Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
60. Say Yes



♥♥♥


Hari senin adalah hari paling menyebalkan, paling dihindari oleh Rara. Pagi ini Rara terlambat masuk ke kantor karena jalan Jakarta yang macet biasanya. Ia mengendarai mobil dengan wajah muka kesal, karena sejak kemarin chatnya tidak sama sekali dibalas dan tidak dibaca pula.


Aldo nyebelin banget sih. Dia masih marah sama aku gara-gara kemarin. Batin Rara.


Hal sepele...


Bagaimana Rara tidak kesal, Aldo yang notabenenya pacar Rara tidak ada romantis-romantisnya seperti pasangan lainnya. Contohnya jalan-jalan berdua atau menonton selama 5 bulan ini mereka tidak pernah dilakukan. Meski memang tidak diwajibkan juga kalau pacaran harus nonton atau jalan-jalan. Toh selama ini juga dia merasa nyaman meski harus menemani Aldo makan malam dan belanja kebutuhan restoran.


Sekitar pukul 09:00, Rara baru sampai di kantor, dia juga bekerja di sebuah perusahaan penerbit. Yap, akhirnya dia bisa masuk perusahaan yang Rara inginkan. Dan posisi Rara sebagai Editor Akuisisi ini yang bertugas  untuk menyeleksi naskah-naskah masuk dan memberikan keputusan apakah naskah tersebut layak terbit atau tidak. Saking suka baca novel dia mati-matian untuk masuk ke perusahaan penerbit.


Di dalam ruangannya Rara, melihat semua dokumen dan naskah dari para penulis baru yang akan siap diterbitkan sekitar 40 naskah minggu ini, lebih banyak dari sebelumnya. Karena sekarang banyak penulis yang bertalenta sehingga dia sekarang kewalahan.


Seseorang masuk ke ruangan setelah mengetukan pintu. Wanita itu menghampiri Rara yang sedang disibukkan oleh dengan naskah di mejanya.


"Bu, ini ada sekitar 30 naskah yang akan di seleksi." ucap wanita itu sambil menyimpan naskah di atas meja Rara yang masih berantakkan.


"Segini banyak, terus si Jaka ngapain aja di mejanya. Suruh dia yang seleksi yang kamu bawa, saya masih banyak. Kamu nggak lihat. Memangnya editor akuisisi cuma saya doang." Keluh Rara, dia emosi. Sejak tadi dia memikirkan Aldo di otaknya. Kerjaan terbengkalai begitu saja. Dan sekarang dia memarahi seseorang, sebagai pelampiasannya. Nggak profesional banget, pikiran Rara terus berkutik.


Sial! 


"Maaf. Saya hanya ditugaskan Bu Farida, untuk mengantar naskah ini."


"Iya, iya saya tahu."


"Jadi bagaimana bu?"


Mendengar suara Rara begitu marah, dan wanita tersebut terlihat gugup mungkin juga ketakutan. Rara pun berucap sedikit tegas namun tidak juga menyentak tapi hal begitu dianggap menakutkan oleh wanita itu. 


Rara tampak menyesali apa yang sudah dia lakukan kepada wanita yang baru seminggu masuk kerja.


Sebelum wanita itu melangkah pergi, Rara terlebih dahulu bersuara. "Simpan saja di sini. Kamu boleh pergi dan kamu beli kan saya coffee dulu." wanita itu patuh dan menyimpan naskah itu di atas meja, dan mengambil uang yang diulurkan Rara padanya untuk membeli coffee. 


"Iya bu, kalau begitu saya permisi."


"Hmm... "


Lalu kepergian wanita itu membuat Rara sedikit menghela nafas, lalu melihat kembali ponselnya. Melihat chat, yang dikirimkan ke Aldo masih tetap sama belum ada balasan dan dibaca juga.


Sialan. Aldo nyebelin.


Kacangin aja terus.


Kampret. 


Perasaan Rara begitu campur aduk saat ini, rasanya ingin menangis dan berteriak kencang ingin dia lakukan di saat ini juga. Batinnya terus saja berteriak-teriak saat gejolak hatinya terasa begitu sakit. Dia menyentuh dadanya terasa menyesak. Dan mengingat kembali di mana dia dan Aldo pertama kali memulai hubungan secara cuma-cuma.


