Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
72. Lupa



♥♥♥


"Sayang, inget gak hari ini hari apa?"


Tanya Reza, sembari memakai kemejanya, aktivitasnya setiap pagi. Sebelum dia mengurus anak-anaknya, Luna mengurus terlebih dahulu suaminya yang selalu saja ingin di layani. Ya, memang tugas Luna, dia juga senang menjalaninya.


Hanya saja suaminya benar-benar manja, lebih manja dari anak-anaknya.


"Ingatlah, hari kamis, malam jum'at. Kenapa sih minta jatah?"


Jatah? 


Soal begini mah, nggak usah nanya, sunah kali. 


Seketika Reza melirik istrinya, sekarang tidak ada rasa malu bila berbicara soal jatah, lebih terang-terangan. 


Tetap saja yang namanya Luna itu polos, masih malu bila naked di hadapannya. Tapi membuat Reza tidak bosan.


Tapi bukan jawaban itu yang ingin Reza dengar. Mungkin lupa, pikirnya.


Selesai memakai kemejanya, Reza minta bantuan Luna untuk memasangkan dasinya, Ia paling tidak bisa memakai dasi, dulu sebelum menikah dengan Luna, dia selalu meminta Soni sekretarisnya untuk melipat semua dasinya di rumah, dan siap pakai.


Sampai sekarang tidak bisa melakukannya sendiri, untung sudah punya istri. 


"Itu sih nggak usah di tanya, hari apa saja bisa. Bukan itu, selain hari kamis di hari ini ada apa?"


 Luna mengingat-ingat ada apa hari ini? Pikirnya.


"Apa ya?"


"Benar nggak tau?"


"Oh_iya, aku baru ingat__ya, ampun untung kamu kasih tahu aku, hari ini kan aku harus ke rumah ibu, ada acara arisan dan bakti sosial. Makasih sayang, sudah kamu ingatkan."  


Reza berdecak kesal, istrinya tidak mengingatkan hari apa sekarang. Luna mencium pipinya karena dia sudah mengingatkan acaranya dengan ibu mertuanya.


Lupakan saja, tidak ada ingat. Runtuk dalam hatinya. 


Luna melihat gelagat suaminya, pagi-pagi sudah melihat pemandangan tidak mengenakan apalagi kalau melihat wajah Reza yang di tekuk seperti ayam kegencet. Ia tidak suka. Pemandangan yang seharusnya indah malah terlihat buruk. 


"Kamu, kenapa Mas? Muka kamu cemberut gitu? Aku ada salah?" tanya Luna, menyentuh wajah Reza di mana  rahangnya sedikit keras. Luna juga tahu kalau suaminya seperti ini, pasti dia sedang memikirkan sesuatu.


"Nggak ada apa-apa."


"Makan siang mau aku bawain apa?"


"Apa aja, asal masakan kamu."


"Oke, tapi jangan cemberut gitu dong senyum. Biar tambah ganteng. Dede bayi pengen melihat daddy-nya senang nggak cemberut begini."


"Hmm," Reza tersenyum terpaksa. Menyebalkan nggak ada yang ingat, pikirnya.


"Senyumnya nggak ikhlas."


Reza tersenyum manis. Tidak bicara. 


"Begitu dong. Ini baru suamiku."


Luna melingkari lengan nya di lengan suaminya saling mengaitkan, turun menggunakan lift khusus Luna yang sekarang sedang hamil lagi, yap lift ini bakal digunakan kembali, tapi kadang juga anak-anak mereka sering menggunakannya kalau memang sedang malam menaiki tangga.


Bicara soal anak-anak Reza mengerutkan kening tidak melihat keberadaan mereka di meja makan. 


"Mahluk-mahluk kita pada kemana? Tumben pada belum datang. Biasanya juga sudah standby di sini bikin rusuh?" sahutnya, kemudian dia menatap ke arah Luna yang berjalan ke pantry dapur, tumben juga, sarapan di meja pun belum disajikan.


