
Hai para reader-reader setia💃
Cerita special Reza dan Lisa, Ibu kandung Bima
Penasaran kan sama wanita satu ini yang tidak lain kakak dari Aldo mantan Luna, nah loh?
Dari pada penasaran, cekidot
Selamat membaca, jangan lupa jempolnya (👍)
♥♥♥
NYC, America
"LISA, bisa gak jalannya pelan aja, aku capek nih."
Teriakan itu menerjang gendang telinga Lisa bahkan semua orang di sekitarnya memperlihatkan keduanya. Ia mengenal suara pria di ujung sana. Reza tersenyum manis. Membuat Lisa bingung tidak biasanya menebarkan senyum semanis itu.
"Berisik, Eza. Malu." keluhnya merasa tidak nyaman. Ini negara orang bukan negara sendiri. Apalagi Reza dengan santai teriak seenak jidatnya, dia pikir America miliknya.
"Malu kenapa?" Reza polos. Memeluk pujaan hatinya. Selama dua tahun ini dia menjalin hubungan dengan Lisa yang notabenenya teman kuliahnya. Karena terbiasa kasih sayang mereka keduanya berubah menjadi suka antara pria dan wanita.
"Ya, ampun. Bang Eza polosnya kebangetan banget. Tingkat PDnya melebihi dewa langit. Peluk-peluk di jalan." Lisa mendorong Reza agar melepaskan pelukkannya.
"Li, ini Amerika, ciuman dan pelukan di tengah jalan di sini sudah biasa. Lihat.. " Reza menunjuk ke arah jarum tiga, ada sepasang kekasih sedang berciuman. "Mereka lebih gak malu, ******* di jalan. Kamu mau juga?" Reza menggoda. Memang di luar negri, adegan seperti itu sudah biasa untuk mereka. Memang peraturan setiap negara itu berbeda. Bagaimana masyarakat dibebaskan melakukan sesuatu, asal tidak mengganggu atau merugikan orang lain.
Lisa meninju dada Reza. "Otak mesum. Maunya kamu." Lisa jalan meninggalkan Reza, tidak peduli akan ocehan pria itu.
"Mau kemana Li?"
"Ke kelaslah, kamu lupa sekarang jadwalnya Mr. Scottish, bisa ngamuk kalau telat di pelajaran dia." jelasnya.
"Astaga, aku lupa."
Reza kemudian menarik tangan Lisa dan digenggam erat membawa lari bersama menuju kelas tempat Mr. Dia Scottish. Menurut orang sebagian adegan itu terlihat aneh, tapi bagi Lisa itu sangat manis dan romantis. Sepanjang perjalanan mereka saling tertawa akan tingkah mereka.
Sampai dalam kenal, untung saja dosennya belum datang. Lisa dan Reza lebih memilih duduk di belakang ponjok, agar bisa berduan. Adegan ini sering ditonton di film TWILIGHT, antara Edward dan Bella.
"Eza, kenapa kita duduk di sini sih?"
"Memang kenapa, Li?"
"Nyebelin deh, aku tanya kok malah balik tanya. Yang bener itu jawaban bukan pertanyaan."
"Gitu aja ngambek, makin jelek aja."
"Serius deh."
"Aku serius kok."
"Reza." katanya penuh penekanan.
"Ok. Aku gak mau di depan karena bikin aku bosen sama kelas dosen itu. Bikin pusing."
"Bohong?"
"Beneran, gak bohong."
"Jujur aja kamu pasti moduskan?"
Reza terkikik geli. Mendengar ucapan Lisa.
"Neng Lisa mau Abang Reza modusin ya?"
"Pikiran kamu itu mesum melulu."
"Aku kan normal."
Lisa menggeleng. Gak akan habisnya bicara dengan Reza yang kalau sudah belok otaknya. Yang ada dia bakal di mesumin melulu dengan kata frontalnya. Lisa tahu dirinya juga tidak munafik dengan hubungannya bersama Reza sudah sampai di luar batas dalam berpacaran. Benar kata orang kita berada di lingkungan yang bebas dalam pergaulan akan terjerumus juga meski sudah berusaha untuk menghindari. Namanya manusia pasti ada khilafnya.
"Li. Gimana kabar adik kamu di Indonesia?" sambil menunggu dosen datang para mahasiswa lain mengobrol begitu juga kedua pasangan ini. Reza santai menekukkan wajahnya di atas meja dengan wajah ke arah Lisa yang sedang membaca bukunya.
