Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
67. Bohong



♥♥♥


Saat beranda di kantor Reza, Luna mendapatkan telpon di pegawainya di coffee shop memberitahu ada tiga orang wanita mencarinya. Sedangkan dia benar-benar tidak tahu siapa yang mencarinya, tapi Reza bilang, ia harus menemuinya mungkin sesuatu yang penting. Ia pun mengiyakan, penasaran akan apa yang di sampaikan pegawainya.


Luna di antar oleh supir menuju tempat tujuan, dan meminta pegawai agar melayani tamunya ke lantai dua coffee shop-nya.


Butuh tiga puluh menit sampai, untung tidak macet seperti biasanya. Ia pun langsung menuju lantai dua dan melihat tiga orang wanita duduk. 


Hal pertama melihat mereka adalah terkejut. Ada apa gerangan mereka menemuinya. Apa mereka?! Luna terus berkecambuk dalam pikirannya dan juga berpikir positif akan sesuatunya yang terjadi nanti.


Mendekati mereka, lalu duduk berhadapan dengan mereka bertiga.


Cukup beberapa menit mereka diam dan senyum saat mereka saling bertukar pandang.


Luna memberanikan diri untuk bersuara.


"Ada yang bisa aku bantu?" hal pertama dalam otak Luna, entahlah dia tak tahu harus menjawab apa. Dia binggung. Tidak tahu. Tidak sepenuhnya menguasai kondisi seperti ini.


Mereka belum menjawab, mungkin bingung karena memang pertemuan mereka saat itu kurang baik. 


"K-kami...sebenarnya mau…" tiba-tiba saja Novi menjadi gagap. Ya, kalian tahu Novi adalah wanita gila banyak bicara dan pintar berasumsi namun sekarang dia seperti orang bodoh. Hingga dia tidak bisa melanjutkan ucapannya. 


Luna semakin bingung,  gugup dengan kedatangan mereka secara mendadak apalagi kecanggungan di antara kami. Seperti ada penghalang atau tembok yang memang susah di trobos atau di hancurkan begitu saja.


"Jadi canggung begini ya, mending kalian nikmati dulu coffee sama cake-nya. Aku nggak tahu apa tujuan kalian ke sini, tapi aku senang kok. Kalian mau main ke coffee shop aku." Luna gelisah, lalu mereka pun menikmati hidangan yang memang belum mereka sentuh sejak tadi.


"Kamu itu baik banget sih, Lun. Padahal kita sudah jahat sama kamu." cetus Eria, memulai kembali obrolan sambil menikmati coffee-nya.


"Aku bukan orang baik, semua orang juga punya sifat baik dan buruknya. Tergantung kita bersikap aja mbak. Aku juga tahu kalian bukannya jahat, tapi memang kalian lagi emosi aja. Dan aku percaya itu."


"Maafkan kami, ya." lirih Eria. 


"Kami benar-benar menyesal, kami pantas kamu benci." timpal Shella. 


"Kami terlalu berburuk sangka sama kamu, karena memang kami nggak suka kalau dulu ada yang dekat sama pak Reza...tapi tenang aja sekarang kami sadar dengan semuanya." Ungkap Novi dengan mata berkaca-kaca. Menyesal, tapi bukan karena teguran atau lontaran Reza pada mereka tapi mereka sadar saat mereka sudah bertemu langsung dan bicara dengan Luna langsung.


Menyesal dari lubuk hati mereka, ucapan Luna yang sudah meluluhkan hati mereka.


Dan prasangka buruk tentang Luna, begitu saja buyar. Menjadi kepingan kaca. Dan berubah jadi kepingan kaca bersih baru.


"Sebenarnya, aku sudah maafkan kalian. Aku juga nggak benci kalian. Harusnya aku yang minta maaf karena sikap Mas Reza sama kalian. Membuat kalian menderita selama ini. Aku mewakili suamiku minta maaf."


Memandang ketiganya, dia bisa melihat guratan penyesalan mereka. Begitu tulus. 


