
♥♥♥
Sudah hampir tiga hari tidak bertemu membuat Reza semakin gelisah setiap harinya. Hanya bisa mendengar suara dari mulut manis calon istrinya. Video call saja tidak bisa katanya sama mereka bertemu secara tidak langsung.
Sebenarnya dia bisa saja kalau bertemu tapi Luna tidak ingin melanggar aturan yang sudah dibuat kedua orang tuanya. Memang kolot masih percaya hal itu, tapi tradisi yang memang harus keduanya lakukan.
Dikantor Reza menyibukkan diri untuk melakukan aktivitas biasanya dokumen yang harus dicek dan ia tandatangani sudah menumpuk diatas meja. Soni sekretarisnya datang menghampiri dan meletakkan dokumen baru.
"Ini adalah dokumen kerjasama kita dengan Soho Group di Jepang, Mr. Kanazawa" ucap Soni sambil menjelaskan isi dokumen pada Atasannya yang sembari tadi begitu gelisah dan tak bersemangat.
"Benarkah? Kapan kita bertemu dengannya? Dan saya harap mereka bisa bekerjasama dengan perusahaan kita". Sahut Reza memijat keningnya dan menyandarkan tubuhnya di kursi sembari cek dokumen di tangannya.
"Saya sudah buat janji dengan sekretarisnya, beliau menyetujui satu minggu dari sekarang".
"Berarti setelah pernikahanku. Bagus aku juga akan mengajak Luna. Persiapkan perjalanan kita nanti. Aku juga akan melakukan Honeymoon disana".
"Baik saya mengerti, Pak".
Setelah selesai dengan laporannya Soni bergegas keluar dan mempersiapkan segalanya.
Sebenarnya Reza sudah mempersiapkan untuk Honeymoon ke Paris, France. Tapi, ternyata ada pekerjaan yang lebih penting dan mengubah Honeymoon nya ke Jepang sembari mengurus kerjasamanya dengan Soho Group.
Waktu berjalan dengan lambat hari ini, membuat pria yang sembari tadi hanya duduk bersandar dikursi tahtanya. Sudah beberapa kali ia sudah telpon calon istrinya tapi tidak diangkatnya. Dan chat pun tidak dia baca dan balas membuatnya semakin stres.
Reza mengacak rambutnya, "Astaga, dia kemana sih susah dihubungi sudah tahu aku tersiksa disini tidak melihatnya beberapa hari" umpatnya kesal.
Beberapa saat Reza berjalan melangkahkan kakinya keluar ruangan. Dan Soni berdiri dari duduknya saat Atasanya mengarah ke meja kerjanya terlihat stres dengan dasi yang sudah dilonggarkannya sedikit tak biasanya.
Ia memaklumi semuanya karena tahu bahwa Reza sedang masa pingit dengan Luna itu.
"Anda mau kemana, Pak?". tanya Soni pada pria yang sekarang berada di hadapannya.
Reza menghela napas, "Temani aku ingin minum Coffee di ruangan membuatku kacau kamu tahu itu". ujarnya.
"Baiklah, Pak". balas Soni dan segera mengikuti pria itu memasuki lift eksekutif-nya, menelpon Pak Yanto untuk menunggu mereka di depan karena Atasannya akan keluar kantor.
'Ting'
Pintu lift terbuka, dan banyak karyawan berlalu lintang di sekitar lobby. Karyawan menunduk dan menyapa hormat saat Reza keluar. Dan mungkin juga mereka sedang membicarakan dirinya dengan penampilan yang sangat kacau hari ini.
Mobil sudah Standby di depannya dan keduanya masuk untuk segera ke Cafe langganan mereka bila sedang suntuk seperti ini.
Di dalam mobil Reza masih saja belum menyerah untuk menelpon kemabli Luna yang entah apa yang sedang dia lakukan sehingga tidak sempat angkat panggilannya yang sudah ke 38 kalinya.
Shit ! Kenapa tidak diangkat sih.
Soni mengerut alisnya mendengar Atasan sekaligus Sahabatnya sedang mengumpat.
"Sabar dong, mungkin dia lagi sibuk di salon untuk mempercantik dirinya nanti di acara pernikahan?". Sahut Soni menepuk bahu Reza agar tetap sabar dan tenang.
