
♥♥♥
"Huh!",
Luna menghilangkan kegugupan dan berjalan mondar-mandir disekitar ranjangnya. "Oke ini cuma makan malam, tenang Luna", bicara pada diri sendiri sembari meletakkan kedua tangan didadanya, dan membuang napas panjang secara perlahan.
Saat kembali dari kantor, Rara sudah tidak ada diapartemennya dan kembali ke rumah orangtuanya. Masih dengan hati berdebar-debar melangkahkan kedua kakinya menuju pintu, tapi sebelum itu suara bel berbunyi.
Dengan sigap dia membuka pintu dan dilihatnya Abel dan Bi berdiri didepan matanya.
"Kamu lama banget sih, Luna", keluh Abel melepas gendongan bocah kecil dan memberinya pada lupa yang sudah siap untuk mengabil alih Biboy yang amat menggemaskannya itu.
"Sorry tadi aku beres-beres dulu sebelum makan malam dengan kalian", ucap Luna berbohong dan mengalihkan pandangannya pada Biboy. "Hey Biboy, apa aku boleh memanggilnya begitu?", katanya lagi sambil memandang kearah Abel.
"Tentu saja, tidak ada yang larang", sahut Abel tersenyum.
"Oke. ayo kita makan", ucap Luna riang sambil mengacungnya tangan kanan keatas, sementara tangan kirinya masih menyautkan gendongan Biboy dengan erat dan mengilangkan kegelisahan tadi.
Makan malam bersama seperti ini, membuat Luna rindu dengan suasana keluarganya terlebih Ibu dan Kakak yang sudah meninggalkan Luna terlebih dahulu. Apalagi saat moment dimana Ayah, Ibu, Anggi dan Luna bisa mengobrol senang dimeja makan, bercerita tentang apa saja yang dilakukan seharian dan kejadian yang mereka alami.
Melihat raut muka Luna yang tiba-tiba berubah gusar, Sarah pun bersuara "Makannya tidak enak ya?", sahutnya pelan. Seketika mereka menoleh pada Luna dan membuatnya merasa kaku.
"Enak kok makananya_", cepat Luna memberikan suara.
"Mbak perhatikan kamu melamun", tanya Sarah merasa sedikit khawatir. Sementara Reza, Abel, Pak Abdul sesekali mengarahkan pandangannya pada Luna dan berfokus kembali dengan makanan dimejanya.
"Duduk makan bersama begini, Luna merasa punya keluarga lagi", ucapnya dengan mata berkaca-kaca karena merasa rindu dengan keluarganya sendiri, merekaa yang berada dimeja makanpun merasa terbawa suasana
"Maaf, jadi ganggu acara makannya". Ujar Luna sambil menghapus air matanya yang belum sempat jatuh dipipinya. Abel yang berada disisinya hanya bisa mengelus punggungnya lembut.
"Luna kita semua keluarga kamu, jadi jangan pernah menganggap kami orang asing", kata Pak Abdul bijak.
"Mbak juga sudah anggap kamu adik sendiri seperti, Reza dan Abel", ujar Sarah sambil memenggang erat jari tangan Luna yang duduk berhadapan dengan.
"Biboy saja udah anggap kamu Mommy_nya", seru Abel sontak membuat Reza tersedak dan menatap tajam adiknya kesal.
Adik menyebalkan. Batin Reza.
"Abel", sentak Luna sambil memukul pelan bahu temannya.
"Aw...aw...Luna sakit", ucapnya meringis sambil memegang bekas pukulan yang luna berikan.
Suasan makan yang tadinya terasa baper dan melow, seketika itu pun berubah menjadi lebih menangkan dengan gelak tawa diantara mereka dan kejadian-kejadian saat Biboy menumpahkan semua makananya diatas meja. Kebahagian bisa datang dengan cara apapun dan dimana pun.
Setelah selesai acara makan malam pun, mereka berbaur menuju ruang tamu sambil menonton televisi dan berbincang-bincang.
