Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
65. Pesta Ulangtahun



♥♥♥


"Happy birthday, Dede Alby."


Ucap Nabila dan Nadila pada Albyasa Mahendra, Mereka sembari memberi kado ukuran sedang pada Alby yang sekarang berpakaian setelan jas berwarna biru dongker terlihat imut dan keren, tidak lupa mereka juga memberi pelukan hangat untuk Alby.


Albyasa Mahendra adalah anak dari Aldo dan Rara, anak tunggal yang tepat hari ini berulang tahun yang ke-tiga. Usia anaknya bertambah satu tahun. 


Sementara Nabila dan Nadila masih gemas pada Alby duduk jongkok menyamakan tingginya, Rara datang menghampiri mereka bertiga. Sejak tadi Rara sibuk menerima tamu yang datang. 


"Bilang terima kasih sama kak Nabila dan Nadila, Alby, buat kadonya." ucap Rara memberi arahan kepada Alby agar mengucapkan 'terima kasih' dengan malu-malu Alby mengucapkan terima kasih pada si kembar. Meski tidak begitu jelas karena selalu menempel pada Rara, bundanya.


"Terima kasih kak Nabila dan kak Nadila." ucap Rara mewakili.


Alby memang anak yang pemalu seperti ayahnya dan berbeda dengan Rara yang blak-blakkan dan tidak tahu malu.


"Sama-sama, aunty… " keduanya bersamaan, lalu ikut bergabung dengan para undangan duduk di kursi yang sudah disediakan.


Acara dimulai dengan bernyanyi. Semua anak yang diundang ikut bernyanyi saat seorang MC melantunkan lagu. Rara, Aldo dan Alby berada di tengah tepat di depan meja kue ulang tahun yang bermotif superhero kesukaan Alby yaitu Batman. Setelah bernyanyi ria lanjut tiup lilin dan potong kue. 


Keluarga Aldo dan Rara menjadi pusat perhatian meski mereka sering beradu argumen di depan orang tapi keduanya tetap harmonis.


Ulang tahun Alby banyak sekali yang menghadiri termasuk anak dari Abel, Pasha. Ada juga anak dari Rani, Rifai. Seolah reunian dan bernostalgia, karena mereka jarang bertemu dengan satu sama lainnya. 


Acara ulang tahun berlangsung meriah dan riang, selesai acara mereka hanya menyisakan keluarga dan sahabat saja. Anak mereka bermain, dengan pengawasan baby sitter masing-masing.


 Lalu para daddies sibuk dengan obrolan bisnis mereka. Sedangkan para mommies yang sibuk mengosip dan bernostalgia kehidupan mereka masa-masa muda dalam arti masih lajang dan banyak lagi. Dan mereka minus Arga dan Nita, mereka sedang berlibur ke rumah kediaman dari orangtua Arga di Solo. 


"Luna terus kamu kapan tambah momongan lagi, Nabila sama Nadila sudah besar loh. Mereka juga butuh adik satu lagi." ucap Abel, menatap kakak ipar penuh pertanyaan. Karena-kenapa, Abel pun sekarang sedang hamil anak kedua dengan Soni. 


Ngomong-ngomong soal Soni, dia yaitu sekretaris Reza paling loyal sampai sekarang. Padahal Reza sudah pernah meminta Soni berhenti karena Abel selalu protes karena Soni hanya menjadi seorang sekretaris. Bukan masalah ekonomi atau jabatan yang Soni pertahankan sampai saat ini. Karena dia lebih nyaman bekerja sebagai sekretaris Reza, dibandingkan jabatan lainnya. Karena tidak mau ambil pusing.


"Tenang saja Abel, Mas Reza sama aku tahun ini akan melakukan program kehamilan kok. Minggu depan kami akan ke Jerman. Bulan madu sambil berlibur dengan anak-anak." kata Luna, tentang rencana menambah momongan. Dia juga ingin punya anak banyak agar rumah penuh dengan tawa dan kebahagian.


Wow, itu yang mereka ucapkan. Mungkin hanya pasangan Luna dan Reza yang selalu membuat mereka kagum. Bahkan di pernikahannya yang hampir memasuki 6 tahun masih saja romantis dan adem ayem, meski selalu ada saja masalah dalam keluarga tapi mereka bisa mengatasi itu semua dengan baik. Entah beberapa tahun ke depan tidak ada yang tahu… 


"Anak-anak kamu bawa juga? Mereka tidak akan mengganggu kalian honeymoon?" tanya Rara, ia menggoda Luna. Memang honeymoon harusnya hanya mereka berdua bukan bersama keluarga, bisa disebut liburan keluarga bukan honeymoon.


