Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
38. Hamil



♥♥♥


REZA duduk bersandar di kursi putarnya. Pikirannya terus tentang Luna. Perubahan sikap istrinya. Yang paling mengejutkan saat dia mengajak berhubungan badan terlebih dahulu dan semalam istrinya lebih dominan. Dan Reza merasa malu. Karena hanya bisa menikmati sentuhan dari Luna.


Huh. Memikirkannya saja sudah melayang. Shit.


Ayolah fokus!


Ia mengalihkan kembali pikirannya ke layar laptop di hadapannya dan membuka kembali map merah yang pernah Soni berikan. Pengajuan program magang milik Alisha. Aku lupa memberitahu Luna tentang ini. Pikirnya. 


Karena terus memikirkan Luna sampai-sampai dia tidak menyadari keberadaan Soni sejak tadi berada di depan mejanya. Bergumam pelan membuyarkan lamunannya sekejap. 


"Apa yang kamu pikiran? Apa ada sesuatu?" tanya Soni melihat Reza agak berbeda sejak tadi masuk keruangan. Dan hanya diam tak bicara seperti ada yang dipikirkan. Apa ini tentang Luna yang bersikap aneh. Seperti yang dibilang Abel padanya. Pikirannya bertanya-tanya.


"Ini tentang Luna."


Benar saja ini tentang Luna. Soni mengambil kursi dan duduk tepat di depan Reza. Saat ini dirinya akan bersikap sebagai teman. Bukan atasan dan karyawan.


"Kamu bisa cerita aku akan mendengarkan. Karena sekarang jadwal kita kosong." Seru Soni mengarah pandangan pada Reza dan siap menjadi seorang pendengar yang baik. 


"Kamu tahu. Luna semakin agresif maksudku dalam berhubungan?" Kata Reza sedikit kaku bila bicara hal intim seperti 'Itu' pada Soni yang notabennya masih single.


Soni tertawa kecil. "Mungkin ingin sesuatu yang baru dalam berhubungan. Ayolah masa kamu begitu saja tidak tahu." Jawabnya enteng seakan dirinya tahu akan hal intim. Membicarakan hal ini membuatku ingin cepat menikah saja.


"Tapi bukan itu saja. Dia bersikap manja dan cepat emosi. Dan tadi pagi saja dia pengen sarapan dengan ikan bakar sambal mangga."


Soni terdiam sejenak. Berpikir kembali dengan kata Reza dan menimbang-imbang apa gerangan yang terjadi dengan istri sahabatnya ini. Ia seperti seorang sherlock. Mencari jawaban dan bukti.


"Apa kamu tahu jadwal siklus bulanan dia?"


Reza mengangkat satu alisnya. "Maksudmu siklus datang bulannya?"


"Iya. Apa kamu tahu?"


"I don't know I've never noticed that." Ucap Reza dan semakin bingung. "Lalu apa hubungannya dengan sikap Luna ini. Aku tidak mengerti?"


"Aku heran sama kamu deh. Sudah punya anak tapi masih juga tidak mengerti. This is just my guess. But you have to make sure yourself. It looks like she is pregnant." Ucap Soni hasil pemikirannya. Menatap reaksi Reza yang masih belum menanggapi ucapan darinya.


She's pregnant


Hamil


Itu yang dia dengar dari mulut sahabatnya. Kalau Luna memang benar hamil dia akan sangat senang tapi bagaimana dengan Luna. Istrinya sangat ingin kembali bekerja.


Ini pertama kali untuknya menjadi suami. Dan saat Lisa hamil saja ia tidak pernah ada disisi. Misalnya ketika wanita mengidam atau masa-masa tersulit saat mengandung Biboy tidak pernah tahu. Dan itu yang disesalinya. Tidak dapat menjaga Lisa.


Takdir memang kejam. Tapi Reza juga bersyukur mendapat wanita seperti Luna. Memberikannya kesempatan untuk menjadi seorang suami. Kalau Luna dinyatakan hamil. Ia akan menjaga Luna dan calon anaknya. 


Tidak ingin mengulangi masa lalunya yang kelam. 


Lamunan dan pikirannya terus menjadi. Membuat Soni yang sembari tadi menatapnya penasaran dan mungkin berpikiran kalau Reza tidak beres dengan otaknya.


Soni mengangkat telapak tangannya ke arah Reza dan mengayunkan kekanan kekiri dihadapan wajah temannya yang malah melamun. Reza tersadarkan dan menatap balik Soni. 


"Malah melamun. You should be happy. Apa ada yang mengganjal dengan hatimu?"


"I'm happy. Tapi aku pusing. Kamu tahu Luna mau kembali bekerja lagi. Kalau tahu dia hamil. Dia pasti kecewa."


"Itu belum pasti. Aku yakin Luna senang. Tapi kamu harus mengecek terlebih dahulu. Luna hamil atau tidak."


"Kamu benar. I have to check it first."


•••


"How are you, Al?"


