
♥♥♥
BUKK!
satu pukulan mengenai ujung bibir seorang pria paruh hingga berdarah dan jatuh tersungkur di lantai. Sakit. Itu pasti. Pria itu meringis kesakitan dan mencoba berdiri kembali. Namun, tak lama kemudian dia terjatuh kembali karena mendapat pukulan telak yang kedua kalinya. Pria itu duduk dan tak berniat bangun.
Ujung kerah pria itu diangkat lagi oleh pria yang berbadan tinggi perawakan berisi yang memukul pria paruh baya dan memakai kacamata hitam sebagai style-nya.
"Dasar bodoh. Bagaimana mereka mengetahui rencana kita, hah? Dengar Fredi bodoh. Kamu harus menutup rapat mulut putrimu agar tak memberitahu siapapun. Karena putrimu juga mengetahui semuanya." pria berkacamata hitam menggertak dan mengancam Fredi dan melepas ujung kerahnya dan mendorongnya hingga jatuh ke belakang.
"Saya akan jamin kalau putriku tidak akan bilang pada siapapun." balasnya dan menunduk seakan dia adalah budak yang harus mengikuti semua perintah pria itu.
"Awas saja kalau terjadi. Aku nggak segan-segan membunuhmu." ancam pria berkacamata hitam lagi.
"Baik bos."
"Kita harus menyingkirkannya bagaimanapun juga."
"Dia banyak anak buah yang menjaganya secara diam-diam. Kita tidak bisa menyentuh pria itu sehelai rambutpun."
"Makanya kamu pikir pake otak. Bagaimana bisa kita membuat dia menyesalinya. Dasar bodoh."
"Saya akan memikirkannya."
"Besok rapat penting mengenai pembangunan apartemen itu. Kamu harus siapkan semua data. Tidak boleh ada yang kurang atau kesalahan satu lembar pun. Sepertinya bos muda sok pintar itu ingin sekali bermain dengan kita." dia tersenyum seringai.
"Saya sudah menyiapkan semuanya."
"Good job."
Pria berkacamata hitam itu duduk disingahanya dan seorang pria berambut putih karena karena memang pria itu sudah tua dan berumur namun tetap berkharisma menghampiri pria berkacamata itu dan duduk di hadapannya.
Sedangkan Fredi masih belum bisa beranjak karena badannya masih lemah.
"Jadi apa rencana selanjutnya?"
"Kita akan bahas ini, nanti. Kita harus memberi kejutan untuknya."
Obrolan keduanya begitu penuh dengan rencana. Keberadaan mereka sekarang berada di sebuah klub malam khusus VIP dan tempat paling aman untuk merencanakan sesuatu.
"Cepat kemari, Fredi. Kenapa kamu malah duduk tidak berdaya begitu. Kamu lemah sekali."
Fredi beranjak dari tempatnya dan menghampiri keduanya. Berdiri disamping meja dengan kepala menunduk.
"Ada apa dengan Alisha, hah? Kamu tahukan aku sudah lama tidak berkencan dengan Alisha, aku ingin sekali mencicipinya lagi. Malah wanita itu masuk penjara. Sangat di sayangkan sekali."
Pria berambut putih merasa kasihan. Dalam arti berbeda. Dia memberikan selembar cek kepada Fredi. "Aku mendengar dia telah menabrak lari seseorang. Bagaimana kejadian itu bisa ketahuan padahal kejadian itu sudah lama terjadi, bukan?" lanjutnya.
"Iya, karena mereka menemukan semua buktinya dan ini, untuk apa?" tanya Fredi penasaran, pria itu memberikan cek dengan nominal amat besar.
"Kasih uang itu sebagai ganti rugi pada keluarga korban. Dan bebaskan Alisha bawa ke tempatku."
"Tapi."
"Tapi kenapa?"
Fredi diam belum bisa menjelaskan semua pada pria itu. Kalau dia tahu semuanya berhubungan dengan Reza.
Pria berkacamata itu menegukkan wine di gelas berkaki hingga tandas. Dan pria berambut putih itu hanya diam menatap sekilas ke arah pria di hadapannya dan kembali menatap Fredi yang juga masih belum bicara.
"Kamu tahu siapa yang menjebloskan Alisha ke penjara? Dia. Bosmu."
