
Selamat membaca
Jangan lupa jempolnya (👍)
Masih flashback ya
Takut pada bingung
Karena udah lama gak update
•••
"LU―NA"
Teriak seorang perempuan berperawakan kecil dan baju kemeja yang dimasukan ke dalam rok rempel. Perempuan itu membenarkan kacamata bacanya yang sedikit kendor ke bawah tulang hidung dan matanya masih fokus pada Luna di depan yang enggan berhenti.
"LU―" baru akan berteriak kembali Luna menengok ke arahnya dengan tatapan tajam kebingungan dan pertanyaan.
"Ada apa, Betty?" tanya Luna saat Betty sembari tadi memanggilnya dengan suara gagapnya.
"Ak―hirnya ka―mu berhen―ti ju-ga." ucapnya masih gagap membuat Luna geram dan kesal.
Luna bersidakep. "Terus kenapa kamu teriak-teriak?"
Betty tersenyum menampilkan gigi kawatnya. Jarinya mengarah ke jarum tiga tepatnya ke tempat parkiran. Luna mengurut keningnya. Tidak tahu maksud Betty yang menunjukkan arah tanpa bicara sesuatu. Luna melihat jam tangan sudah pukul tiga sore. Ia sudah buat janji dengan seseorang di restoran tempat keluarganya makan.
"Yang jelas dong. Aku sibuk." Gerutu Luna tidak sabar.
"Ka―mu disuruh sa―ma Al―do kesana." Betty kembali menunjuk ke arah parkiran. Luna mengerti maksud Betty. Aldo menyuruhnya ke parkiran. Tapi untuk apa? Bukankah hubungan mereka sudah kelar alias putus.
"Dia minta aku ke parkiran?" tanya Luna memastikan.
Betty mengangguk sebelah tangan nya masih dengan rutin membenarkan kacamata minusnya.
"Kalau aku gak mau gimana?"
"Ha―rus ma―u."
"Kok maksa?"
"Dia bi―lang pen―ting."
"Sok banget. Udah mantan juga."
"Mana a―ku ta-hu."
Luna terus bicara agar Betty terus menjawab niatnya ingin menjahili.
"Males ah―" kata Luna dengan wajah memelas agar terlihat natural karena memang pura-pura. Melirik ke parkiran sesaat.
"Jan―gan gitu do-ng." jawab Betty menasehatinya.
"Betty kamu bilangin sama Aldo kalau aku gak mau ngomong sama dia." kata Luna. "Ini sudah sore. Aku ada janji." kata Luna lagi. Betty terlihat ingin bicara namun Luna terus mendahului. "Suruh dia move on. Inget kita udah putus."
"Dan satu lagi bilangin sama dia jangan ganggu aku lagi―" tambahnya.
Sembari tadi Luna terus yang bicara tanpa memberi Betty kesempatan.
"Bett―"
"Setop! Aku sekarang yang bicara. Pokoknya aku udah kasih tahu kamu. Mau kesana atau gak bukan urusanku. Aldo cuma kasih amanat dan aku sampaikan." ucap Betty keras. Suara Betty lancar membuat Luna melonggo. Baru kali ini Luna mendengar Betty bicara lancar. Luna meletakan tangannya di kening Betty memeriksa suhu badan.
"Kamu gak demam." seru Luna masih meletakan tangannya kemudian di singkirkan Betty agak kasar.
"Ak-u mem―ang gak de―mam, sem―barangan." ucapnya agak tersinggung. Suaranya kembali gagap. Luna bukan berniat buruk atau apalah. Hanya saja terkejut akan Betty. Takut-takut ada Jin masuk ke dalam raga Betty.
"Kok gagap lagi? Tadi lancar. "
Betty menghela nafas. Ia menatap Luna seksama. Baru kali ini mereka bisa bicara bertatap muka dan biasanya Betty selalu menghindari diajak bicara siapapun.
"Ta―di emo―si. Maka-nya lan―car."
"Oh. Kalau emosi kamu bisa bicara lancar. Kalau gak emosi kamu gagap?"
"I―ya."
Luna manggut-manggut mengerti. Sekarang Luna tahu akan fakta temannya ini. Ia mendekati Betty tangannya diletakkan di bahu perempuan behel yang sedang menatapnya kebingungan.
"Kalau begitu kamu emosi aja terus biar kamu gak gagap."
"En―ak aja."
"Sorry. Habis capek dengerin kamu gagap begitu. Nanti yang ada aku ketularan gagap."
"Bia―sa a―ja ka―li."
Betty tidak tersinggung dia sudah tahu kalau Luna tidak berniat meledeknya hanya bercanda. Karena memang Luna adalah perempuan baik meski gaya pakaiannya tomboy. Kecantikannya tidak ada yang bisa menggela. Selama beberapa menit mereka pun menyelesaikan obrolannya.
"Kalau begitu aku mau menemui Aldo."
