
♥♥♥
Masih WARNING-EPISODE, dapat menyebabkan kegalauan, kesakitan, menangis, kekecewaan, emosian.
Jangan lupa Vote-nya biar Rankingnya naik….😁
♥♥♥
Hal terpenting dalam rumah tangga adalah sebuah kejujuran, kepercayaan, kenyamanan dan kesetian. Mungkin sebagian orang setuju dengan keempat Elemen-4K. Tanpa hal itu keutuhan keluarga atau rumah tangga akan terjalin lama meski tanpa cinta.
Saat seseorang merasa disakiti, hal pertama adalah pergi. Gone.
Setelah mengetahui Reza pergi ke Bali sampai tidak memberitahu atau mengabarinya, Luna amat sakit.
Mungkin kalau judul sinetron kalau istri terabaikan, cukup keterlaluan, istri yang tertinggal? atau Istri yang tersakiti? Itu seakan mewakili rasa sakit hati seorang istri.
Luna dan anak-anak pergi dari rumah, bukan kabur tapi ingin menenangkan hatinya. Kepulangan Bima, Nabila dan Nadila, ia memutuskan untuk ke rumah Rara sebagai tempat mengadu.
Ia tidak memilih Abel, Abdul ataupun rumah mertua karena mungkin mereka akan curiga. Tidak ingin membuat mereka khawatir.
Sekarang Luna berada di halaman belakang rumah Rara, sedangkan anak-anak berada di ruang tamu bersama Aldo. Pikirannya mulai melayang.
Perasaan Luna semakin tidak karuan, stres itu pasti.
"Luna, jangan diam melulu. Nanti kesambet loh! " kata Rara, sembari tadi terlihat melamun, khawatir. Setelah kejadian tadi siang Luna menangis terus tak henti-hentinya. Keadaannya semakin berantakan.
"Siapa yang melamun." jawabnya malas tanpa dia menoleh pandangannya ke Rara.
"Kamu kacau banget, Lun. Nggak ada semangatnya. Mau makan apa gitu nanti di buatin deh. Asal kamu nggak begini lagi." tawarnya, agar Luna kembali ke Luna yang dulu.
Luna mendongkak wajahnya, seperti memikirkan tawaran yang Rara ajukan.
"A-aku mau asinan bogor."
"Hah, seriusan nih? Kayak orang ngidam aja."
Luna menggeleng pelan, "Tadi kamu yang nawarin, nah sekarang aku mau itu. HARUS." ucapnya penuh penekanan.
"Ish, mana ada Luna asinan bogor di sini. Ngaco. Yang lain aja."
"Maunya itu Rara. Katanya apa aja. Kamu cari dong di gofood." ketus Luna, keinginan harus terpenuhi.
"Ya, aku cariin. Ada lagi nggak sekalian." tawarnya lagi agar Luna bisa melupakan sejenak masalahnya.
"Bentar aku mikir dulu."
"Ayo nyonya, jangan pake mikir segala, kelamaan."
"Seblak ceker deh pedes, ya."
"Fix, kamu ngidam ini mah. Makan aja yang nggak biasa-biasanya. Tumben."
"Mumet, kepalaku. Pusing. Kali-kali nyenengin sahabat sendiri. Ngeluh melulu."
"Baik, nyonya."
"Makasih."
Rara mengorder pesanannya untung saja ada, kalau nggak ada bisa ngamuk sahabatnya.
Asal Luna senang.
Sambil menunggu. Keduanya mengobrol hal yang tidak menyangkut masalah keluarga nya. Malah membicarakan tentang idola mereka seperti Luna menyukai Ariel Noah, sebuah kebetulan atau apa, mantan Ariel Noah mempunyai nama depan yang sama dengannya, Luna. Memang kejadian langka.
Taklama Aldo datang menghampiri, "Lun, tadi Mas Reza telpon. Aku bilang aja kamu ada di sini sama anak-anak." ucapnya sembari duduk di samping Rara, istrinya.
