Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
56. Manja



♥♥♥


LUNA terbangun. Lalu turun dari kasur sambil menguncir rambutnya asal. Mengambil remote untuk membuka tirai jendela terbuka otomatis Sinar matahari membuat Reza mengerang silau.


"Mas bangun."


"Hmm… " Reza membalik badan membelakangi Luna yang sembari tadi mengguncang badannya untuk bangun.


"Masih ngantuk, sayang."


Luna menatap Reza yang masih enggan bangun juga. Dia terus mengguncang badan Reza tapi dia tidak bangun juga. Luna menghela nafas pendek. Dia melakukan ini karena ingin menebus yang semalam. 


"Oh gitu ya, jadi nggak mau. Oke, kalau gitu aku mandi sendiri aja."


"Mandi?" Mata Reza langsung terbuka lebar. Dan bangun tergesa. Melihat Luna ada di hadapannya sambil berdecak pinggang. Lalu duduk bersila.


"Katanya masih ngantuk. Sana tidur lagi." omel Luna mengejek Reza.


"Nggak aku mau mandi saja. Ayo…"


Luna merasa tidak enak dengan Reza semalam karena dia langsung tidur begitu saja, tanpa Luna sadari melupakan janjinya pada suaminya. Tidak mau menjadi istri yang egois. Karena Luna harus setia melayani suaminya dalam hal apapun.


"Dasar mesum. Semangat, langsung ON." Luna jadi greget dengan tingkah Reza yang manja bila dia sudah meminta jatah. 


"Ayo…" Reza berdiri lalu menghampiri Luna dan mengulurkan tangannya melayang ke arah istri tercintanya. Bertingkah manja dan menggoda.


"Mainnya yang lembut." Luna menyambut tangan Reza mengikuti langkah suaminya.


"Bisa diatur."


Langkah Luna terhenti. 


Hingga Reza mengerut alisnya. Menoleh pada Luna penasaran.


"Ada apa lagi..?"


"Jangan lama-lama. Sebentar aja."


"Uhm, nggak janji deh."


"Kok begitu."


"Kapan mulai kalau kamu ngajakin aku ngobrol melulu. Nggak akan kelar-kelar."


Reza sangat gemas kepada Luna sudah cerewet seperti ini. Dia langsung mengangkat Luna cepat dengan gaya bridal. Dan berjalan ke kamar mandi hati-hati. Luna mengaitkan tangannya di leher Reza mengecup sekilas bibir pria itu.


Dia semakin bersemangat saat Luna mengecup bibirnya tiba-tiba. Ia sangat menyukainya. Lalu mendudukkan Luna di meja wastafel menatap wanita itu intim. Menempelkan bibirnya pada bibir Luna lama. Hingga mereka saling melumat dan memangut bibir mereka. Saling membalas. Hingga nafas mereka terengah-engah.


Aktivitas mereka berlanjut hingga mereka mandi dan melakukan apa yang tertunda.


Satu jam…. 


Dua jam….


Luna keluar dengan handuk dililit di tubuhnya, dia geram merasa kesal kepada Reza agar tidak lama saat bermain, malah suaminya menahan Luna hingga 2 jam lamanya…


Ini amat sangat melelahkan. Tapi dia tidak bisa menolak. Itu sudah kewajibannya memberikan kepuasan pada suaminya.


Ia bercermin. Melihat banyak kissmark di dada dan lehernya. Luna sudah menduga ini semua karena Reza senang sekali membuat tato alami di tubuhnya. 


"Banyak banget lagi. Siap diledek mereka lagi." ucap Luna. Lalu bergegas mengambil pakaian yang akan menutupi kissmark di tubuhnya ini. 


"Maafin daddy kalian ya." Luna mengelus perut buncitnya.


Luna berpakaian dan memakai sedikit make up diwajahnya tipis. Setelah menyiapkan pakaian untuk Reza, dia bergegas turun ke bawah lalu melihat Abel dan Rara sudah bangun sedang duduk santai di depan televisi bersama Biboy anaknya. 


"Kalian sudah makan?" tanya Luna pada mereka yang masih anteng menonton cartoon doraemon. Karena weekeend mereka memang suka dengan cartoon doraemon meski sudah dewasa. 


"Belum." Sahut Abel dan Rara. "Aku juga belum mommy." timpal Biboy bersuara lantang sambil mengacungkan tangan. 


"Memang Bi Surti belum masak?" Sahut Luna duduk di samping Biboy sedang menggendong Saka kucingnya. 


"Sudah. Kita menunggu kalian berdua." Kata Abel masih fokus matanya ke arah televisi sementara mulutnya ngemil snack di tangannya. 


