Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
64. Pengasuh



♥♥♥


"Kak Bi…" 


Sahut Nadila teriak-teriak dalam rumah. Bima baru saja pulang sekolah. Sebelum dia naik ke arah tangga, Bima berhenti. Tapi Nadila selalu saja meronta-ronta ingin bermain dengannya. Lalu melangkah menaiki tangga ke lantai dua dan di tengah tangga, ia sekilas menoleh pada Nadila yang sedang memegang barbie dan raut muka kesal. Mungkin permintaannya tidak langsung di turuti Bima. 


"Berisik, Nadila. Kakak mau mandi dulu baru kita main. Bau keringat badan kakak, lengket banget." keluhnya agar Nadila mengerti dan tampaknya Nadila cukup paham sehingga dia tidak merajuk kembali.


"Jangan lama-lama. Nadila paling benci kalau menunggu." kata Nadila cemberut. Nadila itu paling dekat dengan Bima. Ia selalu mengadu pada kakaknya, berbeda dengan Nabila lebih condong ke daddy-nya.


"Iya, bebek kecil. Bawel bener. Untung adik. Kalau bukan udah dilempar ke planet mars." desis Bima sedikit teriak lalu menaiki tangga tidak lagi menyahuti adiknya karena Nadila sudah tidak bicara kembali. Nadila melangkah pergi ke halaman belakang. 


Bima paling tidak disukai dari Nadila adalah sikap cerewet dan bandelnya dia lebih seperti anak laki-laki bermain saja dia suka sepak bola, ia tomboy, sedangkan Nabila lebih kalem, serius dan feminim. Kedua adik kembarnya memang berbeda tapi dia amat menyayangi mereka berdua.


Setelah mandi dan berganti pakaian dia memakai celana bahan cream sampai lutut, kaos putih bertuliskan PUMA terlihat santai dan modis untuk anak seumuran Bima. Modis. 


Langkah kakinya Bima berujung di halaman belakang, pertama yang dilihat adalah Nadila sedang berlarian kesana kemari. Dan Nabila bermain rumah-rumahan ditemani Mbak Susi baby sitter baru khusus menjaga si kembar. Mbak Mirna sudah tidak kerja lagi dengan keluarga mereka karena pindah rumah ke kampung halamannya di surabaya. Mereka juga berhubungan lewat chat, sehingga mereka masih bisa saling memberi kabar. Bima sangat kehilangan karena memang sejak kecil Bima selalu di urus oleh Mbak Mirna. Kehilangan itu pasti.


Bima menghampiri Nadila. "Sudah jangan lari-larian lagi kamu nggak capek, panas-panasan begitu. Nanti kamu sakit. Ikut kak Bi ke rumah kak Ara." ajak Bima ke rumah Clara, dengan panggilan akrab Clara adalah Ara.


Bima menggendong Nadila, lalu membawanya ke teras dekat Nabila masih anteng bermain dengan Mbak Susi. Karena cuaca di luar sangat panas. 


"Nadila, kok malah diam sih, mau ikut nggak?" ajak Bima lagi. Melihat gelagat Nadila yang diam, berarti dia tidak mau.


"Nggak mau ke rumah kak Ara. Aku mau main di sini sama kak Bi." balas Nadila ketus, lalu membuang muka. Kesal. Lalu dia minta diturunkan dari gendongan Bima. Kemudian, gadis itu masuk ke dalam menghentakkan kakinya kencang, dan tangan di lipat di depan dadanya, dan mukanya cemberut hingga bibirnya manyun. Duduk di depan TV.


Bima menggeleng pelan. Nadila marah. Memang adik paling jago merajuk. Membuat Bima gemas. Dengan tingkah Nadila.


"Dasar bocah."


Nadila duduk bersila dengan raut cemberut dan wajahnya bertekuk, tanganya sambil memegang remote mengganti channel TV berulang-ulang tidak tahu acara apa yang akan ditontonnya, hingga Bima datang menghampiri dan duduk di sebelah Nadila. 