"Benar kata pak Reza, kamu itu terlalu baik. Kamu itu manusia apa malaikat sih, Lun. Kamu begitu saja memaafkan kami ini." luluh hati Novi begitu juga Eria dan Shella.


"Tentu saja manusia, mbak. Kalian berlebihan."


Mereka pun tersenyum, sudah tidak ada lagi yang namanya canggung.


"Maaf kalau aku lancang. Aku hanya mau membantu. Kalau aku boleh tahu kalian kerja di mana?" tanya Luna, lumayan gugup karena agak sensitif untuk mereka.


Mereka bertiga saling tukar pandang. Lalu kembali memandang ke arah Luna. 


"Kami serabutan." ucap mereka bertiga.


"Uhm, kalau kalian mau aku nggak keberatan kerja di sini."


Mereka bertiga menggeleng. Menolak tepatnya dan tersenyum.


"Nggak perlu, kami bertiga sudah dapat kerjaan tapi di luar kota." 


"Luar kota? Dimana?"


"Surabaya."


"Jauh banget, mbak."


"Ini kerjaan yang di rekomendasi sama suami kamu pak Reza, dia memberikan kami pekerjaan di sana, di perusahaan temannya."


Mereka juga kaget saat mereka harus tandatangan berkas, mereka kira berkas apa. Surat perjanjian itu bukan hanya berisi jangan mengganggu keluarga mereka, tapi kami juga di beri kesempatan bekerja di sebuah perusahaan meskipun tak sebesar SJC, tapi mereka sangat bersyukur bisa kerja di sebuah perusahaan, tidak serabutan.


"Benarkah? Syukur deh, mbak. Aku wanti-wanti banget. Kalian masih muda juga. Aku harap kalian bisa sukses."


"Tentu saja, kami benar-benar terima kasih sama kalian. Sudah baik sama kami."


"Nggak mbak, kita sesama manusia harus saling menolong."


Berjam-jam lamanya mereka larut dalam obrolan akrab mereka, ketiga harus segera pergi karena memang tepat hari ini mereka harus berangkat ke surabaya untuk menyiapkan pekerjaan mereka di sana.


Mereka berbaikan. 


Mereka berteman. 


Segala sesuatunya yang awalnya buruk, maka akan berakhir baik dan bahagia. Seperti halnya mereka.


•••


Setelah pertemuan, Luna memutuskan untuk pulang ke rumah karena sudah jam tiga sore.


Dalam perjalan pulang Luna ingin memberitahu pada suaminya. 


Namun tak kunjung di angkat. Mungkin Reza sibuk pikir Luna. Lalu dia hanya mengirim chat sebagai gantinya.


Tapi tak kunjung di baca. 


Tidak seperti biasanya. 


Mobilpun sampai di depan rumah. Sampai-sampai Luna tidak sadar karena pikirannya hanya ada Reza. 


Dia cemas. 


Luna bergegas masuk. Luna di sambut Bik Surti. Ia duduk di ruang tamu. Tidak lama membawa minum untuknya.


"Cape… " Luna letih saat dia kembali ke rumah sore harinya. Dia membaringkan badannya di sofa. Lalu si kembar datang menghampiri Luna dengan wajah ceria Nadila dan wajah datar Nabila tapi tetap dia memberikan senyum manis dan hangat.


"Mommy, mau Nabila pijitin." tawar Nabila. 


"Boleh... "


"Nadila juga mau bantu pijitin ya, mommy."


"Tentu saja, kalian memang anak-anak mommy paling baik dan kece… pasti ada maunya kalau begini. Ayo ngomong…?"


Yap, Luna sudah tahu kelakuan kedua putrinya bila ada maunya selalu tiba-tiba bertingkah aneh tidak biasanya seperti sekarang. Mereka dengan happy menyabut Luna dan memanjakan Luna dengan ajuan mereka memijitnya.