"Bodoh. Harusnya aku nggak harus bilang 'Yes' dulu kalau ujung-ujungnya jadi begini." gunam Rara pada dirinya sendiri. Menyesali semuanya.


•••


5 bulan sebelumnya…


"Sakit gila." desis Rara, kesal. Abel sembari tadi tidak bisa diam dengan tangannya selalu saja mencubitkan lengan Rara disampingnya karena gugup. Yap, acara pernikahan Abel dan Soni sekarang telah tiba.


"Sorry aku gugup, wajar dong aku kan mau akad nikah sama bang Soni yang bentar lagi mau jadi my husband love love." kata Abel sambil menghilangkan kegugupan yang sedang dilandanya. Keringat dingin. Jantung pun ikut berhenti sesaat seakan memberi jeda. Sekarang ia tahu apa yang dirasakan Luna dulu. 


Tak lama langkah seorang datang menghampiri Abel dan Rara. Yang sedang duduk di samping ranjangnya. Dia pun melangkahkan pelan-pelan, seakan berat untuk melangkah. Ya, Luna datang dengan dress panjang dengan bahan kain brokat warna peach dengan perutn yang buncit terlihat manis. 


"Cielah, penganten muka gelisah banget. Santai kali nggak usah gugup. Tarik nafas panjang. Lalu hempas." ucap Luna, lalu mengelus pundak adik ipar yang akan segera menikah dengan pujaan hatinya. 


"Sekarang aku bisa ngerasain kayak kamu dulu, Luna. Rasa aneh. Sumpah." balas Abel dengan rasa yang gugup.


"Lebay." Seru Rara terlihat kesal. Dia iri sekarang melihat teman-temanya sudah menikah. 


"Sirik aja kamu. Aku udah bilang, coba dulu sama Aldo. Mau jadi perawan tua." kata Abel mencoba mencomblangkan Rara dengan Aldo. Bukan dia saja, tapi semuanya juga setuju kalau Aldo dan Rara menjalin hubungan.


"*Emang dia mau sama aku." Sahut Rara sedikit menunduk malu, dia merasa kalau dia adalah wanita paling payah nggak bisa apa-apa seperti kedua sahabatnya. Mereka berdua bisa mendapatkan pria yang baik. Contohnya aja Luna, dia mendapatkan Reza Aditya Winajaya, seorang CEO muda dari SJC keturunan anak sultan yang juga termasuk orang daftar orang terkaya di Indonesia dan Asia. Begitu dengan Abel, dia mendapatkan Soni Harry Kusuma. Dia pun seorang sekretaris dari Reza. Bukan hanya itu Soni juga merupakan keluarga berada, keluarga Kusuma yang mempunyai usaha restoran masakan sunda di seluruh Indonesia.


Sedangkan dia sendiri, Nihil. Sangat menyedihkan*.


"Pasti mau, Ra." sahut Abel. 


"Aku nggak laku. Harus ngemis-ngemis sama cowok." kata Rara merasa kecewa sendiri. Rara dari segi fisik aja cantik, manis, jangkung, badan langsing, dan nggak ada kurangnya. Bukannya nggak ada cowok yang nyantolin dia. Sebenarnya banyak pria yang ingin mengajak dia. Tapi entah kenapa dia selalu saja menolak. Hingga tak ada kesempatan untuknya pacaran. Dan itu uang di sesalinya sekarang. Terlalu pemilih.


"Masih belum dipertemukan, Ra. Sabar aja." Ucap Luna memenangkan.


"Makanya jadi cewek nggak usah pilih-pilih. Bucin sama christian grey, begini jadinya." Ujar Luna, lalu tersenyum. 


Abel menghela nafas. "Yang butuh ditenangin itu aku. Lah jadi curhat sih. Lembe kamu, Ra. Nanti di luar banyak kok cowok yang kondangan kamu pilih tinggal tunjuk. Pastilah banyak yang single atau jones." keluh Abel mencoba sabar mengelus dadanya. Luna sekilas mengarah pandangannya ke arah Abel. Yang tampak mulai kembali gelisah.


"Sorry."


"Ayo, acara akad nikahnya akan dimulai."


