
♥♥♥
WARNING-EPISODE ini bakal bikin emosi..harap baca dengan tenang..
Jangan Lupa Vote-nya biar naik Ranking, Thank you
♥♥♥
Setelah pertengkaran mereka berdua di sebuah restoran, sampai malam hari suaminya belum juga pulang.
Curiga?
Pastilah siapa yang tidak curiga suami dengan seorang wanita berduaan di sebuah restoran, mengobrol, tertawa dan bercanda gurau khalayak pasangan.
Semuanya membuat Luna beranggapan negatif meskipun suaminya masih belum menjelaskan perihal itu.
Emosi yang ada di ubun-ubunnya sudah sampai keluar dan meledak rasanya begitu sakit, nyelekit.
Kalau sebuah lagu, pas untuknya yaitu lagu cita citata - sakitnya tuh di sini.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Reza belum juga terlihat batang hidungnya. Mata Luna sudah bengkak sejak dari kepulangan dari mobil, Luna tidak henti-hentinya menangis meratapi kesedihannya, karena kebohongan suaminya.
Pura-pura tidak terjadi apa-apa di depan anak-anaknya tidak mau membuat mereka bersedih.
Sejak tadi dia berguling-guling di atas ranjang tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang pada sosok wanita cantik yang bersama suaminya.
Cemburu jelas. Ia istrinya. Siapa yang mau suaminya diambil pelakor. Ngomong-ngomong soal pelakor, dia jadi takut kehilangan Reza. Benar kata Abel sekarang pelakor di mana-mana. Tapi dia juga tak berhak untuk menjudge orang tanpa bukti. Ibarat kucing disodori ikan asin, siapa yang nggak mau. Pasti dicaplok juga.
"Salah aku apa sih sama kamu mas, selama ini aku selalu sabar dan patuh sama kamu. Kamu gombalin aku, bicara manis sama aku biar aku luluh. Tapi nyatanya apa? Kamu main sama wanita lain. Sampai-sampai kamu nggak kejar aku saat aku bilang pergi sama anak-anak. Kamu lebih mentingin dia daripada aku. Sakit mas. Rasanya dunia berhenti berputar, seperti jam yang sudah tidak bergerak karena baterainya habis. Apa kamu bosan sama aku? Apa aku kurang cantik?!" isak Luna tidak henti-hentinya, dia berbaring ditempat tidur sambil memegang pas foto dirinya dengan Reza.
Ada perasaan takut, saat dia harus siap mendengarkan penjelasan dari suaminya nanti.
Luna belum siap.
Memutar kembali kejadian di restoran membuatnya tidak tenang, wanita itu begitu cantik dibanding Luna pantas saja kalau seorang pria akan tergoda dengan wanita itu, jauh beda dengan Luna.
Ia pun menghentikan acara menangis, memasuki kamar mandi untuk membasuh wajah. Betapa kaget dia melihat dalam cermin wajahnya begitu buruk, bola matanya saja sudah tidak terlihat karena tertutup kelopak matanya yang bengkak.
Memalukan.
Sudah lama dia tidak menangis seperti ini. Terakhir dia menangis saat kehilangan orang yang dia sayangi.
Ya, Luna merindukan ibu dan kakaknya yang terlebih dulu pergi meninggalkannya.
"Ibu, kak Anggi aku kangen kalian... " lirihnya, saat melihat pandangan cermin dan berkata seakan dia memberikan semangatnya sendiri. "Kamu harus kuat Luna, jangan jadi orang lemah, semangat."
Saat Luna keluar dari kamar mandi, dia mendapati Reza baru masuk kamar dengan wajah lelah dan berantakkan.
Luna malas menyapa dia langsung selonjoran di ranjang.
Reza mendekati Luna yang sedang memeluk guling dan matanya seakan tidur. "Kamu masih marah sama aku?"
Malas menjawab, dia masih setia dengan posisinya. Dia tidak peduli.
'Dasar suami nggak peka, pura-pura. Sudah jelas aku marah, malah nanya lagi.'
Hanya bisa menjawab dalam hatinya.
"Kenapa belum tidur, hm?" bisiknya, dekat tepat ditelinga.
Luna merasakan ranjangnya bergerak, perutnya seperti ada seseorang yang memeluknya siapa lagi kalau bukan Reza.
