Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
83. EXTRA PART SPECIAL (6)



Hi guy, tumbenkan aku update 


Biar kalian gak kabur tinggalin aku 😭


Meski masih sakit tapi semangat buat update gak mau bikin kalian kecewa


Selamat membaca


Aku minta Vote, Komen, dan Jempolnya (👍) dong


***


Sejak kejadian siang tentang sirine kebakaran, Luna dan sahanatnya tidak habis-habisnya membicarakan hal itu hingga mereka berada di mall. Masih dengan seragam putih abu-abu ketiganya masuk ke sebuah toko pakaian pria. Mereka mendapatkan pandangan ejekan dari para pegawai seakan mereka menerka kalau memasuki toko hanya sekedar melihat-lihat.


"Bel, kamu yakin beli kado buat kakak kamu di sini?" bisik Luna ke kuping Abel sembari melihat-lihat kemeja yang diperkirakan harganya sama dengan ponselnya.


"Iya." jawab Abel santai. Sedangkan para pegawai masih mengikuti dan mengawasi mereka. 


"Kamu bawa duitkan?" kali ini Rara bertanya. 


"Gak."


"Serius?" ucap keduanya pelan tidak bersuara menatap Abel masih dengan lihai memilih kemeja untuk kado sang kakak. 


Abel mengangguk. "Kalian cariin dong mana yang bagus." katanya. 


Luna dan Rara mendengus kesal. Bukan apa-apa mereka mendapatkan tatapan dari pegawai toko. Di tambah Abel dengan santai memilih kemeja dan tidak bawa uang pula. Mau bayar pakai apa? Daun kelor atau daun bawang? Luna menggeleng pelan rasanya ingin keluar dari toko dan memilih untuk nongkrong di Cafe.


"Bel, kita cari toko lain aja, yuk." ajak Rara menarik tangan Abel. "Di sini mahal-mahal." timpal Luna. 


"Kalian kan tahu aku orang kaya, masa beli di tempat diskonan." ucapnya percaya diri. 


"Ya ya ya Orang kaya mah bebas." delik Luna. Abel hanya tersenyum geli akan tingkah keduanya yang ketakutan tidak bisa bayar, jangankan baju, semua toko di mall bisa Abel beli dengan uang milik Ayahnya.


"Buru pilih bajunya." cerca Rara. 


"Bantuin." Abel memelas dengan muka sok teraniaya.


"Muka tolong di kondisikan, Bel. Gak pantes. Muka kayak curut mau mati aja." celetuk Luna.


"Kamvret."


Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah memastikan pilihan Luna lah yang terpilih untuk kado kakaknya, selera kakaknya memang seperti yang Luna pilihkan kemeja berkerah dengan motif  stripe bernuansa biru muda yang kalem dari koleksi musiman yang dikeluarkan secara terbatas dan eksklusif. 


Mereka berjalan menuju kasir dengan rasa percaya diri, tapi tatapan para pegawai masih setia mengejek, mereka pikir anak sekolah tidak mampu bayar, uang segitu mah kecil untuk Abel terutama.


"Mbak, saya mau bayar." ucap Abel sambil memberikan kartu kredit miliknya pada kasir wanita itu. Pegawai yang melihat Abel mengeluarkan kartu kreditnya sedikit terkejut. Mereka yang sempat mengejek berubah menjadi terlihat sopan dan biasa.


"Terima kasih sudah belanja di toko kami." seru para pegawai sopan. 


Makanya jangan lihat orang dari covernya. Runtuk hati Luna mengejek balik.


Mereka berjalan dengan dagu sedikit naik sambil bersedekap mencoba menyombongkan diri meski hanya Abel yang membeli. 


Sudah mendapatkan kado, mereka berjalan menuju restoran untuk makan sore, di traktiran orang yang mengaku kaya. Mumpung dapat traktiran, tidak disangka akan makan di restoran mahal yang menyajikan makanan barat. Memang orang kaya beda kelas, makan saja di tempat mahal. Tapi tetap jajanan favorit mereka tidak jauh dari tahu gejrot, cimol, basreng dan siomay.


"Kakakku bakal seneng banget sama kemeja yang kamu pilih, Na." kata Abel sambil melihat kembali isi paper bag nya. 


"Pastilah, selera aku gak pernah mengecewakan tapi harganya sangat mengecewakan mahal banget, gila. Harga ponsel aku aja lebih mahal baju kemeja kakak kamu." runtuknya tapi senang saat Abel suka akan pilihannya. 


"Memang kapan kakak kamu pulang?" tanya Rara.


"Seminggu lagi."


"Oh!" Singkat Rara. 


Kemudian pesanan mereka datang, makanan mahal yang menyajikan steak kelas atas terlihat menggiur lidah Luna dan Rara, mungkin Abel sudah biasa akan makanan ini meski Luna dan Rara pun sering namun steak bukan makanan yang selalu di makannya. Daripada steak Luna lebih memilih makanan rumah dan bagusnya masakan Almarhumah Ibunya. 