Luna dan Rara menghantar Abel ke pelaminan, sudah ada Soni sudah duduk bersila di depan penghulu dan saksi akad nikah, melihat ke arah mereka dengan tatapan kagum akan calon isterinya itu Abela Saliana Winajaya. Si bungsu dari keluarga Winajaya. Kedua mempelai duduk berdampingan.


Selesai akad nikah, langsung ke acara yang ditunggu yaitu resepsi. Acara di buat dengan sederhana dengan konsep outdoor.


Suasana resepsi juga sangat romantis yang bisa para tamu undang rasakan berada di The Roemah 7A, tapi juga hangat dan sakral.


Rara duduk diantara, Luna dan Reza. "Rara, kapan kamu nyusul?" tanya Reza spontan. Dia tidak peduli akan Rara marah atau jengkel. Luna menyenggolkan tangannya. Agar tidak membicarakan hal tersebut.


"Cari calon dulu kali." Rara tak ingin basa-basi. Gondok itu pasti. Semua orang yang ditemuinya hampir bicara hal yang sama. 


"Didoakan, cepat dapat pasangan." ucap Reza, sebelum itu saat Rara akan menjawab atau mengamini, tiba-tiba Aldo datang dan duduk disamping Rara.


"Amin." Sanggah Aldo. 


Mereka melihat ke arah Aldo berada. Rara rasanya ingin pindah dan pulang saja, kalau begini caranya. Entah sejak kapan, dia selalu menghindari Aldo setiap mereka berada di satu tempat.


"Aldo! Kapan kamu balik?" tanya Luna memandang ke arah Aldo di samping Rara. Sedangkan Reza mengerut alisnya. 


"Semalem, ini hari special Abel aku harus hadir dong." balas Aldo, sekilas dia melihat pada Rara yang sejak tadi diam tak menyapa.


"Bagus deh, aku kita kamu nggak datang. Sekarang jadi Chef terkenal sibuk melulu." Kata Luna. 


"Biasa saja."


Reza memberikan bisikan pada Luna agar pindah ke tempat lain, mereka berdua berdiri. Rara maupun Aldo otomatis menoleh penasaran.


"Mau kemana?" tanya Rara. Dia tidak mau ditinggal oleh keduanya. Dia takut. Gugup.


"Kita ke Mas Abdul sama Mbak Sarah. Ada urusan. Kamu sama Aldo dulu bentar. Nanti kami kesini lagi kok. Nggak apa-apa kan aku titip Rara." Balas Luna. 


"Aku bukan anak kecil, yang harus dijaga." ketus Rara. 


"Tenang aku jagain."


"Kita berdua duluan."


Reza dan Luna pergi meninggalkan keduanya, sengaja memberikan mereka kesempatan untuk berduaan dan menyelesaikan masalah mereka. Entah, masalah apa. 


Hening. 


Canggung.


Keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara satu kata pun. 


Rara merasa tidak nyaman, dia berdiri namun tangan kekar Aldo menahannya. 


"Mau kemana sih. Aku mau ngomong?" cenggah Aldo lalu menarik kembali Rara hingga duduk disampingnya lagi dan menatap ke arah Rara.


"Tadi diam saja." sinis Rara. Duduk sambil bersidakep.


"Maaf, aku sedikit gugup. Makanya aku diam dulu tadi, ngilangin rasa gugup aku." 


Aldo menghela nafas. Sedangkan Rara hanya berpacu dengan pikirannya sejenak. 


Aldo gugup? Kenapa? Aneh. Batin Rara.


"Ayo ngomong?" Rara tak sabar. Ia ingin cepat keluar dari situasi ini. Tidak suka. Tidak nyaman.


"Mau menghindar terus?"


"Apa sih, siapa yang menghindar?"


"Kamulah, sejak mereka minta kita buat berhubungan. Dan gara-gara ucapan aku, yang bikin kamu sakit hati sama kamu. Kamu langsung menghindari begitu aja."


Menghindar. Iya aku menghindari kamu. Karena aku takut kalau nanti aku bakal jatuh cinta sama kamu, Aldo. Aku tahu Al, kamu masih suka sama Luna. Kamu bucin Luna. Sampai kapanpun. Itu yang aku tahu. Pikiran dan batin Rara terus bercampur aduk. Rasanya ingin dia mengeluarkan semua di dalam pikirannya.


