
♥♥♥
"Tumben sekali kamu datang ke kantor,Abel? mau ketemu kakak atau Soni?" kata Reza blak-blakkan pada Abel adiknya. Yang memang mengetahui akan perasaannya pada Soni sahabat karibnya itu dari dulu. Adiknya belum mengutarakan hatinya pada pria tersebut.
Sedangkan Reza sengaja menggoda Abel. Karena dia tak tahu kalau Soni berada di belakangnya. Dia baru keluar dari ruangan khusus Reza mengambil berkas yang Reza minta.
Abel merona malu. "Tentu saja sama kakak yang paling baik hati. Kenapa harus ketemu Bang Soni. Emang siapanya Abel."
Soni menimpal ucapan Abel. "Jadi Bang Soni bukan siapa-siapanya Abel?!" Sontak membuat Abel menoleh ke arah suara.
"Bang Soni…" Abel kaget dan merasa malu. Dan heran dengan ucapan Soni yang membuat Abel canggung.
"Kenapa? Kok nggak dijawab?" kata Soni terlihat serius dengan perkataannya.
Abel masih terkejut. Dan masih belum menjawab. Bertanya pada dirinya. Tentang ucapan Soni. Lalu kembali membalikan posisi badannya.
Reza sembari tadi hanya mendengarkan dua sejoli ini bagai kambing conge. Melihat raut wajah Abel yang masih berpikir. Dan Soni yang menunggu akan jawaban adiknya.
Merasa kesal. Karena keduanya masih belum bisa membuka suara. Hening di antara mereka. Lalu Reza membuka suaranya.
"Kok pada diam saja? Abel jadi kamu kesini ada perlu apa." tanya Reza mengulang ucapan tadi dan menoleh ke arah Soni. "Soni kamu duduk nggak cape berdiri melulu."
Soni mengikuti perintah Reza dan duduk di kursi sebelah Abel.
Abel menelan salivanya. "Abel mau ngomongin soal Alisha?" Balasnya gugup karena Soni berada tepat di sampingnya.
Reza menyipitkan matanya. "Tentang Alisha?"
"Hmm…Alisha, kakak nggak akan terima program dia kan?"
"Abel. Ini urusan kakak. Jadi kamu nggak usah ikut campur."
"Tapi Abel nggak tenang selama itu nenek sihir ada disekitar kita."
"Kakak paham kamu cemas. Luna juga sudah tau dia menyerahkan semuanya pada kakak."
"Luna sudah tahu?"
Reza mengangguk. Ia menceritakan semuanya pada Abel dan Soni. Dan mengeluarkan ponsel di dalam jasnya dan memutarkan rekaman audio percakapan Alisha. Yang Aldo rekam langsung mengirimnya pada Reza.
Abel begitu marah. Mendengarkan ucapan yang Alisha lontarkan tentang ingin menghancurkan rumah tangga Luna dan Reza. Banyak umpatan yang dikeluarkan saat Abel mendengarkan audio itu diputar.
"Alisha memang sialan. Lalu tidakkan kakak apa sekarang? Mau tetap terima atau tolak?" tanya Abel geram. Tak sabar. Karena wanita itu sangat percaya diri saat mengatakan itu semua.
"Kamu percaya sama kakak. Jadi nggak nggak usah khawatir."
Reza menenangkan Abel. Dan memandang ke arah Soni yang masih belum membuka suaranya sejak tadi. Ia tahu pasti ini berhubungan dengan Abel.
"Soni. Kamu sudah cari informasi yang aku minta kemarin?" tanya Reza.
Soni mengangguk. "Sudah Pak. Kalau begitu saya ambil dulu. Saya permisi." Soni berdiri dan pamit.
Sedangkan Abel memandang kepergian Soni tak lepas dari matanya. Huh! Merasa sedikit lega dan tenang karena sejak tadi dadanya terus berdebar tak karuan.
Tak butuh lama Soni sudah kembali kedalam dan memberikan sebuah map cokelat tentang inform yang Reza perintahkan. Sesaat pandangan Abel dan Soni bertemu. Dan membuat kecanggungan yang tak biasa. Reza melirik ke arah keduanya.
"Soni. Abel. Kayaknya kalian harus bicarakan hal yang kalian tunda tadi. Saya izinkan kamu sama Abel mengobrol dulu kemana saja. Kesal melihat kalian dari tadi." Ucap Reza memberikan ruang untuk mereka bisa mengutarakan perasaan dua orang di hadapannya.