Suasana hening. Hanya ada suara obrolan acara TV saja. Bima masih belum bersuara.


Nadila sekilas melihat Bima di sebelahnya. Lalu fokus kembali ke TV. 


"Kamu marah sama kakak?" tanya Bima, adiknya ini memang masih dendam kesumat dengan Clara, sebenarnya semua salah Bima bukan Clara. Masih mengingat kejadian di mana Bima mengajak bermain si kembar dan Clara ke taman komplek tidak jauh dari unit mereka. Dan Bima malah fokus mengobrol dengan Clara, si kembar hilang yang untungnya saja ada orang mengenal si kembar dan diantar pulang dengan selamat.


Hal itu membuat kedua orangtua marah. Ya, memang Bima yang salah. Sehingga-karena kejadian itu, si kembar tidak menyukai Clara. Enggan bermain. Clara menjadi korban


 Tapi lambat laun si kembar menerima Clara, meski tidak seutuhnya.


"Iya, aku marah. Kakak kalau sudah sama kak Ara, Nadila dicuekin. Aku nggak suka."


"Sorry, hal itu tidak akan terulang lagi. Kita mau ngapain? Boring dong. Mommy dan Daddy belum pulang dari Bandung."


"Ke mall yuk kak."


"No, no, no, mommy melarang kita pergi ke mall."


"Benar juga, pasti mommy takut kejadian kemarin."


"Kejadian apa?" Bima mengangkat sebelah alisnya, heran. 


"Bukan apa-apa." sagahnya cepat, untung tak keceplosan. Lalu mengalihkan pembicaraan. "Aku mau beli cilok kak."


"Cilok mang Asik?"


Bima melupakan ucapan Nadila, tanpa sadar. Memandang adik kesayangannya lekat. Nadila dan Bima menyukain cilok keliling yang mang Asik jual. Karena beda dari yang lain, dan beda dengan Nabila dia pilih-pilih makanan tidak begitu suka jenis makanan pinggiran, sama dengan Daddynya. 


"Iya, cilok mang Asik paling enak. Nggak ada tandingannya."


"Tapi jam segini dia belum lewat komplek sini, Dil."


"Kita tunggu saja."


"Kakak interkom Mang Supri biar kalau lewat dia kasih tahu kita." Bima mengambil telpon rumah, lalu menelpon satpam depan yang menjaga. Nadila mengangguk setuju. 


Setelah itu memutuskan untuk menonton TV, acara kesukaan mereka Running Man sambil jadi pengasuh adiknya. 


•••


Seseorang datang menghampiri Bima dan Nadila sedang asyik bersandar di sofa, tentunya ada Nabila di sisi kanan dengan sofa terpisah sedang duduk sambil menyisir boneka barbienya. 


"Den, Ini cilok pesanan. Dan ini kembaliannya." kata Bik Surti menyodorkan cilok di mangkuk dan sisa uang kembaliannya. Bik Surti memanggil kata 'Den' karena Bima tidak suka kalau asisten rumah tangganya memanggil tuan muda atau apalah itu, membuatnya risih. 


Tadinya Bima yang akan menghampiri mang Asik di depan, karena merasa malas berjalan dia menyuruh Bik Surti yang membeli. 


"Makasih Bik, kembaliannya buat Bik Surti." ujarnya, lalu menyodorkan kembali uang sisa beli cilok pada Bik Surti. 


"Makasih Den, ada lagi yang bisa Bik Surti bantu." balas Bik Surti lalu menyimpan uangnya di saku kanan daster miliknya. Masih berada di tempat berdiri menunggu perintah dari Bima selanjutnya. 


"Tolong buatin es sirup aja deh. Buat aku sama Nadila." 


Mendengar ucapan itu, Nabila buka suara. "Kok Nabila nggak di tawarin buatin, kak?"


