
♥♥♥
Luna menatap bayanganya dicermin, wajah yang sudah dipoles dengan make up dan rambut yang disanggul. Hari ini ia memakai kebaya berwarna Peach dan rok batik yang membuat letuk tubuh yang ramping dan berbentuk.
Berulang kali Luna mengatur napas, berusaha menenangkan keteganggan dan kegugupannya.
Seorang wanita bule menghampirinya, siapa lagi tak lain adalah Jessy ibu tirinya.
Sebelum lamaran, keluarga Luna datang dua hari sebelum acara lamaran semuanya datang tanpa terkecuali dan adik kecilnya Deleena juga datang ia tampak sangat manis dan menggemaskan.
"Luna, kamu terlihat sangat cantik hari ini". Jessy meletakkan tangannya berada dibahu Luna yang sedang bercermin. Jessy ini sangat pasih dalam berbicara bahasa indonesia, karena ia pernah menjadi model disini dua tahun.
"Thanks, Jessy. Kamu juga cantik memakai kebaya ini". Balas Luna dan menunjuk kebaya yang dipakai oleh ibu tirinya.
"Kamu lebih cantik" sahutnya lagi.
Jessy memang ibunya, tapi dia tidak memaksa Luna untuk memanggilnya ibu. Bukannya ia tidak mau, tapi belum siap untuk memanggilnya 'Ibu' mungkin suatu saat ia bisa mengatakannya, asal Jessy tidak merasa keberatan untuk menunggu.
Rara dab Abel memasuki ruang tempat Luna berad, "Luna! Ya ampun aku kaget loh lihat kamu pake kebaya, cantik banget". Seru Rara menoleh pada sahabatnya yang bentar lagi akan dilamar oleh kekasihnya.
"Aku jadi malu, terima kasih".
"Luna, Mas Reza pasti ngga bisa berkedip kalau lihat kamu begini. Cantik banget". Seru Abel yang juga kagum dengan kecantikannya.
"Iya aku tahu, aku cantik jadi nggak usah dipuji lagi". kata Luna merasa mukanya sudah panas dan merah, "Oh iya kenalin ini istrinya Ayah aku, Jessy ibunya Barrack". ucapnya mengenalkan ibu tirinya pada keduanya.
"Halo tante, aku Rara". ucap Rara bersalaman.
"Iya, tante tahu Barrack pernah cerita sama tante". balas Jessy mengenalinya.
"Benarkah?" Rara terkejut dan senang.
Jessy tersenyum, "Iya".
"Kenalin tante aku Abel calon adik ipar Luna". Sahut Abel percaya diri, dan menyodorkan tangannya dan disambut hangat oleh Jessy.
"Tante senang, kenal sahabat anak tante Luna. Kalian harus jaga persahabatan kalian, ya?".
"Tentu saja" kata Abel dan Rara berbarengan, sementara Luna hanya tersenyum melihat Jessy bisa akrab dengan sahabat nya.
Acara lamaran dilakukan diruang serba guna digedung apartemennya, yang sudah ditata rapih dan cantik dengan hiasan bunga disekitarnya.
Luna bangkit dari kursi dan mengintip keruangan acara lamaran sudah ada rombongan keluarga Reza datang.
"Aku jadi gugup banget". Seru Luna merasa kaki sudah lemas dan deburan suara jantung mulai memuncak tak karuan.
"Tenang Luna, wajar kalau kamu gugup. Kalau begitu aku keluar bergabung dengan ayah kamu untuk menyambut calon suami kamu". ucapnya Jessy seraya menenangkan dirinya.
Luna hanya mengangguk mengerti tersenyum, setelah kepergian Jessy, dan ia ditemani kedua sahabatnya. Keluarga dari ayahnya datang tapi hanya adik dari ayah dan keluarga dari Mas Yuda juga hadir mewakili keluarga Luna, begitu pun dengan Mbak Rani hadir disana.
Ketika pintu ruangan terketuk dan Rani muncul diambang pintu. "Calon pengantin, Mas nya sudah datang tuh, ayo keluar".
Luna menghela napas panjang, "Bentar dong, Mbak. Aku kok jadi makin gugup begini sih, harus sekarang yah?". serunya.
"Iyalah, sekarang. Nanti yang ada Kakak aku jadi bulukan nungguin kamu" canda Abel.
"Tapi―"
Luna semakin bergetar tak karuannya keringat dingin terasa ditubuhnya mengalir.