"Ngapain menunggu kita. Makan saja sana." Protes Luna. 


"Nggak enak kali. Tuan rumahnya nggak ada." kata Rara. Menoleh pada Luna yang sedang bersandar di bangku. Terlihat lelah. 


"Lelah banget kelihatannya?"


"Apa?" Luna terkejut. Rara mungkin menyadari sesuatu dengan tingkahnya. Seluruh badannya memang pegal dan lelah ulah suaminya. Namun dia pura-pura agar mereka tidak menyadarinya nanti yang ada Luna menjadi bahan ledekan. 


"Capeklah… kamu nggak lihat kissmark Luna di leher begitu jelas juga. Abis main dia." Ledek Abel menyadari apa yang terjadi saat melihat tanda di leher jenjang sahabat atau kakak ipar. 


Luna malau. Menunduk. Sial.


"Abel." sentaknya. 


"Tapi kok aku nggak denger sesuatu ya, tadi pas lewat kamar kalian. Kedap suara?"


"Apaan sih kok bahas itu? Ayo makan. Bentar lagi juga Mas Reza turun."


"Mengalihkan pembicaraan nih."


Luna diam tidak mau menjawab. Bakal panjang urusannya. Ia menggandeng Biboy agar ikut ke meja makan untuk sarapan pagi. Rara dan Abel mengikuti Luna dari belakang masih meledek Luna dengan ocehan mereka.


Sementara itu Reza baru saja turun dari lantai dua langsung menghampiri mereka berada di ruang makan dengan wajah sumringah dan fresh. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibir Reza sekali pun. Membuat Rara dan Abel geli akan tingkah Reza.


"Pagi semuanya... " sapa Reza menebar senyum manis di bibirnya dengan suara ceria.


"Semangat bener. Beda kalau sudah dapet jatah mah. Senyum terus sampai kering itu gigi." ledek Abel biasa. Selalu gatal kalau tidak meledek kakaknya.


Reza berdecak. "Sirik aja kamu. Kalau sudah sah sama Soni. Kakak yakin kamu bakal一"


"Mas, ini kita lagi makan loh. Ada Biboy nggak baik didengar anak dibawah umur sama yang belum menikah. Nanti Abel, Rara kebelet pengen cepet nikah lagi." sahut Luna, ternyata malah 


meledek pada Abel, Rara secara tidak langsung.


Reza dan Luna melakukan high five. Bisa balas dendam karena ledekan Abel. "Kamu memang yang terbaik sayang." Reza mengusap pipi Luna.


"Ck. Pamer terus. Aku nggak sirik tuh." seru Abel.


"Tapi, aku sirik." keluh Rara cemberut.


"Kan udah Mas bilang semalem coba dulu?" kata Reza ambigu. 


Membuat Abel dan Luna berdecak kaget. Coba? Kata itu membuat sedikit sensitif di telinga Luna dan Abel. Hingga mengerut dahi. Bingung. Akan ucapan Reza tadi. Menghentikan acara makannya sejenak. 


"Coba ?" Luna dan Abel bersamaan dan menatap Reza tajam.


"Maksudnya, Rara sama Aldo mereka sama-sama jomblo. Coba buat berhubungan. Barangkali bisa cocok." Jelas Reza, membuat Luna dan Abel tadi sedikit berpikir aneh ternyata bukan.


"Kenapa harus Aldo."


"Kemarin kamu di tawarin sama mbak Nita soal temennya Mas Arga kamu menolaknya." timpah Abel melirik ke arah Rara disamping.


"Kok jadi bahas aku sih!" 


"Karena tema obrolan kita itu kamu, Rara."


"Ganti aja."


"Aduh, ini meja makan. Buat makan bukan untuk mengobrol." Reza risih padahal dia yang sembari tadi memulai obrolan. 


Mereka pun makan tanpa bicara beberapa saat, karena mendapatkan teguran dari sang empu. Tidak ada yang memulai bicara sampai makan selesai. 


•••


Semenjak kemarin Gege menginap di rumah besar keluarga Winajaya. Hingga dia tidak ikut acara baberque karena mengurus project untuk kedua keluarga.


Dan jadwal kepulangan Gege adalah hari ini, jam makan sianglah Gege berangkat.


Sebelum berangkat Luna terus bermanja-majaan pada ayahnya, karena dia sangat merindukannya sosok pria yang tidak selalu dia lihatnya tiap hari dan hanya bisa meluapkan semua sekarang.


