Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
28. Sidang



♥♥♥


Luna duduk tepat di depan ruangan tempat di selenggarakannya Sidang Skripsi Ujian Akhir


semester, Luna menunggu giliran karena sidang dilakukan dengan 10 orang.


Sidang sudah mulai dari pukul 07:00 pagi, sidang menjadi penentuan saat-saat yang mendebarkan bagi mahasiswa tingkat akhir.


Ibarat penentuan hidup dan matinya mahasiswa, dan pakaian yang dikenakan juga benar-benar istimewa harus formal untuk menghormati dosen penguji. 


Sebelum tiba di kampus keluarga Reza datang unit apartemen untuk memberikan dukungan dan doa untuk Luna.


Harus senang atau tidak 3 dosen penguji dilakukan tak lain adalah Pak Diaz, Bu Mega dan Pak Abdul ketiganya sering disebut The Devil, karena mereka merupakan dosen yang pelit dengan nilai, dan juga sangat kejam saat mereka mengajukan pertanyaan yang menjebak sehingga banyak mahasiswa yang mengulang atau gagal saat sidang. 


Mungkin Luna sudah kenal dengan Pak Abdul, tapi di kampus mereka seperti laya mahasiswa dan dosen berbeda dengan di lingkungan biasa. 


Setelah menunggu giliran akhirnya Luna dipanggil dan masuk ruangan, betapa dia berdebar-debar dan keringat dingin saat ia baru saja masuk ruangan.


Tatapan meneror ia rasakan saat ini dan sebelum itu Luna diberi waktu untuk mempersiapkan data dan pendukung presentasi. 


Selesai menjelaskan semua ringkasan penelitian laporan Luna dicecar oleh banyak pertanyaan terutama Pak Abdul, dikira bahwa dosen itu akan membantunya tapi semua itu salah banyak dan pertanyaan menjebak yang dia berikan Luna tapi syukur dia bisa menjawab dengan santai.


Dan akhirnya setelah dua jam kurang bergelut di ruang sidang akhirnya dia bisa bernafas lega semua berjalan lancar meski dia sedikit gugup. 


Luna keluar ruangan menghela napas panjang dan duduk bergabung dengan 9 mahasiswa lainnya dan sudah selesai dengan sidangnya mereka semua menunggu hasil sidang akan diumumkan sore dan harap-harap cemas.


Menunggu hasil sidang, mereka berjalan menuju kantin untuk makan dan mengisi perut mereka.


Saat melangkah ke arah kantin seseorang memanggil dirinya cukup lantang, "LUNA" panggil wanita itu. 


Luna menoleh ke arah suara, "Abel, Rara" seru Luna terkejut dengan kehadiran dua sahabatnya dan berlari menghampiri keduanya dan berpelukan riang.


"Abel, kapan kembali ?" tanya Luna.


"Aku baru tiba tadi jam satu siang, dan cepat minta dijemput Rara kemari" kata Abel melepas kangen dengan sahabatnya karena sepulang dari puncak ia langsung pergi ke Amsterdam untuk mengurus kepindahannya.


"Bagaimana sidangnya sukses" tanya Rara penasaran.


"Sukses berkat doa kalian semua" ucap Luna merasa senang.


"Syukurlah"


Setelah melepas kangen mereka bertiga pergi ke kantin untuk makan, Abel dan Rara berniat untuk menunggu Luna sampai hasil sidangnya diumumkan karena ada kejutan yang sudah menanti Luna disuatu tempat.


Suara ponsel Luna berdering, dan panggilan masuk nama Reza tertera di layar ponselnya. 


"Hai, sayang bagaimana sidangnya lancar?" tanya Reza berada ujung telpon. 


"Lancar, dan ini semua berkat doa kalian semua. Terima kasih atas dukungannya".


"Iya, sayang. Apa Abel berada disana?". 


"Ada, keduanya sedang menemaniku makan. Mas mau bicara?".


"Tidak penting, aku tidak mau".


"Baiklah".


"Pulang aku jemput, nanti kabarin kalau sudah diumumkan hasilnya".


