Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
46. Kepercayaan



♥♥♥


Luna terlihat sibuk menyiapkan makan malam yang special dia masak untuk suami dan anak tercinta. Dengan bantuan Surti semuanya selesai dengan cepat. Ia melangkah kaki ke arah raung televisi melihat suami dan anaknya masih fokus menonton acara kartun. Saking fokusnya mereka tidak menyadari kedatangannya. 


"Daddy! Biboy ayo makan jangan nonton terus." Luna berkacak pinggang disisi sofa.


"Yes, Mommy." Sahut keduanya.


Ketiganya berjalan kearah meja makan dan duduk. Sedangkan Biboy masih harus disuapi oleh Mirna karena masih belum bisa makan dengan rapi.


Melihat hidangan di atas meja makan membuat Reza tergius apalagi pepes ikan buatan Luna yang enak. 


Reza sembari menyodok makanannya kedalam mulut. "Ini makanan favorit. Pepes ikan buatan Chef Luna." pujinya membuat Luna malu. 


"Nggak usah puji terus. Habiskan makanannya." kata Luna tersenyum melihat suaminya makan dengan lahap. 


"Iya sayang.. "


Mereka pun makan dengan hikmat. Selesai acara makan mereka memutuskan untuk duduk diluar teras belakang menikmati udara segar malam hari dan melihat bulan dari kejauhan. 


Sedangkan Biboy bermain riang dengan Mirna yang menjaganya sembari tadi.


"Oh iya. Minggu depan aku mau ikut reuni SMA sama Abel, Rara dan Aldo. Bolehkan?" izin Luna. 


"Boleh. Tapi aku nggak bisa temanin kamu."


"Nggak apa-apa. Kan ada mereka bertiga."


Reza menarik Luna masuk dalam dekapan, dan mengelus perut Luna yang sudah buncit yang membuat Reza begitu suka menyentuhnya. 


"Aku nggak sabar pengen lihat si kembar lahir." Reza masih mengelus perus Luna. 


"Sabar dong. Masih harus nunggu beberapa bulan lagi. Masih lama." Luna mencubit sekilas pipinya Reza. "Ma-as, kamu nggak sembunyikan sesuatu dari aku kan?" tanyanya menoleh sedikit kearah suaminya. 


Reza cukup terkejut. Tapi dia bisa menenangkan hatinya cepat. Kembali sesantai mungkin. Tidak ingin membuat Luna semakin mencurigainya tapi memang tak ada yang harus dicurigainya. Hanya masalah waktu saja. 


"Sesuatu? Nggak ada. Memang kamu curigai aku tentang apa? Bilang sama aku. Aku nggak pengen rahasia-rahasian sama kamu." balas Reza sembari mencium punggung Luna.


"Aku nggak curigai kamu. Aku cuma ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Dan itu aku nggak tahu apa. Makanya aku tanya sama kamu."


Lalu Reza menopang wajah Luna dengan kedua tangannya. "Kamu percaya sama aku?" tanya Reza menatap mata Luna dalam aksen seakan matanya masuk ke dalam bola mata. 


Luna mengangguk. 


"Cukup percaya sama aku. Karena apa yang akan aku lakukan nanti. Aku harap kamu mengerti dan memahami semuanya."


"Iya aku mengerti. Aku percaya sama kamu."


Reza mengecup bibir Luna. "Terima kasih."


Maafkan aku sayang. Masih belum bisa memberi tahu semua nya. Batin Reza.


"Sudah malam. Ayo kita masuk." 


Reza mengangkat Luna dengan gaya bridal. Cepat membawa istrinya masuk kedalam karena udara malam menjadi semakin dingin. Melangkah naik tangga dan Luna hanya bisa mendekap suaminya sekarang. Harum tubuh pria itu seakan obat tidur yang membuatnya tidur nyenyak.


Ia membaringkan istrinya di kasur. Dan mencium kening Luna lembut. "Tidurlah." bisiknya. 


Luna mengangguk dan memejamkan mata seakan dirinya terhipnotis dengan ucapan Reza. Hingga tidur lelap.


Reza terus memandangi wajah Luna yang sedang tidur. Sangat cantik. Menyentuh pipinya lembut dan mendekap tubuh Luna kedalam pelukannya.


Suara ponsel Reza terdengar. Lalu cepat diangkat dan berjalan meninggalkan kamarnya keluar dari kamar. Dan masuk ke kamar putranya yang juga sudah tidur. 


"Apa ada kabar baik, tentang dia?" Reza terlihat hati-hati.


"..."


"Benarkah? Syukurlah. Kamu tau aku hampir saja melakukannya." Balas Reza lega mendengar pria di ujung telpon menyampaikan sesuatu.


"..."


"Baiklah. Bagaimana ditempat Aldo saja. Besok tepatnya jam makan siang."


Disisi lain. Luna mengintip sedikit dipintu karena Reza tidak menutupnya rapat sehingga Luna bisa mendengar ucapan antara Reza dan orang dalam telepon meski samar-samar. Ia merasa penasaran makanya dia bangun saat mendengar ponsel Reza terdengar. Meski sudah mengantuk.