"Sayang, dia itu temanku dan juga klienku kami sedang melakukan proyek pembangunan hotel di Bali…" jelasnya masih memeluk dari belakang. Menghirup aroma parfum Luna yang membuat tenang.
Diam. Tidak ingin membalikkan badan ataupun bersuara.
Merasa tidak nyaman dengan pelukan suaminya Luna meronta minta untuk dilepas tanpa mau menanggapi penjelasan suaminya.
Alasan saja, klien.
"Bisa nggak lepasin pelukannya, aku nggak nyaman."
"Nggak.."
Luna terus meronta. Dia nggak peduli dia berbuat kasar pada suaminya, pria itu memang pantas mendapatkan tamparan ataupun tinjuan sekaligus.
"Mas... Lepasin nggak... "
Tangan Luna terus menyikut dada pria itu. Hingga pria itu melonggarkan pelukannya. Ia bangun dan bangkit dari ranjangnya terbebaskan. Lalu bersedekap memandang ke arah Reza yang masih berada di ranjang dengan posisi duduk dan pakaian masih memakai kemeja kantor tadi siang.
"Kamu pikir aku akan percaya, dia cuma klien atau teman kamu? Kamu salah besar, aku nggak percaya."
"Kamu harus percaya."
"Tapi mana ada klien menyentuh bahu kamu segala kamu tahu, orang buta saja bisa denger cara kalian mengobrol dengan akrab dan intim seperti itu. Aku akui dia cantik dan sexy. Pastilah kamu tergoda sama dia. Kamu pria normal, mas."
"Lagian tadi kita makan siang, nggak cuma berdua saja ada Soni, dan kebetulan Soni ke toilet.." Ia membenarkan posisinya duduk di depan tepi ranjang sambil menyentuh keningnya dan sedikit memijatnya.
"Kenapa kamu baru sekarang menjelaskan, kenapa nggak pas ada wanita itu. Kenapa nggak kenalin aku sama dia? Aku istri kamu kan? Kenapa, malu?" pertanyaan beruntun dari Luna membuat pusing kepala Reza.
"Bukan itu...sebenarnya dia... "
"Dia kenapa? Kenapa kamu nggak jawab? Susah banget untuk mengungkapkannya. Wanita itu begitu berharga banget buat kamu. Hingga nggak bisa menjelaskan dia siapa. Apa kamu sudah tergoda sama dia, hah? Jawab?"
Pertengkaran mereka memang tidak mengeluarkan suara keras atau berteriak-teriak, tapi penuh penekanan karena mereka masih bisa mengontrol emosi masing-masing.
Dan untungnya kamar mereka kedap suara. Tidak akan mengganggu anak-anak mereka tidur.
"Dia bukan wanita seperti itu, dia temanku teman Soni juga. Namanya Sarah." sentak Reza sedikit keras. Luna sontak terkejut dengan nada marah dan keras yang ditimbulkan suaminya.
Luna menangis. Ia tidak bisa menahannya lagi. Air mata jatuh begitu saja. Reza berubah itu yang dia lihat tepat di matanya.
"Kamu sentak aku gara-gara wanita itu, jadi dia lebih baik dibandingkan aku?" lirih hatinya sakit, mulutnya tidak bisa bicara lagi. Hanya tersenyum pahit. Katakan bahwa, ini hanya mimpi.
Reza beranjak menghampiri istrinya menahan bahunya, sedikit mengguncang. Dia menghapus air mata istrinya.
"Tatap mataku, apa aku pernah bohong sama kamu. Mau wanita secantik dan sesexy apapun dia, aku nggak akan pernah tergoda ataupun berniat menjadikannya wanitaku. Kamu satu-satunya."
Hening sesaat. Reza melanjutkan ucapannya
"Jangan pernah membandingkan Sarah denganmu, sayang. Kalian berbeda."
"Pertemuan aku dengannya.. Aku ingin mendengar dari mulutnya langsung. Baru aku akan percaya."
"Aku nggak akan mempertemukanmu dengannya, nggak akan."
"Kenapa?"
"Aku nggak mau membuatmu menyesal, sayang."
Menyesal? Apa coba maksudnya?
"Aku mau ketemu dia."
"Tapi dia baru berangkat ke Bali, kemungkinan dua hari lagi baru kembali."
