Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
41. Peringatan



♥♥♥


Luna berjalan menelusuri jalan setapak. Menaiki tiga anak tangga dilihat pemakaman luas dengan banyak nisan yang ditelusuri. Ia berjalan sedikit dan sudah melihat nisan dengan nama Anggita Lamia Gerraldy dan di sisi lainnya ada Larasati Kusuma nisan ibunya.


Setelah sudah berada di depan nisan. Luna duduk berjongkok dan membawa kembang bunga dan satu botol air sebagai kebiasaannya setiap dirinya berziarah.


"Ibu dan Kak Anggi baikkan? Luna kangen sama kalian." kata Luna berhasil menggetarkan hatinya dan berkecamuk begitu kencang di dadanya.


Besok adalah hari peringatan kematian Anggi dan kedua keponakannya. Tempat empat tahun sudah. Rasanya seperti baru kemarin kejadian itu terjadi. Rasa perih di hatinya masih terlihat jelas. 


Luna sengaja berziarah sehari sebelumnya karena besoknya dia akan mengadakan syukuran rumah baru, ulang tahun anaknya dan memperingatkan meninggalnya kakaknya. 


Masih belum lupa pesan dan foto terakhir yang dikirim oleh kakaknya. 


"Kakak tau foto terakhir yang kakak berikan sama aku. Aku masih menyimpannya sampai sekarang. Kakak bilang jangan dihapus dan aku nggak pernah hapus sampai kapanpun karena menyesal karena tidak ada disaat kakak butuh."


"Sekarang aku sedang hamil. Kakak tahu nggak. Aku sangat senang akhirnya aku bisa merasakan apa yang kakak rasakan."


Luna terus bercerita pada pusaran Anggi dan juga Ibunya bercerita masa dia menjadi seorang istri untuk Reza dan menjadi ibu untuk Biboy dan itu adalah hal paling membahagiakan apalagi nanti akan menambah keluarga baru. 


Setiap peringatan kematian Anggi. Luna selalu berdoa agar pelaku yang melakukan tabrak lari kakaknya akan segera ditemukan. Meskipun sudah empat tahun lamanya. Ia maupun kakak iparnya masih belum menyerah. Yuda adalah seorang pengacara handal. Dan masih mencari pelakunya sampai sekarang.


"Maafkan kami masih belum bisa menemukan pelakunya."


Cukup lama ia berjongkok dan membuat kakinya sakit kram Luna menaburkan kembang bunga dan mengguyurkan air di tengah pusaran ibu dan kakaknya setelah memanjatkan doa. 


Luna bersiap menjauhi pusaran. Saat membalikan badan dia bertemu Reza dan Aldo baru menaiki tiga anak tangga. Ketiganya terkejut. Ketiganya saling memandang. 


"Luna!!" ucap kedua pria itu bersamaan. Tidak percaya bisa bertemu Luna di pemakaman ini.


"Mas Reza! Aldo! Kalian mau berziarah juga ya?" tanya Luna menatap keduanya masih diam seperti ada yang disembunyikan. 


"Iya." kata keduanya.


Reza menghampiri istrinya mengelus kedua pipi melihat Luna berada di pemakaman sendiri tanpa ada yang menemani. 


"Kenapa sendirian? Kalau mau ke tempat begini harus ditemani. Bagaimana kalau terjadi sesuatu. Aku kan bisa nemenin kamu." kata Reza khawatir karena Luna sedang hamil. 


"Aku…ehm kalian berdua berziarah ke makam siapa?" Luna mengalihkan pembicaraan malas kalau dia harus beralasan tidak mau ditemani karena dia ingin menyendiri.


"Aku mau berziarah ke makam Lisa."


"Aku ikut gabung kalian, boleh?"


"Tentu saja."


Luna mengikuti langkah suaminya dan Aldo menuju pusaran Lisa ibu dari Biboy sekaligus cinta pertama suaminya. Ada rasa cemburu karena meski Lisa sudah tidak ada Reza masih memperhatikannya. Ia menggelengkan kepala. Menjauhkan pikiran negatif. 


Masa dia harus cemburu pada Lisa?! Luna bodoh. 


Melihat tingkah istrinya, Reza mengelus baju Luna seolah-olah berkata 'apa kamu baik-baik saja' 


Luna mengangguk pelan.


Setelah selesai berziarah mereka berdua kembali kerumah dan sedangkan Aldo kembali


ke restoran.


•••


"Berarti hari kematian Lisa sama Anggi kakak kamu dihari yang sama juga, besok peringatan meninggalnya mereka?" tanya Reza sembari duduk disamping Luna yang sedang memangku Biboy.


Luna mengangguk pelan dan tangannya masih asyik bermain dengan ponsel mencari video yang Biboy suka yaitu 'Tayo' selain kartun ini tak ada yang bocah ini sukai lagi. 