Luna tertawa pelan. Membuat Rara, Rani dan Abel kebingungan karena ulahnya. "Mas Reza sudah atur semuanya, nanti anak-anak akan di titipkan di rumah opah sama omahnya." Luna bersedekap ingin melihat reaksi sahabat Luna yang begitu kepo akan rencana honeymoon Luna dan Reza nanti. 


"Astaga, kalau kata Ariel Noah, kalian memang luar biasa. Disaat kalian ena-enaan. Anak-anak kalian dititip pada opah-omahnya. Good idea. Bisa di coba nanti kalau Rara mau nambah lagi tuh." Sahut Abel dan begitu antusias. Memang Reza banget. Abel tahu kalau kakaknya selalu melakukan sesuatu-sesuai dirinya.


Luna mendengar idolanya disebut jadi ingat saat kejadian di bandung yang membuat Luna marah pada Reza yang memintanya menghapus semua foto dirinya dengan Ariel Noah, padahal itu hal paling dia idamkan sejak dulu. Reza membuat moment itu menjadi kacau balau. Sirna sudah… 


"Betul juga. Nanti aku bakal gitu juga aku titipin Alby ke nenek sama kakeknya. Mas-mu Reza itu memang Numero Uno." sahut Rara. Memberikan jempol ke arah Luna. Luna mengerjak melotot ke Rara dan Abel bergantian. Memang keduanya itu selalu saja menggoda dan meledeknya.


"Copy paste melulu. Heran." cetus Luna, saat dia mendapat godaan sahabatnya. Mereka tertawa melihat dan mendengar tingkah Luna. 


Saat obrolan mereka sedang asyik tidak lama seorang wanita setengah baya menghampiri, menyimpan minum dan cemilan yang sudah habis dan menggantinya, setelah Rara memberi perintah pada asisten rumah tangganya. Karena acara obrolan mereka akan sedikit lama.


Sesekali mereka juga melihat ke arah jendela luar, mengawasi anak-anak mereka, meskipun dengan baby sitter tapi tetap saja sebagai orangtua harus tetap memantau anaknya meski dari jauh. 


Mereka fokus kembali ke arah pembicaraan yang lebih serius lagi. Rara dan Abel memasang wajah penuh keingintahuan dan keponakannya yang sudah level maksimal saking gatalnya. Kemudian Rani membuka suara pertama. 


Rani hanya menghela nafas pendek. "Terus kamu ceritain sama kita secara detail tentang omongan kamu di group tentang pertemuan kamu sama Novi and Genk itu?" tanyanya, Rani mengambil cemilan di meja dan matanya fokus pada Luna yang sedang siap mengeluarkan suara.


Luna terdiam, memang semenjak pertemuan dia dan mereka menjadi sedikit kepikiran. Luna takut kalau mereka akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan karena terlihat jelas dari pertemuan mereka yang memberikan tatapan kebenciannya pada Luna. Sampai saat ini dia belum mau angkat bicara soal kejadian itu pada Reza. Luna tau kalau Reza pasti sudah tahu hanya saja dia ingin tahu dari mulutnya langsung.


"Ya, kita bertemu di mall. Katanya dia masih benci sama aku." jelas Luna pada mereka, namun masih belum puas mereka bertanya kembali.


"Terus mereka ngomong apalagi?" tanya Abel di buat penasaran.


"Mereka bilang Nabila dan Nadila bukan anak Reza." kata Luna, dengan nafas sedikit sesak saat dia mengucapkan hal yang dia tidak suka, dan dia marah itu pasti apalagi menyangkut anak Luna. Dia diam karena tidak mau membuat masalah lagi.


"Sialan itu orang… " kata Abel geram hingga kue yang ada di piring kecil ditusuk-tusuk memakai garpu. Membuat mereka yang melihat tingkahnya sedikit horor.


"Laporin dong... " tambal Rara juga ikut bicara. 


"Bener tuh, pencemaran nama baik…" timpal Rani lalu mereka memandang pada Luna yang terlihat santai. Tapi hatinya terlihat kacau. 


Luna menghembus nafas. "Maunya begitu, tapi-"


"Kamu itu terlalu baik jadi orang. Heran deh. Plis, untuk kali ini aja kamu lebih egois dikit dong dan ini juga buat kebaikan keluarga kalian. Bagaimana kalau nanti sewaktu-waktu mereka buat masalah. Aku harap kamu bisa lebih antisipasi lagi." tungkas Abel. Ia sudah tahu akan sikap Luna dari dulu dan sampai sekarang dia tidak berubah.