"Jangan, banyak alasan. Kalau kamu mau keluarga kita utuh!"
Reza tersentak mendengarkan, mencoba meredam emosinya. Dia tidak mau kehilangan istrinya apalagi berpisah. Rasanya susah untuk menjelaskan semua, melihat Luna begitu emosi.
"Lebih baik kita tidur, nanti kita bicarakan lagi besok. Aku tahu kamu lagi emosi."
"Terus saja menghindar."
Kemudian Luna menaiki ranjangnya dan tidur memeluk guling memejamkan matanya. Reza pun mengikuti Luna, dia merasa gelisah ini adalah pertengkaran terbesarnya selama berumah tangga. Reza maupun Luna tidak bisa tidur. Reza juga sengaja tidak menyentuh istrinya karena dia tahu, Luna butuh sendiri.
Mereka sepanjang malam, saling memunggungi atau membelakangi satu lain.
Tidak ada kemesraan.
Hanya ada kemarahan dan kehilangan.
Isakan tangis dalam diam.
Frustasi.
Kecanggungan dan kesalahpahaman.
•••
Pagi harinya, biasanya suara tawa dan obrolan terdengar kali ini sangat berbeda aura pun begitu suram dan juga mencengkram. Luna maupun Reza diam tidak ada basa basi.
Sejak bangun tidur saja, Luna menghindari Reza tapi dia tetap menjalankan tugas sehari-harinya seperti biasa, ia menyiapkan pakaian kantor Reza yang sudah dia siapkan di atas ranjang, dia lakukan saat suaminya sedang mandi.
Aura pagi, begitu terasa mendung. Bima anak tertua dan si kembar saja merasakan hal yang berbeda pada orang tuanya sekarang.
Tidak ada yang bicara.
Hening.
Hanya ada suara dentingan sendok di piring. Baru kali ini acara sarapan pagi begitu tidak nikmat.
Reza melihat Luna, tidak memakan makananya, khawatir dan cemas.
"Sayang, kenapa sarapan kamu nggak dimakan?" tanya Reza memandang pada Luna, ucapan pertama setelah beberapa menit mereka berada di meja makan.
"Nggak nafsu." singkatnya.
"Mommy, kenapa nggak nafsu? Mommy nanti sakit. Mau Bima suapin?" tawar Bima, Luna menoleh pada anaknya.
Harusnya yang bilang seperti itu Reza, kenapa dia jadi berubah? Biasanya dia perhatian dan pemaksa saat dirinya susah makan. Kali ini berbeda, tidak ada Reza biasanya.
"Makasih perhatian. Mommy lagi nggak nafsu makan."
"Mommy, jangan sakit ya. Nanti Nadila sedih."
"Iya, Nabila juga sedih. Nabila nggak mau mommy nangis lagi… kayak kemarin."
Luna hanya mengangguk, tersenyum dia tidak mau menangis di hadapan anaknya.
Perasaan Reza begitu tersentil oleh anak-anaknya mereka begitu khawatir pada Luna, dia juga ingin seperti itu tapi, Ia tahu Luna masih marah dan tidak mau mendengarkan ataupun memandangnya. Kacau itu perasaan Reza, dia malas untuk berangkat kerja.
"Daddy berangkat dulu." Reza hendak berdiri namun dia berhenti sejenak saat Bima bersuara.
"Kalian bertengkar? Aku harap kalian bisa baikan lagi. Aku nggak mau suasana makan begini lagi. Nggak enak. Kita mau suasana keluarga kita yang harmonis. Bukan diam begini. Kalau ada masalah daddy sama mommy harus omongin baik-baik. Jangan buat kita, anak kalian cemas." jelas Bima, untuk pertama kali seorang Bimantara Reza Winajaya bersabda. Menasehati layaknya orang biasa. Bima benar. Luna dan Reza yang salah, mereka tidak sadar kalau mereka menyakiti anak-anak mereka sendiri.
Luna termenung begitu juga Reza, dia kembali duduk. Si kembar hanya diam. Memandang kedua orangtuanya begitu kacau.
"Kalau begitu Bima, Nabila dan Nadila berangkat duluan."