Sarah mengambil album foto yang bertulis 'My Boy' berisi foto-foto perkembangan Biboy saat masih bayi samapai sekarang tersimpan rapih dialbum ini.
"Bi, Lucu banget waktu bayi gemas. Mbak Sarah rajin banget kumpulin foto-fotonya", kata Luna yang masih membuka tiap lembar album foto tersebut dengan saksama.
"Ini yang buat dan kumpulin foto bukan Mbak, tapi Reza", jawab Sarah sambil mengarah pandangan pada Reza yang sedang duduk memangku Biboy dan menonton acara bola dengan Abdul.
Luna tersenyum dan memandang kagum pada Reza, tanpa disadari mereka beradu pandang dan membuat keduanya memalingkan pandangnya kesembarang arah. Pipi merekapun berubah menjadi merah seperti tomat dan merasa salah tingkah.
"Luna, kemari", teriak Abel berada ditangga agar Luna menghampirinya.
Luna menutup kembali album ditangannya dan memberikanya pada Mbak Sarah disampingnya, "Luna permisi dulu mau ke Abel", ucap Luna mereka yang berada diruang tamu.
Keduanya pun berjalan kelantai dua memasuki kamar tidur Abel.
Semetara diruang tamu hanya ada Abdul, Sarah dan Bi yang sudah tertidur dipangkuan Reza dengan lelap. keheningan diruangan terpecahkan saat suara deham Sarah terdengar oleh kedua pria yang sembari tadi seru menonton televisi.
"Ehm, kalian berdua sudah nonton bola lupa sama yang disekitarnya", kesal Sarah merasa sendiri. Keduanya pun menoleh kearah suara dan mengerutkan alis mereka.
"Kenapa sih mah?" tanya suaminya, dan sementara Reza kembali fokus pada acara bolanya. Sarah tidak merespon pertanyaan suaminya malah memandang kesal kearah Reza.
"REZA!!!", teriak Sarah tidak terlalu kencang.
Reza menoleh merasa aneh dengan kakak iparnya,"Berisik Mbak, nanti Biboy bangun, ada apa?". Serunya sambil mengusap rambut anaknya yang terlihat berkeringat. Abdul hanya menggelengkan kepala, merasa tingkah istrinya sedikit berlebihan terhadap adiknya.
"Bagaimana, perkembangan hubungan kamu sama Luna?", tanya Sarah tak sabar. Saat mendengarkan ucapan perempuan sampingnya.
"Aku nggak ngerti apa maksud Mbak?", keluhnya merasa diintrograsi oleh Sarah.
"Reza, memangnya Mbak nggak tahu kamu minta nomor ponselnya ke Abel?", ujar Sarah membuat Reza terdiam sesaat.
Dasar Abel Le'mes.
Padahal dirinya sudah menyuruh adiknya untuk tidak mengatakan apa-apa pada Mbak Sarah yang notabennya sangat kepo dan ikut campur perihal tentang dirinya.
"Oh itu. Aku cuma mau ucapin terima kasih", ucapnya.
"Cuma itu saja?", sahutnya cepat
"Iya", Reza kesal.
Sarah tidak habis pikir dengan adik iparnya, dia merasa Reza sangat menyukai Luna terlihat dari tatapan wajahnya saat memandang pada perempuan itu seperti tatapan seorang pria yang sedang jatuh cinta. Karena Sarah sangat mengenal pria yang minim ekspresi dan bicara ini. Sejak Reza memutuskan untuk mengambil alih SJC dia sudah mengorbankan cinta sejati dengan meningggalkan Lisa seperti seorang bajingan padahal dia tahu kekasihnya itu sedang mengandung.
Masih dengan sikap tidak pedulinya, Reza mengalihkan pembicaraan dengan fokus menonton bola. Sarah tidak pernah berhenti mengoceh menasehati dirinya. Dan tiba-tiba ocehan Sarah terhenti saat Luna berjalan kearah mereka ingin berpamitan.