Ditempat Aldo. Jam makan siang. Apa yang kamu sembunyikan dari aku Mas Reza. Batin Luna.  


Luna bergegas masuk kembali kedalam kamar dan kembali berbaring.


•••


"Kamu happy banget?" tanya Luna santai tidak ingin pria itu tahu maksud ucapannya. 


Reza tersenyum. "Tentu saja senang. Karena tiap hari kamu selalu ada buat aku. Sarapan pagi dan makan malam kamu selalu siapin." katanya tulus. 


"Tapi makan siang tanpa aku kan." balasnya.


"Iya. Kalau makan siang aku di kantor."


Luna tak menjawab hanya melanjutkan makannya tanpa Luna sadari Reza sudah mengangkat kedua alis seperti istrinya tahu akan sesuatu. 


Tapi kembali Reza abaikan karena mood orang hamil susah ditebak.


Beberapa menit kemudian Reza berangkat pergi ke kantor dan mengecup bibir Luna begitu juga dengan si kembar dalam perut dielus lembut dan berbicara layaknya mengobrol.


Luna mengambil ponselnya. Mengetik sesuatu di ponselnya.


To: Rara


Kita bisa ketemuan sekarang aku lagi pengen makan bakso nih. Ditempat biasa.


Setelah mengirim pesan dia bergegas jalan masuk kamar dan berganti pakaian saat sudah mendapat balasan dari sahabatnya itu.


Luna sengaja memakai taksi online dan tidak minta antar sopirnya. Dan janjian di tempat bakso langganannya. 


Sesampainya di depan tukang baso Luna sudah melihat keberadaan Rara dan menghampiri dan masuk kedalam.


"Mang Gino bihun sayur tanpa toge sama campur terus minumnya es kelapa dua."  Luna memesan sebelum akhirnya duduk dekat dengan gerobak bakso. 


"Siap neng Luna. Baru mampir lagi. Kemana saja." Mang Gino menyiapkan bakso pesanan Luna. 


"Luna sibuk sama keluarga kecil ditambah lagi hamil sekarang."


"Kok nggak undang-undang sih. Sama Jang Aldo bukan?" Mang Gino sembari masukkan bakso ke dalam mangkuk. 


Luna cepat menggeleng. "Bukan mang. Maaf ya mang soalnya sibuk jadi banyak juga yang nggak diundang."


"Iya nggak apa-apa. Maaf mamang nggak tahu."


"Aldo mah masa lalu, Mang. Luna mah banyak yang naksir. Suaminya aja boss perusahaan gede." timpal Rara memberikan info terupdate kepada mamang tukang bakso.


Mang Gino meletakkan bakso pesanan keduanya di meja. Tak lupa juga es kepala. Membuat selera makan Luna semakin menggebu. Karena sudah tidak memakan bakso Mang Gino.


"Asyik dong istrinya boss. Bakso mamang bisa diborong." kata Mang Gino berdiri di dekat sembari meletakkan sambal yang sudah diisi penuh. 


"Sialan kamu." cetus Luna pada Rara. 


Mang Gino meninggalkan keduanya agar bisa menikmati baksonya. Selesai makan, Luna minta dibuatkan 10 bungkus bakso. Entahlah untuk apa dia membeli bakso begitu banyak. 


Rara mengantarkan Luna ke restoran Aldo karena dia masih penasaran dengan Reza bicara dengan seseorang di telepon.


•••


Luna sudah berada di depan restoran masih belum beranjak dan mematung sejenak. 


Aku harus berpikir positif. Aku sudah janji aku akan percaya dengan Mas Reza. Batin Luna. Apakah aku pura-pura menemui Aldo saja ya. Batinnya lagi.


Luna masuk kedalam menemui pegawai restoran yang berdiri di depan kasir. Pria itu tersenyum ke arahnya.


"Ada yang bisa saya bantu?"  ucap pria itu sopan.


"Saya ingin bertemu dengan Pak Aldo. Saya Luna temannya." balas Luna pada pria itu mengangkat alisnya.


"Baik tunggu sebentar."


"Baik." 


Luna duduk di kursi kosong.


Pria itu pergi dan menaiki tangga pergi ke lantai dua. Berjalan mendekati ruangan khusus di ujung dn mengetuk pintu hingga menunggu dibukakan pintu. Karena dia tahu ada tamu didalam. 


Pintu terbuka. "Ada apa?" tanya Aldo pada pria di hadapannya.


"Maaf pak saya mengganggu. Ada seseorang yang ingin menemui anda. Namanya Luna." Jawab pria itu sedikit gugup.


"Luna?!" Aldo terkejut bukan main tidak biasanya dia kesini. Ini adalah kejadian langka. Luna ingin menemuinya. Sepertinya ada sesuatu. Batinnya. 


"Iya pak."


"Baiklah aku ke bawah."