"Kenapa ayah tidak tinggal lebih lama lagi?" ucap Luna menyandarkan kepala di bahu lebar sang ayah. Memeluk lengan dengan erat tidak ingin melepaskan lagi. 


"Lalu perusahaan ayah bagaimana disana?" kata Gege, dia mengelus pipi anak kedua yang manja seperti larasati mendiang istrinya yang selalu bertingkah kekanak-kanakan saat dia dulu pergi bekerja ke luar kota.


"Ayah kan bosnya kenapa harus susah payah sih selalu ada di kantor. Ayah bisa menyuruh orang untuk menghandle semuanya."


"Sepertinya kamu tertular dengan mertua yang sok kaya itu, hah?"


Luna menggeleng."Tidak ayah, ayah salah. Luna hanya tidak mau ayah terus larut dalam urusan kantor. Luna khawatir ayah jatuh sakit."


"Ada Jessy yang mengurus. Jangan khawatir itu sayang."


"Aku tahu itu."


"Kamu masih belum bisa menerima Jessy?"


"Kenapa ayah bilang seperti itu?"


"Karena kamu masih belum mau memanggil dia dengan sebutan ibu, ayah tahu kamu tidak mau dipaksa. Tapi ini sudah hampir empat tahun, dia sudah berada di sisi ayah. Dia masih menunggu kamu Luna. Dia ingin mendengarmu memanggil ibu, mom, atau mamah. Dia sangat menyayangi kamu seperti anaknya sendiri."


Luna diam. Masih memikirkan ucapan ayahnya menyinggung soal Jessy. Dia wanita baik. Luna sudah menerima semuanya. Hanya saja, belum siap untuk memanggilnya ibu atau mom yang memang harus dia menyebut Jessy bukan nama.


Ia takut, kalau ibunya di sana marah. Kalau dia menyebut wanita itu ibu. Takut akan mendiang ibunya menganggap melupakannya. Meskipun ia ingin memanggil Jessy ibu tapi hatinya masih belum bisa mengganti Larasati sebagai seorang ibu yang sudah melahirkannya.


Egois. Memang, tapi dia tidak mau memaksakan diri. Ia akan perlahan-lahan melakukannya dan kalau dia siap maka, Luna akan memanggil dia dengan sebutan mom. Ya, mom…


"Ayah dan Jessy akan menunggu, jadi jangan di pikirkan omongan ayah tadi."


"Aku sayang ayah, Jessy, Barrack dan Deleena. Luna akan berusaha. Luna mohon untuk tunggu sebentar lagi."


"Tentu saja sayang. Kami akan menunggu."


"Terima kasih."


Gege mencium kening Luna. Ia menatap anaknya sudah tambah dewasa, dia akan menjadi seorang ibu. Dia tidak menyangka Luna akan cepat punya keluarga sendiri. Di usianya masih muda. Sedang asyik merajut kasih, kedatangan sahabatnya, dia berdecak. Galang dan Yunita menghampiri lalu duduk di sofa berhadapan dengan Gege maupun Luna, sedangkan Reza masih mengajak Biboy main bola di halaman belakang.


"Reza, kemana?" Ucap Galang melihat ke segala arah tidak menemukan ayahnya. 


"Lagi main bola sama Biboy. Mau aku panggilkan?" balas Luna melihat ayahnya seperti ada hal yang ingin dibicarakan.


"Boleh, soalnya ada yang mau di omongin." ucap Galang merasa senang menantunya begitu sigap. 


"Kalau begitu, Luna panggil dulu."


"Terima kasih sayang."


Luna tersenyum. Sebelum itu meminta Bi Surti untuk membawakan cemilan dan minuman ke ruang tamu. Lalu bergegas ke halaman melihat Reza dan Biboy berlarian bermain bola, dengan mereka berdua melepas kaosnya dengan badan telanjang. 


Luna memanggil keduanya saat itu pun mereka menoleh dan berhenti langsung berjalan ke arah sumber suara.


"Kalian berdua kenapa buka baju sih?" Protesnya lalu memberikan handuk kecil pada Reza, Luna mengangkat Biboy ke atas kursi untuk mengelap badan Biboy yang berkeringat. Lalu memakaikan kembali bajunya.


"Gerah sayang. Kenapa Biboy saja yang dielapin badannya aku juga mau dong?" Reza menggoda Luna, bersikap seperti Biboy bila ingin sesuatu.


"Pake sendiri." tolak Luna lalu memberikan air pada Biboy agar meminum dan menghabiskan semuanya.


"Pilih kasih." kesalnya. Lalu memakai kaosnya.