Sekarang Nabila memijit pundaknya dan Nadila memijit kaki Luna dengan wajah gelisah saat ia sudah tau maksud dan tujuan mereka kemudian berhenti dan duduk di samping Luna dengan tenang karena Luna menyuruh mereka duduk ke posisi mereka. 


"Kok mommy tahu sih?" Nabila penasaran. 


"Mommy dukun ya?" Nadila asal ngomong, polos.


"Taulah, mommy memang dukun…dukun cantik." Luna bercanda receh. Garing. Tapi membuat kedua putrinya tertawa.


"Ada apa?"


"Mommy, kita mau beli sesuatu di Mall. Anter yuk?" pinta Nadila.


"Mommy cape, baru pulang. Besok aja yah." lesu Luna lelah. 


"Kita maunya sekarang!" ucap keduanya bersamaan.


"Mau beli apa?" tanya Luna, ia harus tahu apa yang akan mereka beli. 


"Kita mau beli sesuatu… " cetus Nadila begitu merahasiakannya. 


"Nanti juga mommy tahu." balas Nabila santai. 


"Main rahasia-rahasian segala." geli mendapatkan jawaban abstrak mereka.


"Lagian mommy kepo.." ucap keduanya. 


"Harus sekarang?" tanyanya memastikan.


"HARUS." tekan si kembar. 


Luna Menghebuskan nafas panjang, ia lelah. Tapi mereka memang keras kepala. Kalau tidak dituruti mereka bisa ngamuk. 


Pengalaman, saat Reza tidak menuruti keinginan mereka segala apa yang di lihat pasti di lempar atau di pecahkan. Guci kesayangan Luna menjadi korban dari si kembar.


"Baiklah. Tapi tunggu...mommy mau mandi dulu."


"Nggak pake lama, kami..."


"Bawel, tahu kalian berdua kayak daddy kalian paling benci menunggu…"


Nabila dan Nadila tertawa cecengiran.


Luna berjalan ke kamarnya untuk membersihkan badan setelah selesai dengan ritual mandinya, ia cepat bergegas turun ke bawah.


Ia sengaja memakai pakaian santai. Memakai rok blue jeans di atas lutut dan kaos berwarna putih dan sepatu platshoes berwarna putih tidak lupa pemanisnya tas selempang kecil hitam membuat penampilannya menjadi fresh dan muda.


Turun ke bawah ia sudah siap berangkat si kembar sudah menunggu di mobil.


Merekapun jalan menuju mall...


•••


Sampai di mall, mereka memasuki sebuah toko kecil pernak-pernik wanita. Di situ si kembar memberi banyak aksesoris seperti bando, ikat rambut, dan jepitan. Luna tidak habis pikir, ia mengira ada apa gerangan dengan si kembar ingin membeli sesuatu ke mall.


Waktu istirahat Luna terlewati. Padahal dia lelah.


Mereka pun berkeliling mall, tapi tidak ada lagi yang ingin di beli karena memang moodnya sedang tidak bersemangat.


Ditambah chat dan telponnya tidak di respon oleh Reza, membuatnya semakin khawatir dan cemas.


"Mommy kita lapar, makan yuk?" ucap Nabila, satu jam berkeliling mall membuat perutnya berontak kelaparan.


"Mau makan apa?" tanya Luna pada si kembar.


"Masakan jepang." balas Nabila dan Nadila secara bersamaan. 


"Boleh."


Luna dan si kembar memasuki pintu lift, menekan angka empat tempat food area berada. Tidak lama pintu lift terbuka dan sudah sampai.


Keluar dari lift mereka mencari restoran masakan jepang yang di minati kedua putrinya.


Saat perjalanan dan masuk ke restoran, pandangan pada sosok pria dan wanita sedang duduk berdua, di tambah si wanita mengelus pundak pria itu, tanpa pria itu menolak. Keduanya begitu akrab, tertawa, dan mengobrol asyik. 


Ya, sosok pria itu adalah suaminya, REZA. 


Luna merasa sakit disekujur tubuhnya menjadi beku sesaat melihat pemandangan yang amat dia tidak suka, menyakitkan.