"Kamu tahu Kak Anggi karyawan kamu juga loh dulu?" Luna balik memberikan pertanyaan yang membuat Reza mengerutkan alis. 


"Masa sih? Bagian apa?"


"Marketing."


Reza memikirkan kembali apa mungkin dia kenal. Tapi sepertinya tidak karena dia tau selama ini bagian marketing beranggota pria semua jarang ada perempuan. Semasa dia menjabat entahlah kalau di masa Ayahnya. 


"Benarkah? Aku tidak begitu ingat dengan nama karyawan sendiri karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku sendiri."


"Tentu saja. Kamu itu gila kerja. Makanya kamu baru nikah umur sekarang."


"Hey. Aku ini masih muda loh."


Reza mencubit gemas istrinya dan mengambil Biboy dari pangkuan Luna. Karena tidak ingin calon baiknya kenapa-kenapa.


"Kalau boleh tahu kenapa kakak kamu meninggal. Aku ingin tahu ceritanya."


"Tabrak lari."


Luna diam setelah mengatakannya. Rasanya begitu menyakitkan bila harus mengingat kejadian itu meskipun dia tak melihatnya langsung. Tapi saat itu kecelakaan ini begitu viral karena ada yang merekam dimana saat tubuh kakaknya tergeletak begitu saja di aspal jalan. 


Luna menangis. "Kalau saja waktu itu aku tahu dia sedang menunggu Mas Yuda. Aku saja saat itu yang akan menjemput dia. Dan pasti dia dan keponakanku masih ada." berat hatinya seakan dadanya tertusuk pedang. Penyesalan yang tak bisa diganti sampai kapanpun. 


Reza membawa Luna dalam dekapannya masih ada Biboy dalam pangkuannya namun tidak membuat bocah itu merasa terganggu karena sibuk dengan kebiasaanmu.


"Sabar ya sayang. Ini sudah takdir. Kita tidak bisa mengubah apapun. Mereka sudah tenang disana." 


Reza mencium sekilas kening dan mengusap air mata di pipinya. Melihat kesedihan yang amat dalam membuat Reza ikut merasakannya. Karena dia tahu Luna begitu sayang dengan kakaknya itu. 


"Apa pelakunya sudah ketemu?"


"Belum"


"Mau aku bantu cari? Aku punya teman yang bisa mencari informasi tentang apapun."


Luna sedikit ragu bila harus minta bantuan Reza. Karena dia tidak mau membuat repot. Suaminya sudah banyak membantunya. Toh! Yuda juga sedang berusaha menemukan pelakunya bertahun tahun lamanya.


"Kok melamun?"


"Nggak apa-apa. Menurut kamu pelakunya akan tertangkap? Maksudku ini kejadiannya sudah hampir empat tahun. Apa bukti-bukti yang dulu masih ada?"


"Terima kasih ya Mas."


Luna mencium pipi kanan suaminya dan merasa bahagia karena mempunyai suami yang begitu perhatian dan peduli padanya. 


Keduanya saling berpandangan cukup lama dalam keheningan. Reza mengelus pipi Luna dan ini jadi suatu kebiasaannya karena kulit istrinya begitu lembut.


Suara Biboy membuyarkan keduanya. 


"Mommy. Aku besok ulang tahun ku" Ucap Biboy sambil memberikan ponsel miliknya dan menatap Luna begitu dekat. Mengalungkan tangannya di lekuk leher Luna manja. 


Biboy lahir di waktu dimana Lisa meninggal dan itu adalah hari kebahagian dan kesedihan untuk Reza. Sama halnya dengan Luna.


"Yes. Biboy mau hadiah apa?" balas Luna gemas mencium kedua pipi bocah itu berkali-kali.


"Mau...kucing" 


Reza dan Luna saling bertukar pandang. Karena mereka kira Biboy akan meminta sesuatu seperti anak kebanyakan. Tapi kali ini dia hanya ingin seekor kucing. 


Reza mengacak rambut putranya. "Kenapa harus kucing, kekecilan? Kenapa nggak sekalian singa saja Daddy beliin. "


Luna tertawa lepas. Kemudian dia memukul bahu Reza pelan. Mendengar ucapan suaminya terlalu kejam. Malah meledek anaknya sendiri. 


Reza sengaja membuat lelucon agar Luna tidak sedih lagi. Dan memang caranya berhasil juga. Luna kembali tertawa dan membuat Reza senang melihatnya. 


Sedangkan Biboy masih belum begitu mengerti maksud ucapan Reza dan terlihat kebingungan. 


"Kamu jahat banget sih. Biboy disuruh pelihara singa segala." kata Luna menatap ke arah Reza.


"Peliharanya nggak didalam rumah ada tempat khusus. Masa tega aku biarin Biboy main sama singa." 