"Ayo jangan sampai calon kamu menunggu lama". ucap Rani menggandeng tangan Luna dan membantu keluar dan diikuti kedua sahabatnya dibelakang untuk mendampingi Luna keluar.
Acara langsung dimulai ketika Luna sudah tiba dikursi duduk diantara kedua orang tuanya. Luna menyaksikan penampilan calon suaminya yang beberapa meter dari hadapanya, sangat tampan denga balutan kemeja batik terlihat begitu gagah.
Luna tersenyum malu, saat Reza terus menatap dan memberikan kedipan mata seraya mengoda karena penampilan terlihat cantik.
Seorang pria beprofesi sebagai MC membuka acara yang akan mengucapkan selamat datang dan memanjatkan doa agar acara lamaran berjalan lancar. Bercerita sedikit tentang kedua calon mempelai.
Selanjutnya MC menanyakan maksud kedatangan keluarga dari pria ke tempat keluarga wanita.
Pria itupun memberikan mikrofon pada Reza, " Om, Tante kedatangan Saya bermaksud untuk melamar secara resmi. Dan izinkan saya untuk meminang Luna sebagai pendamping hidup saya, dan kami meminta restu pada Om sama tante karena selaku orang tua" Reza menunduk hormat dengan sikap tenang meskipun gugup.
Dan mikrofon pun diberikan kepada Gerraldy, "Atas nama keluarga, sekaligus Ayah dari Luna menyetujui dan merestui lamaran kamu Reza. Dan Saya harap kamu tidak menyakiti apalagi sampai Luna menangis, Bila hal itu terjadi saya akan sunat kamu yang kedua kalinya". Ucap Gerraldy seraya becanda sambil memperagakan gerakan memotong hingga semua orang yang berada diruangan tertawa riang dan acara lamaran yang tadi tenggang menjadi lebih santai.
Sontak membuat Reza terkejut. Ta
pi ia akhirnya lega, telah dapat restu dari kedua orang tua Luna.
Sedangkan Luna hanya bisa tertawa melihat ekspresi Reza yang terkejut mendengar ancaman ayahnya.
Ketika suasana sudah mulai hening kembali, kini giliran Reza berbicara pada Luna yang sekarang ada dihadapannya yang terlihat cantik dan juga gugup.
Aduh! Tenang! Tenang! Dalam hati Luna.
"Luna Anatasya Gerraldy mau kah kamu menerima lamaranku menjadi pendamping hidupku sekarang dan selamanya?"
Jantung Luna semakin berdebar, seakan badannya menjadi kaku dan beku. Ia melihat kesekeliling menatap semua orang yang menunggu jawabanya.
"Saya terima". lugasnya dan matanya berkaca-kaca saking bahagianya.
Semua pun bernapas lega saat mendengar jawaban Luna.
Setelah mendapatkan lamaran diterima, keluarga dari Reza menyerahkan seserahan yang mereka bawa kepada keluargan Luna.
Penyerahan secara simbolis dilakukan Yunita dan Jessy selaku ibu calon mempelai. Banyak bawaan yang mereka bawa dari barang branded dan barang mewah lainnya.
Setelah acara seserahan, dilanjutkan dengan acara penukaran cincin.
Reza dan Luna berhadapan dan sudah disiapkan cincin berlian dari Tiffany & Co.
Pria MC itu berbicara, "Nah, sekarang acara penukaran cincin silahkan untuk Mas Reza dan Mbak Luna untuk mengambil cincin yang sudah disiapkan".
Reza memasangkan cincin bermata berlian ke jari manis Luna, dan tampak cantik disematkan di jari putihnya, dan begitu pula sebaliknya Luna memasangkan cincin itu pada jari manis Reza pria yang akan menjadi suaminya nanti.
Reza pun mencium kening Luna.
"Sekarang aku sangat bahagia, karena sekarang aku sudah resmi melamar kamu". ucap Reza memandang pada wanita dihandpanya yang terlihat merona merah diwajahnya.
"Aku juga sangat bahagia, karena kamu adalah pria yang dititipkan oleh-Nya untuk menjadi pendamping hidupku". Sumbringah wajah Luna mendapati dirinya bisa berbicara romantis sekarang ini.
Semaunya pun bersorak mengucapkan 'Selamat' sebagai bentuk dukungan.
Setelah selesai dengan acara penukaran cincin. Keluarga dari Reza maupun Luna saling berbicang saling mengenal satu sama lain.