Mereka pun berpamitan, berangkat dengan supir yang sejak tadi sudah siap mengantar. Dan meninggalkan kedua orang tuanya masih diam di meja makan tanpa bicara sekalipun.
"Bukannya kamu mau berangkat?"
"Hmm.."
Luna berdiri tegak membereskan meja makan, Reza hanya menatap istrinya yang sedang sibuk dengan piring kotor dan menumpuknya.
Reza menahan tangan Luna, saat wanita itu hendak ke dapur. "Aku akan jelasin semuanya. Tapi nggak sekarang. Aku harap kamu percaya sama aku. Hanya itu yang aku butuhkan sekarang. Aku juga akan pertemuan kamu sama Sarah segera. Aku harap kamu bisa menerimanya."
Deg. Jantung berdebar kencang. Rasanya seperti sesuatu yang mengganjal. Otaknya sudah tidak bisa berpikir baik, ia pusing rasanya ingin berteriak.
Apa katanya tadi menerimanya? Perkataan Reza begitu ambigu untuknya. Apa maksudnya?
Luna menarik tangannya yang tadi ditahan Reza, namun tidak lepas.
"Aku berangkat dulu, aku cinta kamu." Reza mencium kening Luna. Lalu berangkat ke kantor. Sementara dia masih terdiam mematung saat peninggalan suaminya tadi.
Air matanya lolos lagi begitu saja. Kali ini rasa sakitnya begitu dalam, jauh di dasar lubuk hatinya. Sesakit ini.
•••
Dunianya begitu berubah berbalik, tidak ada kebahagian. Ujian itu yang sekarang ada di pikirannya. Ingin berpikir positif namun tidak bisa. Ia hanya butuh seseorang yang bisa menenangkan hatinya dan mencurahkan seluruh isi hatinya agar pikirannya kembali teringat tidak seberat ini.
Luna mencari nomor kontak dan menghubungi seseorang yang dapat menemaninya sekarang.
Rara
Orang pertama yang dia cari karena hanya dia yang selalu bisa membantunya, untuk saat ini.
📞 Rara : "Halo.. Lun, ada apa?" sapa Rara di ujung telpon.
📞 Luna: "Aku ganggu kamu nggak?" tanya Luna, dengan nada sedikit berat. Rara menyadari perubahan suaranya.
📞 Rara: "Luna, kamu nangis? Ada apa? Apa perlu aku ke sana?" Rara mulai cemas, tidak biasanya Luna seperti ini.
📞 Luna: "Raaaa-aku...aku butuh kamu, Ra…" ucapnya sambil menangis, terbata-bata berbicara hingga Rara di ujung telpon semakin cemas.
📞 Rara: "Tenang Luna, aku kesana sekarang. Diam jangan berbuat apapun." Ucap Rara, lalu mematikan panggilannya.
Setelah putusnya panggilan, Luna meminta Bik Surti untuk membuatkannya Karedok, entah kenapa dia ingin sekali makan itu, mungkin dia lapar karena sejak tadi tidak ada satu sendok makan pun dia makan. Hanya mengambil roti selai coklat untuk mengganjal perutnya dan susu coklat.
Setelah setengah jam menunggu kedatangan sahabatnya, Rara menghampiri Luna yang sedang lahap menyantap makanannya begitu rakus tanpa menyadari kedatangan sahabatnya.
"Laper, bu.." ejek Rara, lalu duduk di sampingnya. Luna masih belum menjawab karena makanan masih ada di mulutnya menumpuk. "Kayak nggak makan seminggu."
Kemudian meminum air segelas agar tenggorokannya tidak serat.
"Iya, lapar. Tadi nggak nafsu makan. Nggak tahu kenapa, sekarang pengen makan."
"Aneh. Tadi di telpon nangis-nangis. Sekarang malah liat kamu kelaparan. Enak tuh kayaknya, masih ada nggak."
"Masih."
Luna hanya tersenyum.
Kemudian meminta Bik Surti untuk menyiapkan Karedok untuk Rara dan begitu juga Luna. Ia menambah lagi.
Sambil makan Luna menceritakan semuanya pada Rara, tentang permasalahannya. Dia bukan ingin menceritakan aib keluarganya. Tapi dia ingin mengurangi kegalauannya, kali saja pikiran dan hatinya jadi plong. Daripada harus diam, membuatnya stress.