"Kok kamu kasih tahu sih, Do." ucapnya tak suka.
"Sorry, aku nggak bisa bohong. Dia berhak tahu kamu sama anak-anak ada di sini. Dia kelihatan khawatir banget." balas Aldo, mencoba melerai masalah. "Jangan menghindar. Kalian bicarakan baik-baik. Aku yakin Mas Reza nggak mungkin nyakitin kamu. Dia cinta mati sama kamu." lanjut Aldo memberi wejangan yang memang mengena di hatinya.
"Tapi一"
"Pikirkan perasaan anak-anak kamu. Jangan egois. Kamu tahu anak-anak akan menjadi korban kalian berdua. Bima, Nabila dan Nadila tampak khawatir sama kamu. Mereka masih butuh kalian berdua."
Luna kembali menangis, ia menyadari semuanya, dia memang egois. Aldo benar. Dia terlalu bersikap berlebihan. Rara kembali merangkul Luna.
"Kamu benar, Do. Makasih nasehatnya." seru Luna, dia menghapus air matanya. Mencoba tersenyum.
"Nah gitu dong senyum." ucap Aldo, tanpa sadar membuat wanita disampingnya cemberut. "Kamu kenapa, sayang. Mukamu ditekuk begitu." Aldo mendongkak wajah Rara.
"Sama Luna aja, manis. Sama aku aja pahit."
"Cemburu?"
"Iyalah."
Luna pun tertawa, melihat tingkah kedua pasangan ini begitu menggemaskan. Rara dan Aldo senang saat melihat Luna tertawa seperti itu. Merasa lega. Tadi mereka sempat harap-harap cemas. Tapi tidak dia sudah kembali.
•••
"Luna, kamu habiskan ini semua?"
Rara terkejut saat Luna meneguk sisa air asinan di mangkok tanpa sisa. Seperti orang kehausan. Gila. Kuat banget sama pedas. Tadi sebelumnya makan seblak ceker cukup pedas menurut Rara sampai dia saja tidak tahan bau bumbu cabenya.
"Ini, sudah habis. Kosong." Luna sambil membalik mangkuk bekas asinannya.
"Itu perut nggak panas apa."
"Nggak, udah biasa."
Rara menggeleng tidak percaya. "Dasar maniac cabe."
Makan sudah, sekarang rasanya Luna sangat gerah ingin mandi. Meminjam pakaian Rara karena tidak sempat bawa pakaian lebih, memang niatnya bukan kabur bawa koper, kabur-kaburan tidak jelas arah tujuan. Mendeknya di tempat yang mudah di cari.
Selesai dengan ritual mandinya.
Rara meminjamkan dress polkadot hitam di bawah lutut, lengan pendek. Warna baju sesuai suasana hatinya sekarang. Gelap.
Luna bergabung bersama dengan keluarga Rara dan anak-anak di ruang tamu tampak keceriaan.
Moment ini yang Luna rindukan.
Melihat kedatangan Luna, si kembar menarik-narik tangannya untuk duduk dekat mereka. Ia pun tidak bisa menolak mengingat pembicaraan Aldo tentang anak-anaknya.
"Mommy sudah nggak sedih lagi?" ungkap Bima, si anak sulung yang memang paling kelihatan cemas. Apalagi dia pernah bilang tidak ingin keluarganya hancur seperti temannya Arsen. Pikiran Luna makin berkecambuk.
"Mommy udah nggak sedih lagi."
Bima melenggang mendekati Luna yang duduk di seberangnya duduk bergabung bersama. "Syukur deh, Bima cemas kalau mommy masih sedih terus, bikin aku sakit bisa merasakan apa yang mommy rasakan." Bima mendekap Luna, begitu juga kedua putrinya. Kali ini dia tidak menangis. Senang punya anak-anak seperti mereka. Akan membuat mereka bahagia, bukan kesedihan.
"Cukup..cukup melow-melow nya. Ini Uncle Aldo sudah buatin pizza buat kalian. Asli resep Uncle."