Mungkin tidak banyak orang-orang tahu bahwa keduanya bersahabat dan saat pertama kali dia diberi jabatan menjadi CEO di sini Reza memilih sahabatnya Soni sebagai sekretarisnya. Bukanlah orang lain yang biasa memakai sekretaris wanita dengan body bagus seperti kebanyakan Boss di perusahaan lain.
"Mungkin saja. Hah! Aku sangat merindukannya" tungkasnya sembari menghela nafas pelan dan membuka dasinya yang membuatnya sesak.
"Aku paham kamu rindu padanya, tapi hal itu akan sangat manis di akhirnya. Kamu bisa puas setelah kalian bertemu di pernikahan nanti melepas rindu kalian. Dan kalian sudah SAH. Lakukan saja yang ingin kamu lakukan nanti sudah HALAL juga kan". Goda Soni.
Membuat Reza menjadi kikuk, "Sialan kamu, Soni". serunya sedikit tersenyum senang.
Soni pun tertawa melihat Reza yang terlihat malu padahal sudah dewasa untuk membicarakan hal seperti Sex dan Love.
Abel Calling…
HAH! Mau apa lagi sih?
"Ada apa, Abel?" Reza menjawab panggilan adiknya dengan nada mala.
"Apa kita bisa bertemu, ada yang ingin Abel kasih tahu sama kakak ini lumayan penting" sahut Abel terdengar gusar.
Reza terlihat cemas, "Baiklah temui kakak di Cafe biasa, sekarang kakak dalam perjalan kesana". Jawabnya dan mendengar suara adiknya begitu cemas mungkin pembicaraannya benar-benar penting.
"Oke Abel kesana sampai jumpa", kata Abel merasa lega.
"Iya". Singkat Reza.
Panggilan pun berakhir.
Reza mengecek kembali ponselnya dan masih belum ada tanda-tanda Luna menelpon balik, atau membalas Chatnya. Benar apa kata Soni mungkin Luna sedang sibuk mempersiapkan dirinya untuk pernikahan mereka.
Reza menyerah, menyimpan ponselnya kedalam jas abu-abunya. Ia berharap kekasihnya itu akan menelponnya balik kalau tidak dirinya akan nekat untuk menemui dan menculiknya di apartemen dan membawanya ke suatu tempat yang tidak ada seorang tahu.
Luna I Need You!
Setiba di Cafe keduanya turun mobil, membuka knop pintu mobil oleh Soni dan menahan pintu agar Reza bisa keluar dan membereskan jas nya terlihat berantakan.
Abel adiknya sudah berada di tempat tanpa dia duga dan menghampiri meja tersebut dan duduk.
Sikap Abel menjadi agak gugup karena kakaknya datang dengan Soni, Dia itu adalah First Love nya. Tanpa Soni tahu dan yang tahu adalah kakaknya sendiri.
"Eh! Ada Bang Soni". Seru Abel senang melihat pria tampan yang selalu dikaguminya sampai sekarang.
Soni tersenyum manis, "Aku kesini mau nemenin pria yang lagi galau karena calonnya susah untuk dihubungi". kata Soni meledek Reza melihat ke arah pria galau itu sekilas.
Abel tertawa! Haha!
"Kak Reza galau nih ye! Kasian nggak bisa lihat Bebebnya". Ledek Abel puas, tahu kakaknya ini tidak bisa sehari tidak bertemu Luna.
"Ledek terus! Cepat apa yang mau dibicarakan". Reza sewot selalu diledek oleh adiknya yang satu ini.
Sementara itu Soni bergegas memesan Coffee untuk mereka, dan berdiri tepat di kasir memilih Coffee kesukaan mereka.
"Jadi aku mau kasih tahu, kalau Aldo sudah kembali ke Italia. Kemarin sore dan dia menitip sesuatu buat kakak". ucap Abel menatap Reza penuh ingin tahu reaksi kepergian Aldo yang sudah dianggap adiknya, karena Aldo dan Lisa adalah anak yatim piatu dan hidup di panti asuhan.
Semejak meninggalnya Lisa, Aldo begitu membenci dirinya karena tidak bisa menjaga kakak perempuan yang hanya dua keluarga satu-satunya.