"Reza, Luna. Sekarang kalian harus bisa mempertahankan hubungan kalian dengan baik. Jangan saling egois sendiri. Karena kalian akan menjadi satu, dan hapus semua pikiran negatif kalian karena biasanya sebelum acara pernikahan selalu ada masalah datang sebagai tantangan awal. Jadi kalian harus siap menyikapinya". Tegas Galang memberikan sebuah penerangan untuk keduanya.
"Iya benar kata ayah kamu, biasanya dalam kondisi begini banyak cobaanya". Sahut Yunita memandang pada putra keduanya yang sebentar lagi akan menjadi seorang suami.
"Reza, mengerti. Terima kasih untuk nasehatnya. Dan Luna mengangguk setuju dengan calon suaminya ini.
"Dan kamu Reza awas main-main dibelakang Luna, masih ingat ancaman Om". ucap Gerraldy memberi peringatan.
Reza berdeham dan menelan salivanya, "Iya Om" ucapnya sedikit gugup.
"Eh kodok, Reza nggak akan macam-macam. Anak Winajaya selalu memegang komitmennya. Contoh aku ini, Kakaknya Abdul selalu setia sama pasangan hidup sendiri". Tukas Galang membela.
"Oke percaya sama kamu curut". jawab Gerraldy paham.
Pernikahan sudah ditetapkan menjadi satu minggu setelah acara lamaran.
Bukan mendadak tapi semua ini sudah diatur matang-matang oleh keluarga belah pihak dan tentunya persetujuan dari kedua calon mempelai, dan surat undangan pun akan disebarkan besoknya.
•••
Setelah Acara lamaran kemarin berlangsung Luna ditemani Jessy untuk fitting baju mereka untuk acara pernikahannya yang akan diadakan dihotel bintang lima. Karena kedua sahabatnya sedang kuliah jadi ia tidak ingin mengganggu acara belajarnya.
Selama beberapa minggu kedepan keluarga Luna tinggal di apartemen yang sengaja dibeli oleh Galang untuk keluarganya. Apartemen dilantai yang sama dengan Reza. Dan tidak usah menginap dihotel segala, dan karena Gerraldy juga menolak untuk tinggal di penthouse Winajaya yang sangat mewah itu.
Sudah sampai di butik kenamaan di Indonesia, Luna dan Jessy beserta Deleena masuk ke dalam dan sudah menunggu Ibu mertua dan Sarah disana untuk menemani fitting baju pengantin.
Sebuah ruangan yang dipenuhi Gaun pengantin dan Kebaya yang sudah dipasang di manekin yang mendominasi warna putih.
"Tante, Mbak Sarah maaf terlambat" seru Luna tidak enak hati karena mereka sudah menunggu.
"Kami juga baru datang". Sahut Yunita pada calon menantunya dan mencium pipi kanan kiri sebagai sapaannya, begitu pula denga Jessy dan Sarah.
"Kemana Reza, apa dia belum datang?". tanya Jessy tidak melihat pria itu karena keduanya harus fitting baju.
"Mas Reza, masih dikantor. Habis meeting dia akan kemari". Luna beritahu.
Menunggu kedatangan Reza. Jessy, Luna dan Sarah sibuk melihat katalog majalah dengan keakraban nya sekarang, dan sementara Luna dan Deleena menonton film di ponselnya, dan disela itu juga keduanya mengobrol, karena sudah lama tidak bertemu dengan adiknya Luna sangat dirindukannya.
Tiba-tiba seekor kucing datang menghampiri Luna dan Deleena, dan kucing itu pun melompat ke pangkuan adiknya.
"Sehr schon, ich habe eine perserkatze zu hause". ucapnya dalam bahasa ibunya, dan mengelus kucing itu. (Cantik sekali), (Aku juga punya kucing persia di rumah)
Luna memperhatikan Deleena begitu saksama, "Wie ist ihr name?" tanyanya ingin tahu dan mengelus juga kucing yang berada di pangkuan Deleena. (Siapa namanya?)
"Muela". Balasnya masih bermain dengan kucing anggora yang entah punya siapa.
"Muela! Männlich oder weiblich?". Tanya Luna penasaran. (Muela! Jantan apa betina?")
"Weiblich". Singkatnya. (Betina)
Saat asyik dengan kucing yang tak tahu milik siapa.
Seorang pria dengan badan tinggi besar sedikit gemulai datang menghampiri seraya menatap dan membuka sedikit kacamata hitamnya yang dia pakai, "Oh Xavi. Sini sayang! Aku mencarimu kemana-mana". ucapnya dan melayangkan kedua tangan kedepan dan memanggil kucing yang berada di pangkuan adiknya.