Aldo membuyarkan acara Luna dan anak-anaknya, agar tidak kembali larut dalam kesedihan. Aldo yang sejak tadi berada di dapur memasak, membawakan dua loyang pizza untuk dimakan.
"Asyik pizza, Uncle tahu aja kita pengen cemilan beginian. Uncle is the best deh." sahut Nadila begitu antusias. Begitu juga Nabila. "Asyik, kalau main ke sini selalu di masakin terus sama Uncle." timpalnya.
"Hush, kalian jangan bikin malu mommy dong."
Luna merasa minder karena dia selalu membuat Rara dan Aldo kerepotan atau kesulitan setiap kali ada masalah selalu mereka yang menolong dan membantunya.
"Nggak apa-apa, Luna. Mereka kan keponakan aku juga. Wajar dong." ujar Aldo.
"Iya. Kita kan keluarga." tambah Rara.
"Makasih ya."
Suasana pun begitu hangat apalagi melihat cara makan Alby yang belepotan dengan cheese yang menempel di pipinya, membuat Rara kewalahan akan tingkah putranya.
Sedangkan yang lain hanya melihat Alby gemas terutama Nadila yang begitu suka anak kecil.
"Jadi pengen punya adik." gumam Nadila, membuat Luna terkejut mendengar keinginan anaknya, dan di anggukin Bima dan Nabila.
Luna hanya tersenyum. Begitu inginkah kalian punya adik? Batinnya.
•••
Sedang Reza yang baru turun dari pesawat jet-nya, langsung berhamburan ke dalam mobil tidak jauh dari pesawatnya mendarat. Ia ingin cepat pulang menemui istri dan anak-anaknya, terutama dia ingin menjelaskan semuanya pada Luna.
Mendengar istri dan anak-anaknya tidak ada di rumah membuat Reza khawatir, kalau mereka meninggalkan rumah gara-gara masalah ini, untung dia menelpon Aldo mengetahui mereka baik-baik saja di sana. Mungkin perasaan mereka yang tidak baik. Itu salahnya.
Bukan tidak ingin menjelaskan semuanya, entah kenapa sangat sulit. Ditambah Luna yang tidak biasanya bersikap emosian, biasanya mereka bisa menghadapi masalah tanpa ribut-ribut seperti sekarang.
Jam sudah menunjukkan pukul enam, menjelang malam. Supirnya langsung melaju perjalanan ke rumah Aldo di daerah sudirman. Soni sengaja di pulangkan, karena Reza mau menyelesaikannya sendiri.
Reza ingin menelpon istrinya tapi dia urungkan karena takut Luna masih marah dan tidak mau, menjawabnya. Setelah itu meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku jas, tiba-tiba sebuah panggilan terdengar.
Sarah.
Reza menghembuskan nafasnya gusar. Beberapa detik dia baru bisa menerima panggilan tersebut.
📞 Sarah: "Lama banget angkatnya?" suara penuh tekanan terdengar di ujung telpon.
📞 Reza : "Sorry, ada apa?" balasnya malas, apalagi wanita itu terus menelpon.
📞 Sarah: "Nanti malam jadikan? Aku bakal tampil cantik." godanya.
📞 Reza : "Jadi. Nggak usah bikin masalah deh. Biasa aja dandannya. Nggak usah berlebihan."
📞 Sarah: "Nggak apa-apa dong, beneran mau dibawa dia ketemu sama aku?"
📞 Reza : "Iya."
📞 Sarah: "Nggak akan nyesel."
📞 Reza : "Menurut kamu?"
📞 Sarah: "I don't know, jadi nggak sabar. Aku harap dia terus marah sama kamu."
📞 Reza : "Itu mau kamu. Pokoknya malam ini harus selesai permasalahan kita. Aku mau ceritakan semuanya sama dia. "
📞 Sarah: "Ok, baby."