"Daddy sudah gede. Biboy masih kecil. Jangan manja deh." Oceh Biboy melihat tingkah Reza sembari tadi cemberut.


"Tahu apa kamu. Anak kecil." Reza mencubit hidung mancung putranya pelan mendengar ucapan Biboy membuatnya semakin gemas karena sudah pintar menjawab dan berbicara.


"Kamu yang anak kecil. Malu sama anak sendiri." Luna membela putranya lalu mengusap hidung Biboy bekas cubitan Reza. Biboy meledek, lalu ia menjulurkan lidahnya.


"Bodo." Reza terus merajuk. Tingkahnya semakin hari seperti Biboy. Selalu manja. Tak mau kalah.


"Ayah sama ibu datang mau ketemu, Mas. Mereka menunggu di ruang tamu." Luna menurunkan Biboy lalu menggandengkan tangan untuk masuk ke dalam.


"Iya."


•••


Sudah waktunya Gege berangkat ke bandara, dia menggeser kopernya lalu diambil oleh Pak Yanto yang akan menghantarkan. Luna tidak ikut ke bandara karena kehamilannya membuat Luna cepat lelah. Dia hanya bisa mengantar sampai depan Rumah. Sementara Reza dan Galang yang menghantarkan sampai bandara, Yunita menjaga Luna di rumah. 


Abel sejak pagi langsung pergi untuk menemui Soni kekasihnya, dan Rara pulang ke rumahnya.


"Jaga cucu-cucu ayah. Nanti ayah ke sini lagi tujuh bulan kamu deh, sama mereka semua ayah ajak." kata Gege mendakap Luna dalam pelukkannya untuk berpamitan. 


"Bener, nggak bohong?"


Luna menatap Gege penuh harapan agar ayahnya tidak hanya berkata saja.


"Iya. Kalau bohong, Kamu getok saja ayah mertua kamu. Dia bakal jemput kita pake pesawat jetnya. Mau pamer kalau orang kaya begitu." Gege lalu menunjuk Galang biangnya. Kalau sudah beradu bicara adalah moment bagi keduanya dan sangat menikmati itu.


Gege mengurai pelukannya lalu menatap wajah Galang dengan tatapan tajam. 


"Diam kodok. Orang kaya mah nggak usah pamer juga pada tau keluarga Winajaya kaya nya kayak apa. Pokoknya kamu tinggal bawa badan, nanti aku yang atur semua." Galang dengan tingkah sok sultanya keluar itu hanya di hadapan Gege sahabatnya. 


"Curut banyak tingkah. Sok kaya. Inget udah tua bangka. Udah bau tanah."


"Dasar kodok sawah. Sirik aja."


"Kalian berdua nggak tahu malu. Udah pada tua juga masih aja kayak bocah. Malu sama Biboy dia udah mau masuk TK tuh." Yunita selalu menjadi penengah mereka berdua sejak kuliah maupun sekarang. 


"Maklum bu, mereka berdua nggak inget umur. Makanya bertingkah konyol."


"Diam kamu Reza jangan sotoy."


"Sekarang Reza punya ide untuk nama project mall kalian berdua. Kenapa kalian buat namanya Kodok vs Curut Grand Mall saja. Unik dan Aneh yakin seyakinnya nggak bakal ada yang mau injak ke mall kalian." Reza bercanda, sedangkan Yunita dan Luna tertawa. Berbeda dengan Galang dan Gege berdecak kesal.


"Reza kamu mau ayah pecat dari perusahaan?" kata Galang sewot. Mendengar candaan tentang projectnya.


"Kalau nggak mau saya pecat jadi mantu?" kata Gege menambahkan.


Reza diam. Melebarkan matanya. Kaget. Merasa bercandanya kelewatan sehingga dia mau dipecat dari perusahaan dan menantu segala. Reza tertawa kikuk. Menyadari kesalahannya. 


Sementara itu Luna dan Rara saling bertukar pandang. Seakan berbicara apa yang terjadi.


"Becanda doang. Maaf." sesal Reza memeluk Galang, bergantian memeluk Gege. Keduanya diam lalu tertawa melihat tingkah Reza begitu ketakutan.


"Begitu aja ciut."


"Tega banget kalian berdua."


Setelah cukup. Mereka bergegas untuk pergi ke bandara. Karena sudah tidak ada waktu untuk mengobrol. Apalagi bercanda seperti tadi.


Reza masuk dan duduk di samping  kemudi, dan Gege, Galang duduk di kursi penumpang. 


Luna dan Yunita melambaikan tangan setelah mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah. Dan kembali masuk dan menunggu kepulangan suami mereka. 


♥♥♥