"Luna, gimana hubungan kamu sama Jessy? Masih belum restuin juga sama Om Gege?" tanya Rara amat hati-hati, sambil menyuapkan steak yang sudah di potong kedalam mulutnya pelan-pelan.


Luna masih memotong steaknya. Matanya sesaat melirik pada Rara. 


"Gak tahu, aku bingung dan takut." Jawab Luna jujur, selama ini memang tidak menyukai Jessy namun di sisi lain Luna tidak suka kalau Jessy pergi kembali ke Jerman.


Abel meletakan alat makannya, kemudian meminum air di gelas, memandang wajah Luna tampak banyak pikiran. Setelah Ibu Luna meninggal semangat hidup Luna mulai berkurang, kadang ia akan murung saat tidak bersama, pura-pura ceria tapi sebenarnya Luna tidak senang, di sinilah sahabat harus bisa menjadi pendukung. Selalu ada saat sahabatnya bersedih.


"Bingung dan takut, kenapa?" keduanya bertanya. 


Luna menghentikan acara makannya, kemudian minum terlebih dulu, nafsu makannya sedang tidak baik. Sekaligus steak nya memang makanan yang bukan kesukaanya. Rara mengikuti acara makannya, ini momen yang ditunggu dimana Luna siap akan mencurahkan isi hatinya, jarang-jarang bercerita dan itu sudah lama.


"Aku takut Ayah bakal lupakan Ibu kalau bersama Jessy. Di sisi lain aku ingin Ayah juga bahagia, tapi aku dengan egois minta mereka putus. Sekarang Jessy dan Ayah benar-benar putus. Tidak disangka Jessy mau kembali ke Jerman dengan Barrack. Aku harus bagaimana? Apa aku jahat memisahkan mereka?" cerita Luna sedikit berkaca-kaca, mana ada seorang anak menghancurkan kebahagian Ayahnya. 


Rara dan Abel berdiri dan mendekatkan kursinya dengan Luna. Rara mengelus punggung Luna dan Abel menyentuh tangan Luna. 


"Aku ngerti perasaan kamu, kadang memang kita harus egois, tapi kadang kita juga harus berkorban untuk orang yang kita sayang. Mungkin dengan adanya Jessy bisa mengembalikan sosok Om Gege yang dulu lagi. Selama ini Om Gege kesepian meski ada anak di sampingnya tapi Om Gege butuh sosok wanita yang bisa mendampinginya kelak di hari tua. Seorang pria itu lemah dari apa yang kita lihat. Jadi, kamu pikirkan baik-baik jangan buat kamu menyesal di kemudian hari." kata Rara bijak, Luna mengangguk akan kata-kata sahabatnya macam mario teguh, Dia benar semua pilihan ada ditangannya. 


"Benar kata Rara, kamu ingin Om Gege bahagia kan?" tanya Abel. Luna mengangguk. "Kalau begitu buat Om Gege bahagia." kata Abel lagi.


"Terima kasih karena kalian selalu ada buat aku…" lirih Luna. 


Mereka bertiga saling berpelukan dan ikut bersedih dan tidak peduli mendapatkan pandangan dari para pengunjung lainnya.


•••


"Bagaimana sama anak kamu, Ge?" tanya seorang pria paruh baya pada Gege masih duduk terdiam di sofa, pikirannya masih di awang-awang.


Gege terhentak. "Uhm, dia mau." katanya sambil mengurut keningnya. 


"Begitu saja dia mau, pasti ada timbal baliknya kan, kamu bilang anak kamu itu keras kepala." kata pria sambil menyesap tehnya. 


"Begitulah…" balasnya malas membuat pria itu heran.


"Begitu gimana?"


"Aduh curut bisa gak jangan bahas itu dulu, aku pusing nih. Niatnya aku mau minta bantuan kok malah dapat pertanyaan kayak gitu."


Galang meletakkan kembali cangkir teh ke meja. Ia memandang Gege.


"Tenang aku bantuin apa saja, asal kamu cerita soal anak kamu itu." tukas Galang, ada permintaan maka ada bayaran pula.


Gege menghembus nafasnya. "Ok fine. Dia mau dijodohkan asal aku putus hubungan sama Jessy." katanya. 


Galang terkejut. "Sumpah anak kamu bilang gitu, aku gak salah pilih calon mantu kalau begitu. Oh, jangan bilang yang buat kamu uring-uringan karena putus sama Jessy? Benar kan?" keukeuh Galang.


"Serahlah kamu mau bilang apa, intinya tolong bantu aku, beli perusahaanku yang di Jerman." 


"Kenapa mau di jual? Apa perusahan di Jerman sedang failed, malah aku lihat perusahaan kamu berkembang pesat di sana?"