"Jangan kepedean kamu. Menghindar? Aku nggak pernah menghindar. Kamuflase."


Aldo kembali terdiam. Pusing rasanya menghadapi wanita macam Rara. Sejak saat itu pikirannya dipenuhi wanita itu. Selalu dia dan dia. Hingga rasanya Aldo ingin menarik Rara dalam pelukannya dan…


"Menyebalkan…" ucap Aldo. Rara mendengarnya. Mengerut sebelah alisnya.


"Aku?"


"Iya kamu."


"Kenapa? apa salahku? Hah?"


Aldo tidak tahan. Lalu menarik tangan Rara menjauhi dari keramaian. Rara hanya memandang Aldo dibelakang dia bingung dengan sikap Aldo. Menarik tangannya dan membawanya entah kemana. 


"Mau kemana?" teriak Rara. "Kamu tuli? Aldo?"


Aldo tidak menjawab dia terus berjalan. Rara berontak. Namun Aldo lebih kuat, sehingga dia pasrah Aldo akan membawanya ke mana. Karena resepsi Abel sengaja diadakan outdoor. Suasana  vintage juga bisa kamu rasakan. Mereka menyusuri setiap orang.


Mereka berhenti di dekat pohon samping rumah joglo yang terlihat masih kokoh dan juga sepi. Karena tamu berada di tengah aula halaman. 


"Lepas. Sakit tahu." Ronta Rara, lalu Aldo melepaskan cengkramannya. Rara mengelus pergelangan tangan yang sedikit merah.


"Maaf…" Lirih Aldo merasa bersalah.


"Bilang maaf terus. Jadi mau apa kita kesini. Aneh. Kamu kenapa sih?"


"Itu…"


"Ngomong yang jelas Aldo."


"Bawel ya kamu."


Rara diam. Tidak mau dihasut kemarahannya pada Aldo. Malah tidak akan kelar.


"Kita coba."


"Coba apa?"


"Pacaran."


"Jangan bercanda Aldo Mahendra."


"Aku serius. Kamu tahu, akhir-akhir ini aku berpikir, tak salah mencoba. Maksud aku...aku merasa selalu ada yang mengganjal di hatiku, setiap kali kamu selalu menghindar terus. Rasanya aneh, seperti ada yang hilang."


"Maksud kamu?" 


"Mungkin aku mulai menyukai kamu."


"Bullshit."


"Aku nggak bohong."


Aldo menggenggam tangan Rara di hadapannya, dan menatap wanita itu penuh harapan. Rasanya panas dingin saat berada di samping wanita itu, debaran dadanya bergemuruh. Rasanya dia kembali jatuh cinta.


"Aku… serius Ra, kamu mau kan kita mencoba untuk saling mengenal sebagai pasangan. Mungkin kamu nggak suka ini. Karena memang kita bukan anak ABG yang nembak langsung pacaran. Tapi aku ingin dekat dalam arti serius untuk kedepannya."


Rara senang seperti ada bunga bermekaran di dalam dadanya. Ini mimpi? Bukan ini adalah kenyataan. Apa dia masuk dalam dunia novel? Benarkah? Impossible.


"Rara, kamu kok bengong. Bagaimana?"


Apa yang harus aku jawab? Yes or No. Ya Allah, beri hambamu ini petunjuk. Batin Rara.


"Ini bukan April mop kan?"


"Jelas bukan Ra, ini Februari." Aldo sedikit membuat humor garing.


"Nggak lucu."


"So, Rara Maukah kamu menjadi seseorang yang mengisi hatiku? Aku nggak akan berjanji apapun. Tapi aku serius akan hubungan yang aku tawarkan sama kamu. Untuk membuat kamu bahagia."


Rara tersenyum. Sejak kapan Aldo romantis seperti ini, gila. Aku luluh. Pikirannya. 


Aldo melempar senyum bahagianya pada Rara. Dengan reflek Aldo memeluk Rara begitu tiba-tiba membuat Rara kaget. Tapi dia merasa nyaman. Mereka berdua semakin mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih." ucap Aldo. 


Hingga tanpa kedua sadari, Abel, Soni, Luna dan Rara melihat keduanya dari kejauhan…


"Akhirnya… " Seru Mereka bernafas lega. 