Setidaknya dia mendapatkan nasehat dan pendapat dari sahabatnya.
"Terus sampai sekarang Reza nggak hubungin kamu?"
"Nggak. Biasanya dia suka chat kalau nggak telpon nanyain aku sedang apa, udah makan apa belum, bagaimana anak-anak. Kali ini nggak ada, semenjak kejadian kemarin."
"Mungkin dia butuh waktu. Baru juga sehari dia nggak telpon dan chat. Reza kan orang sibuk. Kamu harus memakluminya. Soal wanita itu, kamu harus bisa tenang menyikapinya. Kalau kata Reza kamu harus percaya, maka kamu harus percaya sama dia. Dia juga belum menjelaskan detailnya kan."
"Iya. Tapi-dia bener-benar berubah, Ra. Yang aku nggak percaya dia membela wanita itu, dia bilang aku harus menerimanya. Coba kamu bayangkan. Ucapannya. Pasti bikin kamu berpikir negatif kan."
"Apa yang kamu bilang itu bener. Aku mengerti dan paham kalau aku di posisi kamu. Sekarang kamu coba berpikir positif, bukannya Reza mau mempertemukan kamu sama Sarah. Ini kesempatan kamu minta untuk Reza menjelaskan semuanya. Kalau memang kebenaran itu adanya. Semua ada ditangan kamu."
Luna memijat pangkal hidungnya, sedikit pijatan. Dia amat sangat gundah gulana. Rara merangkul pundak Luna dan menenangkan dirinya hingga benar-benar tenang.
Mencoba tenang. Dia mencoba untuk tetap tegar untuk ia dan anak-anaknya. Tidak ingin membuat mereka merasa terbebani karena pertengkarannya dengan suaminya.
Demi anak-anaknya.
"Lebih baik kamu coba hubungi Reza lebih dulu, kadang pria itu gengsian." lanjut Rara, menginterupsi.
"Begitu, ya."
"Iya, aku juga sering berantem sama Aldo. Karena kita itu nggak ada yang mau kalah. Salah satu harus mengalah."
"Aku coba ya.."
Luna mencari kontak suaminya. Menunggu sambungan telepon. Tapi ternyata tidak nomor yang dihubungi ada diluar jangkauan.
"Nggak aktif nomornya."
"Telepon Soni."
Luna mengangguk pelan. Perasaannya mulai tidak enak. Dia pun menelpon Soni. Tapi tidak di angkat-angkat. Dia mencoba lagi. Sama saja.
"Nggak diangkat-angkat."
"Mungkin sibuk."
Luna baru ingat. Kenapa tidak menelpon pada Karin saja, pikirnya. Kemudian menghubungi wanita itu. Ternyata diangkat. Ia bernafas lega.
📞 Karin: "Hai, Luna ada apa, tumben."
📞 Luna: "Maaf ganggu, aku mau nanya. Mas Reza ada di kantor?"
📞 Karin: "Nggak ada. Memangnya kamu nggak tahu, Pak Reza kan pergi ke Bali melakukan…"
Tut!
Panggilan langsung diputus oleh Luna begitu saja, setelah dia sudah tahu jawabannya.
Bali? Wanita itu juga di Bali kan. Apa benar hanya klien? Teman bisnis?
Kenapa sekarang Reza nggak memberitahunya. Kenapa?
Luna kembali menangis. Membuat Rara menjadi salah tingkah. Khawatir. Karena Luna begitu terisak. Membuat Rara menjadi sakit mendengarnya dan memeluk Luna erat.
♥♥♥
Yuhuuuu ku gantung lagi ya, biar pada penasaran 😁
Kalian tahu nggak aku nulis ini sampai menagis 😭 kesel 😡 tapi nggak tau kalian bakal kayak aku apa nggak.
Di tambah dengerin lagu ini, Little Mix Ft. Jason Derulo – Secret Love Song
Dipastikan bapeeeeer abis.. 😢
Sengaja aku buat konflik begini, biar para pembaca mulai berekspresi jangan cuma senyum, senang dan tertawa, tapi juga Marah dan Kesal..Siap menghujat Mas Reza-nya nieh 🤔😁
Kira-kira Reza selingkuh apa nggak ya? 🤔🙄
Kadang berumah tangga itu harus ada manis dan pahitnya...