•••
Luna merapikan pakaian yang terlihat kusut karena tadi berlarian saat hendak menemui Aldo. Bohong kalau ia sudah melupakan Aldo. Ia masih sayang dengan pria itu. Galau itu pasti siapa coba yang tidak galau pacarnya selingkuh. Ditambah selingkuh sama mantan. Luna menatap pria tinggi dengan pakaian seragam ditambah jaket jeans menambah kadar kegantengannya. Bilang saja Aldo itu pria yang disegani di sekolah. Bukan hanya tampan dan pintar, dia juga jago masak.
Luna menghampirinya. Tidak ingin bertele-tele. "Ada apa?"
Aldo menatap Luna penuh perhatian. Ia tahu kalau dirinya sudah menyakiti Luna. Ia sangat menyesal.
"Aku harus jelasin sesuatu sama kamu." kata Aldo memegang bahu Luna erat. Mata keduanya saling bertatapan.
"Jelasin apa lagi? semuanya sudah jelas. Mataku itu masih berfungsi melihat kalian di sana. Apa kamu mau reka ulang adegan kalian. Dengan senang hati." desis Luna penuh penekanan. Ia melepaskan tangan Aldo dari bahunya.
"Kamu masih sayang sama aku?" tanya Aldo. Kalau memang masih sayang mungkin Aldo akan mengejar Luna kembali dari nol.
"Sayang? sayang aku ke kamu sudah hilang sejak saat itu. Buyar. Yang ada rasa sakit yang kamu kasih sama aku." jelasnya dan berbohong akan perasaan sayangnya.
"Kamu gak bohong kan?"
"Buat apa aku bohong." Luna mengelak tapi dalam hatinya ia masih sayang dengan pria di hadapannya.
Aldo menyentuh pipi Luna. " Tapi, aku masih sayang dan cinta sama kamu." Luna mengerut keningnya. Ia merasa terhipnotis dengan tatapan pria di depannya seakan ia harus mempercayainya. "Please kasih aku kesempatan kedua." Aldo kali ini menangkup kedua tangan seraya mengelus wajah putih bersih Luna.
Luna menghempas kedua tangan Aldo yang berada di wajahnya agak kasar. Menghela nafas. Matanya menatap Aldo tajam. Dia pikir menjalin hubungan harus ada yang namanya kesempatan kedua. Tapi untuk Luna tidak ada sama sekali.
"Denger Aldo Mahendra. Tidak ada kesempatan kedua. Karena kesempatan saat kita memutuskan berhubungan. Itu adalah kesempatan pertama dan terakhir. Itu prinsipku. Bukan prinsipmu yang masih mengharapkan kesempatan-kesempatan berikutnya. Ibarat gelas pecah sudah tidak bisa kembali seperti semula. Hanya bisa di ganti dengan yang baru." kata Luna mendalam. Mungkin Aldo akan akan berpikir kalau ia adalah wanita egois. Tidak peduli. Nyatanya begitu. Rasa sakit pertama begitu membekas di hulu hatinya.
Pria itu terdiam masih menatap Luna yang terlihat santai.
"Apa aku begitu menyakiti hatimu?"
Luna hanya mengangguk. Pake nanya lagi. balasnya dalam hati.
"Entahlah. Aku gak tahu. Aku belum pernah berteman dengan MANTAN."
Aldo mendengus gusar. Wanita di hadapannya sibuk melihat jam tangannya. "Tapi―"
"Aku harus pergi."
"Kemana? Aku antar."
"Aku ada janji. Gak usah antar segala. Aku naik ojek."
"Janjian sama siapa?"
Sudah mantan juga masih kepo.
"Sama seseorang." kata Luna penuh penekanan. Agar Aldo gusar telah menyia-nyiakannya.
"Siapa?"
Luna tersenyum miring. "CALON SUAMI."
•••
Luna berbohong kalau bilang janjian dengan calon suami. Ia hanya ingin memberikan pelajaran untuk Aldo. Saat itu Aldo begitu terkejut terus meminta penjelasan akan ucapannya. Hingga mereka berada di depan gerbang. Pria itu masih mengejarnya dan sampai ojek langgan datang Luna meninggalkan Aldo dengan seribu pertanyaan.
Sekarang ia berada di restoran tempat biasa Luna dan keluarga makan. Memori-memori kembali lagi terbayang akan sosok ibunya yang begitu cantik, ramah dan perhatian pada keluarganya.
Tiba-tiba bayangan hilang saat seorang menyapanya dan membuyarkan semuanya. Wanita yang tidak ia sukai sudah ada berhadapan dengannya.
Jessy Imanuella Ladowsky.
Wanita yang sedang berhubungan dengan Ayahnya Gege. Mereka menjalin hubungan sekitar satu tahun lalu. Dengan gamblang Ayahnya memperkenalkan Jessy pada Luna dan Anggita. Banyak hal yang tidak disukai dari Jessy. Ia seorang model. Mungkin Luna hanya tahu kalau model itu mengarah ke sesuatu hal negatif. Dan positifnya cuma beberapa. Apalagi Gege adalah seorang pengusaha. Banyak wanita yang siap merangkulnya tapi mereka harus menghadapi dulu anaknya terutama Luna. Tanpa restu ia tidak ada yang namanya pernikahan atau hubungan ikatan lainnya.
