
♥♥♥
"Sumpah yah. Aku nggak percaya sama apa yang aku denger sekarang―Alisha yang sudah menabrak kaka Anggi." Kata Abel bersikeras dan memandang wajah Luna yang resah. Yang sejak tadi dia masih diam tak menggagapi obrolan Abel, Rara dan Aldo.
Rara merespon. "Sama aku juga. Indonesia katanya luas tapi nyatanya sempit. Dari triliyun manusia di negara ini kenapa harus berurusan sama Alisha sih."
"Betul tuh. Dasar nenek lampir saraf." Cetus Abel.
Mereka asyik mengobrol. Tapi tidak dengan Luna.
Abel, Rara dan Aldo saling bertukar pandang melihat Luna malah melamun. Rara mencoba mengelus bahu sahabatnya lembut. "Luna. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Rara cemas.
Luna tersadar. "Aah―aku baik―" sekilas memberikan padangan pada mereka bahwa dirinya baik-baik saja saat ini.
Sementara Abel mengambil secangkir teh pada Luna agar meminumnya. "Ayo di minum―biar kamu lebih fresh. Jangan berpikir terlalu keras. Kamu lagi hamil. Kasian si kembar."
"Uhm, thanks" Luna mengelus perutnya. Menebarkan senyum. Agar mereka tidak khawatir.
"Kamu kenapa? kita perhatikan kamu melamun dan diam. Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Aldo khawatir.
"Aku―aku baik kok. Nggak ada yang dipikirkan hanya saja, aku masih syok soal kemarin ketemu sama dia."
"Alisha? Apa dia bilang sesuatu? Kamu bisa cerita kok sama kita. Jangan di pendam sendiri. Bagi-bagi dong. Kata buku yang aku baca, Memendam masalah atau sesuatu dalam pikiran atau batin kita bisa menimbul kan penyakit dalam. Kayak―" Kata Rara belum selesai malah di potong.
"Nggak usah di perjelas juga kali. Kelamaan." Timpal Abel protes.
Rara cemberut. "Cih. Nggak senang lihat sahabatnya pinter dikit. Mumpung otak aku lagi lancar." belanya.
"Anak SD juga tahu kali begituan mah. Nggak usah baca dibuku. Guru ngaji aja sering tuh ngasih tau."
Aldo dan Luna tertawa. "Rara mah nggak pernah tuh yang namanya ngaji. Dari kecil mainnya barbie sama model-modelan." tanggap Luna becanda.
"Jiah―kalau ngomong Luna suka bener."
Mereka tertawa. Hingga melupakan pertanyaan yang membuat Luna melamun.
Suasana semakin hangat dan ceria saat itu datang Reza menghampiri mereka dengan celana training panjang dan kaos hitam, terlihat santai beda dengan keseharian biasanya memakai setelan jas.
"Asyik banget." Reza mengibas tangannya agar Abel pindah tempat, karena Reza ingin duduk di sebelah istrinya. Mencium pipi Luna sekilas.
Abel menurut. Pindah tempat dengan Rara sebelah dengan Aldo.
"Kamu sudah makan sayang?" tanya Reza pada Luna mengelus rambut hitam lembut dan panjang. Cantik. Kehamilan Luna memang memancarkan aura yang berbeda.
"Belum. Aku pengen pizza."
"Nggak boleh. Harus makan yang sehat. Kalau sudah makan baru kamu boleh makan pizza."
"Ya sudah aku nggak mau makan."
"Kamu ingatkan kata dokter. Harus jaga pola makan."
"Lagian makan pizza juga nggak tiap hari."
"sama saja, pokoknya nggak boleh."
"Protektif banget sih."
"Demi kamu dan anak kita."
Luna memalingkan wajahnya. Marah. Reza menolak keinginannya. Dia tahu kalau Reza tidak mau Luna sebarangan makan. Tapi kenyataan dia ingin sekali makanan itu.
"Kak Reza pelit banget. Istrinya pengen makan pizza juga. Nggak boleh menolak keinginan orang hamil, nanti si kembar bisa ngiler loh. Sekalian belikan buat kita-kita juga pengen tuh pizza kayak ibu hamil, kita juga ikut ngidam nih." seru Abel membela dan malah melakukan kesempatan yang ada.
Reza melempar bantal cinta dan mengarahkan pada Abel. "Itu maunya kamu. Kamu orderin. Bayarin dulu nanti sama kakak ganti uangnya." Kata Reza setuju dan menyerah. Mengikuti apa mau istrinya.