"Benar sekali. Korban itu kakak ipar dari Reza, kakak istrinya. Bukankah itu mengejutkanmu."
"Sialan."
•••
Seseorang meletakkan berkas dan didalamnya banyak lembaran-lembaran yang berisi semua bukti korupsi. Reza membaca seksama setiap lembarnya. Dan ditemani Raka dan Soni yang membantu semuanya.
Sebelum dia datang ke apartemen milik Reza di sudirman. Tempatnya dulu tinggal. Luna tidak mengizinkan Reza pergi. Karena weekend. Dia berbohong dan beralasan ada rapat di kantor. Tapi setelahnya dia mengizinkan. Meski agak sulit dibujuk.
Dia ingin sekali cepat menyelesaikan masalah ini dan fokus kembali ke keluarga dan perusahaanya yang sudah didirikan oleh ayahnya dari nol dan keringat dari keluarga Winajaya.
"Apa sebanyak ini?" tanya Reza begitu serius dan fokus memeriksa semua berkas itu.
"Betul mungkin itu sebagian saja. Masih banyak yang mereka ambil. Setelah melihat Aset pribadi mereka masing-masing. Mereka bukan hanya mempunyai satu rumah saja tapi dua sampai tiga rumah dengan harga diatas 1 milyar. Dan masih banyak properti lainnya."
"Mereka akan melebihi kekayaan keluargaku?!!! Sangat pintar dan juga serakah. Aku nggak akan membiarkan semua itu terjadi. Milik perusahaan harus kita ambil kembali. Kamu rancang semua berkas ini. Lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya?"
"Tapi Reza, kita tidak bisa menangkap ataupun membuat mereka jatuh dengan mudah. Kamu tahukan mereka juga pasti punya rencana lain." ucap Raka.
Bukan tidak sopan pada atasan. Raka dan Soni selalu memanggil Reza dengan nama saat ketiga pria itu berkumpul sekarang.
Tanpa embel-embel pak atau bos seperti yang dilakukan mereka di kantor. Agar lebih nyaman mengobrol dan membahas sesuatu masalah.
"Sebelum mereka merencanakan sesuatu dan kejutan untuk kita. Terlebih dahulu kita akan memberikan hadiah pada mereka. Kamu tahu kan maksudku."
"Tentu saja."
Mereka merencanakan sesuatu untuk membalas para koruptor di perusahaannya yang banyak rugi saat data keuangan tiap tahunnya. Begitu anjlok meski tidak akan membuat perusahaan failed.
Reza menyandarkan tubuhnya, lembaran kertas di tangan dan tangan satunya memegang pulpen sesekali dia menggigit ujung pulpen untuk dirinya berpikir meski dengan kebiasaan yang sulit Reza ubah.
"Reza, bagaimana dengan rapat besok? Apa yang akan kita lakukan." tanya Soni mengingatkan lagi meeting yang akan mereka hadiri bersama para pejabat kantor tepatnya semua department.
"Kita tidak usah melakukan apa-apa. Kita harus memberikan mereka ruang untuk pembelaannya besok. Kita hanya cukup mendengarkan. Seperti mendengarkan keluhan biasanya." balas Reza dan sekarang sedang menikmati coffee latte yang dibeli sebelum meluncur ke apartemen.
"Mereka salah memilih lawan main." Seru Raka meyakini, selama dia bersama Reza, semuanya akan berjalan sesuatu apa yang diinginkan Reza. Seorang pria yang tidak banyak tahu kalau pria itu punya sisi kejam. Karena mengusik miliknya.
"kamu bener banget, Rak sepatu."
"Enak saja Rak sepatu. Sekalian aja Rak piring, Rak baju."
"Sadar sendiri juga."
"Sialan kamu."
Reza menggeleng. Raka dan Soni kalau sudah bercanda pasti ujung-ujungnya bertengkar juga dan Reza selalu jadi penengahnya.
Setelah selesai membahas serius, mereka lebih suka bercerita tentang hidup mereka, karena Reza yang sudah menikah. Dia sering memberi nasehat bila kelak mereka akan melakukan hal serius dalam hubungan dengan pasangan kedua pria itu.
"Kapan Abel dilamar?" goda Reza. Membuat Soni blushing seketika.
"Di tunggu saja, bro. Insya Allah secepatnya."
"Amin."
♥♥♥