Reza langsung memutuskan panggilan masuk Sarah sepihak. Pikirannya seharian hanya ada Luna. Takut kehilangan.
Rasanya begitu bercampur aduk, Reza sudah sampai di depan gerbang rumah Aldo. Meminta yanto untuk berhenti sejenak. Menarik nafas panjang, kemudian hembuskan keluar.
"Jalan.." Perintahnya, supir pun melanjutkan lagi perjalanan memasuki pekarangan rumah Aldo, jantungnya tidak karuan. Ia masih membayangkan bagaimana reaksi Luna dan anak-anaknya nanti.
Siap akan konsenkuesinya.
Reza mengetuk pintu dan terbuka. Aldo sudah ada di hadapannya. "Mereka ada di dalam."desis Aldo to the point.
Reza melengang masuk, hal pertama yang di lihat adalh istri dan anak-anaknya yang tampak senang mengobrol di ruang tamu. Tanpa menyadari akan kedatangan Reza.
"Hai.." sapa Reza kikuk.
Mereka menoleh ke sumber suara. Luna dan Bima tampak biasa, berbeda dengan si kembar langsung menghampir daddy-nya.
"Daddy." teriak si kembar kegirangan. Berhambur memeluk sang daddy.
"Kalian baik-baik saja kan?"
"Baik." sahut keduanya.
Luna hanya diam. Membuang pandangan ke segala arah tidak ingin melihat sosok pria yang sebenarnya sangat dirindukan.
"Ayo kalian ikut Uncle nonton. Ada acara seru loh." Ajak Aldo pada mereka.
"Iya, Uncle." mereka menurut saat itu pun mereka mengikuti Aldo.
Aldo menggendong Alby dan membawa Rara, Bima, Nabila, dan Nadila ke ruang TV membiarkan kedua pasutri itu berduaan untuk menyelesaikan masalah mereka.
Luna dan Reza duduk berdampingan. Mereka hanya diam. Tidak bicara. Terasa begitu canggung.
"Kamu sudah makan?" hal pertama yang Reza tanyakan karena Luna terlihat lemas.
"Belum." jujur memang belum makan malam.
"Kenapa?" tanyanya lagi, mengkhawatirkan Luna. Sebelum menjawab, Reza tau jawabanya. "Nggak nafsu?"
"Itu tahu."
"Kalau begitu kita makan di luar. Aku sudah janji akan pertemuan kamu sama dia, malam ini. Sudah siap?"
Luna mendongkak wajahnya memandang Reza yang tampak kacau. Terlihat jelas di wajahnya. Apakah dia juga sama seperti Luna, seharian ini terlalu memikirkan masalah rumah tangganya?
"A-aku, apa harus sekarang?"
"Iya, aku mau menyelesaikan semuanya."
Reza mendekap Luna erat, rasanya senang. Ia merindukan aroma istrinya yang membuatnya tenang.
Takut.
Luna tidak mau kehilangan suaminya…
"Ada yang mau aku tanyakan sama kamu, Mas"
"Apa?" jawabnya singkat tanpa mengubah posisi mereka yang masih saling berpelukan.
Luna belum menjawab, ada perasaan tidak enak. Ia memejamkan matanya menghirup aroma pinus suaminya.
"Apa wanita itu sangat penting untukmu?"
Deg.
Jantung Luna berdebar kencang ingin tahu jawaban pria itu tapi ia tidak mau tahu. Luna merasa ucapan tadi adalah pertanyaan bodoh.
"Kamu akan tahu nanti di sana."
TBC
♥♥♥
Huhu, jangan marah sama daku ya 😁 tenang aja hasilnya nanti nggak akan mengecewakan kalian.
Update tiap hari mumpung ada waktu senggang…
Siapa sih Sarah ini 🤔 nanti akan ada jawabanya di episode berikutnya… sabar ya
Bakal ada kejutan untuk kalian reader-reader setia
Jangan bosen ya…
Keluarkan unek-uneknya...gpp
Tapi jangan hujat daku 😭😋