Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
82. EXTRA PART SPECIAL (5)



Hi guys maaf baru update lagi


Semoga kalian masih setia sama daku 😭


Selamat membaca 


Jangan lupa vote dan jempolnya (👍)


•••


Luna berjalan menelusuri setiap kelas, ia berniat untuk mencari Betty si gagap. Ia dan Betty sudah mulai dekat kata lain berteman karena kedekatan mereka yang tidak disengaja. Ia berniat untuk meminjam novel langka dari penulis Indonesia. Meskipun bukan pembaca aktif, Luna masih suka dengan bacaan novel fantasi dan horor. Beda dengan sahabatnya Rara yang suka dengan novel cinta, romansa, cassanova dan sebagainya. Setidaknya otaknya selalu diberi wawasan umum dan non umum. Bicara soal Betty ia tidak melihat batang hidungnya sama sekali. Tahu lah dia anaknya penyendiri tidak mudah bergaul. Hanya ia yang bisa menembus dinding perteman dengan Betty. Ia mencari ke perpustakaan, gedung olahraga, gedung pentas sama sekali tidak ada gadis gagap itu. Luna berjalan dari lorong kelas menuju kantin. Tenggorokannya terasa amat kering. Murid-murid banyak berkumpul di kantin, istirahat.


Luna tengak-tengok ke segala penjuru kantin untuk mencari tempat yang bisa di duduki. Namun tidak lama ada seseorang memanggil dengan suara keras. 


"Luna...woi sini." teriak seorang gadis berseragam, Luna menggeleng akan tingkah yang ternyata sahabatnya Abel dan Rara sedang duduk. Luna menghampiri keduanya duduk berhadapan.


"Manggil apa mau ngajak ribut sih. Segala pake toak." protes Luna, padahal jarak antara mereka hanya lima meter saja. Ia mengambil minuman soda milik Abel tanpa permisi dan sudah biasa pula kalau melakukan hal begitu. Milik sahabat miliknya juga perihal makanan dan minuman.


"Gak nyadar kuping disumpal handsfree." seru Rara sambil menarik lepas handsfree yang Luna pakai. 


"Sorry gak sadar." ngeles Luna. Ia menyadari sembari tadi handsfree terpasang di kupingnya.


"Kebiasaan, pasti yang di dengerin lagunya Peterpan." seru Abel angkat suara. 


"Kayak situ gak suka aja, demenkan sama Ariel?"


"Demenlah, cowok ganteng."


"Bentar lagi lulus mau pada kemana kalian?" tanya Abel ingin tahu. 


"Aku mau lanjut kuliahlah." jawab Luna setelahnya meneguk air sodanya habis. 


"Sama aku juga." tambah Rara, ikut-ikutan.


"Terus kamu mau kemana? kawin?" Luna balik tanya pada Abel. 


"Gaklah gila, aku mau lanjut kuliah juga...tapi gak di sini, aku lanjut di luar negri." jawab Abel membuat keduanya terdiam memandangnya, selama ini mereka selalu saja bersama-sama. Namanya juga Geng Bajaj kalau bannya tidak ada satu maka Bajaj tidak akan jalan.


"Seriusan?" Luna kembali memastikan ucapan Abel dan di angguki Rara.


Abel menghela nafas panjang. "Beneran girls aku gak bohong apalagi dusta di antara kalian. Aku sudah didaftarkan masuk sama Ayah." jelasnya membuat Luna dan Rara merasa sedih.


"Yahh, gak bisa bareng lagi dong. Memang di negara mana kamu kuliah?"


"Belanda."


" Busyet dah. Jauh amat. Gak sekalian kuliah di belahan kutub utara. Mana bisa kita ketemu kalau jauh begitu. Itu ongkos ke sana mahal banget, pasti." keluh Rara dan jawaban gilanya. Mana ada pergi ke negara orang dengan ongkos murah. Memangnya ongkos dari Jakarta ke daerah Jonggol baru murah meriah. 


"Kan masih bisa kontekan lewat sosmed. Gak usah lebay deh." tukas Abel. 


"Gayalah sosmed. Kamu aja facebook sama twitter gak punya." cerca Luna, mengingatkan perihal kebenaran Abel yang memang tidak memiliki aplikasi sosmed. Ada juga Surel yang notabenenya hanya dimiliki para Dosen kebanyakan. 