"Enak banget kalau ngomong. Mereka itu anakmu, bukan mahluk-mahluk. Kamu kira mereka mahluk halus. Terus daddy-nya apa, mahluk Jadi-jadian." desis Luna, sedikit rancau mendengarkan ucapan suaminya.


"Ya, bukan. Maksudku mahluk hidup. Jangan salah paham dong." runtuk Reza ngeles.


"Terus anak-anak pada kemana sih? Masa belum turun juga." penasaran, terasa sepi tidak seperti biasanya.


"Anak-anak sudah pada berangkat sekolah."


Reza mengangkat tangan kanannya, melihat jam rolex menunjuk pukul 06.30 pagi, masih sangat pagi malah. 


"Ini masih pagi, tumbenan banget mereka sudah berangkat. Tunggu__si kembar bukannya masuk jam delapan. Mana ada sekolah TK Masuk pukul segitu. Kalau Bima daddy percaya." Reza malah semakin heran dan curiga. Reza sekarang berdiri didepan meja pantry berhadapan dengan Luna sedang mengolah supnya. 


"Ekhem__Bima memang ada jadwal piket hari ini. Kalau si kembar ada tugas olahraga, jadi pagi-pagi harus stay di sana." Jelasnya.


"Oh begitu, baguslah. Terus Bik Surti kemana? dia tumben nggak ada di dapur, biasanya sudah siapin sarapan, jangan sampai kecapean kamu."


"Bik Surti ke pasar, bahan makanan sudah habis aku suruh dia buat belanja."


Reza menghampiri istrinya, sedang mengaduk sop makaroni buatannya. Reza tersenyum miring, dan melingkarkan tangannya di pinggang Luna, kepala Reza bersandar di bahu Luna. 


"Bagus deh kalau begitu, aku bisa mesra-mesraan sama kamu." bisik Reza sensual, mendengarkan bisikan Reza dengan suara serak membuat Luna merinding.


"Mas, sudah deh jangan mulai, aku lagi masak." ujar Luna tengah berusaha melepaskan pelukan Reza di pinggangnya.


"Kamu tahu kan, setiap hari kita nggak bisa ena-enaan kayak begini. selalu diganggu dua tuyul kita." godanya


kembali mengeratkan pelukan dan lilitan tangannya di pinggang Luna. 


"Tuyul itu anak kamu, kamu berarti dedemitnya." 


Luna mematikan kompornya, karena masakannya sudah selesai.


"Orang hamil mulutnya pedes banget kayak cabe."


"Baru nyaho."


"Gemes, jadi males kerja, bawaanya mau sama kamu melulu. Aku bolos ya hari ini."


"Nggak ada alasan, meski kamu pemiliknya kamu juga harus bertanggung jawab. Inget! kamu juga menanggung semua karyawan SJC, mereka juga membutuhkan kamu, sayang. Jangan egois." kata Luna menasehati suaminya, kadang Reza selalu bersikap seenak jidat. Kadang Luna tidak akan bosan untuk menasehati suaminya. Untung suaminya selalu menghargai ucapannya, karena sebagai suami-istri komunikasi dalam bentuk apapun harus ter jalin. 


"Siap, bossku."


Reza memberi hormat, layaknya seorang atasan. 


Mereka berdua melanjutkan sarapan paginya tanpa anak-anak mereka, terlebih ocehan mereka yang bikin kangen. Meski terasa sepi. Tapi tetap menikmatinya. 


•••


"Selamat pagi, pak." 


Saat memasuki lobby sudah banyak karyawan berlalu lintang, Para karyawan menyapa dan menunduk hormat padanya. Soni berjalan di belakang mengikuti Reza yang berada di depan.


Kemudian memasuki lift khusus.


"Son, kamu ingat hari apa ini?"


Reza memecahkan keheningan dalam lift, bertanya pada Soni. Pertanyaan yang sama diajukan pada istrinya. 