Alisha duduk berhadapan dengan Aldo. Dan menoleh ke arah penjuru restoran memastikan tak ada orang yang mengenalnya. Ingin berbicara empat mata pada pria yang masih menatapnya sinis.


"Fine."


Aldo malas bicara. Wanita ini benalu untuknya yang harus dihindari. Apalagi dengan cara berpakaiannya yang menurutnya tidak sopan. C'mon This Indonesia. Masih menjunjung tinggi adat kesopanan dalam berpakaian.


She's bitch! 


"Kamu tidak menanyakan kabarku. Tega sekali kamu. Sebenci itukah kau padaku? Kenapa kamu kembali. Luna sudah menikah. Harusnya kamu bertindak saat dia masih berpacaran dengan Reza. So bad! "


"Sangat benci. You know. Aku kembali, karena urusan di sana sudah selesai. Dan aku turut bahagia untuk Luna. Aku sudah merelakannya."


"What? You stupid. Bagaimana bisa begitu. Aku tahu kamu masih cinta sama dia. Dan aku menginginkan Reza. Dia milikku." Alisha geram. Dan menunjukkan kepemilikannya atas Reza. Dengan jari telunjuk ke arah dadanya. 


Aldo tak percaya dengan apa yang sudah di dengar dari mulut nenek sihir ini. Di menginginkan Reza. Ia tak habis pikir apa yang ada di otak kecil Alisha. Dan berpikir ingin mengambil Reza dari tangan Luna. 


Melihat tekad wanita dihadapannya begitu membara.


Berbahaya! 


"Aku tidak peduli itu. Kamu mengajakku hanya ingin memberitahu ini saja?" kata Aldo seraya meminum green tea di hadapannya menggunakan sedotan. Dan tak lepas menatap Alisha yang terlihat kesal.


Seperti biasanya. Alisha mengambil korek gasnya itu berada dalam tas dan disusutkan rokok di atas bibir merahnya. Dan menebarkan asap rokok ke arah Aldo hingga pria itu merasa terganggu dan menepis asap dengan telapak tangan digoyangkan menghindari asap rokok. 


Alisha sialan.


"Aku mengajakmu bertemu. Ingin melakukan kerja sama? Kamu pasti tergiur." Kata Alisha. Tersenyum misterius.


Aldo kembali meminum green tea sebelum menjawab perkataan Alisha yang menurutnya mencurigakan. Ia melipat kedua tangan di depan dadanya. Membidik tajam. Meletakkan ponselnya di meja. Tanpa Alisha ketahui Aldo merekam semua pembicaraan. Dan tersenyum menyungging. 


"Kerja sama apa?"


"Menghancurkan keluarga kecil mereka."


Alisha tertawa. Hingga kepalanya menunduk ke arah belakang. Dan sedikit keras dengan suaranya yang cempreng. Menatap tajam atas jawaban yang didegar oleh telinganya.


"Munafik."


Aldo merasa marah. Ia memang masih mencintai Luna tapi dia tidak sedikitpun ingin menghancurkan hubungan mereka. Ia tahu cinta tidak bisa dipaksa. Dan sekarang wanita ini mengajaknya melakukan hal gila. Tidak! Ia sangat menolaknya. Luna wanita yang baik. Ia tak mau hal dulu akan terulang kembali. 


Aku harus menghentikan ini semua. 


Wanita ini gila.


Aldo berdiri sambil menarik nafas  dan menepak meja dengan tangannya sehingga membuat suara keras atas apa yang dia lakukan.


BUKK!


Sekali lagi Aldo menarik nafas. "Terserah kamu. Aku ingatkan jangan menyentuh keluarga mereka. Aku nggak akan biarkan hal itu."


"Kau sama saja dengan Abel. Mengancam."


"You deserve to be threatened." 


Aldo meninggalkan Alisha. Dan tak lupa mengambil ponselnya sebagai barang buktinya yang akan dia serahkan pada Reza yang sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.


Dan tidak peduli dengan tampang Alisha sekarang. Marah padanya tidak ada pengaruhnya. 


Meninggalkan jauh wanita itu. 


Sambil berjalan Aldo menelpon seseorang lewat ponselnya. Dan berbicara begitu serius.


"Aku akan mengirimnya. Aku harap kamu bisa mempertimbangkan kembali pengajuanya."


•••


Reza menarik tangan Luna. Berjalan cepat. Melihat orang sekitar sedang memandangnya. Sementara Luna sedikit meronta kebingungan dengan sikap dirinya tiba-tiba mengajak Luna ke rumah sakit khusus ibu dan anak. 


Dan mendengarkan saran Soni.


"Sebaiknya kamu mengajak Luna kebidan dulu. Untuk mengecek hamil atau tidaknya dia. Kalau melakukan test pack sedikit diragukan hasilnya." Soni memberi saran.


"Haruskah?" Ucap Reza tak yakin. 


"Tentu saja harus. Lebih baik Luna mengetahuinya. Dan kamu harus siap dengan responnya nanti."