Tapi lambat laun dia bisa menerima semuanya dan orang tua Reza pun membiayai semua sekolahnya selama ini sampai dia bisa mandiri sendiri seperti sekarang mempunyai restoran sendiri.
Reza mengambil bingkisan itu, "Kenapa dia tidak memberitahuku?" serunya merasa bersalah pada Aldo karena sikapnya yang terlalu egois.
"Entahlah!", balas Abel juga tidak tahu.
Dasar Aldo Bodoh ! Aku itu sayang sama kamu. Bagaimanapun juga Lisa memintaku untuk menjagamu dan memberikan keluarga yang tidak pernah kalian miliki sebelumnya.
Kedatangan Soni membawa sebuah nampan, mengalihkan keduanya dan melihat pria itu membawakan Coffee pesanan dengan Dessert sebagai teman Coffee mereka.
"Aduh! Bang Soni terima kasih", ujar Abel kagum dengan pria itu.
"Iya Abel" ucap Soni sambil mengelus rambut pangkal Abel lembut dan membuat wanita itu malu dan merasa senang dengan perlakuannya.
Melihat sikap adiknya, Reza tahu bahwa Abel masih menyukai Soni. Dan Ia pun tidak melarang adiknya untuk menyukai sahabatnya, karena memang Soni pria yang baik.
Reza pun senyum seringai, ingin mengerjai Adiknya dan balas dendam karena selalu meledeknya.
"Udah jangan dipandang terus Soni nya yang ada nanti kadar ketampananya menurun karena kamu lihatin terus-terus tanpa berkedip" sahut Reza membuat Abel tersedak saat akan meminum Coffee Ice nya yang sedang disedot minum.
Uhuk! Uhuk!
Abel benar-benar dibuat kaget oleh Reza, dengan sigap Soni menepuk panggung Abel pelan tepat disisinya dan memberikan minum air mineral yang Ia beli tadi.
"Terima kasih, Bang Soni". kata Abel menatap Soni yang begitu perhatian membuat keduanya malu saat pandangan kedua bertemu.
Reza berdeham mengganggu aktifitas keduanya yang kepergok bertatapan, "Hmm"Dan Ia berhasil membuat keduanya salah tingkah.
"Kak Reza!" sentak Abel kesal dan memukul lengan Reza dengan kencang dan merasa kesakitan.
Soni hanya bisa melihat keduanya tertawa pelan, adik dan kakak ini seperti Tom & Jerry bila sudah bertemu.
"Berhenti Abel sakit" keluhnya, "Kamu sama Luna sama selalu pukul tangan aku kalau lagi ngamuk begini" katanya dan Abel pun berhenti memukul.
Abel kesal dan melipat kedua tangannya di dada, namun saat itu juga seorang menghampiri meja ketiganya yang asyik bercanda.
"Mas Reza!" panggil wanita itu dan duduk ikut nimbrung tanpa permisi dan menoleh ke arah Abel wanita yang Ia kenal.
Abel terkejut kaget, karena kakaknya mengenal Nenek sihir ini. Alisha!
"Kamu ngapain disini Alisha?" tanya Abel curiga jangan bilang kalau wanita itu ingin mendekati kakaknya. Ini Gila! Membuatnya pusing jangan sampai kejadian dulu kembali terulang.
Alisha sangat berbahaya. Luna kasihan sekali harus berurusan dengan Alisha lagi.
"Kamu sendiri ngapain disini?" Alisha balik tanya tidak tahu kalau Abel itu adik dari Reza pria yang ada di sampingnya.
Reza penasaran, "Kalian saling kenal? Abel itu adik aku". Jelasnya dan menatap penasaran pada kedua wanita yang terlihat tidak begitu akrab.
"Kita satu satu sekolah waktu SMA, tapi kok kakak kenal dia sih?" sinis Abel melihat ke arah Alisha yang begitu terlihat seperti wanita nakal dengan baju pendek dan ketat.
"Dia ini anak Pak Fredi karyawan kakak, karena dia selalu datang ke kantor. Makanya kenal sama dia". Tungkas Reza.
Alisha sumringah, "Tahu kamu adik Mas Reza kita bisa berteman dengan baik?" sahutnya menebarkan senyum terbaiknya.
