
♥♥♥
"Apa semua bukti sudah dikumpulkan?" tanya Reza duduk diantara ketiga pria berseragam polisi. Raka meletakkan semua bukti itu diatas meja agar aparat kepolisian bisa memeriksa bukti kuat itu.
"Sudah pak." balas Raka.
Reza berdiri berjabat tangan dengan ketiga pria berseragam. "Baiklah. Saya harap kasus ini akan segera ditindak lanjutkan. Jangan sampai saya menunggu bapak-bapak yang terhormat."
"Kami akan proses semuanya dengan bukti yang ada kami sudah siap untuk meringkus pelaku."
"Saya tunggu hasilnya."
Tiga orang pria berseragam itu berdiri dan siap menjalankan tugasnya. Seorang pria berpangkat tinggi mengumpulkan anak buah yang lain untuk melakukan penangkapan.
Sedangkan Reza menarik lengan Raka untuk sedikit dekat. "Kamu terus di saha kalau ada apa-apa hubungi aku. Dan semua area rumah, kamu kepung bersama anak buah kamu kalau bisa. Aku yakin pasti mereka akan melakukan sesuatu untuk wanita itu."
"Saya mengerti pak. Akan saya urus."
"Hati-hatilah."
Reza kembali ke kantornya dan menunggu hasil. Sedangkan Raka ikut menemani kepolisian untuk jaga-jaga. Bila ada sesuatu yang melenceng.
Sampai di kantor Reza tinggal mengurus kasus di perusahaannya. Masalah apartemen yang masih belum kelar pembangunannya. Yang sengaja diberhentikan pembangunannya oleh beberapa orang-orangnya. Terutama pengusutan dana yang sudah dikeluarkan.
"KALIAN AWASI MEREKA!!" teriak Reza berbicara dengan seseorang di telepon.
Luna masuk ruangan mendengar teriakan pria itu terlonjak kaget, dia meyakini pasti orang yang ditelpon juga pasti merasa takut mendengar itu.
Ini pertama kali mendengar Reza penuh amarah dan berteriak keras seperti tadi.
"LAKUKAN DENGAN BENAR DAN CEPAT. AKU TAK SUKA MENUNGGU!!" teriaknya sekali lagi, Reza mematikan sambungan teleponnya.
Reza menoleh ke arah pintu melihat keberadaan istrinya terlihat tegang. Dia pun menghampiri Luna dan memeluknya erat, karena dengan pelukan istrinya dia bisa memendam amarahnya tadi.
Luna mengelus pundak suaminya. Jantung pria itu begitu berdebar tak karuan. Karena emosi yang dikeluarkan.
"Tenanglah. Aku ada disini."
"Maaf kamu pasti terkejut."
"Sedikit."
Luna mengurai pelukan Reza dan berhadapan sekarang melihat mata suaminya yang merah membuat Luna tersentuh hatinya. Dan mencium pipi Reza sekilas. "Sudah tenangkan?" tanyanya.
Reza menggeleng. "Belum. Aku mau ciumnya disini. Baru aku tenang." Goda Reza menyentuh bibirnya agar Luna mencium. Luna menaikan alis sebelasnya.
CUP
Luna mencium singkat bibir pria itu. Sedangkan Reza tidak puas dan malah menarik tekuk leher Luna agar mendekat dan menempelkan bibir keduanya lama dan semakin dalam. Hingga nafas keduanya tidak teratur.
Namun aksinya terhenti. Suara ketukan pintu terdengar. Reza dan Luna merapikan pakaian mereka dan bersikap normal kembali meski nafasnya sedikit kasar. Mereka masih berdiri ditengah ruangan.
"Masuk."
Soni masuk membawa dokumen yang harus dicek Reza dan ditandatanganinya dan kembali ke kursi tahtanya. Luna duduk di sofa menunggu suami selesai bersama Soni.
"Apa ini?"
"Ini hasil laporan dana 3 tahun lalu. Yang sudah dibayarkan sepenuhnya."
"Mereka ternyata ingin main-main denganku."
Reza menutup dokumen itu dan menyimpannya di meja. "Dokumen ini aku simpan dan dokumen ini kamu berikan pada mereka. Ohya apa Fredi hari ini tidak masuk?"
"Baik pak. Iya benar pak, dia bilang ada masalah keluarga."
"Oh iya masalah keluarga. Kamu siapkan makan siangku dengan Luna. Karna hari ini aku akan makan di kantor saja."
"Baik pak saya akan menyiapkannya."
Soni keluar dari ruangan.
Reza menghampiri Luna yang sedang asyik dengan ponselnya. Luna membaca chat grup SMA nya dan saling nimbrung dengan tema pembicaraan mereka tentang reuni kemarin. Karena mereka dalam group membicarakan tentang Alisha yang banyak orang tidak menyukainya.
"Asyik banget. Ada apa sih?" Reza duduk di sisi istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahu.