Reza merasa ngeri sendiri kalau memang dirinya membiarkan anaknya memelihara singa yang ada jadi santapan makananya. Benar-benar buat Reza menggeleng saat memikirkannya.


"Daddy singa itu beessar.. " Biboy merentangkan kedua tangannya ke samping seolah menceritakan sesuatu yang besar ukuranya.  "Nanti Biboy susah gendongnya." Biboy masih belum berhenti bicara. Luna maupun Reza menunggu cerita bocah kecil itu. "Kucing kecil, Biboy bisa gendong." 


"Biboy memang anak pintar. Beda sama Daddy."


Luna memberikan pembelaan pada Biboy. Dan Reza sekarang merasa kalah dengan anak seusia ini. Sejak mengenal Luna. Biboy sudah banyak bicara dan banyak menggunakan kata-kata.


Memang benar kata Mbak Sarah kalau Biboy memang butuh kasih sayang seorang ibu. Yang bisa mengembangkan pertumbuhan anaknya. 


"Maksudnya…?" Reza Menangkup wajah Luna dengan tangannya dan mengecup bibir istrinya berkali-kali saking gemas.


•••


Alisha duduk di ruang cukup besar. Buku-buku tertata rapi di lemari kayu. Dan asap rokok berada di sekitar ruangan berhadapan dengan pria gendut tepat di depan mejanya sekarang.


"Jadi Reza menolak program magang ku, Pah?" Sahut Alisha seraya mengeluarkan asap mulutnya sembarangan. Lalu mematikan ujungnya di asbak menyudahi acara rokoknya.


"Itu salah kamu Alisha." singkat Fredi pada anaknya kesal.


"Salahku?" seru Alisha terlihat bingung karena dia merasa tidak berbuat salah dengan Reza apalagi pria itu amat dia sukai.


"Kamu dengar rekaman ini."


Fredi memberikan ponselnya dan memberikan pada Alisha agar dia mendengarkannya sendiri. 


Setelah mendengarkan semua isi rekaman Alisha merasa geram ternyata Aldo sengaja merekam pertemuan mereka untuk menjauhkan dirinya dengan Reza. 


Mengingatkan kembali pertemuan dengan Aldo memang Alisha sudah merasa akan mendapatkan tolakan dari pria itu karena memang Aldo sudah merelakan wanita yang dicintainya.


"Sialan Aldo! Brengsek."


Fredi menggelengkan. "Lebih baik kamu jangan banyak berharap sama pria itu lagi. Dia sudah punya istri. Papah bisa carikan pria yang lebih kaya dari Reza."


Sifat Alisha berubah saat kejadian itu. Ia berubah menjadi agresif dan posesif seakan apa yang dia inginkan harus didapatkan. 


"Nggak. Aku maunya Reza bukan pria lain."


Alisha berdiri dan mengacak-acakan rambutnya kesal. Ia berjalan mondar-mandir seperti banyak pikirannya. 


"Reza! Aku mau dia. Papah harus bantu aku."


Matanya terasa begitu perih bukan karena ada sesuatu. Tapi amarahnya selalu tiba-tiba meluapkan emosinya.


Brak!


Alisha mengambil asbak berisi ampas rokok lalu dia melempar ke arah pintu. 


"Kamu harus bisa mengendalikan pikiran kamu. Ingat Alisha! kamu masih dalam pengawasan dari Dokter Andrew." Fredi mengingatkan sambil berkacak pinggang sebelah tangan menghampiri Alisha yang tampak kacau. 


Ia merasa sangat takut bila harus berurusan lagi dengan dokter itu karena sudah membuat Alisha harus terkurung selama satu tahun di ruangan sempit. Yang membuatkan tersiksa selama ini. 


"Papah aku sudah sembuh. Lagian kejadian itu sudah lama. Nggak akan ada yang mengingat tentang kejadian itu." 


"Kamu masih harus hati-hati. Rekaman CCTV di tempat kejadian sudah ada yang ambil dan ini masalah buat kita. Ingat semua gara-gara kamu yang ceroboh."


"Bukankah Papah sudah mengurus semuanya dan membayar mahal orang?"


"Papah sudah membekukan semua data-data kepemilikan mobilmu. Kita masih aman karena keluarganya tidak ada tanda-tanda mencari pelakunya." Fredi ikut mondar-mandir ruangan berupaya menghilangkan rasa kegelisahannya. 


"Sudahlah semuanya akan aman, Papah. Orang bodoh yang masih mencari kejadian itu setelah beberapa tahun lamanya."


Alisha keluar ruangan karena emosinya sudah tidak bisa dikendalikan. Ingin menenangkan pikirannya. Fredi hanya menggeram dengan kepergian Alisha. 


♥♥♥


Saya pengen buat Alisha menderita dulu ya!!


jangan dulu dihempass😁


mau membuka konflik lama...


mohon tunggu up selanjutnya..