"Baik. Bentar lagi lulus." Lisa menghentikan acara membacanya, menjawab ucapan Reza meski tidak menoleh.
"Cepat juga dia udah mau lulus aja."
"Hm… "
"Dia mau lanjut kuliah?"
Lisa menutup novelnya, melirik Reza. "Belum tahu, tapi dia bilang dia mau ikut beasiswa kuliah di italia. Mengasah kemampuannya."
"Bagus dong. Dia memang pinter masak. Aku yakin dia bakal jadi chef terkenal."
Lisa tersenyum.
"Amin, aku juga berharap."
"Terus, kamu sudah lulus, mau kembali ke Indonesia denganku?"
Lisa terdiam.
Untuk kembali Lisa belum memikirkannya. Ia lebih nyaman berada di sini. Ingin mendapatkan pekerjaan bagus dan gaji besar untuk bisa mengubah hidupnya dengan Adiknya. Selama ini Lisa dan Aldo tinggal di Panti Asuhan. Sejak kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan, Lisa dan Aldo tidak dibawa oleh para saudara dari Ayah dan Ibunya. Malah ditelantarkan begitu saja. Di titipkan di panti asuhan.
"Kita lihat saja nanti."
Reza Kecewa. Wanita di sampingnya sangat ambisius. Reza bukan tidak tahu akan masa lalu dan kehidupannya yang begitu kejam, tapi wanita itu sama sekali tidak melihat ketulusan Reza selama ini, ia sangat serius ingin menjalani hubungannya tapi Lisa selalu saja merasa tidak pantas dengannya. Karena berbeda kasta atau apalah. Lisa terbelalak mendengarkan ucapan Reza.
"Menikahlah denganku?"
•••
Reza memasuki kamarnya, selama berada di Amerika dia lebih memilih tinggal di Apartemen. Sedangkan Lisa lebih memilih tinggal di Asrama yang disediakan di sana. Lisa selalu datang ke tempatnya. Kali ini Lisa memilih untuk kembali ke Asrama mungkin ia masih syok akan ucapannya yang tiba-tiba. Reza merasakan kalau secara tidak langsung Lisa sudah menolaknya. Padahal ia sangat serius dengan Lisa. Apalagi hubungan mereka sudah terlampau jauh.
Reza mengambil laptopnya, dia sangat merindukan Adiknya si bungsu Abel. Melakukan skype.
Melihat sudah terhubung. Sosok gadis remaja dengan rambut terurai tidak beraturan terlihat lucu dimata Reza.
"KAKAK." teriak gadis itu kegirangan. Melambai tangannya ke layar. Gadis itu terlihat sangat senang. Apalagi senyumnya yang sangat Reza rindukan.
"Adik Gembelku. Apa kabar?" ejek Reza. Membuat Abel manyun akan panggilan kakaknya yang sangat Abel tidak suka. "Jiah, kamu ngambek, Bel?"
Reza tertawa akan Abel. Kalau ada di sana mereka pasti akan saling melontarkan ejekan dan saling menjenggut rambut keduanya.
"Sorry, gak akan lagi-lagi deh. Syukur kalau kamu baik. Tapi kakak balik siap aja kakak bully, Adik cengeng. Kamu gak nanyain kabar kakak?"
Terlihat Abel menggeleng. " Gak, aku sudah tahu kalau kakak gak baik-baik saja."
"Tau darimana kamu kakak gak baik-baik saja?" jawabnya penasaran.
"Dari nada bicara dan raut wajah kakak yang gak biasanya. Ada yang kakak pikirkan? Apa kakak lagi berantem sama Kak Lisa?" tebakan Abel benar, karena Reza langsung diam saja dan menghela nafas panjang terlihat sekali kalau ada yang di pikiran. Kakaknya sangat mudah di tebak.
"Kamu memang Cenayang."
"Hahaha...Masih calon Cenayang, masih dalam proses." candanya agar Reza bisa tersenyum setidaknya bisa melepas pikirannya.
Reza tertawa. Kali ini benar tertawa. Bukan pura-pura.
"Cerita dong, gimana kuliah kakak? Hubungan kakak sama kak Lisa, terus kapan pulang? Kangen."
"Makan apa kamu tadi, ngasih pertanyaaan bertubi-tubi begitu? satu-satu, lah."