"Baik Pak."
"Tapi sebelum itu kamu hubungin dulu Pak Fredi segera keruangan saja. Saya memberikan waktu sampai jam makan siang jadi kalian manfaatkan waktu dengan baik. Saya juga ingin ada kabar baik dari kalian. Jangan diam saja."
Keduanya keluar dengan canggung, sebelum itu Soni menghubungi Pak Fredi. Lalu baru mereka menuju restoran untuk melakukan pembicaraan yang sempat tertunda.
•••
Direstoran tak jauh dari kantor tempat Soni kerja. Mereka memutuskan untuk membicarakan semua di restoran milik Aldo dengan tempat private ada di lantai dua. Semua hidangan sudah tersusun rapi diatas meja sesuai dengan pesanan mereka.
Keduanya sangat kaku sehingga masih belum bisa mengeluarkan satu ucapan dari mulut keduanya, dan lebih dulu menikmati hidangan.
Lalu membicara tentang hidangan mereka dan seterusnya kembali bungkam. Cape memang tapi bagaimana lagi. Tidak ada sama sekali di antara keduanya melanjutkan kembali topik itu. Apakah keduanya gengsi?!
Soni berdehem. "Apa kita akan diam saja? Itu, maksudku…."
"Aku suka sama Bang Soni." kata Abel begitu tegas tanpa ragu. Ia berpikir tak masalah wanita dulu yang menyatakan cinta duluan.
Soni terdiam. Sial. Merasa kecolongan. Harusnya dia dulu yang mengungkapkan perasaannya dan itu hal yang memalukan. Abel memang percaya diri. Sedangkan dirinya malah cemen seperti ini. Benar-benar bodoh.
"Bang Soni kamu kok diam saja?"
Abel merasa pesimis. Karena sejak tadi Soni tidak merespon pernyataan cintanya. Abel beranggapan kalau Soni tak menyukainya dan kata-kata yang dilontarkan di kantor tadi semua itu cuma candaan? Soni menganggap ini sebuah lelucon? Kalau benar kenapa dia mengajaknya berbicara? Apa paksaan kakaknya? Semua pikirannya terus berputar-putar di otaknya.
"Maaf… "
Deg! Hati Abel terasa nyeri mendengarkan kata maaf dari mulut Soni. Apa dia ditolak? Banyak kata dalam hatinya terus diucapkan. Abel hampir berkaca-kaca namun dia mengambil gelas dan meminumnya hingga tandas.
Soni menelan salivanya kasar. "Maaf tapi aku tidak menyukaimu."
"Apa? "
Soni mengambil tangan Abel dan dipegangnya erat di depannya. Keduanya saling pandang. Abel sempat menolak namun dia pasrah.
Abel marah itu pasti karena dia menggantungkan perkataannya karena memang sengaja dilakukan dan ingin melihat respon wanita dihadapannya.
Ini karena saran Reza. Dan Soni menyesal harus mengikuti saran sahabatnya.
"Aku tidak menyukaimu. Tapi...Aku mencintaimu Abel. Kamu tahu rasa suka itu hanya mengagumi tapi kalau cinta itu rasa ingin memiliki seutuhnya dan maafkan aku baru bisa menyatakan perasaan ini semua."
Abel dibuat terkejut.
Rasanya ingin meledak dan seakan jantungnya ini akan pecah saking kencangnya berdetak. Seperti lantunan drum.
"Bang Soni…" Air mata Abel tak terbendung. Rasa senang menyelimuti dirinya. Ternyata Soni juga menyukainya. Padahal dia suka pesimis.
"Kenapa nangis?" Soni mengusap air mata Abel terlihat berbeda. "Kamu tahu, kalau orang nangis pasti kelihatan jelek. Tapi kamu terlihat cantik dan aku suka.."
Abel tersenyum mendengarkan gombalan Soni yang menurutnya sangat kaku. Tapi dia suka akan kata-katanya. "Nggak usah gombal nggak cocok sama Bang Soni."
"Masa sih? Padahal aku belajar dari Reza. Sial. Tau gitu nggak usah bilang saja."
"Pantes gombalannya murahan, ternyata dari Kak Reza?!"