"Teman? In your dream". Ketus Abel mengalihkan wajahnya ke sembarang arah agar Ia tidak melihat ekspresi wajah Nenek sihir itu.
Alisha terlihat kesal dengan ucapan kasar Abel yang menunjukkan ketidak sukaan.
Reza dan Soni hanya diam dengan pertemuan kedua wanita itu yang tidak terlalu baik. Mungkin di masa lalu mereka ada masalah yang belum dituntaskan sampai sekarang.
"Kamu menunggu seseorang disini?", tanya Reza mengalihkan pertengkaran mereka.
Alisha menoleh memberikan senyum godanya, "Iya aku lagi menunggu seseorang, apa aku boleh ikut duduk sampai temanku datang?", Alisha sembari mengubah posisi duduknya melipatkan kakinya sehingga betis dan pahanya yang mulus terlihat sengaja memamerkannya.
Abel dibuat risih dengan penampilan Alisha yang terlalu menggoda pria, tapi dilihat dari ekspresi kedua pria di meja tidak begitu memperdulikan sikap Alisha lebih tepatnya tidak begitu membuat pria itu tergoda.
Luna Calling…
Suara dering ponsel Reza terdengar nyaring dan diangkatnya.
"Sayang! Maaf aku tidak bisa angkat telpon kamu, Aku tadi sedang di salon melakukan treatment kecantikan dengan Jessy dan Ibu kamu. Mas gak marahkan??". Kata Luna di ujung telpon terdengar cemas.
Reza tidak menjawab.
Sementara orang di dekatnya menatap pria itu penasaran.
"Kok kamu diam saja, marah sama aku? Aku kan sudah minta maaf. Apa kamu mau bertemu sama aku sekarang sebagai permintaan maaf aku?". ucap Luna lagi, Ia tahu kalau kekasihnya itu marah karena ada puluhan panggilan yang tidak terjawab olehnya.
Reza tersenyum, "Apa boleh kita ketemu. Bukan aku yang meminta, kamu sendiri?". Serunya kegirangan akan bertemu dengan Luna yang amat dia rindukan.
Melihat raut wajah Reza yang tiba-tiba berubah Abel dan Soni tahu bila itu telpon dari Luna, berbeda dengan Alisha yang terlihat kesal melihat Reza yang asyik bertelepon dengan seseorang.
"Baiklah nanti malam kamu ke apartemen tapi nggak lama, kamu tahu kan?".
"Iya, Sayang aku mengerti asal aku bisa ketemu sama kamu, meski cuma sebentar tapi itu waktu paling berarti buat aku".
Mendengarkan gombalan Kakaknya, membuat Abel ingin muntah.
"Makanya maafkan waktu sedikit itu dengan hal yang baik bukan mesum".
Reza tertawa pelan, "Ya, say―" ucapan Reza berhenti dan menoleh pada saat Alisha berdiri.
"Mas, Aku pergi dulu ya, sampai jumpa nanti". ucapnya penuh goda dengan suara bisik lumayan keras hingga terdengar oleh Luna diujung telpon.
Reza hanya tersenyum mengangguk pelan dan kalian tahu Luna langsung merespon suara Alisha yang terlihat sengaja.
"Mas kamu sama seorang wanita ya? Siapa? Kamu main-main dibelakangku?". Teriak Luna dengar suara seorang wanita yang membuat pikirannya negatif.
"Dengar sayang, dia hanya kenalan aku kok bukan siapa-siapa. Aku disini sama Abel dan Soni, kamu tidak percaya. Kamu bicara sama Abel?". Sahut Reza cepat karena Luna terdengar marah.
"Bohong ! Kamu nggak usah ke apartemen". Kekeh Luna marah dan langsung menutup panggilannya.
Tut! Tut!
Sial ! Kok jadi begini sih ? Ya gusti
Abel dan Soni menatap pria yang sedang frustasi itu makin kacau, memang ini ujian untuk kedua nya yang harus mereka hadapi karena akan melangkah ke jenjang pernikahan.
"Lagian Kak Reza. Izinkan Nenek Sihir buat duduk disini, jadi beginikan?" Abel mengangkat kedua bahu dan memandang penuh rasa kasihan pada Reza yang semakin galau kena marah Luna.