Aldo menutup kembali pintunya. Dan mendapati Reza yang sedang duduk santai sekarang seperti ingin mengintrogasinya. Reza mendengar nama istrinya disebut oleh pegawainya.


"Luna ada disini. Dia mencarimu. Ada apa, Al?" tanya Reza mengeram melihat kilatan matanya.


Aldo mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu. Aku turun dulu. Luna pasti menunggu lama." katanya.


Reza cemburu. "Sudah sana kasian istriku nunggu kamu." ketusnya memalingkan wajah ke lembaran di tangannya. 


Sedangkan Yuda hanya menggelengkan kepalanya melihat kecemburuan Reza terhadap Aldo. 


Aldo pun bergegas keluar. Karena tidak ingin bila Luna menunggu terlalu lama seperti yang diucap oleh kakaknya. Dan benar saja Luna sudah duduk dan terlihat kelelahan dimatanya.


"Maaf lama." ucap Aldo duduk melihat Luna yang terlihat cantik saat sedang hamil auranya begitu terpancar.


"Nggak apa-apa." balas Luna tersenyum.


"Ada apa?"


"Ini bakso buat kamu." Luna memberikan bakso lima bungkus yang sudah dipisahkan dengan lima bungkus untuk dia bawa pulang. "Jangan salah paham ini dari Mang Goni. Tadi aku Rara makan disana dia titip ini." katanya lagi.


Aldo menerima itu. Namun membidikan curiga pada wanita di hadapannya. Aldo tahu dengan sikap Luna yang tiba-tiba datang. 


"Aku tahu." Aldo menghela napas. "Jadi apa yang ingin kamu ketahui?" 


"A-apa? Aku nggak ngerti maksud kamu." dusta Luna karena memang dia kesini ingin tahu apa yang dilakukan suaminya. Dia melihat ke segala arah tapi tidak menemukan yang dicarinya. 


"Bohong."


"Benar."


"Kamu mencari Mas Reza kan?"


Aldo tahu kok. Aku aja cari Mas Reza. Batinnya


Luna menelan ludahnya dengan susah payah. Dia merasa sedang ketahuan mencontek halnya anak siswa oleh gurunya. Dan diam tak bicara. Karena sedikit kekanak-kanakan.


Luna mengangguk.


Aldo tertawa kecil. "Ya ampun kamu lucu banget sih. Tenang saja dia nggak sama Reza wanita lain. Nggak usah curiga." jelasnya.


Aldo menatap Luna yang sedikit malu dengan apa yang dilontarkannya. 


"Bukan begitu. Memangnya kalian lagi ngapain sih. Habisnya aku penasaran sama Mas Reza yang terlihat menyembunyikan sesuatu sama aku." kata Luna pada Aldo menceritakan semua yang ada di hatinya begitu terjanggal.


Aldo mengacak rambut Luna pelan. "Kamu harus percaya sama suami kamu. Biar dia yang menjelaskan semua. Itu bukan hak aku."


Dari arah belakang terdengar suara deheman dan tak lain adalah Reza. "Hmm...seru banget nih."


Aldo cepat melepaskan tangannya. Melihat Reza sudah berdiri disamping. Dan tersenyum masam. 


Sedangkan Luna hanya menatap suaminya biasa.


"Mas Reza.. Kamu ada disini." Luna pura-pura tak tahu. Karena dia tidak ingin kalau suaminya tahu. Bila dirinya ingin tahu keberadaan Reza bersama siapa. 


"Kamu sendiri kenapa ada disini." Reza balik tanya dan tak menjawab pertanyaan istrinya. 


"Kok balik nanya sih, aku kan yang tanya duluan sama kamu?" Luna sedikit ketus menatap tajam pada suaminya. 


Reza menghela nafas. Tak mau membuat istrinya semakin marah. "Aku lagi―"


"Maaf aku harus kembali ke atas." Aldo menyela pembicaraan. Tak ingin ikut-ikut masalah rumah tangga kakaknya. "Terima kasih baksonya." Aldo menoleh pada Luna. 


"Iya." Singkatnya. Aldo pergi dan meninggalkan pasangan suami istri itu. 


"Lanjutin lagi apa yang tadi mau kamu bicarakan. Aku pengen dengar?"


"Aku lagi mengusut kasus tabrak lari kakak kamu sayang dengan mereka."


"Kamu kok nggak cerita sama aku."


"Aku akan cerita, tapi nggak disini." kata Reza menangkupkan wajah Luna dengan tangannya. Luna mengangguk setuju. "Terus kamu ngapain bawain Aldo bakso. Perhatian banget." katanya lanjut. 


"Aku beli kebanyakan jadi aku kasih ke Aldo."


"Benar? Nggak ada maksud lain kan?"


"Iya sayang. Percaya deh."


Reza pun mengajak Luna pulang karena terlihat jelas kalau istrinya ini sangat lelah. Dan dia juga berpamitan pada Aldo dan yang lainnya untuk mengantarkan istrinya dulu. 


♥♥♥


promisi cerita baru aku..yang suka silangkan dilike nggak juga nggak apa-apa. hatur nuhun 😁😁