"Ini chat anak-anak. Ngomongin soal reuni kemarin." ucap Luna masih fokus pada ponselnya.
"Tentang aku ya?"
Luna menoleh. "Ish pede banget sih kamu. Bukan malah yang diomongin itu tentang Alisha. Kasihan juga dia di omongin begini. Pasti kupingnya dia panas." kata Luna berpendapat.
"Kenapa dikasihani. Dia pantes digituin. Nggak usah terlalu baik sama orang." cetusnya.
Mendengar nama Alisha begitu bikin emosi Reza menjadi apalagi setelah kebenaran akan kasus tabrak lari itu ternyata Alisha pelakunya. Dunia memang sangat kecil.
Reza masih belum memberitahu Luna tentang semua ini. Nanti setelah polisi sudah menangkap Alisha dalam penjara.
"Kok gitu sih. Sebesar apapun kesalahan orang kita wajib memberikan maaf. Allah aja maha pemaaf. Apalagi kita manusia. Kayaknya kamu dendam banget sama dia. Kenapa sih?"
"Aduh istriku ini bijak banget." Reza mengacak rambut Luna lembut. "Nanti juga kamu tahu, apa kamu masih bisa maafkan Alisha apa tidak." ucapnya sedikit menggantung agar Luna penasaran.
"Maksud kamu?"
Reza mengangkat bahunya. Seolah tidak tahu.
"Begitu ya main rahasia-rahasian sama aku?"
"Mas, aku penasaran?"
Reza tetap diam. Lalu Soni sudah datang dengan OB menyajikan makan untuk Luna dan Reza. Saat itu Luna masih menatap suaminya tajam seperti mata pemburu yang siap menembakkan buruannya.
Soni dan OB pun keluar.
Luna masih belum menyentuh makanannya masih penasaran dengan kata suaminya. Reza yang melihat semakin gemas karena istrinya itu tidak ingin makan.
"Kamu makan, nanti aku kasih tau dan ajak kamu ke suatu tempat."
"Iya Janji. Sekarang kamu makan dulu. Kasian kan anak-anak kita kelaparan di dalam."
•••
Ditempat lain, Alisha mondar-mandir dikamar dan menunggu papah dan mamahnya menemui polisi dibawah. Dengan tangar bergetar Alisha terus berkomat-kamit.
"Kenapa polisi nyariin aku. Apa polisi tahu aku yang nabrak. Tapi kejadian itu sudah lama baget. Sial. Bagaimana nasibku kalau begini. Kayaknya aku harus kabur dari sini?" gerutunya terus bicara sendiri dan melihat ke jendela dan keluar sedikit dari balkon.
Ada beberapa polisi berada diluar. Dan juga ada beberapa pria berpakaian hitam berdiri di sisi rumahnya.
"Apa rumah ini sudah dikepung? Memangnya aku teroris apa? Sialan. Ini pasti mimpi." gerutunya lagi tek terima.
Alisha terus membenturkan kepalanya di tembok tapi tidak sampai berdarah. Menyadarkan dirinya kalau ini adalah sebuah mimpi dimana dia harus bangun dari mimpi ini. Mimpi buruk yang selama ini selalu menghantuinya.
Dia berjalan kembali ke kasur dan duduk bersila di pinggir. "Aku harus pergi dari sini. Aku nggak mau masuk penjara. Aku nggak salah. Aku harus kabur sekarang juga." Alisha nekat mengambil koper dan memasukan beberapa pakaiannya di lemari. Berganti pakaiannya.
"Mereka nggak bisa tangkap aku seenaknya."
Semetara diruang tamu Fredi dan Sira duduk ditemani beberapa polisi. Fredi pun sedikit gugup karena hal ini menyangkut Alisha. Dia memakai kacamata bacanya melihat pada beberapa pria seragam lainnya yang membuatnya menjadi agak takut.
Pria seragam menatap Fredi. "Kami kesini akan melakukan penangkapan pada anak anda Alisha Parwaditara. Atas tabrak lari yang dia lakukan empat tahun lalu." jelasnya.
Fredi melebarkan matanya. Kaget itu jelas ada di matanya. Selama empat tahun ini dia sudah jelas menghapus dan menyembunyikan semua bukti yang ada. Tapi kenapa bukti itu begitu saja terbongkar.
"Kayaknya bapak polisi salah orang. Anak saya ini nggak pernah melakukan hal itu. Bapak jangan menuduh tanpa bukti."
"Kami tidak akan melakukan penangkapan tanpa bukti. Kami sudah dapat surat penangkapan atas nama Alisha Parwaditara. Bila anda ingin bukti silahkan datang ke kantor kami."
"Tapi, anak saya tidak ada disini. Dia belum pulang."
"Anda jangan bohong. Anda menyembunyikan pelaku maka anda akan dapat teguran keras dari kami."
Fredi menelan ludah dengan susah payah. Dia menoleh pada istrinya yang terdiam masih takut dengan keberadaan pria berseragam itu.