Soni mengerut alis. "Hari kamis?"


"Saya juga tahu, maksudnya di hari kamis ini ada apa."


Soni semakin bingung, ia melihat buku agenda miliknya kemudian melihat jadwal hari, meski dia tidak tahu apa maksud pertanyaan Reza, atasanya.


"Saya nggak tahu, pak. Tapi kalau lihat buku agenda anda ada jadwal bertemu dengan Pak Galang."


Reza menyesal harus bertanya pada Soni, sama saja jawaban mereka tidak ada yang sesuai harapannya.


Memang hari ini dia akan bertemu dengan ayahnya, nanti sore tapi dia malas, paling hanya membicarakan project anehnya bersama ayah mertuanya, setelah project mall mereka selesai. Mereka ingin melakukan project hotel mereka. Tetap saja semuanya di limpah pada Reza.


"Lupakan pertanyaanku tadi. Benar-benar menyebalkan kalian semua." Gerutunya, kemudian lift terbuka. Reza bergegas keluar-terus masuk ke ruangan dengan raut wajah kesal, dan menutup pintu saja hampir terbentur begitu keras. 


Soni kaget dengan tingkah Reza yang pagi-pagi sudah marah-marah. Dia hanya menggeleng pelan. Ada apa sama Reza, lagi PMS kali ya, pikirnya. 


Sementara di dalam ruang Reza begitu tampak kacau balau bukan karena pekerjaannya. Tapi tidak ada yang ingat satupun yang tentang hari spesialnya. Siapa yang tidak kesal, orang tua, istri, anak, adik, dan sahabatnya tidak ada yang ingat sama sekali, mengucapkan saja tak ada, ah lupa mereka tidak ingat. Kalau ingat mereka pasti mengucapkannya. 


Reza pun fokus pada berkas-berkas di hadapannya, dia membolak-balikan berkas dan dibacanya teliti, sebelum dia benar-benar puas dengan isi berkasnya, karena menandatangani berkas tersebut dia harus memilah, karena dia tidak suka satu kesalahanpun.


Segala sesuatunya harus perfect.


Tidak terasa sekarang sudah masuk jam makan siang tapi kenapa Luna belum juga datang? Ia merasa cemas, mengambil ponsel di jasnya, lalu menelpon nomor Luna. 


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif___suara dari operator terdengar, Reza terus mencoba tapi tetap sama saja, dia pun menelpon ke rumahnya tidak ada yang mengangkat. Hati Reza begitu cemas bukan main.


Kemana Luna? Dia cemas.


Reza mengambil gagang telepon, interkom tersambung dengan Soni, "Soni, ke ruangan sekarang." saat itupun Reza langsung menutup telepon tidak lama Soni datang menghampirinya. 


"Kenapa, Za. Gundah gulana begitu." ucap Soni, tidak memakai embel-embel 'pak'bila sedang berdua kedua pria itu bersikap normal, tak ada atasan atau bawahan.


"Aku cemas, Luna susah dihubungi."


"Mungkin sibuk, tahu sendiri sekarang mereka sedang ada bakti sosial dan acara arisan."


"Kamu tahu."


"Tahu, Abel bilang sama aku. Kemungkinan acaranya akan lama."


"Padahal tadi Luna bilang mau bawain bekal buat aku."


"Lupa kali."


Lupa? Reza mulai sekarang paling benci dengan kata 'lupa' karena kata 'lupa' membuat Reza bad mood hari ini. Sangat benci. Nggak ngerti benci, I hate__kalau bahasa inggrinya. 


Reza mengangguk kecil, mungkin yang dikatakan Soni benar. Hanya saja dia benar-benar cemas, Luna tidak biasanya mematikan ponselnya sesibuk apapun. Raka juga tidak menghubunginya, dia meminta memantau keadaan Luna dan anak-anaknya selagi dia bekerja. Ya, karena dia sangat khawatir pada keluarganya.