Soni mengangguk. Mereka tersenyum. Perasaan keduanya terbalaskan. Memang lebih baik kita mengungkapkan semua isi hati kita pada orang yang kita cintai sebelum terlambat.
"Jadi kita pacaran?"
"Tentu saja."
•••
Disisi lain. Reza sedang duduk di kursi dan melihat semua lembaran kertas coklat yang diberi oleh Soni tadi. Dan mengecek kembali semuanya. Reza mengerutkan alis satunya ke atas seakan ada yang membuat dirinya tak percaya.
Tiba-tiba saja hidungnya terasa gatal. Lalu bersin begitu saja. Sehingga dia menyentuh hidungnya dan merasa aneh padahal dirinya tidak flu atau demam.
Sepertinya ada yang membicarakanku. Serunya.
Tak lama suara pintu terdengar dan masih posisi duduk Reza hanya bergumam 'Masuk' pada orang yang hendak masuk ruangannya.
Seorang pria berjas abu-abu berbadan gemuk tapi juga pendek menghampirinya.
"Bapak memanggil saya?" Fredi masih berdiri di depan meja.
Reza menoleh. "Silahkan duduk."
Setelah Reza mempersilahkan Fredi duduk dan masih belum bersuara. Dan sibuk dengan layar komputernya. Sementara Reza Fredi menunggu atasannya itu bicara. Karena dia tahu atasannya tidak ingin diganggu bila sudah sibuk seperti ini.
Reza meletakkan berkas dihadapannya. Dan fokus menatap pria dihadapannya. Dengan tatapan tak bersahabat.
"Apa kabar Pak Fredi. Bagaimana liburan anda seminggu lalu menyenangkan?" Reza menopang kedua tangannya diatas meja.
Fredi menelan salivanya. "Kabar saya baik. Saya bukan liburan tapi saya menjenguk anak saya di paris." katanya gugup tidak karuan dan seakan pertanyaan berikutnya akan membuat dirinya bertambah gugup atau mungkin jantungan.
"Anak? Bukankah anda hanya mempunyai anak satu yaitu Alisha?" ucap Reza terus memberikan pertanyaan dari perkataan Fredi terlihat tidak begitu suka.
"Ah! Anak angkat saya." ucapnya sedikit tenang meski hatinya benar-benar dibuat gugup oleh atasannya.
Reza hanya menjawab "Oh"
Reza sudah hampir dua tahun ini memperhatikan gerak-gerik pria dihadapannya. Bukan masalah tentang Alisha. Tapi tentang pekerjaanya selama ini. Mencurigai keterlibatan Fredi dengan para pejabat kantor lain untuk tentang tender pembangunan apartemen yang telah terhenti pembangunannya beberapa bulan ini dan masalah ini ditutupi oleh Fredi dkk.
Dan Reza masih belum bisa membongkar semua keterlibatannya karena masih sedikit bukti.
"Saya memanggilmu ada yang mau disampaikan. Pengajuan program magang Alisha saya tolak."
"Tapi kenapa bapak menolaknya. Alisha punya potensi yang baik. Dia bisa membantu pekerjaan Soni menjadi asisten bapak."
Reza tersenyum sinis. Ternyata ayah dan anak ini tidak tahu malu. Asisten dia pikir segampang itu untuk menjadi seorang asisten Reza. Tapi dia tak pernah berpikir memiliki asisten perempuan dan tak pernah berpikir untuk memiliki asisten, Soni saja sudah cukup.
"Kenapa anda ingin sekali Alisha kerja Disini?"
Pertanyaan Reza seakan membuat Fredi kalut dan mati rasa. Mulutnya terasa kaku.
"Itu...karena Alisha membutuhkan program ini. Makanya saya minta pada bapak untuk menerima Alisha anak saya."
"Tapi saya menolaknya." tegas Reza tak ingin banyak berpikir lagi.
"Tapi―"
Sebelum Reza membuka suara. Ia mengeluarkan ponselnya. Dan meletakkannya di atas meja. Masih belum diputar. Sengaja agar pria itu penasaran akan apa yang akan terjadi. Saat mendengarkan semua ini?!
"Kau mau mendengarnya?" Reza menawarkan dengan hati-hati.
"Apa ini." Fredi penasaran dan melihat kalau itu adalah rekaman suara. Tapi apa hubungan dengan ini semua.
Reza hanya menatap Fredi dan tersenyum miring.
♥♥♥