"Siap Mas-nya Luna".


"Oke, sampai jumpa nanti. I love you"


"I love you, too".


Luna pun menutup panggilan Reza dan berfokus dengan makanan yang sudah dia pesan dari kantin.


Rara dan Abel sudah menikmati makanan nya, dan mereka terus berbincang mengenai sidang tadi yang membuat kedua penasaran, karena diantara ketiganya yang Lulus terlebih dahulu adalah Luna. 


Rara gagal dalam sidang dan harus mengulang semester kembali dan Abel dia harus extra mengejar pelajaran yang tertinggalnya. 


Pukul 15:35


Hasil sidang yang mereka tunggu akhirnya akan diumumkan. Dan 10 mahasiswa yang sudah melakukan sidang masuk kedalam ruangan.


Sudah ada 3 dosen penguji didalam siap untuk mengumumkan Lulus tidaknya mereka.


Pak Abdul berdiri dan siap mengumumkan hasilnya, "Hasil sidang skripsi hari ini menyatakan SEMUA LULUS" tegasnya lantang dalam pengucapannya. 


Semuanya bersorak dan bersyukur untuk hasil dari kerja keras dan jerih payah mereka terbayarkan.


Tiada tara kesenangan mereka disambut baik oleh para dosen menguji. Mereka bersalaman mengucapkan terima kasih dan kata sambutan oleh mereka untuk memberikan beberapa kata untuk kelulusan sidang mereka. 


Beberapa menit setelah menerima hasil mereka berhambur keluar ruangan dan Luna berjalan menghampiri Abel dan Rara sedang menunggu di lorong ruangan dan menyambut gembira dengan hasil sidangnya yang dinyatakan Lulus. 


"Selamat" seru Abel dan Rara berbarengan, dan memberikan pelukan erat padanya. 


"Terima kasih". Balas Luna senang karena sahabatnya begitu peduli dan menunggu ia sampai selesai. 


Tak jauh dari tempat Luna seorang pria yang datang dan menghampiri membawakan bunga mawar indah diberikan padanya, "Ini untuk kamu, selamat atas lulusnya sidangnya".


"Thanks" ucap Luna mengambil bunga dari tangan Reza dan mencium harum bunganya.


Luna, Reza, Abel dan Rara mengarah tujuan mereka ke tempat parkiran dan bergegas untuk pulang, karena akan ada acara makan untuk menyambut kelulusan Luna di penthouse rumah orangtua yang sudah menyiapkan semuanya untuk Luna. 


Tidak lupa dia menghubungi Gerraldy di Jerman atas hasil skripsinya yang dinyatakan Lulus.


Dan ayahnya pun sangat gembira mendengar berita kelulusan begitu pula dengan Jessy turut senang.


Sejujurnya Jessy adalah sosok ibu yang baik untuknya saat ini dan ia juga teman yang menyenangkan. 


•••


Luna bercermin dengan rasa kagum dengan gaunnya malam ini yang sudah siapkan oleh Abel dan Rara. Dress Primrose Cold dengan Shoulder Ruffled dan panjang dibawah lutut terlihat Elegan dan cantik.


Malam ini semua berangkat ke penthouse keluarga Winajaya mereka mengadakan acara makan malam khusus untuk kelulusan Luna, memang terlalu berlebihan tapi ini semua mereka lakukan karena menyayanginya yang sudah mereka anggap keluarga. 


Luna berjalan keluar kamar ditemani dua sahabatnya, dan Reza begitupun Biboy sudah menunggu diruang tamu menyambutnya dengan rasa kagum melihat penampilannya sekarang. 


Reza senyum menggoda, "Kamu cantik banget hari ini" serunya menatap wanita dihadapannya. 


"Thank you, kamu juga hari ini beda banget ganteng maksimal" Luna dengan kedipan mata melayangkan jempol tangannya ke arah Reza melihat penampilan Biboy terlihat sangat gemas menggunakan jas abu-abu dan dasi kupu-kupu semakin keren. "Biboy lebih maksimal lagi gantengnya" serunya dan mencium pipi Biboy greget.