Pantas saja telpon dan chat tidak direspon ternyata sedang asyik dengan seseorang, wanita itu tampak cantik dan mempunyai badan yang bagus meski dalam keadaan duduk. 


Keduanya terlihat senang. Seperti berada di dunia mereka sendiri. 


Pandangannya tidak pernah lepas dari keduanya.


Si kembar bingung dengan sikap mommy-nya yang diam mematung, si kembar pun mengikuti arah pandangan Luna. 


Daddy! 


Lamunan Luna buyar saat si kembar dengan polos memanggil Reza dengan suara lantang. 


"Daddy... " teriak Si kembar, membuat Reza dan wanita itu menoleh ke arah suara.


Reza tampak terkejut, pandangannya ke arah Luna dengan raut muka tidak bisa dibaca. Sedangkan wanita di sebelahnya memerhatikan Luna tampak seperti menimbang-imbang.


"Kalian ada di sini?" tanya Reza, lalu menghampiri anak dan istrinya.


Luna diam. Sedangkan anak-anak terlihat senang.


"Kami lapar daddy, makanya mau makan." polos Nabila. "Daddy juga lagi makan." timpal Nadila. 


"Iya."


"Kenapa kita nggak boleh ke sini, takut di ganggu?" suara keluar begitu saja dari mulut Luna. Dia kesal. Menahan untuk tidak menangis. 


"Kok kamu ngomong begitu?"


"Maaf kalau ganggu." sekatnya. "Anak-anak ayo kita pulang…jangan ganggu daddy kalian." lalu mengambil tangan anaknya siap bergegas, namun di tahan oleh Reza. 


Wanita yang bersama Reza duduk menyaksikan pertengkaran mereka tanpa rasa bersalah hanya menebarkan senyum ke arah Luna, saat pandangan mereka bertemu.


"Luna...kamu salah pa…" belum selesai bicara Luna sudah memotong terlebih dahulu. 


"Cukup aku nggak mau dengerin omongan kamu, kita mau pulang. Urusin aja wanita kamu itu. Kasian nunggu." ucapan Luna begitu mengena di hati Reza. Ia memandang ke arah wanita itu sekilas lalu Reza mengalihkan pandangan ke arah sekeliling restoran tampak semua orang memperlihatkan mereka.


"Nanti aku jelasin sama kamu..."


"Nggak usah… ayo Nabila, Nadila kita pulang."


Si kembar sejak tadi diam melihat pertengkaran kedua orangtuanya. Bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa.


 Dan mengikuti Luna keluar meninggalkan restoran.


Hatinya hancur, Reza tidak mengejarnya malah dia kembali bersama wanita itu.


Sepanjang perjalanan Luna menangis dalam diam mengingat kejadian itu. Si kembar memeluk Luna menenangkan hatinya. Meski mereka masih belum mengerti permasalahan orang dewasa tapi mereka bisa merasakan betapa hancurnya hatinya. 


"Mommy please jangan nangis. Kami sedih kalau liat mommy begini." lirih Nadila kembali memeluk Luna erat. Luna mengangguk, pelan-pelan menghentikan tangisannya.


"Apa mommy nangis gara-gara daddy?"


Luna tidak menjawab. Ia tidak mau kalau anak-anak menjadi khawatir. 


"Bukan."


"Terus kenapa mommy nangis?" ucap Nabila.


"Mommy lapar. Nggak apa-apakan kita makan di rumah aja."


"Iya, nggak apa-apa."


Dalam perjalan pulang Luna tidak banyak bicara lebih banyak diam, sedangkan si kembar terus mengajak mengobrol atau bertanya sesekali dia hanya mengangguk, mengiyakan. Mengeluarkan kata seadanya. 


Ponselnya terus berdering sejak tadi tapi dia terus abaikan lalu mematikannya. 


"Kamu bohong sama aku, Mas." batin Luna. 


♥♥♥


Sebelum THE END aku kasih konflik dikit biar greget 😁


Jangan Lupa VOTE ya😍😁