"Siap bosku."
Abel mengorder pizza dengan aplikasi di ponselnya.
Reza menyentuh bahu Luna di mana posisinya badan membelakangi Reza. "Sayang, sudah jangan ngambek lagi." bujuknya. Tapi Luna menggerakkan bahu pelan agar tangan Reza tidak menyentuhnya.
"Sudah sana minggir. Aku nggak mau ngomong sama kamu." masih keukeuh Luna tak membalikkan tubuh nya karena masih marah.
"Sorry atuh. Maaf aku kan udah minta Abel orderin pizza." terus membujuk Luna, karena istrinya ini selalu saja bilang tidak ingin ngomong dengannya tapi tetap meladani ucapannya.
"Telat. Aku sudah nggak mau."
Abel kebingungan. "Aku sudah orderin. Bentar lagi nyampe. Aku order triple box loh." goda Abel, dia tahu selain bakso, Luna juga senang dengan pizza.
Luna menelan salivanya saat mendengar kata Abel dan membuatnya ngiler. Dia membenarkan posisi duduknya menghadap Abel, Rara dan Aldo disebrang tanpa menoleh pada Reza yang sejak tadi menatap Luna.
"Ya sudah, Sayang juga kalau nggak di makan." Luna **** senyumnya. Menoleh sekilas pada Reza dan membuang muka. Sebenarnya hanya bercanda kalau dia bilang tidak mau. Karena Reza menolak apa yang di inginkan. Dengan cara pura-pura cemberut dan akhirnya Reza langsung mengabulkan apa yang di inginkan.
"Nah gitu. Jadi nggak marah lagi dong sama aku."
"Aku mau makan. Ya, karena aku lapar dan sayang juga kalau makanannya nggak di makan. Mubazir. Bukan berarti aku maafin kamu, ya."
"Kok begitu."
"Suka-suka dong."
"Not fair."
"I don't care."
"Okay."
Reza berdiri meninggalkan Luna berjalan ke lantai dua. Ke kamar. Dan yang lain di ruang tamu. Luna menyesal karena sudah membuat Reza marah.
Luna mengacak-acak rambutnya. Dan ketiga orang di hadapannya masih setia menunggu Luna bicara karena tidak mau ikut campur.
"Kayaknya aku salah, ya? Padahalkan cuma bercanda mau kasih pelajaran dia aja." Sesal Luna. Menangkup wajahnya gusar dengan kedua tangan.
"Sudah sana samperin. Jangan sampai nanti marah besar." balas Rara.
"Betul tuh." Abel setuju.
"Dosa loh durhaka sama suami." kata Aldo memberi nasehat. Dan membuat Luna semakin bersalah pada Reza.
"Aku ke atas deh."
Luna meninggalkan ketiganya. Menyusul suami ke kamar. Sebelum naik tangga. Luna pun membalikan badan dan sedikit berteriak.
Dia berjalan dengan tangan sedikit *** gaun. Mulutnya berkomat-kamit agar Reza tidak marah dengan Luna. Dada terus bergetar. Ini pertama kali dia marah di depan sahabatnya.
Sampai di depan kamar dia masih belum juga masuk rasanya seperti memasuki ruang harimau yang siap menerkam. Ia tahu Reza nggak akan marah besar karena hal begini. Hanya saja Luna sangat bersalah apalagi Reza begitu protektif demi Luna dan buah hatinya dalam kandungan.
Aku masuk nggak ya. Batinnya.
Memberanikan diri mengetuk pintu lalu ia menekan knob perlahan melihat keadaan kamar sepi, tapi ia melihat Reza berbaring di kasur. Dengan posisinya tengkurap. Hingga dia tidak bisa melihat wajahnya.
Luna berjalan mengendap-endap menghampiri Reza yang tengkurap dan memanggil.
"Mas. Mas Reza."
"Mas."
Dia memanggil terus nama itu, namun tidak juga dia menengok ataupun merespon panggilannya. Tidak mungkin juga kalau Reza sudah tidur cepat. Karena setahunya jarak dia saat meninggalkan tempatnya, Luna tidak lama menyusul.
Dia menyentuh punggung Reza, mengelusnya pelan agar bangun dan menoleh. Tapi masih tetap dengan sikap awal.
Luna duduk di sisi kasur dekat nakas. Memandang ke arah jendela besar yang terlihat pohon-pohon di sekitar rumah. Masih *** jari-jari jemarinya.