"Semuanya, Luna mau pulang", ucapnya berpamitan.
"Kenapa tidak menginap saja, Lun?". Kata Pak Abdul bersuara.
"Nggak, terima kasih. Luna besok pagi kerja".
"Reza, kamu anterin Luna?", suruh Sarah sambil mengambil Biboy yang tertidur dipangkuan Reza.
"Nggak usah Luna bisa pulang sendiri", tolak Luna.
"Ini udah malam, biar Reza yang anterin", sahut Abdul. Melihat tingkah adiknya yang hanya berdiam diri membuat greget Abdul, berkata "Cepat!!". Sambil menatap tajam adiknya.
"Iya", singkatnya.
Luna pun berpamitan dan mencium punggung tangan kedua suami istri ini, dan melihat Biboy yang sedang tidur Luna mengelus lembut pipi tembem bocah itu. Dan keluar berbarengan dengan Reza yang akan mengantarnya.
Sambil menunggu pintu lift terbuka, Luna membuka suara terlebih dahulu agar tidak terlalu canggung.
"Mas kembali aja kedalam. Luna bisa pulang sendiri".
"Kamu nggak dengar tadi Mas Abdul sama Mbak Sarah suruh anterin kamu".
"Karena itu. Aku nggak mau ngerepotin Mas, dan kalau memang terpaksa".
"Mas nggak melakukannya terpaksa, dan juga ingin memastikan kamu sampai apartemen dengan selamat, karena tidak mau terjadi apa-apa sama kamu". Tekannya.
Deg!
Jantung Lunapun berdekat kencang, dan wajahnya berubah menjadi merona merah mendengar ucapan pria yang berdiri disampingnya.
Sementara itu Reza menyembunyikan, rasa gugupnya dengan mengalihkan pandanganya kedepan pintu lift dan menekan tombol agar cepat terbuka.
'Ting'
Pintu lift terbuka, dan keduanya pun masuk dalam keheningan dan kegugupan mereka dengan memainkan ponsel mereka masing-masing.
Bagi mereka berada dalam lift terasa lama dan menyesak seperti berada didalam ruang yang gelap. Tak lama pintu lift pun terbuka. Luna pun bernapas lega dan keluar dari dalam lift. Sebelum pintu tertutup Luna berseru, "Terima kasih". Sambil melambaikan tangan kanannya. Reza pun membalas lambaiannya dan tersenyum manis.
Setelah memasuki apartemen, ponsel Luna berdering dan terkejut melihat nama dilayar ponselnya.
Ayah
Luna masih belum mengangkatnya, dan memberanikan diri untuk menjawab telpon tersebut.
Ayah
Halo
Luna
Halo
Ayah
Akhirnya, kamu angkat telpon Ayah. Kamu baik-baik saja kan?
Luna
Ayah! Ayah! Ayah I miss you
Suara tangis Lunapun pecah dia merindukan sosok orangtua yang sudah lama tidak bertemu.
Ayah
Listen, I miss you too kamu jangan nangis. Kamu baik-baik kan?
Ayah Luna ikut menangis.
Luna
Baik. Ayah kapan ke Indonesia? Luna disini sendiri.
Ayah
Maafkan Ayah, tidak bisa jagain kamu. Dua minggu lagi Ayah ke Indonesia.
Luna
Promise
Ayah
Yes I promise
Malam itu pun Luna mengobrol dengan Ayahnya ditelpon hingga larut, karena perbedaan jam mereka berbeda. Setelah Ibunya meninggal karena sakit, dan Ayahnya menikah lagi dengan seorang mantan model dan tinggal dimunich, Germany. Dengan keluarga baru Ayahnya tidak pernah lupa dengan Luna, setiap bulan dikirimkan uang dan hadiah, yang sebenarnya tidak dia butuhkan. Keinginannya adalah Ayahnya bisa berada disisinya.
♥♥♥