Untung Reza sebelum datang sudah membuat janji terlebih dahulu dengan dokter kenalan Sarah kakak iparnya. Reza berjalan memegang erat tangan Luna memasuki ruangan yang cukup besar. 


Dalam ruangan ada sebuah ranjang dan monitor yang tak tahu apa namanya. Mereka berdua duduk berhadapan dengan seorang dokter wanita setengah baya. Bernama Dokter Regina.


Luna tersenyum kaku. Menoleh kearah Reza sekilas. Ia masih dilanda kebingungan dengan sikap pria di sampingnya tak bicara ataupun memberitahu apa tujuannya mengajak dirinya kebidan. 


Apa aku hamil ! Luna menggelengkan kepala. Tapi kalau dia hamil. Dan tidak merasa muntah-muntah seperti ibu hamil lainnya. Pusing ataupun pingsan. Itu yang sering Luna lihat di televisi. Bila dirinya sedang menonton drama atau sinetron dimana orang hamil akan seperti itu. 


Tunggu! Luna menyadari kalau Ia sudah telat datang bulan. Dan terus berpikir dalam hatinya. Hampir dua minggu ini dia tidak mendapatkan tamu bulanan dan tidak pernah menyadarinya.


Luna tersadar dari lamunannya saat Dokter Regina menanyakan soal siklus bulanan. Dan menanyakan banyak pertanyaannya seputar tanda kehamilan pada umumnya. Sesuai pertanyaan yang diberikan Luna menjawab sesuai yang dia rasakan selama ini. 


Dokter Regina menyuruh Luna untuk berbaring di ranjang dekat dengan meja kerjanya. Memeriksa Luna dan meletakkan stetoskop diarea perutnya dan terasa geli dan dingin yang dirasakan saat benda itu menyentuh kulitnya.


Selesai memeriksa Luna. Mereka kembali ketempat duduk. Entah kenapa jantungnya semakin berdebar kencang. Sedangkan Reza terlihat khawatir. Secara otomatis Luna menarik erat genggaman tangan Reza dan saling bertatapan seakan Reza mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Bu Luna hamil. Dan kandungannya sudah berumur tiga minggu. Selamat Pak Reza dan Bu Luna." ucap Dokter Regina memandang pada suami istri yang ada dihadapannya. 


Reza Senang. "Apa kandungannya baik-baik saja?"


"Jangan khawatir. Kandungannya cukup kuat. Tapi saya sarankan agar Pak Reza bisa menjaga Bu Luna hati-hati. Karena masa trimester sangan rentan."


Luna hanya diam mendengar percakapan Reza dan Dokter Regina. Perlahan menyentuh perutnya yang masih rata dan mengelusnya lembur. Tak sadar Ia meneteskan air matanya. Luna menangis bahagia. Aku akan jadi Mommy. My baby. 


Melihat keadaan Luna menangis.


Reza menyentuh pundak istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya. Melepas pelukannya untuk mengusap air matanya. Dan membawa Luna keluar setelah berpamitan pada Dokter Regina.


Sesampainya di dalam mobil Luna masih belum buka suaranya.


"Sayang kok kamu diam saja? Aku tahu kehamilan ini buat kamu tak senang. Tapi―"


Ouch! 


Pipi Reza terasa sakit mendapat cubitan cukup keras dari tangan Luna. Dan menyentuh bekas cubitan dari istrinya. Membuat Reza diam dalam sekejap saja dan menatap Luna terlihat marah. Reza terus berpikir apa dia salah berbicara? Apa yang membuat Luna begitu marah. Sumpah cubitan Luna terasa begitu menyakitkan hingga pipi kanannya berdenyut.


"Jadi Mas Reza berpikir aku nggak senang. Aku diam bukan karena tidak menginginkan kehamilan ini. Aku saking bahagianya tidak bisa berkata apa-apa."


Reza seketika memeluk Luna disamping kemudinya semakin erat. Mencium lekuk lehernya sekilas dan mencium aroma tubuh istrinya yang wangi aroma lavender. Menenangkan pikirannya. Mendengarkan ucapan Luna menyatakan kebahagiannya membuat ia semakin senang menggebu-gebu.


Memang bodoh. Ia berpikir kalau Luna tak senang dan berpikir negatif.


"I'm so sorry. Aku hanya tak enak. Saat kamu bilang ingin bekerja kembali. Aku berpikir kamu tak mau hamil dulu."


"Bodoh! Kalau aku mau kerja. Dari kemarin saja aku lakukan dan memintanya sama kamu. Lagian aku sudah males. Ngapain kerja kalau sudah jadi istrinya bos."


Keduanya tertawa. Mengakhiri kesalahpahaman di antara mereka. 


Dan pulang kembali ke apartemenya. 


Menggambarkan pada semua keluarga besar dari Luna maupun Reza. Betapa mereka bahagia akan kehamilan Luna saat ini. 


♥♥♥