"Aku tahu kamu marah. Maafkan aku. Harusnya aku menuruti apa kata kamu. Aku nggak akan makan itu pizza."
"Kamu jangan marah lagi."
"Aku nggak akan lakukan hal yang dapat membuat kamu marah."
"Kamu sudah tidur?"
"Ya, sudah aku kembali. Aku nggak akan ganggu tidur kamu."
Kata-kata terus dia ucapkan tanpa balasan dari Reza yang mungkin sudah tidur. Luna menyentuh rambut Reza dan mengelusnya lembut.
Dia berdiri. Namun tangannya tiba-tiba saja ditarik, siapa lagi kalau bukan Reza. Luna terkejut. Badannya otomatis duduk kembali di sisi kasur.
"Mas Reza bangun?Apa aku ganggu, ya?" tanya Luna polos. Menatap pria itu masih saja belum membalas pertanyaannya.
Reza bangun. Berdecak. Duduk sila di kasur. Seakan dia baru bangun tidur sedikit mengucek mata sesaat. Meregangkan ototnya.
"Maaf." Dia terus meminta maaf. Mata berkaca-kaca namun dia berjanji tidak akan menangis, manja dan cengeng.
"For what?" goda Reza. Ia sangat senang. Melihat Luna merasa bersalah karena menurutnya sangat menggemaskan.
"Soal tadi."
"Tadi, apa?"
"Soal aku mau pizza!"
"Pizza?"
Luna memukul pelan dada Reza pelan dengan kedua tangan. Merasa kalau dia menggodanya sengaja. Reza tidak marah. Dia tidak akan pernah marah ataupun merasa tersinggung dengan ucapan atau kata yang dilontarkan Luna. Dia sangat mengerti istrinya.
"Jangan pukul dada aku sakit tau!" ronta Reza dan mengambil, menahan kedua tangan Luna agar tidak memukulnya lagi.
"Kamu mau aku pukul balik dada kamu, hah?" Goda Reza lagi dan mengedipkan mata sebelah ke arah Luna.
Luna melepas tangannya dari Reza. Dan memeluk badannya sendiri meletakkan tangannya di dada menutupinya.
"Dasar mesum."
Reza menarik Luna ke dalam pelukan membiarkan dia membaringkannya di atas dada Reza sebagai sandaran kepalanya. Dia mengelus lembut rambut Luna.
"Mas, Aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, tentang apa?"
"Alisha. Apa mas sebelumnya pernah ada hubungan sama dia. Maksud aku―"
"Aku nggak punya hubungan apapun sama dia. Dulu aku pernah bertemu denganya di jembatan."
"Jembatan, maksudnya?"
"Dia pernah mencoba bunuh diri."
Luna terlonjak kaget. Alisha pernah berniat bunuh diri. Ia merasa iba. Dia mengerti sekarang maksud kata Alisha. Dia sangat mencintai Reza karena pria ini sudah menyelamatkan Alisha. Makanya Alisha menganggap Luna sebagai orang ketiga. Meskipun wanita itu tidak ada hubungan apapun dengan Reza.
"Kamu menyelamatkan dia. So, you're super hero to her."
"I think so."
"Jangan pernah menyesali apa yang sudah kamu perbuat untuk orang lain. Apalagi kamu sudah menyelamatkan dia. Karena itu sudah pilihanmu. Coba kamu pikir kamu kalau nggak selamatkan dia. Pasti kita nggak akan bisa menghukum pelaku tabrak lari."
"kemarin itu aku emosi. Jadi ngomong ngasal."
"Iya mengerti. Tapi tetap kamu sudah sakiti dia."
"Aku memang salah." Keluh Reza.
Luna mengangkat kepalanya dari dada bidang Reza. Menatap suaminya. "Jangan marah dong. Aku cuma memberi sedikit pendapat."
"Nggak sayang. Aku nggak marah."
Karena terlalu lama didalam kamar mengobrol. Luna dan Reza kembali ke ruang tamu. Keberadaan ketiga orang itu masih sama. Sambil menikmati Pizza-nya.
Luna menghampiri mereka terlebih dahulu. Sedangkan Reza mengangkat telepon dari seseorang.
"Apa ada sesuatu?"
"....."
"Baiklah kita bertemu di tempat biasa saja."
"....."
"Mereka pasti sudah menyadarinya. Jadi berhati-hati. Aku akan langsung ke sana."
Reza menutup panggilan. Dan menghampiri Luna dan yang lainnya.
♥♥♥