Kucing itu pun menghampiri pria gemulai itu, "Anak pintar". ucapnya saat kucing itu sudah berada di pelukannya.
Yunita menghampiri pria gemulai itu, "Hei Gugun. Lama tidak bertemu denganmu". serunya dan memberikan salam tempel pipi kiri dan kanan. Dan begitupun dengan Jessy dan Sarah.
"Ini Luna calon menantu aku yang pernah aku ceritain". Yunita menyentuh bahu Luna dan memperkenalkannya pada Gugun.
"Oh my god, so beautiful. Apa dia model?". seru Gugun memandang Luna dari atas sampai bawah mengagumi bentuk tubuh wanita yang dihadapannya.
Luna merasa tidak nyaman dipandang seperti itu, " Bukan, aku cuma mahasiswa biasa". sahutnya.
"Sayang sekali, padahal kamu punya badan yang bagus". Pungkas Gugun menyayangkan.
"Hei cukup, apa kamu sudah menyiapkan kebaya dan gaun pengantin Luna pakai di hari pernikahan". ucap Sarah merasa risih saat Luna dipandangi terus, meskipun dia pria gemulai. Tapi dia adalah pria biasa seperti yang lain.
"Tenang saja, Nyonya Sarah. Aku sudah menyiapkan yang terbaik". balasnya dengan mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas yang terbuat dari anyaman.
Gugun memerintahkan pada Asistennya untuk membawa semua gaun dan kebaya yang sudah mereka siapkan, banyak bermacam-macam Gaun dan Kebaya yang terlihat mewah dan cantik. Luna mencoba beberapa kebaya dan menggantinya di ruang ganti ditemani Asisten wanita untuk membantunya.
Setelah cukup lama mengganti kebaya yang sudah ketiga Luna keluar dengan kebaya, berwarna Cream dengan mutiara di tengahnya saja sebagai pelengkap dan kalian tahu Gugun begitu terpesona dengan tubuh Luna yang ramping dan padat.
Melihat dari kejauhan, Reza merasa kesal karena tatapan Gugun begitu mesum sontak ia langsung menghampiri Luna dan mengecup bibir kekasihnya, tanpa melihat situasi di sekitarnya.
Luna terkejut, "Mas Reza" ucapnya menutup bibirnya dan merasa malu dilihat oleh orang disekitarnya yang melihat adegan yang dilakukan tadi.
"Reza! Kamu itu tidak sopan ya, main cium Luna didepan kita". Gerutu Sarah melihat adegan kedua seperti di dalam drama korea yang dia sukai.
Jessy dan Yunita hanya menggelengkan kepala pelan karena mereka memaklumi keduanya masih muda.
"Sorry, abis si Gugun mesum banget lihatin badan Luna". Cerutu Reza sambil menepuk dada Gugun pelan hanya bercanda.
"Ampun, Mas Reza yang ganteng. Gugun juga kan pria normal meski begini". sahutnya Gugun gemulai manja di hadapan Reza.
"Awas! Jangan macam-macam sama Luna".
"Yes, sir".
Setelah memilih sekitar lima jam lamanya, mereka pun sudah menetapkan Gaun dan Kebaya yang Luna akan pakai, begitu juga dengan Reza semua Jas sudah dicoba.
Cukup sampai disini, mereka pun berniat untuk segera pulang dan sementara kedua calon pengantin ingin bermain-main karena ini hari terakhir mereka bertemu, besoknya mereka berdua harus dipingit tidak boleh bertemu sampai acara akad nikah dilakukan.
Di dalam mobil Luna menyalakan Radio dan sebuah lagu menemani mereka dalam perjalanan.
♪ ♬♬ ♪
Marry Your Daughter – Brian McKnight
Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl
that I’ll love for the rest of my life
And give her the best of me ’til the day that I die
♪ ♬♬ ♪
"Lagu ini pas banget waktu aku kemarin melamar kamu, sampai sekarang aku masih belum percaya, ini kayak mimpi tahu nggak? Akhirnya aku bisa menikah sama kamu, sayang". Ucap Reza menoleh pada wanita akan menjadi istrinya itu.
"Mau aku cubit, biar kamu sadar kalau ini bukan mimpi?", seru Luna menatap wajah Reza dan menunggu jawabanya.