"Geledah rumah ini dan cari wanita itu." titahnya pria itu pada anak buahnya.
Mereka pun mencari keberadaan wanita itu di semua sudut rumah.
"Saya nggak akan biarkan kalian menggeledah rumah ini seenaknya. Keluar kalian."
"Maaf kami sudah punya surat izin jadi kami harus melaksanakan tugas kami."
Mereka mencari ke lantai dua tempatnya di kamar Alisha namun dia tidak ada. Semua ruang juga tidak ada keberadaan wanita itu.
Fredi lega. Dia menghampiri pria berseragam itu dengan tatapan percaya dirinya. "Saya kan sudah bilang kalau Alisha tidak ada." ucap jelasnya dan merangkul Sira istrinya yang begitu gugup begitu kacau di wajahnya pucat pasih.
"Sayang kamu kembali ke kamar. Istirahat lah."
Disisi lain sebelumnya Alisah diam-diam keluar dari kamarnya dengan sebuah koper didorong pelan. Dia keluar dari jalan rahasia di rumah tersebut yang tidak akan diketahui oleh orang lain.
Dia turun lewat tangga darurat menuju pintu belakang untuk keluar dari rumahnya. Namun dia cukup bertahan di sebuah tempat tak jauh dari tempat keberadaan polisi itu berada yang sedang mencarinya di penjuru rumah. Sekarang pun dia sudah tidak bisa keluar banyak pria berjas hitam seperti bodyguard pada umumnya mencari keberadaanya juga. Ia melihat dalam kaca yang tak tembus pandang dari luar.
"Sial bagaimana aku bisa kabur kalau begini." lirihnya masih diam berdiri di tempat sempit gudang kosong penuh debu.
Diluar Raka ikut mencari keberadaan Alisha yang tidak ditemukan keberadaanya. Raka memencar anak buahnya ke segala penjuru rumah Fredi yang lumayan besar.
"Kalian cari terus." sementara Raka mengambil ponselnya untuk mengabari seseorang di ponsel dan menyandarkan badannya di sebuah kaca besar hitam.
Tanpa disadari Raka seorang wanita yaitu Alisha ada dibalik kaca itu. Wanita yang sedang dicari carinya. Alisha menutup mulutnya takut akan ketahuan karena pria di depannya tidak juga beranjak dari tempatnya.
"Halo pak. Seperti dugaan bapak benar Alisha bersembunyi tapi saya yakin wanita itu masih ada dirumah ini." Raka memberikan kabar pada seseorang diujung telepon.
"....."
"Baik pak, saya―" ucapannya terhenti saat dia mendengar sesuatu jatuh didalam tepatnya di gudang tua tempatnya sekarang. "Saya akan usahakan pak." lanjutnya dan menutup telepon tersebut dan mengalihkan pandangannya ke kaca namun tidak terlihat apa-apa karena ini kaca khusus.
Alisha merasa takut karena pria itu melihat ke arahnya meski dia tidak akan bisa melihat keberadaannya.
Raka meninggalkan tempatnya. Sedangkan Alisha merasa lega. Tapi hal itu tidak lama berlalu dan ya pria itu kembali datang dengan polisi lainnya membuka paksa pintu gudang.
Alisha semakin gelisah setiap dan takut. Cahaya matahari menerangi ruangan gelap itu menjadi terang. Alisha pasrah saat pria berseragam itu lari menghampirinya dan memegang lengan dengan dua pria disisinya dan membawanya keluar dari ruangan.
"Anda mencoba bersembunyi dan kabur nona Alisha." Raka menatapnya senang.
Alisha menunduk. "Lepas jangan sentuh aku. Lepas. Saya nggak salah." rontan Alisha dari pegangan dua pria itu yang mengunci tanganya kuat sehingga tidak bisa kabur.
"Anda harus menjelaskan semuanya di kantor polisi."
Fredi menghampiri anaknya yang sudah ditemukan oleh polisi dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Papah akan selamatkan kamu. Tunggu kami disana."
"Pah selamatikan Alisha."
"Tentu saja sayang"
Mobil pun pergi dari rumah Fredi bersama mobil merah yang mereka sita dibawa sebagai bukti kuat. Fredi masuk kedalam rumahnya yang hanya ada di sendiri. Dan menelpon seseorang di ujung telepon.
"Apa yang sudah kamu lakukan mana janjimu bodoh. Aku sudah membayarmu mahal." sentak kekesalannya keras.
"....."
"Siapa yang membayarmu mahal hah, siapa?"
"....."
"Cepat katakan kamu mau mati."
Pria diujung telepon mematikan telponnya sepihak, Fredi kalang kabut amarahnya begitu diujung tanduk. Dia menekan kembali nomor tersebut namun telepon itu sudah tidak aktif.
"Sialan. Dasar pengkhianat." Fredi membanting ponsel hingga pecah berkeping keping di lantai.
♥♥♥