Alisha bakal jadi Calon pelakor! Dalam batin Abel.
"Memang dia itu siapa sih? Bang Soni nggak suka sama sikap dia. Kamu kenal tapi kelihatan banget nggak sukanya". Soni bertanya penasaran sejak tadi Ia memperhatikan Abel tidak menyukai kedatangan Alisha duduk bersama.
"Dia itu...yang buat hubungan Luna sama Aldo dulu putus, maksudnya orang ketiga diantara hubungan keduanya. ITU DULU! " Jelas Abel dan menekan bahwa itu kejadian sudah lama tidak ada hubungan dengan sekarang.
Reza terkejut, "Jadi yang jebak Aldo itu Alisha". Katanya.
"Jadi Kak Reza nggak usah dekat-dekat sama itu orang dia itu berbahaya. Aku nggak mau kejadian dulu terulang lagi sama Luna, kalau sampai Kakak macem-macem aku orang kedua yang bakalan bertindak". Cetus Abel mengeritkan mata dengan tatapan tajam.
"Kok orang kedua? Pertama siapa?" Sahut Soni ingin tahu.
Aber tersenyum jahat, "Tentu saja Om Gege. Mas Reza masih ingatkan ancamannya".
"Tentu saja masih ingat dengan ancaman Om Gege tidak akan pernah aku lupa, lagian aku nggak minat sama wanita lain. Luna adalah wanita satu-satunya yang akan aku cintai seumur hidupku. Kalian harus tahu itu". Tegas Reza.
"Reza memang yang terbaik". Bela Soni.
"Oke aku pegang kata-kata Kak Reza". Abel melihat begitu cintanya Reza pada Luna, Ia percaya bahwa kakaknya tidak akan menyakiti dan khianati Luna.
Disisi lain
Luna jalan kesana kemari menunggu kedatangan kekasihnya yang belum kunjung datang, pikiran terus berpikir jelek. Ia teringat suara wanita tadi siang dan mengenal suara wanita itu samar seperti dia kenal.
Melihat itu Barrack yang sejak tadi melihat sikap kakaknya merasa risih, "C'mon Kak. Bisa tidak berhenti mondar-mandir Barrack pusing lihatnya". keluhnya.
"Kamu tahukan Kakak lagi menunggu Mas Reza, tapi dia belum datang juga sih?", gelisah Luna. Ia dan menopang kedua tangannya dipinggang.
"Mungkin masih sibuk kerja, Positive Thinking". Kata Barrack "Duduk sini, pasti kakak pegal", ucap nya lagi dan menyuruh agar Luna duduk disofa.
"Maybe… ". Ucap Luna dan menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.
"Aku yakin Mas Reza itu orang baik. Tidak akan macam-macam sama kakak".
"Iya, aku percaya sama dia".
Setelah beberapa jam lama menunggu kedatangan Reza yang belum juga kunjung datang.
Dasar Luna bodoh! Tadi kamu yang bilang nggak usah datang ke apartemen. Pasti Mas Reza nggak akan datang.
Luna pun berdiri dan meninggalkan Barrack yang sedang sibuk menelpon dengan Rara dari tadi yang sepertinya sedang menjalin hubungan, mungkin! Gila saja kalau memang benar. Cinta memang buta!
Dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan memejamkan matanya. Namun suara bel berbunyi tapi Ia malas untuk membuka dan membiarkan saja Barrack yang melakukannya.
Pintu kamar tidak lama terbuka dan seorang pria jalan melangkah menghampiri Luna yang sedang berbaring.
"Kamu nggak mau sambut aku?" Seru pria itu berdiri dekat ranjangnya.
Sontak Luna bangun dan terkejut dengan datangnya Reza sekarang berada di kamarnya. Tanpa bicara satu patah pun Luna langsung memeluk pria itu dengan erat.
Reza kaget. "WOW! Aku tahu kamu rindu sama aku, tapi kasih kode dong kalau mau peluk". Goda Reza dan memeluk kembali Luna erat.
"Lama banget kirain kamu nggak jadi kesini". Bisik Luna ditekuk leher Reza dan mencium aroma wangi parfum kekasihnya yang sangat dia suka.