"Kamu memang mau?" balasnya, meyakinkan. Nadila jarang minum es karena memang perutnya selalu tak bersahabat. Karena Nabila lebih lemah tentang kesehatannya berbeda hal dengan Nadila, dia lebih kuat.


"Mau dong. Aku juga haus." rujuknya, memang tidak bohong.


"Berarti tiga Bik. Punya Nabila es-nya jangan banyak nanti dia kambuh lagi perutnya."


"Siap, Den."


Beberapa menit-kemudian Bik Surti membawa tiga sirup es dan meletakkannya di meja, lalu kembali ke dapur untuk melakukan kegiatannya. 


Mereka bercanda gurau sekedar melihat acara TV, kadang juga mengomentari apa yang di lihat dan di dengar mereka saat acara TV berlangsung. Bima dan Nadila selalu bersaing dan juga adu bicara kalau mereka berbeda pendapat. Nabila pembawaannya tenang dan tak mau ribet seperti kakak dan adik kembar, Nabila juga sebagai penengah keduannya.


Bosan menonton, Bima mengajak adik-adiknya main keluar dan bermain di halaman belakang, dan bersenang-senang sambil menunggu kedua orangtuanya pulang.


Sore hari tiba, si kembar memutuskan mandi. Lalu Bima masuk ke kamarnya, membaringkan badannya di kasur. Sejak pulang sekolah dia bermain dengan adik-adiknya. Hingga tidur siang dia lewatkan.


Bima meraih ponselnya. Mengecek ponselnya, ternyata chat dari Clara masuk, sejak pukul satu siang.


From :


Araku: Kamu gak jadi main ke rumahku? 🤔


Araku: Aku nungguin kamu dari tadi. 😣😪


Araku: Kabarin aku. 😶


Araku: Kok gak di balas. 😩


Araku: Bi… 😤


Araku: Sibuk banget sampai chat aku nggak di balas. 😠


Araku: 🚫Pesan ini telah di hapus


Araku: 🚫Pesan ini telah di hapus


Melihat deretan chat dari Clara membuat Bima pusing, pasti Clara marah banget dengannya, apalagi chat tidak ada satupun yang di balasnya, karena dia sibuk bermain dengan si kembar.


Jadi pengasuh. 


Bima bangun beringsut dari kasurnya, duduk di kursi depan meja belajarnya, lalu siap menge-chat Clara. 


Bismillah...semoga saja Ara-nya tidak marah.


To:


Bima: Maaf banget, Ara. Aku baru bisa balas chat kamu. 


Bima: Salahku memang harusnya ngasih kabar sama kamu. 


Bima: Kamu tahukan mereka rewel. 


Bima: Aku baru saja selesai bermain dengan mereka.


Bima: Please jangan marah. 


Bima: Aku bakal tebus kesalahanku. 


Bima: Apapun. 


Bima: Asal kamu maafin aku. ❤


Anak zaman sekarang aja, ngomong atau chat berasa orang dewasa. Itu yang ditunjukkan oleh Bima pada Clara, Ara-nya. 


Setelah membalas chat Bima, dia masuk ke kamarnya untuk melepas lelahnya. Ponselnya dibiarkan berada di atas meja belajarnya. Yang penting dia sudah berusaha membalas chat dari Clara.


•••


"Biboy…bangun, mommy sudah siapkan makan malam buat kamu." 


Teriak seseorang dari luar kamarnya Bima, suara lembut dan sapaan namanya membuat Bima rindu, siapa lagi kalau mommy nya yang memang masih memanggil Bima dengan sebutan Biboy, padahal dia sudah umur dua belas tahun tujuh bulan, dia sudah SMP kelas satu tapi masih saja dianggap bocah kecil. Dan orangtuanya sudah pulang 


"Yes, mommy." sahut Bima malas beranjak dari kasurnya, dia melihat ke jendela ternyata sudah gelap dia ketiduran. "Bentar aku ke bawah."