"Makan Bakso, tadi di ajak sahabat aku yang lagi galau makanya mulut nyerocos melulu."
"Pantesan."
"Pertanyaan pertama buat Kakak, gimana kuliah kakak?"
"Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala, bentar lagi masuk semester akhir."
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu, cepat lulus, cepetan nikah biar Abel punya keponakan."
Menikah? Abel tidak tahu saja Lisa menolaknya, meski tidak memberi jawaban. Abel menyadari kakaknya malah melamun.
"Kak, kok melamun. Kesambet Genderuwo loh."
Reza menyikirkan pemikirannya. Fokus dengan Abel.
"Mana ada Genderuwo di America."
"Norak dong, masa disana gak ada Genderuwo sih."
Reza ingin sekali menyentil kening adiknya yang jenong.
"Kamu mau bahas Genderuwo apa sesi pertanyaan kamu yang tertunda tadi."
"Hehehe maaf, lanjut ke laptop deh. Kakak ada masalah sama Kak Lisa?"
"Hm.. "
"Kenapa? Apa kakak selingkuh sama bule?"
"Ngomong asal aja kamu. Gak lah. Kakak masih suka lokal kali."
Abel hanya ber oh ria. "Terus kenapa?" lanjutnya.
"Menurut kamu seseorang menolak itu kenapa?"
"Menolak dalam hal apa dulu, yang jelas dong."
"Kakak ngajak Lisa nikah."
"WHAT? "
Teriak Abel. Untung dia ada dikamarnya sehingga kedua orang tua mereka tidak mendengar pembicaraan keduanya. Reza melototi adiknya agar bersikap biasa aja, gak usah terlalu dramatis.
"Omg, Kak Reza ngajak married Kak Lisa? Terus Kakak ditolak?:
"Gak juga sih tapi dia gak jawab."
Abel di seberang sana memainkan jari telunjuknya di dagu, seakan mencari tahu apa yang membuat Lisa menolak Reza.
"Bagaimana adik Cenayang? Bisa melihat, kenapa Lisa bisa menolak atau tidak menjawab pertanyaan kakak?"
Abel kembali bersikap normal.
Berdeham. "Ehm.. " menghilangkan suaranya yang sedikit serak akibat diam. "Setelah aku pikir, Kak Lisa mungkin punya alasan kenapa dia menolak. Kakak pernah bilang ke Abel. Kalau hidup Kak Lisa sangat tragis. Mungkin dia berpikir dua kali untuk bersama dengan kakak. Kak Lisa itu orang yang realistis, segalanya selalu berhati-hati dalam menjalankan kehidupannya. Pemikiranku sih gitu."
Sepertinya Reza sekarang percaya kalau Abel seorang Cenayang. Memang konyol kalau memikirkan Abel adiknya, selalu tahu yang dimaksud Reza. Dia terhanyut mendengar ucapan Abel memang benar.
"Dia memang sangat realitas. Kakak gak pernah mempermasalahkan masa lalunya."
"Kakak memang tidak, tapi Kak Lisa beranggapan begitu. Mungkin kakak sadar, kalau kalian itu bagai langit dan bumi. Makanya Kak Lisa lebih berhati-hati."
"Kakak gak peduli. Dia mau seperti apapun. Kakak sayang sama dia. Kakak gak peduli sekalipun harus menentang pria tua itu."
"Pria tua? Dia Ayah kita, kak."
"Tukang ngatur maksud kamu. Kakak ini cuma boneka buat dia."
"Kakak jangan berpikiran seperti itu, meski begitu dia tetap Ayah kita."
Reza mematikan langsung sambungan skypenya sepihak. Karena tidak mau mendengar pria tua itu. Melemparkan tubuhnya ke kasur dan memejamkan matanya dan bergumam.
"SHIT. "
•••
Yoho, bagaimana? Seru gak? 🤔😎
Pokoknya extra special ini gak ada adegan romantis Reza dan Luna loh jadi jangan marah ya. Nikmati aja. 😘😘
Aku suka mikir bagaimana arah ceritanya kalau Lisa masih hidup? Bagaimana dengan Luna? Kalau di bayangin bakal mainstream banget. Jangan di bayangin deh, Reza ❤ Luna gak ada yang lain.
Tunggu next extra spesialnya 🤗
Gak pernah lupa buat ingetin pantengin BIMA LOVERS juga dong 😎
Biar rame kayak di sini 😁
Sekali lagi terima kasih buat kalian.