"Kok, Daddy nya nggak dicium juga?" goda Reza menunduk dan menempelkan jari telunjuknya di bibir, tanda agar Luna menciumnya di area itu.


Muka Luna pun menjadi merah menyala. 


Abel dan Rara cepat-cepat menarik Luna dan menjauhkannya dari Reza, "Oh tidak bisa! malam ini Luna udah dandan cantik, bisa-bisa lipstiknya luntur semua malah pindah ke bibir Kak Reza nantinya" protes Abel.


"Cuma dikecup aja, pelit banget", gerutu Reza merasa kesal dengan adiknya yang sudah siaga mengaja Luna dari depan seperti bodyguard.


"Bukannya dikecup, yang ada nanti dilumat terus kalau sudah nempel", cerutu Rara jomblo kurang kasih sayang.


Luna menatap tajam dan mencubit pinggang kedua sahabat ini, " Aw sakit" teriak keduanya merasa sakit dan megeram kesal.


"Ayo, sayang kita pergi nanti Ayah sama Ibu menunggu kita", ucapnya dan sontak Reza menarik tangan Luna cepat dengan membawa nya keluar apartemen dan bergegas berangkat kerumah orang tuanya. Dan meninggalkan Abel dan Rara yang masih terlihat kesal.


Sampai di lobby gedung apartemen sebuah mobil Mercedes-Maybach S-Class sudah terparkir didepan dan Pak Yanto supir pribadinya Reza membuka kan pintu untuk mereka dan masuk duduk dikursi penumpang, tak lama Abel dan Rara muncul dari lift dan belum sempat menghampiri mobil, "Pak, langsung jalan saja". Perintanya. 


Namun supir tersebut buka suara, "Nona Abel bagaimana?" tanya Pak Yanto bingung. 


"Dia sama temannya. Berangkat saja cepatan". Perintahnya lagi.


Supir itu pun menunduk paham, dan menjalankan mobilnya. 


Luna menatap pria disampingnya masih yang terlihat kesal dan emosi,  "Mas" Panggilnya dan Reza menoleh dengan wajah masam tanpa pikir panjang Luna mengecup cepat bibir Reza, tanpa disadari Pak Yanto yang sedang mengemudi.


Seketika wajah pria itu berubah menjadi senyum manis yang membuatnya terpesona, "Begitu dong tersenyum. Tau gak? senyum kamu itu ibarat susu bendera, nikmatnya hingga tetes terakhir." Luna memberikan gombalan pada Reza agar pria itu bisa terus tersenyum, bukannya memasang wajah masam.


Reza pun sumbringah dengan gombalan yang di lontarkan kekasihnya, mungkin ini rasanya digombalin senyum-senyum kegirangan padahal cuma sebuah kata saja sudah membuat dirinya senang. 


"Oh jadi mau balas gombalan aku?" ucap Reza yang masih menggendong Biboy di pangkuannya yang masih anteng saja menonton hey tayo diponselnya.


"Aku itu nggak bisa gombal kayak kamu, cuma lihat postingan orang di Instragram".


"Masa coba aku lihat".


Reza mengambil ponsel ditangan Luna dan masuk aplikasi tersebut, "siapa pria yang sama kamu ini?" Reza melihat sebuah foto wanita dan perempuan sedang berselfi disuatu tempat rumah makan.


Luna pun menyadarkan kepala di bahu pria disampingnya dan mencondongkan wajahnya sedikit ke arah ponsel yang telah di pegang Reza, dan melihat foto yang dimaksud oleh kekasihnya itu, "Oh itu Mas Yuda suami mendiang kakakku". ucapnya menoleh kearah Reza sekilas ingin melihat ekspresinya. 


"Kenapa kamu posting foto ini segala sih di akun kamu? Hapus fotonya jelek" pungkas Reza merasa tidak suka melihat wanita yang dicinta. berpelukan atau berselfi dengan pria lain.


"Ini bagus kamu lihat nggak like nya banyak" Luna menunjuk ke arah ponselnya.