•••


Rara masih berkutik di dalam pekerjaannya, hingga dia bosan dan kesal. Sampai detik ini juga Aldo tak menghubungiku sama sekali. Hingga ponselnya tiba-tiba berdering, pikirannya Aldo. Tapi ternyata bukan. Luna yang menelpon. 


Dia angkat. "Ada apa?" tanya Rara malas dengan nada suara lemas.


"Kamu kenapa Ra?" Luna malah balik tanya. Khawatir. Tidak biasanya nada suara Rara lemas begini. Bukan Rara yang biasanya. 


"I'm okay. Mau apa, tumben kamu hubungin aku?" kata Rara.


"Uhm, aku ada didepan kantor kamu nih, kita makan siang bareng yuk, ada Abel juga disini. Kita mau jemput kamu." ucap Luna diujung telepon, berada didalam mobil sekilas menengok kantor Rara di depannya. Melihat ke arah sekeliling.


"Kamu bercanda. Aku masih banyak kerjaan."


"Cepat sini. Kita tungguin. Sudah jam makan siang Rara. Karyawan sudah banyak yang keluar. Jangan kerja mulu. Kita tunggu di mobil."


Luna menutup panggilan sepihak tidak mau dengar alasan Rara. Panjang urusannya.


"Nyebelin banget sih kalian." gerutunya. 


Rara kesal. Dengan sahabatnya yang seenak dewek. Tapi dia bersyukur sahabatnya selalu ada disaat dia sedang galau begini. Dia pun bergegas mengambil tas dan ponsel di meja, menghampiri sahabatnya keluar kantor.


Hanya beberapa menit mereka sampai tujuannya.


Ya, sekarang mereka sampai di restoran italy milik Aldo, Lotto.


"Kenapa kesini?" Kata Rara tidak suka. Ia masih kesal dengan Aldo yang masih belum menghubunginya saat ini juga. 


"Makan siang." sahut Abel dan Rara. 


"Nggak ada tempat lain apa?"


"Nggak ada. Pengen disini." Seru Abel cepat dan tepat agar Rara tidak banyak bicara.


"Terserah."


Mereka turun dari mobil menuju restoran dan masuk, Rara hanya berdoa kalau Aldo tidak ada. Dia belum siap bertemu. Rara masih kesal. Kalau dia melihat Aldo rasanya ingin sekali melempar pria itu ke planet mars. Tapi mereka masuk tidak ada siapa-siapa, pengunjung tidak ada hanya ada mereka bertiga. Padahal sekarang jam makan siang.


Mereka duduk di pojok restoran tempat biasa mereka ngerumpi.


Rara heran. "Sepi banget. Aneh."


Luna dan Abel hanya mengangkat kedua bahunya.


Membuat Rara curiga. Penasaran.


Tiba-tiba seorang pelayan datang mengarah ke arah mereka membawa makanan. "Kok, sudah dibawain segala sih. Kitakan belum pesan." Ujar Rara merasa ada yang aneh. 


"Aku udah order duluan." balas Luna agar Rara tidak curiga. Sesuatu sudah mereka rencanakan tanpa diketahui Rara.


"Oh."


Rara melihat kesana kemari, tidak melihat sosok yang dia cari. Aldo.


Resah. 


Gelisah.


"Kamu masih marahan sama Aldo? " tanya Luna di sela makannya. 


"Iya." Singkat Rara. 


"Sudah coba hubungi?" timpah Abel. 


"Sudah." Rara menjawab malas. Dan hanya memutar dan mengaduk pasta dihadapannya.


"Sabar ya mungkin dia sibuk." Kata Abel. 


"Mungkin."


Pembicaran mereka terdengar kurang menyenangkan karena biasanya Rara akan ceria. Tapi hari dia merasakan kesunyian. Hanya denting suara alat makan yang terdengar. Namun, tiba-tiba suara pria membuyarkan mereka bertiga dan menoleh pada sumber suara. 


Aldo. 


Pria itu menghampiri dengan senyum sumringah. Seperti tanpa dosa. 


Sialan.


Aldo duduk disamping Rara melihat kekasihnya, dia terlihat kacau. "Kamu kenapa baby, lemas banget sih?" tanya Aldo tanpa merasa bersalah. 


Rara menatap Aldo tajam. Rara ingin marah namun dia coba tahan. Dia ingin bersikap dewasa. 