"Nggak, aku nggak mau dicubit, maunya dicium". Reza menyentuh bibirnya dengan jari manisnya.
Luna mengerut dahi, "Dasar mesum! Mesum". Ia memukul bahu Reza kesal dan mencubit lengannya.
Reza mengelus bekas cubitan Reza dilengannya, "Sakit tahu nggak. Lihat pembalasan Akang Reza pas Honey moon", goda nya membuat Luna menjadi merah merona karena ucapannya.
"Mas Reza! kamu kemudi mobil yang fokus jangan mesum melulu pikirannya". keluh Luna malu dan kesal terus digoda pria di sampingnya.
"Iya, sayangku".
Setibanya di restoran Segarra, tempat di Ancol jakarta. Ingin menikmati makan malam romantis di pinggir pantai.
Segarra adalah tempat makan di Jakarta yang pas buat Luna dan Reza, bukan hanya karena atmosfer dan menarik yang menarik, tetapi juga karena menu makanan yang juga menarik untuk dicoba. Tapi terlepas dari itu, Segarra menjadi salah satu tempat makan di Jakarta dengan tempat yang kece untuk berswafoto.
Seorang pelayaran menghampiri keduanya, dalam menu masakan yang ditawarkan, mulai dari masakan Italia, Barat, Jepang hingga lokal Indonesia.
Mereka memesan makanan lokal, karena bosan harus makan menu Western, Italy maupun Jepang. Karena keduanya memesan Sop Buntut kesukaan keduanya, dan juga Empal Gentong yang fenomenal di restoran ini yang harus dicoba.
"Jadi, besok beneran kita dipingit?". keluh Reza menopang wajahnya di kedua sisi tangan yang diatas meja, merasa hal ini akan menyiksanya tidak melihat Luna selama 5 hari akan buat dirinya gelisah.
"Iya kita memang harus dipingit, biar kamu nggak mesum sama aku lagi". tukas Luna menyindir kekasihnya itu yang tidak suka dengan acara pingit sebelum menikah.
Reza menatap dengan senyum mencurigakan, "Berarti hari ini kita puas-puasin dulu. Ada banyak hal yang mau aku lakukan sama kamu malam ini. Apalagi nggak ketemu beberapa hari bakal bosan banget nanti".
"Mau lakukan apa memang, awas saja macam-macam. Kamu itu bikin aku curiga tahu nggak". cetus Luna menatap lekat pada pria dihadapannya.
Reza mencondongkan badannya "Kamu tuh yang berpikiran aneh". Reza menjitak kening Luna.
Pletak!
Luna kesakitan "Aww sakit tahu". ucapnya dan menyentuh keningnya.
"Balasan karena tadi kamu sudah cubit aku, satu sama", sahut Reza.
Ke datang pelayan membuat kedua fokus dengan hidangan pesanan keduanya tadi. Tercium wangi dari kuah Sop Buntut yang membuat keduanya tergiur. Menikmati makanan dengan pemandangan malam yang terlihat sangat indah. Setelah selesai menikmati makan malam mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen.
Setibanya di depan apartemen kekasihnya, Reza memutuskan untuk tinggal sebentar. Saat menoleh ke arah Luna yang sudah mandi dan berganti pakaian tidur. yang terlihat fresh. Memang salah bila Reza memutuskan untuk masuk kemari, karena saat ini pikirannya sudah berpikir kotor.
Sabar! Sabar! Tunggu sebentar lagi. Dalam hati Reza.
"Mas! kamu nggak mau mandi dan ganti baju dulu, dilemari aku ada baju kamu yang sengaja kamu tinggal waktu itu". suruh Luna melihat pria dihadapannya terlihat lelah karena masih berpakaian kerja.
"Aku mandi dulu".
Luna merebahkan tubuhnya diatas sofa sambil menutup matanya. Menggelengkan kepalanya dengan mata yang menutup, ketika banyangnya Reza telanjang dada mulai terlintas kembali. Apalagi sekarang kedua berada di satu ruangan.
Ayolah Luna! Jangan berpikiran mesum. Batinnya.
Semenjak kejadian itu, Luna terus saja berpikir mesum padahal ia selalu melihat pria di majalah Fashion tapi tidak seperti dia melihat kekasihnya itu.
Itu benar-benar nyata bisa disentuh, berbeda bila ada di majalah hanya bisa dilihat saja. Untuk kesekian kalinya ia menggelengkan kepalanya membuyarkan pikiran kotor sejak tadi.