Soni sedari tadi memperhatikan Reza malah melamun, dia pun memecahkan lamunan sahabatnya. 


"Oi, malah melamun, kita makan di luar aja kalau nggak di bawain bekal."


"Ayo, aku juga lapar."


Reza setuju, mereka melangkah keluar dari ruangan menuju restoran tempat biasa mereka. Tapi hatinya masih belum tenang memikirkan istrinya, Luna.


•••


Di sisi lain, seorang wanita sedang sibuk menyapa setiap anak kecil di sebuah panti asuhan, acara bakti sosialnya bersama group arisan keluarga. Luna sangat menyukai anak kecil sekarang saja dia sedang menggendong bocah perempuan berusia satu tahun, namanya Cinta. Kata ibu asuh anak ini ditinggal begitu saja oleh orangtuanya di depan panti saat anak ini masih bayi merah. Luna sangat mengutuk orang tua yang meninggalkan Cinta, dia amat sangat cantik dan imut. Mereka begitu tega.


Acara baksos nama gaulnya, dihadiri oleh keluarga Winajaya, ada Bu Yunita mertuanya, Sarah kakak iparnya, Abel adik iparnya, Dela sepupunya dari Reza, dan juga banyak lagi. Hampir lima belas orang hadir di panti asuhan penuh cinta dan kasih.


Kegiatan ini berlangsung cukup lama. Setelah cukup mereka menyodorkan sebuah amplop coklat cukup tebal, itu adalah uang yang mereka sisihkan untuk disumbangkan pada panti tersebut.


Ibu panti begitu senang begitupun anak-anak di panti.


Rasanya tidak rela harus berpisah, tapi dia memang harus segera pergi mengurus sesuatu untuk nanti malam.


Setelah kepulangan mereka dari panti mereka menuju kediaman Winajaya, tapi keluarga lainnya ada yang memutuskan pulang ke rumah mereka hanya.


Kediaman Winajaya 


Mereka memasuki rumah besar tersebut, mereka duduk penyandar kecapean. Tidak lama seorang wanita sudah lumayan tua datang menyodorkan minuman dan meletakkan di meja.


"Makasih, Bik Asih." Luna sopan langsung mengambil gelas berisi sirup merah tersebut meminumnya masuk ke dalam tenggorokan, bernafas lega. Hausnya benar terbayarkan.


"Ibu hamil jangan minum sirup." Kata Sarah, istri dari Pak Abdul dosennya dulu. Tapi berkat wanita ini pula dia bisa dekat dengan Biboy dan Reza. Bilang saja dia adalah mak comblang.


"Maaf, abis Luna haus, mbak." Luna nyengir polos, merasa tidak bersalah. 


Sarah menggelang. "Tapi jangan keseringan nggak baik buat kandungan kamu."


"Iya, siap mbakku."


"Semuanya sudah disiapkan?" tanya Yunita bersa di duduk sebelah Luna.


"Sudah hampir 80% bu," balas Luna, kemudian dia menoleh pada Abel yang sedang ngemil snack kejunya, "Abel, Mas Reza nggak hubungin kamu?" tanyanya penasaran.


"Nggak tahu. Aku sengaja matiin ponselku tadi." jawab Abek santai masih sibuk ngemil. Ibu hamil satu ini sangat hobi makan sembari tadi tidak hentinya makan.


"Loh kamu juga?"


"Iya, memang kamu juga gitu."


Luna mengangguk, mengiyakan.


Yunita dan Sarah saling tukar pandang mendengar obrolan Abel dan Luna. 


"Memang kalian ngapain segala matikan ponsel. Bikin suami kalian cemas nanti." protes Sarah, dia memang gatal kalau tidak bicara atau menanggapi segala sesuatunya.


"Sengaja, mbak." Luna kikuk siap saja dia di ceramahi wanita itu. 


"Kalau aku sudah bilang, bang Soni." ucapnya membela sendiri, fix hanya Luna sekarang jadi makanan Sarah. Luna berdecak kesal pada Abel. Memandang Yunita seakan minta bantuan, tapi Yunita hanya diam saja. 


