengkan. Melihat ayahnya yang begitu suka pedas apa pun dilahapnya. Sudah hampir 2 piring kecil rujak beubeuk di makannya. Tapi pria paruh baya masih belum menyerah atau merasa panas di perutnya. Hingga Reza sebagai anaknya merasa heran perut Galang terbuat dari apa?!


"Mas, Aku mau gabung sama mereka. Aku sudah kenyang makannya." ucap Luna minta izin dan menolehkan mata ke arah tempat Jessy dan Yunita berada di ruang TV, lalu perlahan bangkit. 


"Ya, baiklah. Hati-hati."


"Luna kesana dulu, ya semuanya."


"Iya." jawab mereka semua yang berada di ruangan.


Luna melangkahkan perlahan menghampiri Jessy dengan Yunita yang sedang asyik bercanda gurau dengan Biboy dan Deleena yang berbeda 2 tahun lebih tua Adiknya itu.


Mereka menyadari kedatangan Luna menghampiri, lalu Jessy memanggilnya. 


"Hai, Luna sayang."


•••


Yunita dan Jessy tengah duduk di sofa sambil menonton TV, menemani dua bocah yang sedang asyik duduk main dengan gadget-nya. Sesekali kedua bocah saling tertawa melihat video yang mereka tonton.


"Deleena cantik banget sih, kayak barbie perpaduan kamu sama Gege banget." ucap Yunita melihat ke arah Deleena, dia memang cantik mata dan bentuk muka mirip dengan Jessy, tapi hidung mancung dengan tulang yang sedikit menonjol dan bibir tipisnya terlihat mirip dengan Gege.


"Tapi banyak yang bilang Deleena lebih mirip Luna dibanding kita orang tuanya." pengakuan Jessy, mungkin sejak hamil Deleena dirinya selalu kangen dengan Luna. Secara mitos yang sering dia dengar. Makanya Deleena lebih mirip pada kakaknya. 


"Bener juga. Aku juga pernah berpikir begitu waktu kita bertemu pertama kali."


Mereka berdua sangat mirip, dia begitu perhatian pada adik-adiknya."


"Luna memang sangat menyayangi adiknya, terlihat jelas saat kalian datang dia langsung berhamburan ke arah Deleena dan Barrack."


"Begitulah, Mereka bertiga memang sangat dekat. Seperti saudara kandung. Aku sangat bersyukur."


Sebelum, Gege menikahi Jessy. Luna maupun Anggi tidak begitu setuju ayahnya menikah apalagi perbedaan umur mereka amat jauh. Tapi waktu demi waktu mereka bisa menerima itu semua. Jessy memberikan kehangatan bagi keluarga mereka.


Saat Jessy dan Yunita sibuk bercengkrama, Deelena dan Biboy pergi berlari menuju halaman rumah. Karena Clara dan keluarga sudah pulang, karena ada urusan keluarga kedua bocah itu lebih memilih bermain di halaman dan meninggalkan gadget di tangan mereka.


Tak beberapa lama, Jessy menoleh ke arah Luna sedang asyik di suapi oleh suaminya. Ia senang karena melihat senyum dan ceria Luna di wajahnya.


"Hai, Luna sayang."


Luna melangkah duduk di tengah antara kedua wanita cantik itu. Yang sebelumnya Jessy menepuk sofa tanda untuk dia duduk. 


"Hai." sapa Luna balik. Ia melihat senyum Jessy begitu senang dengan kehadirannya dan terus mengelus rambut dan memanjakan dirinya.


"Aku tidak sabar melihat cucu kembarku lahir. Rasanya benar-benar akan menyenangkan kalau mempunyai baby kembar perempuan." ucap Jessy sembari menyentuh perut Luna lembut.


Luna tersenyum. "Iya, sama aku juga."


Ia tahu kalau Luna sering mengeluh sakit di punggung, dan dia juga pernah hamil sebelumnya. Bisa merasakan apa yang Luna rasakan apalagi dia harus membawa dua bayi sekaligus di perutnya yang terlihat besar dengan ukurannya sekarang.


"Aku sudah membelinya dan sudah mempunyai kamar untuk mereka berdua. Kamu harus melihatnya nanti akan aku tunjukan." Luna antusias, dan lagi dia masih belum bisa memanggilnya Ibu mungkin terdengar aneh oleh Yunita.


Ya, mertua Luna sudah tahu tapi dia bisa melihat sikap Yunita masih sedikit tidak percaya. Saat Luna berbicara pada istri ayahnya seperti bicara dengan seorang teman.


"Iya, aku ingin melihatnya."


"Setelah ini, bagaimana?"


"Baiklah."


Luna, menoleh pada Yunita. "Ibu mau ikut?"


"Tidak, sayang. Ibu disini saja. Masih harus menonton gosip yang lagi hot tentang, orang halu yang ngaku kaya." balasnya.


Luna tertawa pelan. Memang selain jago belanja mertua Luna begitu suka menonton acara gosip macam begini.


Yunita sengaja tidak ikut karena ingin memberikan waktu untuk keduanya agar lebih akrab lagi. Dia tahu mereka butuh bicara antara anak dan ibu. 


"Baiklah." ucap Luna. Dia berdiri lalu menarik cepat lengan Jessy. "C'mon Jessy, ikut aku."