Ini karma karena aku sering mengucapkan mesum pada Mas Reza. Lupakan! Bersihkan! Ok! Dalam hati Luna.
Beberapa menit kemudian Reza keluar sudah berganti pakaian santai. "Ini foto waktu kamu masih SMA?". Suara Reza sontak membuat Luna terkejut dan bangun membuka mata.
Ketika Luna akan merampas apa yang dipegang, dan bergerak ke arah sofa. "Mas Reza, kembalikan fotoku" tukas Luna kesal.
Kekesalan Luna membuat Reza menjadi geli, ia pun kemudian menggeserkan posisi badannya ke ujung sofa dengan lidah menjulur meledeknya.
Luna pun menjadi geram, "Dapat dari mana fotoku ini?".
"Di Atas nakas ranjang kamu". Sahut Reza masih memegang foto itu.
Sementara Luna masih dalam keadaan kesal berbalik dengan Reza malah terlihat senang meledek tak hentinya. Dan ketika Luna berhasil mendapatkan foto itu dari Reza, Luna tersenyum seraya berseru, "Aku dapat".
Reza meraih pinggang Luna yang jaraknya dekat dengannya sekarang mah dan berbaring di sofa saat ini, dan posisi Luna berada di atas badannya. Reza Menarik tubuh Luna dan jatuh diatas dada bidangnya.
Luna pun terkejut ketika wajahnya sekarang berada di dekapan kekasihnya. Tangannya terus menahan tubuh Luna erat hingga ia tidak bisa bergerak dan keluar dari dekapannya.
Bahkan Luna bisa mendengarkan detak jantung Reza, dan tanpa berpikir panjang Luna meronta minta dilepaskan namun pelukannya semakin dan sangat erat hingga ia susah untuk melepaskan diri. Dan melupakan masalah tentang foto itu.
"Mas Reza! lepaskan!" kesal Luna terus saja meronta.
"Biarkan seperti ini. Besok kita dipingit dan aku tidak bisa peluk atau cium kamu lagi, kamu tega hah?" Reza berkata manja dan masih memeluk dan merapatkan tubuhnya.
Luna merona malu "Iya tahu itu. Tapi tidak dengan posisi seperti ini" keluhnya merasa tidak nyaman dengan posisinya.
"Kenapa memang? Dan Asal kamu jangan bergerak-gerak saja nanti–" belum selesai dengan ucapanya Luna terlebih dulu menyahut.
"Mesum! Cepatan lepaskan. Pulang Mas bentar lagi Jessy mau kesini". ucap Luna berbohong.
"Ganggu saja!". Cetus Reza dan melepaskan pelukannya, kembali dalam posisi duduk.
Dengan cepat Luna membawa Reza ke arah pintu apartemen dan membuka pintu, agar keduanya tidak berbuat yang lebih parah lagi.
"Aku pulang ya". ucap Reza di ambang pintu sembari senyum.
Luna melambaikan tangannya dan wajahnya tersenyum merasa tidak enak hati karena ia berbohong. Sejujurnya ia ingin terus bersama tapi itu tidak bisa, ia takut kalau kedua bisa berbuat hal yang tidak diinginkan.
Sial !
Pria itu membalikan badannya melangkahkan kaki ke arah Luna.
Mas Reza kenapa?
Sontak membuat Luna terkejut oleh apa yang Reza lakukan menarik dan mendorong tubuhnya ke dinding tepat di dalam apartemen dekat dengan pintu yang masih terbuka.
Dan mengecup bibir Luna. Bukan hanya sekedar kecupan lama-lama menjadi dalam seakan-akan Reza ingin terus menciumnya tanpa henti.
Pikiran Luna menjadi kosong dan ia menikmati ciuman yang Reza berikan. Dan sementara itu tangannya diletakkan pada pinggang pria itu. Reza pun menangkupkan kedua tangannya di wajah Luna untuk lebih mudah memperdalam ciumannya. Sebelum itu Reza menggigit bibir bawah Luna agar bisa menautkan lidah keduanya
Luna mengerang karena kehabisan napas, Reza pun melepaskan ciumannya, "Mas" napas keduanya masih berat dan terengah-engah.
"Cukup sepertinya. Aku...harus pulang". Bisik Reza.
Luna mengangguk pelan.
Reza pun kembali pulang ke apartemen, karena kejadian hari ini membuat tubuh Luna merasa lemas dan membaringkan badannya diranjang.
Huh! Besok sudah dipingit.
♥♥♥