"Iya nanti aku coba buat bicara sama Mas Reza-"


"Wait, kamu belum ngasih tahu kak Reza sampai sekarang, ini kejadian sudah seminggu loh?" seru Abel terkejut. 


Luna mengangguk, mengiyakan. Sepertinya dia akan mendapat wejangan dari Abel dan yang lainnya setelah ini.


"LUNA" pekik ketiganya wanita, berteriak kesal dan geram.


Abel menatap tajam pada Luna seperti macam siap memakan mangsanya. "Aku yakin setelah negara api menyerang, si Luna pasti baru akan ngomong sama kak Reza. Telat." desis Abel, ia kesal tapi masih bisa menahan emosinya. 


"Setuju." tanggap Rani dan Rara setuju akan pemikiran Abel. 


Sedangkan Luna hanya bisa tersenyum kikuk.


"Hehe… sorry"


•••


Setelah kepulangan dari acara ulangtahun Alby, keluarga Luna memutuskan untuk kembali ke rumah. Meski si kembar memaksa ingin bermain ke mall tapi Luna menolak. Agar mereka cepat kembali ke rumah untuk istirahat dan tidak mau lama-lama meninggalkan Bima sendiri dirumah.


Bima tidak ikut karena harus mengerjakan tugas dengan teman-temanya dan Luna meminta agar dia mengerjakannya dirumah saja, jangan sampai mengerjakan tugas di keluar. Karena Luna yakin mereka bukan mengerjakan tugas tapi malah nanti main-main seperti halnya dia dulu saat masih sekolah.


Sampai di rumah, si kembar berhamburan keluar dengan berlari ke dalam rumah. Luna menggeleng akan tingkah si kembar. Luna dan Reza masuk ke rumah bergandengan khalayak pasangan muda.


Dan sampai di ruangan dia melihat Bima dengan teman-temanya sedang sibuk dengan tugasnya. 


"Iya tante…" ucap mereka bersamaan, kecuali Bima masih berkutik dengan laptopnya tanpa memandang pada Luna ataupun Reza. Karena Bima memang gila belajar seperti daddy-nya, Reza yang gila kerja.


"Kalian sudah makan?" tanya Reza.


"Belum om" jawab mereka bersamaan, Bima menatap teman-temanya kesal. "Maksud kita belum tiga kali." sahut mereka lagi saat Bima kembali menatap tajam pada mereka dengan tatapan mautnya. 


"Jangan dengar mereka, daddy. Bi sudah banyak siapin makanan tadi. Sampai ludes makanannya nggak ke sisa. Karung goni semua." tukas Bima, melihat kelakuan temannya. Mereka tersenyum kikuk saat Bima menyebarkan aib mereka, malu.


"Kalau kalian masih lapar, nanti om pesankan sesuatu. Pizza mau?"


"Mau." mereka serentak. Bima hanya menggeleng akan teman-temanya. "Maruk kalian semua."


"Kapan lagi makan gretongan. Lagian nggak akan bikin miskin keluarga lo juga, Bi." kata Arsen pada Bima pelan. Bima malah buang muka acuh tidak acuh dan kembali fokus dengan laptopnya.


Luna dan Reza kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mereka untuk istirahat atau berganti pakaian. Sedangkan Bima dan teman-temanya mengerjakan tugas sambil menunggu pesanan pizza yang sudah di order Reza sebelumnya di aplikasi delivery food-nya.


Sampai di kamar, Luna bergegas masuk ke kamar mandi dan membuka semua pakaian, berendam sejenak merileksasikan tubuhnya lelah, menghirup wangi sabun lavender yang membuat pikirannya tenang.


Luna menghembuskan nafasnya. "Aku harus bicara sama Mas Reza sekarang." gunamnya.


'Sebelum negara api menyerang.' Kekeuh Luna dalam hatinya, mengingat kembali ucapan Abel yang membuatnya geli.


Cukup 30 menit berendam, dia memakai handuk melilit di tubuhnya dan mengambil dress yang berada di walk in closet-nya. Memakai dress biru lengan sebahu panjang dibawah lutut membuat penampilannya terlihat lebih muda dari umurnya meski tidak memakai make-up. 


Melihat bercermin, saat segala sesuatu.cukup memuaskan Luna keluar masuk dan mendapati suaminya sedang berdiri di tanjang menikmati pemandangan sore.


Luna menghampiri memeluk pria itu dari belakang, erat. 


"Kok ada disini, lagi mikirin sesuatu." ucap Luna masih dalam posisi yang sama mencium aroma khas Reza yang membuatnya tenang.