Ya, Allah, berikan hambamu ini kesabaran, ini cowok pura-pura bego apa memang otaknya yang gesrek.


"Banyak kerjaan. Jadi lemas banget." jawab Rara tidak ingin memandang pria itu dan menyuap pasta dihadapan Rara dengan rasa kesal.


"Jaga kondisi badan kamu. Jangan terlalu fokus sama kerjaan." tulus Aldo. Dia mengusap rambut kekasihnya. "Kalau begitu aku ke ruangan dulu. Aku tinggal ya." Aldo tanpa pikir panjang meninggalkan mereka.


Rara kesal. 


Kecewa. 


Sedangkan Luna dan Abel hanya bisa melihat wajah Rara tampak semakin merah. Marah. Kesal pasti yang sekarang dia rasakan.


Tidak bisa ditahan lagi.


Rara ingin sekali menangis sekencang-kencangnya.


Sakit hatinya.


Namun tiba-tiba lampu resto menjadi gelap meski siang tapi tetap saja gelap di dalam. Rara merasa penasaran dengan apa yang terjadi.


Ia melirik ke arah Luna dan Abel terlihat biasa saja.


"Ada apa?"


Tidak menjawab apa-apa. Aldo datang dengan gitar. Lalu berdiri di depan meja mereka. Rara amat terkejut dan tidak percaya. Aldo bernyanyi untuknya. Speechles…


Yovie & Nuno "Janji Suci"


 


Dengarkanlah wanita pujaanku


Siang ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Rara tersenyum. Saat Aldo mengubah lirik yang harusnya malam menjadi siang… 


Ini memang siang.. 


Aku ingin, mempersuntingmu


Tuk yang pertama dan terakhir


Air mata Rara begitu saja mengalir di pipinya, Aldo melamarnya? Sedangkan Luna dan Abel hanya bisa tersenyum bahagia, untuk Rara. 


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Aldo menyanyi dengan baik. Suaranya pun tidak buruk… hanya ada ketulusan di setiap lirik dan ucapan yang keluar dari mulut Aldo… 


Dengarkanlah wanita impianku


Siang ini akan kusampaikan


Janji suci satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin, mempersuntingmu


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Selesai bernyanyi dan membuat suatu kejutan, Aldo menyuruh Rara untuk menghampirinya. Rara berdiri tepat di depan Aldo.


Tak percaya.


Dia menyimpan gitar diatas meja lainnya disisi, dan Luna maupun Abel duduk diam melihat apa yang akan dilakukan keduanya. Seperti menonton film romantis di bioskop.


Aldo berlutut. Matanya masih belum lepas dari wajah Rara tampak masih terkejut.


Bahagia.


Aldo mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dongker. Dan dibukanya sebuah cincin. Rara kaget membuat dia menutup mulutnya. Semakin terkejut. 


Luna dan Abel begitu riang saat Aldo mengeluarkan kotak tersebut. Jadi selama ini, kenapa Aldo tidak menghubungi atau membalas chat dan telpon Rara dia sedang membuat kejutan untuk kekasihnya dan sengaja agar Rara kesal…


Dengan bantuan Luna dan Abel… 


Aldo masih berlutut, sudah membuka kotak cincin dan sedikit di sodorkan ke arah Rara menatapnya serius. 


"Ini bukan malam romantis seperti christian grey yang melamar anatasya steal. Tapi aku Aldo Mahendra di sini ingin menjadikan kamu pendamping hidupku sekarang dan selamanya. Rarasita Putri Taher will you marry me?"


Tapi pikir panjang dia, mengangguk. "Yes."


Aldo memasang kan cincin di jari manis Rara, dan memeluk kekasihnya. Mencium kening Rara. Lalu mencium bibir Rara dihadapkan kedua sahabatnya tanpa pikir panjang saling melumat dan membalas tautan mereka.


"Ck. Jadi kangen suami dirumah." seru keduanya. 


♥♥♥


Oke kisah cinta pasangan DORA (Aldo Rara) dipublish hehehe suka sama pasangan ini meski cuma sedikit kisah keduannya.


Tapi puas menyatukan dua sejoli ini…


ZANA : Reza Luna


DORA : Aldo Rara


NIEL : Soni Abel