Jessy senang. Mengangguk dan tersenyum saat Luna menarik tangannya agar ikut dengannya. Lalu mereka meninggalkan Yunita sendiri menonton TV. 


•••


Luna dan Jessy, berada di sebuah kamar dengan cukup besar dengan dengan wallpaper warna biru dengan motif bintang terlihat feminin dan juga manis. Ya, kamar bayi Luna si kembar. Sudah dirancang dengan baik oleh dia sendiri. Dengan keranjang bayi cukup besar pas untuk kedua bayinya.


Sebuah lemari besar berwarna putih sudah berisi pakaian untuk bayi yang katanya seorang perempuan dia sudah disiapkan. Dan mencicil sedikit-sedikit setiap Luna pergi ke mall.


Kamar si kembar sengaja terletak di samping kiri kamar Luna, mempermuda untuknya menghandle si kembar bila bayinya sudah cukup besar.


Mungkin untuk sementara si kembar akan tidur di kamar Luna dan Reza.


Mereka duduk di sisi kasur queen size yang sengaja di siapkan.


"Wah, ini sangat indah." Puji Jessy begitu kagum dengan suasana kamar bayi Luna yang sudah siap ditempati calon bayinya. 


"Tentu saja, aku yang mendesain nya langsung." Rajuk Luna pamer. Dia hanya merasa senang karena Jessy memuji akan keindahan kamar si kembar.


"Kamu punya selera yang bagus." Puji Jessy sembari menepuk pundak Luna lembut. 


"Thank you."


Keadaan semakin hening, saat keduanya semakin habis topik pembicaraannya. Ini adalah salah satu yang Luna tidak suka, kecanggungan diantara mereka.


"Jessy… " kata Luna menatap wajah wanita cantik yang sudah berumur 35-an, menatap dengan wajah bingung dan penasaran.


"Ada apa?" Jessy mendongkrak wajahnya ke arah Luna dia tahu kalau anak tirinya ingin Membicarakan sesuatu yang penting padanya. Terlihat jelas raut kegelisahan diwajah Luna sekarang. Seperti menyimpan sesuatu yang susah untuk diungkapkan.


"A-aku…"


Luna terdiam tidak sanggup mengatakan apa-apa, seakan lidahnya begitu kaku dan kebas tidaj dapat berucap kembali. 


"Kenapa sayang."


Kemudian Jessy memeluk Luna, dia tahu yang sekarang dia butuhkan adalah sebuah pelukan untuk membuat Luna tenang.


"Maaf... " ucap Luna dalam pelukan Jessy. Lalu pelan Jessy melepas dan menatap wajah Luna inten. 


"Untuk apa kamu minta maaf? Perasaan kamu tidak buat kesalahan sama aku."


"Maaf, karena aku...masih belum memanggilmu dengan sebutan yang seharusnya aku lakukan. Aku egois. Tidak memikirkan kamu dan ayah. Aku lebih mengutamakan diriku sendiri."


"Luna, aku nggak maksa kamu buat panggil aku dengan sebutan itu. Aku sangat senang kamu mau menerimaku. Itu sudah cukup. Kamu sudah anggap Barrack menjadi adik kamu saja, aku sudah bahagia. Yang penting adalah kita bisa saling menyayangi."


Luna menghela nafas. Matanya sekilas menutup. Jessy yang melihat begitu merasa sedikit ada sesuatu yang membuatnya bingung. 


"Thanks you, MOM." ucap Luna menekankan kata Mom. Sebagai tanda bahwa dia benar-benar mengatakan hal itu pada Jessy. 


Jessy terdiam. Matanya berkaca-kaca, menutup mulutnya seakan dia tidak percaya apa yang didengarnya. 


"Apa?" masih terkejut.


"Thanks you MOM. I'm sorry and patiently wait a long time to say all this."


Dengan cepat mereka saling berpelukan. Luna merasa lega akhirnya kata itu terucap begitu saja membuatnya bahagia. MOM, panggilan untuk Jessy sekarang. Ya, kata itu membuat keduanya larut dalam kesedihan dan kebahagian. 


"Tidak sayang, Harusnya Mom yang bilang terima kasih karena kamu sudah mengucapkan kata terindah itu dan membuat Mom begitu melayang tidak percaya harus melakukan apa. Saking senengnya." Jessy disela pelukan mencium kedua pipi dan kening Luna. Dan bertubi-tubi di pipi membuat Luna geli. 


"Mom hentikan. Pipiku bisa bengkak."


"Mom tidak peduli. Mom senang hari ini."


"Aku juga."


"Terima kasih sayang."


"Yes, Mom."


"Aku senang mendengar ucapan kamu memanggil Mom."


"Aku akan mengatakannya setiap hari kalau Mom tidak keberatan."


"Iya, Sayang."


Kebahagiaan Luna dan Jessy saat ini tidak bisa diucapkan dengan seribu atau sejuta kata-kata lagi. Ini akan jadi awal untuk mereka berdua. Setelah sekian lama, Luna bisa mengungkapkan semua pada Jessy. 


♥♥♥


**Maaf ya guys sudah lama nggak update lagi banyak banget kerjaan, nggak sempat buat update…


Terima kasih sudah dukung dan vote…


Maaf kalau buat kalian kecewa karena updatenya lama**…