"Nggak mau, kembalikan ponsel aku" sahut Luna kesal dengan tingkah Reza ingin menghapus foto bersama Yuda kakak iparnya. Dan menyodorkan tangannya meminta ponsel dirinya dibalikkan. 


Reza menjauhkan ponsel Luna dari jangkauannya dan cepat memasukannya kedalam Jas. "Ponsel kamu, aku yang pegang selama foto ini nggak kamu hapus". tegas Reza.


"Dasar menyebalkan".


Luna pun menjauh dari sisi pria itu dan melipat kedua tangan nya di dada dan memalingkan wajahnya keluar jendela.


Wajah cemberut karena kesal ponselnya disita.


Keduanya diam dalam keheningan. 


Ia berpikir bahwa pria di sampingnya terlalu berlebihan meminta agar foto tersebut dihapus, Luna tahu bahwa Reza sedang cemburu. Tapi kenapa dia harus cemburu dengan Yuda kakak iparnya yang sudah dia anggap kakak baginya terlebih lagi Yuda sudah punya kekasih yaitu, Rani. 


Biboy memanggil, "Mommy, aku mau sama mommy" rengek dan menggeliat di pangkuan Reza. 


Luna sigap membawa Biboy dipangkuannya dan tanpa ingin menoleh pada pria itu, karena masih sangat kesal dengan sikapnya yang terlalu kekanak-kanakan.


"Biboy, kamu gemesin banget sih". ucap Luna dan menyentuh pipi cabi bocah kecil di pangkuannya, sedangkan Reza masih melirik ke arah Luna yang masih mendiamkan nya. 


Menyebalkan. 


"Kamu marah sama aku?" serunya Reza dengan nada resah dan memandang kearah wanita yang sedang sibuk dengan anaknya. 


"Sudah tahu nanya!" sindir Luna kesal. 


Reza mengeluarkan ponsel dari dalam jas, "Oke, ini ponselnya aku balikin". Memberikan nya pada kekasihnya, dan saat Luna akan mengambilnya.


Tiba-tiba Reza menarik kembali ponselnya dan tangan Luna masih melayang dihempaskannya kembali, "Tapi janji jangan upload atau posting foto bersama pria lain selain aku, paham kan?"  perintahnya. 


Luna mengerutkan alisnya, "Jadi aku nggak boleh foto sama Ayah, Barrack, dan Biboy? Yang boleh sama kamu saja?" sinis Luna menatap Reza kesal. 


"Itu pengecualian. Kalau mereka boleh, aku nggak larang. Tidak ada pria lain, Oke?".


"Terserah". Luna malas menanggapi perkataan Reza dan mengambil ponsel dari Reza yang sudah ada di tangannya lagi. 


Setibanya di sebuah penthouse besar, dengan bangunan megah dan indah terpampang jelas di depan dan seorang sedang menunggu kehadiran mereka saat memasuki gerbang tinggi yang menjulang tinggi itu terbuka. 


Kedua orang tua Reza dan keluarga Abdul sudah menunggu, setelah mobil berhenti tepat di depan teras depan Pak Yanto bergegas keluar dan membukakan pintu mobil seraya menunduk hormat.


Reza turun terlebih dahulu dan sebelumnya sudah mengambil alih Biboy dari pangkuan Luna, menyodorkan tangan untuk membantu kekasih nya keluar, dan ia pun menyambut tangan pria dihadapannya dan tersenyum meski ia masih sangat kesal. 


"Akhirnya kalian datang juga. Luna sayang, tante bangga sama akhirnya sidang skripsi kamu lulus". Ucap Yunita memandang wanita yang sekarang terlihat cantik dan serasi bersama Reza. Seperti sepasang keluarga. Yunita mengambil tangan Luna dan dan mengusap pangkal tangannya, "Ayo kita masuk". ucapnya lagi.


"Terima kasih tante" balas Luna.


Mereka semua masuk kedalam, dan melewati semua ruangan dan foto keluarga mereka pajang di setiap sudut rumah, bukan hanya foto tapi juga lukisan-lukisan yang bagus yang nilainya pasti sangat mahal. 