"Aku mempersiapkan dulu penampilan yang terbaik buat kamu. Kamu tau nggak aku itu sangat sangat merindukan kamu sayang, sampai-sampai kerjaan aku saja terbengkalai karena nggak bisa lihat kamu beberapa hari". ucap Reza menguraikan pelukannya dan mengecup kening Luna lama.
"Aku juga sama. Kamu tahu Jessy sama Ibu menyita ponsel aku. Biar aku nggak sering hubungin kamu". Sesal Luna dengan acara pingit membuatnya susah bertemu kekasihnya.
"Memang, orang tua kita itu kolot masih percaya tradisi di zaman sekarang. Tapi sekarang kita bisa ketemu. Aku lega banget".
"Oh Iya! Kamu punya hutang penjelasan sama aku, tadi siang siapa wanita itu, Hah? Jujur nggak boleh bohong. Soalnya aku kenal banget sama suaranya, apa orang yang sama dan aku kenal?". Kata Luna menatap tajam Reza dihadapnya yang sekarang kedua sedang dalam posisi memegang pinggang satu sama lain.
Reza menelan salivanya"Itu.. Alisha". Jawabnya jujur tidak ingin menutupi semuanya dan menatap penuh ke arah wanita yang sedang cemburu itu.
"Sudah aku duga! Pasti Alisha. Kamu kenal baik sama dia, sampai-sampai kamu dipanggil Mas begitu, mantan?". Ujar Luna membidik curiga.
Reza tersenyum dan merasa gemas dengan Luna yang terlihat cemburu. Dan Ia senang dengan sikap cemburu wanita itu pertanda baik dan berarti Luna tidak mau kehilangan dirinya.
"Kamu cemburu?". Reza menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Luna dan menatapnya penuh cinta.
"Ih...mengalihkan pembicaraan tahu nggak".
"Dengar sayang, Aku sama Alisha itu hanya sekedar kenal dia anak Pak Fredi Manajer keuangan tempat kamu magang. Tadi itu dia janjian sama temannya dan ikut di meja kita sampai temannya datang. Ada Abel sama Soni disana".
"Aku percaya kok sama kamu, terima kasih kamu sudah jujur sama aku".
Reza menatap Luna lekat dan menempelkan bibir keduanya, melumatnya dalam dengan ritme cepat entah sejak kapan keduanya sudah ada berbaring diranjang dan Reza sudah menindih Luna di atas.
Setelah terbuai dan asyik dengan cumbuan yang keduanya lakukan. Terkejut ! Pintu kamar terbuka.
"Ups…. Sorry ganggu" Abel terkejut. "Silahkan di lanjutkan kembali aktivitasnya". kata Abel lagi dan menutup kembali pintunya.
"Shit".
"Mas sih mesum".
Luna bangkit dari ranjang dan meninggalkan Reza yang masih di kamarnya.
Dasar Abel pengganggu.
Saat Reza keluar dari kamar, Abel terus saja senyum meledek mengganggu acaranya bersama Luna.
"Maaf Abel nggak tahu loh, kalau kalian lagi..." Kata Abel terhenti saat Luna menutup mulutnya dengan roti isi yang dipegang Luna.
Abel mengerang kesal.
"Ayo pulang jangan lama-lama nanti bisa Mbak Sarah curiga, kita kan cuma sebentar disini". Ucap Abel memberi tahu.
"Tapi… "
"Sudah pulang sana, aku nggak mau kamu kena marah sama Mbak Sarah". Sahut Luna.
"Kamu benar. Aku pulang". Reza mencium kening Luna lama.
Reza menoleh ke arah adiknya Luna yang sembari tadi sibuk dengan ponselnya, "Barrack jagain Luna. Jangan biarin dia dekat-dekat sama pria lain".
Barrack menoleh "OK". Jawabnya singkat dan fokus kembali dengan ponselnya.
Luna memukul dada Reza, "Sana pulang" katanya tapi tak rela.
"Sampai jumpa di pelaminan Calon istriku".
"Sampai jumpa juga Calon Suamiku"
Bagaimanapun keduanya tidak mau berpisah tapi mereka harus bersabar sampai akad nikah bentar lagi dilaksanakan. Dan setelah itu kedua boleh melepas kerinduan mereka nanti.
♥♥♥