"Maaf menunggu lama ada beberapa yang harus aku urus. Menunggu lama?" tanya Jessy ramah. Wanita itu memang sudah fasih berbahasa logatnya bulenya benar-benar hilang. Luna menatap Jessy memakai jaket denim berwarna biru langit sama dengan warna celananya. Tampil modis. Luna suka gaya busananya.
Luna membenarkan posisi duduk nyamannya. Helaan kecil agar membuatnya tenang.
"Aku menunggu cuma dua jam, ice coffee sudah abis dua gelas, cupcake sudah tiga biji dan aku sudah dua kali bolak-balik toilet." balasnya ketus. Dengan Jessy tidak ada yang namanya ramah tamah.
Jessy mengambil kedua tanganya digenggam. Luna meniat melepaskan namun Jessy malah mengeratkan tangannya membuat Luna kebingungan.
"Maafkan aku Luna. Maaf." katanya dengan hati penuh penyesalan.
"Maaf untuk apa? Karena menunggumu?" balas Luna tidak tahu.
Jessy menggeleng. "Untuk semuanya. Aku tahu kamu tidak menyukaiku karena aku dekat dengan Ayahmu. Tapi aku sangat mencintai Gege."
"Maksudnya apa sih? Aku gak ngerti. Kamu ngajakin aku ketemu cuma mau mendengarkan pengakuan atas cintamu pada Ayah? Itu maksudnya."
"Bukan. Sebenarnya ada beberapa yang ingin aku katakan."
"Bicara sekarang. Aku sibuk."
Jessy tampak ragu. Namun Luna terus mendesaknya untuk bicara.
"Kamu benar-benar tidak menyukaiku?" tanya Jessy dengan pertanyaan yang membuat Luna bingung.
"Kalau iya kenapa?" kini Luna membalikkan kembali pertanyaan Jessy dengan pertanyaan bukan jawaban.
"Kalau iya aku akan menjauh. Aku sudah putus dengannya. Jadi kamu jangan khawatir."
"Bagus." tapi entah kenapa Luna merasa ada sesuatu yang membuat dadanya sakit. Desiran dalam dada begitu menjadi saat Jessy meneteskan air mata yang langsung di sekatnya.
Kenapa dia menangis?
"Aku sangat menyayangi kalian." ucapnya dengan mata sendu.
"Aku tidak."
"Aku tahu. Makanya aku pergi. Aku akan kembali ke Jerman dengan Barrack minggu depan."
"Barrack mau dibawa juga?" ucapnya polos. Luna sangat menyukai anak Jessy. Hanya tidak Ibunya. Bicara soal Jessy, wanita itu adalah seorang single parent. Seperti Ayahnya.
"Tentu saja dibawa. Kalau aku tinggal dia akan bersama dengan siapa. Dia masih harus sekolah. Sedangkan minggu depan liburan sekolah nya berakhir."
Benar juga, pikir Luna. Sejak perkenalan itu, mereka Anggi menyayangi Barrack begitu juga dengan Luna. Tapi ia tidak bisa menerima Ibunya entahlah ia tidak tahu. Luna takut Ayahnya akan melupakan Ibunya.
Luna berdehem.
"Kamu benar-benar mau meninggalkan Ayah?" tanya Luna membuat Jessy mengerit alisnya. Ia saja tidak tahu akan pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu.
"Maksud kamu? Kita kan sudah putus." ucap Jessy kebingungan dan mematikan akan ucapan gadis itu.
"Aku―maksudku, karena aku bilang putus. Kalian menerimanya begitu saja?"
"Karena kami tidak mau membuatmu sedih dan tidak nyaman."
"Aku tidak sedih. Aku hanya tidak suka. Karena aku takut ayah akan melupakan Ibuku."
Jessy mengerat genggamannya. "Luna sampai kapanpun, hati dan cinta Ayahmu akan selalu menjadi milik Ibumu. Aku hanya seseorang yang menemani Ayahmu di sisinya. Meski tanpa cinta." kata Jessy. Mungkin ia bodoh bicara seperti itu tapi kenyataannya memang seperti itu.
"Wanita Bodoh."
"Ya, aku memang Bodoh."
"Kamu gila."
"Ya, aku gila."
"Idiot."
"Yes, I am."
"Kenapa kamu selalu mengiyakan semua ucapanku, Jessy?"
"Untuk membuatmu senang."
"Dasar menyebalkan."
•••
Terima kasih
Gimana extra part spesialnya?
Masih panjang sih tapi aku bakal slow update.
Jangan bosen ya.
Jangan lupa BIMA LOVERS di tenggokin juga dong kasian hehehe