Bima bangun. Lalu, masuk ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka. Kemudian turun ke bawah. 


Di ruang makan sudah ada kedua orang tuanya dan si kembar duduk di depan meja sambil memainkan sendok makan dan memukul piring pelan hingga mengeluarkan suara atau bunyi nyaring.


"Nabila, Nadila, bisa nggak jangan buat bising di meja makan. Ini waktunya buat makan." tegur Luna pada Putri-putrinya. Lalu menoleh pada Reza yang sebari tadi sibuk dengan ponselnya di tangan. "Mas, bisa nggak ponselnya di simpan dulu, heran deh. Ada apaan sih di ponsel kamu sampai nggak berkedip begitu." Luna berdecak.


Reza mengangkat alisnya. "Marah-marah melulu. Lagi dapet ya." ucap Reza lalu menyimpan ponselnya di meja.


Luna membuang muka sebal. Menyiapkan makanan suaminya terlebih dulu. Tak lama Bima duduk.


Makan malam begitu hening tidak ada suara obrolan di antara mereka karena memang sebelumnya Luna sudah memperingati mereka yang berada di meja makan. Hanya ada suara dentingan alat makan saja, suasana sangat berbeda malam hari ini. Yang lebih aneh adalah Luna, entah apa gerangan sikapnya mommy nya terlihat berbeda setelah pulang dari Bandung.


Makan malam selesai, si kembar dan daddy-nya pindah tempat ke ruang tamu sekedar mengobrol dan sebagainya, sedangkan Bima dan Luna masih duduk di meja makan.


Bima memandang ke arah mommy-nya, masih suram bukan mommy yang biasanya, ingin bertanya tapi dia takut, karena selama ini Bima jarang melihat mommy-nya tidak tersenyum.


Beberapa detik, diam. Luna berdehem. Ia memandang ke arah Bima yang sejak tadi memperhatikannya.


"Ada yang mau kamu bicarakan, sayang?" tanya Luna, Bima menatapnya aneh. Mungkin dia berpikir harusnya Bima yang bicara seperti itu bukan dia.


"Mommy baik-baik saja kan?" Bima balik tanya hati-hati tidak mau mommy-nya tersinggung.


"Baik, sayang. Kamu aneh deh."


"Kok aku yang aneh. Mommy yang aneh. Semenjak pulang dari Bandung, mommy marah-marah, terus diam saja. Beda banget bukan kayak mommy biasanya."


"Mommy bertengkar sama daddy."


Luna mengangguk, mengiyakan.


"Kenapa? Mommy nggak ada niatan cerai sama daddy kan?"


Luna tersedak mendengar ucapan Bima, seumuran Bima sudah mengerti hal seperti itu. Luna cepat menggelengkan kepalanya. 


"Nggak sayang, kamu kok berpikiran seperti itu?"


"Soalnya teman Bima, ayah dan ibunya Arsen cerai jadi Arsen berpisah sama ibunya, dan tinggal sama ayahnya. Gara-gara kedua orangtuanya bertengkar."


Luna menelan salivanya susah payah. Ini salah. "Mommy memang bertengkar sama daddy tapi nggak sampai melakukan hal itu."


Menatap Bima risau, Luna berjalan mengitari meja makan dan duduk di samping anaknya. Memeluk Bima. "Maaf, jadi buat kamu risau seperti ini. Mommy sama daddy tidak akan berbuat hal semacam itu, kita akan selalu mempertahankan dan juga menjaga kalian semua. Nggak akan terpisahkan."


"Janji ya mom?"


"Iya janji."


Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang Bima, Luna. Kemudian berhenti di samping. Reza suaminya. Memandang ke arah keduanya yang sedang berpelukan. "Cie pelukan, ada apa nih? Ada yang baper?"


Bima menoleh ke arah suara. "Daddy, sotoy."