Semuanya tiba di halaman rumah yang sudah dihiasi, dan lebih kerennya lagi banyak hidangan yang sudah disediakan.


Tak lama kedatangan Abel dan Rara disambut Luna senang karena bisa ada keduanya akan Luna bisa bernafas lega dan tidak perlu kikuk saat bersama keluarga besar kekasihnya, dan lebih kejutnya lagi Aldo datang juga di acara itu dan membuat geram Reza menatap tajam kedatangan Aldo. 


"Hai semuanya, Abel is back" cetus Abel dengan riang membuat suasana semakin meriah. 


"Dasar anak nakal, pulang dari amsterdam bukannya pulang dulu malah keluyuran". sahut Galang kesal pada putrinya.


"Sorry, aku kan kangen sama sahabat aku yang kece-kece ini" kata Abel mendekati Rara dan Luna, melipatkan kedua tangan di bahu keduanya saat posisi Abel berada ditengah berdiri.


Yunita melihat kearah Aldo, "Aldo ayo kemarin, kamu sudah lama tidak kemari, kalau tante sama om nggak telpon kamu mana mau kamu datang kesini". ucapnya dan menyuruh Aldo untuk duduk.


"Maaf, Omdan Tante aku sibuk ada di restoran, makana tidak sempat mengunjungi kalian", balas seraya menggaruk kepala meski tidak gatal.


"Tante mengerti".


"Ayo semua kita duduk, kita kan sudah kumpul dan hari ini kita mau merayakan kelulusan Luna". ucap Galang berita tahu semua.


Karena acaranya di luar ruangan, malam ini terlihat jelas bulan dan bintang bersanding meski tidak begitu jelas tampaknya namun suaranya sangat hangat.


Setelah acara makan selesai semua menikmati makanan penutup sembari mengobrol.


"Jadi, setelah lulus kamu mau lanjut kuliah apa kerja Lun?", tanya Sarah membuka obrolan.


"Ah itu, aku kayaknya mau langsung kerja". balas sedikit kaku dan melihat sekilas ke arah Reza yang masih menikmati puding mangga kesukaanya. 


"Kamu kerja saja kembali di perusahaan Reza, kamu nggak usah capek-capek melamar kesana kemari". Sahut Galang memberikan pandangan ke arah anak keduanya. 


"Memangnya kamu mau kerja?" tukas Reza menoleh pada kekasihnya.


Luna menatap bingung, "Iya, memang kenapa?".


Belum sempat Reza menjawab Abel buka suara dengan lantang, "Luna, kamu nggak tahu saja. Kak Reza maunya kamu itu jadi calon istri yang baik diem dirumah nggak ngelakuin apa-apa, tuh kayak Ibu sama Mbak Sarah jadi ibu rumah tangga".


Sontak membuat Luna terkejut, "Apa? Ah, maksudnya itu―".


"Aku nggak melarang kamu buat kerja, kalau sudah menikah. Asal kamu kerja diperusahaan. Aku nggak kamu jauh dari jangkauan aku". Pungkas Reza.


"Ah! Iya", ucap Luna menyetujui namun sedikit beban untuknya. Masa dia harus kembali ke SJC yang ada nanti dia menjadi pusat perhatian disana. 


"Nah nanti kalian bicarakan berdua. Bagaimana bagusnya". seru Yunita.


Setelah cukup malam dan angin sudah terasa dingin, kedua orang tua Reza membawa Biboy masuk dan begitu juga dengan keluarga Abdul menyusul. Dam menyisakan anak-anak muda yang masih setia berada di halaman belakang. 


Masih cukup hening.


Sampai akhirnya Aldo memecahkan keheningan, "So, Ini hadiah buat kelulusan kamu Luna?". Aldo menyodorkan sebuah bingkisan.


Luna masih ragu untuk mengambil dan memandang kearah pria disampingnya yang terlihat tidak suka sikap Aldo yang terang-terangan memberikan sesuatu padanya.


"Tidak usah, Aldo. aku nggak bisa terima itu". Luna menolak pemberian hadiah.


Namun dengan sigap Reza mengambil bingkisan itu ditangan Aldo sedikit kasar. 