"Hmm... "


Jawaban Reza membuat Luna tidak suka, hanya mengeluar deheman saja. Jengkel. Lalu dia membalikan badan Reza menatap dengan penuh pertanyaan.


Sedangkan Reza bingung akan tingkah istrinya. 


"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku? Ayo ngomong." Luna maksa. Ia tidak peduli akan apa yang diajukan. Meski dia sendiri masih juga suka begitu memendam perasaan dan masalah sendiri.


"Hey, yang sembunyikan sesuatu itu bukannya kamu ya!" balas Reza membuatnya kikuk. Lalu mencubit hidung Luna gemas. Luna pura-pura bingung, sedangkan Reza terus mendesaknya. "Aku yang cerita atau kamu duluan yang mau cerita." lanjut Reza membuat Luna penasaran.


"Kok malah balik tanya? Kamu duluan kalau gitu yang cerita-aku setelahnya."


Luna memandang Reza tampak serius, dengan melipat kedua tangannya di dada sembari Reza menyenderkan badan di pinggir besi balkonnya.


"kiss me?"


"Apa?"


"Aku nggak akan mulai cerita kalau kamu belum cium aku."


"Bisa begitu, ya!"


Reza mengangguk. Ia gemas melihat sikap istrinya yang masih malu-malu meski mereka sudah lama menikah.


Tak butuh lama, Luna menjinjitkan kakinya dan menyentuh bahu Reza sebagai tompangan lalu menyentuh bibirnya ke bibir Reza mengecupnya sekilas.


Mata Reza melebar akan kecupan istrinya yang tiba-tiba.


"Sudah menikah punya anak tiga, masih belum paham juga apa itu kiss. Tadi cuma nempel atau istilahnya bibir tabrak bibir. Aku pengen kiss one minute, nggak lama kan." protes Reza memang sengaja menggoda Luna. Sementara Luna cemberut, kesal akan tidakkan suaminya yang selalu berupaya menggodanya.


"Dasar mesum…" keluhnya, memukul pelan dada Reza. Reza hanya terpekik geli.


"Terserah kamu sih...nggak maksa."


Luna menghela nafas pendek, dia memang penasaran akan perkataan Reza. Tingkah konyol dan mesum Reza membuat Luna kesal, meski dia juga suka dengan cara suaminya itu. Tapi Luna berupaya untuk pura-pura tidak menyukainya. 


"Okay, one minute. Tidak lebih." Luna pasrah. Membuat Reza senang. 


Luna mengalungkan tangannya di leher pria itu yang sedang senyum menang. Ciuman awalnya lembut, saling bertautan lama-lama menjadi menjadi panas dan bergairah, dan tubuh keduanya semakin menempel dan erat. Tidak terpisahkan. Ciuman yang katanya hanya one minute malah lebih-dari sehingga mereka larut dalam cumbuan keduanya. 


Reza memang good kisser hingga Luna sampai luluh akan godaan itu, pikirannya kosong hanya menikmati lumatan dalam ciuman membuat nafas keduanya terengah-engah karena hampir kehabisan nafasnya. Saat saling menghirup udara mereka masih berada di balkon lalu Reza dengan cepat mengangkat Luna dengan gaya bridal.


"Mau kemana?" tanya Luna bingung. 


"Kita lanjutin di dalam... " bisik Reza pada Luna. Membuat Luna merona malu. Saat memasuki kamar, Reza merebah tubuh Luna di kasur dan Reza **** badan Luna.


"Mesum, terus ceritanya kapan?" tanya lagi, Reza kesal saat seperti ini Luna masih saja penasaran dengan perkataannya.


"Setelah kita selesai…"


"Ini masih sore."


"Kita sering melakukannya sore hari. Kalau malam tahu sendiri banyak tuyul-tuyul yang ganggu."


Tuyul-tuyul maksud Reza adalah si kembar yang setiap malam selalu minta tidur bersama dengan mereka berdua.


"Sembarangan mereka anak kamu."


"Ssst...sayang. Kapan mulainya kalau ngobrol terus. Mumpung mereka pada kalem. Sekarang giliran daddy sama mommy-nya berduan."


"Now... "


Luna sedikit memalingkan wajahnya malu. Yang pasti wajahnya menjadi kepiting rebus. Karena Reza selalu bisa membuat Luna merona malu. 


Lalu kegiatan mereka berlanjut, hingga tidak ada seorang pun yang mengganggu aktivitas kedua pasutri (Pasangan suami istri) itu.. 


♥♥♥