"Kan bisa pake Skype."


"Ok! Kita terima. Asal jangan main Surel saja yang biasa digunakan, malu-maluin tau gak." seru Rara yang tidak suka dengan yang Abel lakukan karena ketinggalan jaman. 


"Siap-siap, pulang sekolah anter ke Mall, mau beli kado buat kakakku yang mau balik dari Amerika."


"Okay!" sahut keduanya riang. 


Luna mengangkat tangan ke kanan mengacung ke atas. "Mbok Endah, pesan Baksonya dong, seperti biasa bihun sayur, jangan pake daun seledri, ya." Jelas Luna sedikit teriak padahal Mbok Endah saja sudah tahu pesanan biasanya. 


"Siap, Neng." Balas Mbok Endah dari kejauhan. 


Luna, Abel dan Rara duduk santai dengan murid lainnya yang sedang duduk menikmati makan siangnya. Banyak pandangan mengarah pada Luna. Luna sudah beberapa hari ini menjadi pusat perhatian dan rasa kasihan karena menjadi korban selingkuh. Luna tidak memperdulikan hal itu, iq lebih fokus dengan kelulusan daripada bergalau ria meski rasa sakitnya masih membekas.


Pesanan Luna datang, Mbok Endah meletakkan mangkok Baksonya di meja. Setelah berterima kasih, ia menyantap Baksonya dan sahabatnya sudah lebih dulu memesan dan selesai dengan makanannya. Sambil makan Luna dan sahabatnya saling bercengkerama dan tertawa meski mengganggu yang lainnya namun hal itu tidak diperdulikannya. 


"Abel, memang kamu punya kakak berapa?" tanya Luna penasaran akan kehidupan keluarga Abel yang tidak pernah diketahui asal muasalnya, maksudnya tidak pernah cerita tentang keluarganya. Selama ini adem ayem saja.


"Aku punya dua kakak laki-laki." cerita Abel dan keduanya manggut-manggut. "Ganteng gak?" sahut Rara. 


"Sorry ya, kakak-kakakku sudah ada yang punya alias sudah laku." tukas Abel. 


Rara cemberut. "Punya kakak itu kasih taulah jangan diem-diem bae, mungkin jodoh sama kita berdua."


"Kan udah dibilang sudah laku." tegasnya. 


"Telat kasih tahunya." cercanya. 


Abel mendengus. "Ya maaf." 


Abel tertawa. Membuat keduanya mengerut alisnya. Seakan ucapannya tidak berpengaruh akan ungkapan Luna. 


"Lah, kenapa ketawa, ada yang lucu?" tanya Rara, Luna masih memandangi sahabatnya setelah menyelesaikan Baksonya. 


Di kantin masih cukup ramai dengan gelak tawa antar teman-temanya. Ada juga yang hanya diam dan sibuk dengan ponselnya.


"Kamu ngaco, kalau aku anak mafia, gak akan ada yang mau temenan sama aku termasuk kalian. Aku anak orang tuaku lah anak siapa lagi." tegas Abel dan disetujui oleh Luna dan Rara.


"Kita juga tahulah kamu anak orang tuamu, maksudnya namanya siapa? Kayak aku, anak bapak Gerraldy dan Ibu Larasati, kalau Rara, anak bapak Taher dan Ibu Prita. Lah kamu siapa? Jangan oh jangan kamu dilahirkan secara bertelur atau membelah diri? Habisnya kita gak tahu asal usul kamu. Penuh teka-teki silang." celoteh Luna panjang lebar membuat Abel termangu.


Abel mencubit bibir Luna gemas. "Ngomong asal bae."


"Sakit, Abel." ringis Luna menyentuh bibirnya.


"Memang pengen tahu banget?"


Keduanya mengangguk antusias menatap Abel penuh harapan dimana selama mereka bersahabat hanya Abel lah yang tertutup akan keluarganya. Abel sudah kenal dengan keluarga Luna atau Rara namun tidak sebaliknya. Keduanya selama ini tidak menuntut untuk membicarakan soal keluarga Abel yang mungkin privasi.


"Kalau aku kasih tahu kalian tetap mau jadi sahabat aku kan?"


Keduanya mengangguk.