"Jangan tolak pemberian orang, sayang. Aldo susah payah beli hadiah buat kamu". Sinis Reza dan memberikan bingkisan itu ke Luna. 


"itu―terima kasih Aldo". Seringai Luna pada Aldo. 


Aldo senang "Sama-sama".


Rara maupun Abel merasa suasana sedang panas dengan pertempuran antara Aldo dan Reza saat ini.


Keduanya sudah diceritakan oleh Luna bahwa Reza sudah tahu hubungan masa lalunya. Dan yang lebih parah lagi Aldo berterus terang pada Reza bahwa dirinya ingin sekali memisahkan hubungan mereka. Dan membuat Luna kembali lagi ke sisinya. 


Memang cinta itu buat seseorang buta dan gila. 


Reza menegak habis wine digelasnya, "Aldo berhenti menatap Luna seolah dia milik kamu". kesal Reza mendapati Aldo terus memandang ke arah wanitanya. 


"Apa aku tidak boleh? Ayolah Mas, dia masih belum istrimu dia masih milik siapa saja". ucap Aldo tak merasa takut.


Sontak membuat Luna, Abel maupun Rara memberikan pandangan tak percaya dengan ucapan yang dilontarkan oleh Aldo. 


"Kamu―" kata Reza geram dan menatap tajam pada Aldo.


Namun cepat Luna menenangkan kekasih dan menyentuh bahunya seraya mengelus agar ia tidak diliputi emosi. 


Mata Reza semakin merah dan amarahnya sudah meningkat drastis.


"Kamu terus terang sekali ya, kamu tidak malu menyukai wanita yang sudah mau menikah. Dan kamu juga masih mengejar Luna setelah kamu sakitin dia dulu, hah?". Reza sedikit tenang dan menopang kedua tangannya di dada bidangnya dengan senyum sinisnya.


Ketiga wanita itu hanya diam dan mendengarkan perbincangan kedua pria yang sedang berseteru. 


"Mas tidak tahu permasalahan sebenarnya, aku tidak pernah menyakiti Luna dengan sengaja. Aku dijebak". Bela nya. 


"Dijebak? Apa itu alasan agar Luna mau kembali lagi sama kamu. Ayolah Aldo kamu dijebak tapi kamu pun menikmati jebakan itu tanpa kamu sadari dan itu buat Luna dulu sakit hati sama kamu. Sadar Aldo! Luna itu milik aku. Milik Reza Aditya Winajaya". tegas Reza atas kepemilikan wanita yang sedang mereka perebutkan. 


Aldo seringai sinis, "Aku masih belum menyerah Mas Reza, seperti kamu bilang aku harus memperjuangkan wanitaku kan?".


"Shit ! kamu mau bersaing sama aku?".


Tiba-tiba Luna memegang erat tangan kekasihnya dan melihat rahang pria itu semakin keras. Dengan raut wajah memohon, agar kekasihnya ini tidak memperpanjang masalah. "Mas―" bisik Luna dan Reza menoleh ke arah Luna yang memelas. 


"Kamu mau pulang?" Tanya Reza, ia tahu Luna merasa tidak nyaman dengan situasi ini. 


"Iya, aku mau pulang" seru Luna. 


Saat keduanya akan bergegas berdiri, Luna berpamitan pada kedua sahabatnya dan memandang sekilas pada Aldi yang terlihat menatap tajam pada kekasihnya. Dan berjalan meninggalkan mereka. 


Namun sebelumnya Reza, menoleh kembali ke arah belakang, "Aldo, terima kasih karena kebodohan kamu sekarang aku bisa bertemu Luna. Cepatlah Move on cari pasanganmu sendiri jangan mengambil yang sudah ada pemiliknya". ucap Reza membuat Aldo terdiam seperti dihantam oleh ribuan komet jatuh ke bumi.


Kepergian Luna dan Reza membuat Aldo semakin mengeratkan tangannya dan rahangnya terlihat jelas menegang keras.


Apa aku harus merebut Luna dengan paksa. Batin Aldo. 


♥♥♥