Sue! 


"Luna, jangan begitu kalau memang kamu. Kasian nanti Reza uring-uringan karena dia khawatir sama kamu nanti, apalagi sekarang kamu lagi hamil, otomatis sikap Protektif dan posesifnya bakal naik 100%, kabayang banget sama raut wajahnya sekarang apalagi pas hari spesialnya begini." celoteh nasehat Sarah pada Luna.


Luna hanya bisa mengangguk. Dia sependapat dengan ucapan Sarah, kakak iparnya. Membayangkan wajahnya sekarang? Luna menggeleng. Tidak ingin tahu tapi dia sudah tau akan sikap keras suaminya.


Mendapatkan pencerahan dan kultum sore dari Sarah, dia hanya mendengarkan ucapan beliau.


Yunita mertuanya dan Abel hanya bisa senyum-senyum meledek ke arahnya. Mereka tidak tahu saja bagaimana mendapat ceramahan dari Sarah yang panjang lebar bak jalan tol yang tidak ada ujungnya.


Setelah mendapatkan pencerahan. Luna memutuskan berjalan menuju halaman belakang duduk di gazebo dan melihat para pegawai sedang memasang dan menyiapkan sesuatu untuk nanti malam.


Seorang pria menghampirinya, menyentuh pundaknya kemudian menoleh.


Ayah mertuanya, Galang. 


"Ngapain kamu di sini, nak?" tanya Galang, lalu duduk bergabung dengan Luna yang sejak tadi melamun. Ia sadar sejak tadi memperhatikan Luna berada balkon kamarnya. 


"Ayah." Luna cukup terkejut dengan kedatangan Galang, pria tua itu meski sudah berumur kepala enam, tapi perawakannya masih tetap gagah dan bugar, karena memang mertuanya ini senang olahraga. Makanya tubuhnya selalu sehat. "Aku sedang melihat kerjaan dan persiapan mereka."


"Kamu memang mantu idaman deh, nggak salah kalau Reza atau ayah pilih kamu."


"Bisa aja, ayah. Udah jodoh kali yah."


"Jodoh itu benar-benar nggak bisa diprediksi."


"Kamu ingatkan nanti minggu depan kita akan pergi ke jerman. Kamu harus jaga kesehatanmu dan calon bayi kamu juga. Perjalanan ke sana nggak sebentar, butuh waktu 16 s/d 18 jam jadi kondisi kesehatan kamu di utamakan."


"Siap, ayah. Nanti sebelum pergi kami bakal konsul sama dokter Regina. Jadi ayah jangan khawatir, Luna bakal inget nasehat ayah."


"Aduh, makin sayang aja sama menantu kece."


Galang merangkul Luna dengan kasih sayang. Ia bukan hanya menantu atau anak sahabatnya saja, Luna sudah seperti putrinya sendiri. Galang sudah kenal Luna jauh sebelum Reza karena memang dulu.


Mengobrol asyik dengan mertua,  mereka memasuki rumah karena udara sudah semakin dingin langitpun sudah akan gelap.


Luna sudah mengabari suaminya, dia marah itu pasti karena Luna tidak menghubunginya, Luna memberitahu kalau dia ada di rumah orangtuanya dan meminta maaf tentang kejadian siang tadi sempat tidak mengaktifkan ponselnya tapi dia berbohong pada Reza dan beralasan ponselnya lowbat. 


Kalau dia jujur maka semuanya akan berantakan.


Keadaan di dalam ramai sudah bersiap-siap, Luna akan bergegas ganti baju menuju kamarnya di atas. Namun saat akan menaiki tangga_


"LUNA"


Semua orang teriak dan terkejut memanggil namanya __


♥♥♥


hai, semuanya, maaf baru bisa update 😭


karena sibuk banget sama kerjaan, jadi aku nggak bisa update setiap hari