"Tidak failed hanya saja aku ingin fokus di sini aja saja. Kamu tahukan anak bungsuku itu hidup tidak punya siapa-siapa, Anggita sudah berumah tangga, sekarang sedang hamil. Aku gak mau buat dia gak punya keluarga. Dia hidupku satu-satunya. Paling penting di dunia ini."


Galang menepuk bahu Gege. "Kan ada aku, keluarga aku bakal jagain anak kamu."


"Anak aku itu tidak mau bikin orang kerepotan atau susah dia gadis yang mandiri. Sama Ayahnya saja sungkan."


"Dia gadis baik. Aku bangga sama calon mantuku itu. Anakku minggu depan pulang, dan besok aku mau kesana buat acara wisudanya."


"Hm, jadi kita akan pertemukan mereka kapan?"


"Secepatnya."


Gege dan Galang memang sudah berteman sejak kuliah di paris dulu, mereka dikenal sangat badung di kalangan mahasiswa saking badung mereka hampir saja di D.O namun karena prestasi mereka sangat baik kampus mereka masih setia untuk menampung mereka berdua yang memang susah di atur namun punya otak yang encer. 


"Kamu sudah bertemu lagi dengan Jessy?" Galang kembali bertanya hal sensitif.


"Belum." 


"Meski kalian sudah putus, kamu masih harus tetap berhubungan baik dengannya, Ge. Kamu gak kasihan sama anaknya Jessy sudah melekat sama kamu dan aku dengar anak kamu juga sayang sama anaknya Jessy. Aku heran sayang anaknya tapi gak suka Ibunya." cerca Galang bingung akan situasi seperti ini apalagi Gege yang ada di posisi sekarang.


"Mereka hanya takut aku akan melupakan Larasati. Bukan apa-apa. Mereka salah besar kalau bilang aku kan melupakan Larasati, aku sangat cinta sama dia meskipun dia sudah berbahagia di atas sana. Aku tidak pungkiri kalau ketakutan mereka beralasan." Lirih Gege.


"Sulit memang. Di antara kalian lah yang harus berkorban." tanggap Galang.


Galang memang tidak bisa berbuat apapun karena memang masalah keluarga Gege bukan haknya ikut campur hanya saja Galang ingin temannya bahagia tapi tidak mudah.


"Ya berkorban demi kebahagian anak-anakku itu paling utama, aku benarkan, Ga?" tanya Gege minta pendapatnya.


"Kamu benar, kadang kita memang harus berkorban demi anak." balas Galang sedikit terdiam.


"Sekarang sepertinya kamu ada masalah, cerita lah, jangan aku melulu." 


Galang menghela nafas. "Ini tentang anak-anak juga."


Gege penasaran.


Kali ini Galang lah yang bercerita tentang masalah anak pertamanya yang lebih memilih untuk tidak melanjutkan posisinya lebih memilih pekerjaan lain. Sebenarnya anak Galang ada tiga, namun Gege belum pernah bertemu dengan mereka hanya setiap obrolan mereka selalu menceritakan anak-anak mereka. Anak pertama tidak punya passion di bidang yang Galang geluti, sebelum menduduki posisi saja anaknya yang sering Galang panggil, Abd itu selalu menolak dan pesimis meminta Galang untuk menjadi kan Anak keduanya saja untuk mengisi tempat tersebut. 


"Lalu masalahnya apa, Si Abd sudah menolak, ya harusnya tidak ada masalah lain dong." kata Gege.


"Iya tapi masalahnya anak kedua aku juga gak mau. Dia malah minta Abd yang maju bukan dia aku jadi serba salah. Punya dua anak laki-laki tapi tidak ada yang mau ambil posisiku sekarang. Kamu tahu aku harus berpura-pura egois. Itu membuat aku menjadi orang jahat di mata mereka." jelas Galang yang punya masalah lebih ribet dari Gege. 


"Kalau mereka gak mau jangan di paksa, percuma gak akan berhasil. Kalau tidak kamu bikin cara lain saja untuk mereka agar mau mengganti posisi kamu. Cara yang baik bukan licik yang ada di otak kamu, Ga." nasehatnya, Galang lebih keras kepala dari Gege. Galang tipe orang yang keukeuh, apa yang harus di raihnya maka harus dikejar meski dengan cara licik.


Galang tersenyum simpul. "Kamu benar, aku akan buat anakku menggantikan posisiku ini, bagaimanapun juga."


Gege merasa kalau hal yang aneh dengan senyum Galang yang misterius. Tapi ia yakin Galang akan melakukan cara yang baik bukan cara licik yang sering dilakukannya.


***


Pasti kalian pengen cepat selesai sama cerita masalalunya, tenang aja tinggal beberapa lagi kok. aku juga udah siapkan buat cerita masa depan keluarga Luna dan Reza. Jadi mohon bersabar ya.


Terima kasih sudah dukung aku, meski jarang update kalian masih setia.