"Ehm, ini sebenarnya privasiku selama beberapa tahun aku bungkam. Bukannya aku gak percaya sama kalian tapi memang aku mencari sahabat yang tulus bukan sekedar ada maunya."


Keduanya manggut-manggut dengan cerita Abel yang belum pada intinya.


"Sebenarnya aku anak orang kaya."


"Iya tahu." jawab keduanya. Segala dibahas anak orang kaya, semuanya juga tahu kalau Abel anak kalangan berduit. Ke sekolah saja bawa mobil. Uang saku plus kartu kredit. Setiap main tas dan pakaian berbranded semua. Hanya saja otaknya yang miskin, ini tidak bisa, itu tidak bisa.


Abel sebenarnya ingin bermain-main dengan sahabatnya dengan omongannya yang berbelit-belit.


"Kalian ingin tahu kan nama orang tuaku?"


Ini sesi pertanyaan atau cerita, sih? Batin Luna.


Luna dan Rara saling tukar pandang kemudian kembali mengangguk mengiyakan agar cepat mendengar cerita Abel. 


"Nama bapakku adalah Ga…"


Belum sempat bicara suara sirine kebakaran terdengar, semua murid berhamburan. Luna, Rara dan Abel kebingungan masih di tempat melihat murid-murid penuh kecemasan. Ada yang berdoa, ada yang menangis, dan ada juga yang diam tenang seakan tidak terjadi apa-apa.


Luna menarik tangan seseorang. "Ada apaan sih?" 


"Ada kebakaran."


"Kebakaran?" Luna dan keduanya terkejut. Mereka yang berada di kantin berlarian keluar. "Dimana?"


"Gak tahu."


Mereka bertiga saling bergandengan tangan ikut berlari menjauhi gedung sekolah. Namun saat murid-murid sudah berada di depan gerbang, satpam sekolah menahan mereka semua tidak boleh keluar.


"Pak kenapa di gembok, gak dengar ada sirine kebakaran. Bapak mau kita hangus kebakar kayak sate kambing?" seru seorang murid laki-laki berkacamata dengan emosi tingkat kyubi dan didukung murid-murid lainnya, Luna dan sahabatnya hanya diam menyaksikan debat Murid vs Satpam yang masih belum ada ujungnya. 


Satpam itu mengerut kening. "Sabar dulu dong. Memang ada tanda sirine kebakaran tapi tidak ada yang terbakar di sekolahan. Ini hanya uji coba saja." cetus Satpam yang bernama, Chandra dengan tubuh besar, mata sipit, muka merah bersedekap memandang beberapa murid lainnya. 


"Lah, uji coba tapi gak ada pemberitahuan sih, bikin kita sport jantung tau gak? Bakso saya saja belum habis di makan. Bayar juga belum." cerocos Luna tiba-tiba dan di angguki murid-murid lainnya.


"Memangnya kalian tidak mendengar pengumuman?"


"Gak!" semua serentak, hitung saja ada sekitar tiga puluh murid sekarang.


"Mungkin speaker bagian kantin rusak makanya tidak terdengar." satpam itu mencoba menenangkan.


Pantas Luna merasa heran kenapa yang berhamburan keluar hanya murid yang berada di sekitar kanti saja. Sedangkan mereka yang lain masih berada tenang di lantai atas. Luna mendongak ke atas melihat mereka menatap ke bawah seakan menertawakan dan mengejek, pandangan Luna tertuju pada Aldo sedang melihatnya di jendela kaca dan pandangan keduanya bertemu kemudian seorang wanita menghampiri Aldo mengaitkan tangannya mesra. Alisah menatap sinis. Luna mengalihkan pandangan kembali pada Satpam yang menjelaskan.


"Sudah sana bubar jalan. Jangan sampai kalian di tegur guru kalian."


"Huuuuuuuuuuu…. " sorak mereka lalu bubar barisan.


Banyak lontaran kata yang mereka ucapkan termasuk Luna yang mendengus kesal akan acara makannya yang terganggu.


"Jadi kita mau kemana nih, lanjutkan ke kantin?" tanya Abel. "Iyalah bayar makan ke Mbok Endah nanti disangka kabur." mereka pun kembali ke kantin, melupakan obrolan mereka sebelumnya hingga jam pelajaran mulai.


•••


Terima kasih


Aku cinta kalian 😘