"Baperin anaknya si Arga? Payah kamu. Pacar di sebelah aja, galau melulu." Ledek Reza lalu duduk di kursi samping Luna. Mendengarkan celotehan putranya. 


"Kita bukan ngebahas soal Clara, daddy. Lagian hubungan aku sama Clara baik-baik saja." sagah Bima perihal hubungannya dengan Clara. Menatap tajam ke arah Reza yang meledeknya. 


"Masih bocah, kelakuan sok dewasa. Belajar yang bener jangan pacaran melulu." protes Reza, menasehati anaknya, padahal dia yang selalu memojokkan Bima dan Clara dulu saat masih kecil. Daddy-nya pura-pura apa pikun. Mungkin sudah tua, pikiran Bima. 


"Siapa yang pacaran, kita cuma teman."


"Teman tapi mesra."


Mereka tertawa. Luna menggeleng. Ayah dan Anak sama saja. Kalau urusan cinta. 


"Terus, daddy sama mommy kenapa bertengkar?"


"Mommy kamu selingkuh." balas Reza tanpa basa basi dan membuat Bima terkejut, padahal hanya bercanda. Tapi dia melanjutkan candaanya ingin melihat reaksi Bima yang kelakuannya sok dewasa. 


"Enak saja kalau ngomong." cetus Luna tidak terima. Lalu mencubit lengan suaminya, Reza merasa kesakitan meski cubitan istrinya tidak kencang. 


"Kamu foto-foto sama itu cowok mesra, nempel-nempel. Di depan mataku sendiri, sayang." ucap Reza terlalu dramatisir.


"Ya, ampun. Kamu itu cemburuan banget. Kan tadi fotonya sudah kamu hapus juga kan."


"Nggak terima aja. Aku nggak suka sama itu cowok. Sok ganteng."


"Dia memang ganteng."


"Belain terus."


"Wajar dong kalau kaum cewek suka sama dia. Normal."


"Memang cowok itu siapa sih, daddy? Yang bisa bikin mommy berpikir kalau dia cowok ganteng." tanya Bima, penasaran apa yang membuat keduanya berantem. Apalagi membawa-bawa pria lain dalam masalahnya. 


"Tanya sama mommy kamu. Daddy ogah nyebutin itu cowok." ketus Reza tidak suka, malas. 


"Mommy?" kata Bima ingin tahu. 


Luna menghela nafas. " ARIEL NOAH."


"What??? Gila itu sih ganteng banget mommy, aku juga suka sama dia apalagi lagu-lagunya bikin baper meski aku cowok."


Reza kaget. Bukannya Bima ikut prihatin pada Reza, tapi malah setuju dan membela Luna. Anak sama ibu sama aja, fans Ariel Noah. Tahu begitu nggak usah bahas itu. Sama aja bohong. Bukannya dapat belaan tapi malah dapat celaan. Ampun deh. 


"Biboy memang punya seleranya sama kayak mommy. Kita memang satu hati dan jiwa."


"Mommy dapat tanda tangannya nggak?"


"Nggak, keburu mommy di gusur sama daddy kamu. Biasa orang kalau udah cemburu buta begitu. Foto mommy sama Ariel aja dihapus. Padahal tadinya mau mommy posting di akun IG mommy. Nggak jadi deh."


"Keganjenan sih. Udah tahu, suaminya cemburuan. Malah bikin masalah.


Luna mengabaikan Reza, sengaja. Malah asyik mengobrol dengan putranya membicarakan tentang pria lain. Membuat Reza jengkel. Lalu kembali pada si kembar yang masih asyik menonton TV. Duduk cemberut. Mengingat tentang kejadian saat berada di Bandung. Menghembus nafas, menyandarkan kepalanya di punggung sofa. 


'Aku di hempas gara-gara Ariel Noah.' Batin Reza teriak. 


♥♥♥


maaf sudah jarang update karena terlalu sibuk sama tugas kerjaa, sampai lupa update...thanks sudah vote, dukungan dan komennya/sarannya ♡